DARAH JUANG

DARAH JUANG
Menyergap


__ADS_3

Di malam yang sunyi itu, nampak bintang berkilauan dengan rembulan yang hanya tinggal sedikit.


Cahaya redup dari sinar sinaran itu tak mampu menerangi malam yang sangat gelap yang kini berada, sungguh sesuatu yang sangat mendukung siasat yang kini di lakukan Jajang dan Jaka.


"Jang, Ayo!" Jaka melihat sekeliling setelah di rasa aman merekapun merangsak masuk ke wilayah para penjajah.


Mata mereka langsung tertuju pada sebuah ruangan berisi banyak minyak dan bahan bakar, tong tong itu mengeluarkan bau khas minyak tanah yang menyerbak di hidung keduanya.


"Heh cuma segini!" ucap Jaka, lantas Jaka dan Jajangpun kembali ke daerah luar kekuasaan mereka.


"Sepertinya kita akan berhasil sekarang!" ucap Jajang saat mereka sampai di daerah yang aman.


"Iya Jang! kita selsaikan sekarang!" ucap Jaka menyeringai.


Di bukit itu Jajang dan Jaka berada dengan api yang kini mulai menyala, Jajang dan Jaka mengambil panah mereka dan langsung membidik pada tempat yang mereka inginkan.


Ujung anak panah yang menyala, kian membuat konsentrasi mereka kabur, namun kemampuan mereka yang tidak dapat di ragukan lagi hingga merekapun melepaskan anak panah tersebut.


Dan benar saja tujuan mereka tidaklah salah, setelah memanah merekapun dengan cepat meninggalkan tempat tersebut.


Duar..Duar.. Duar.. beberapa kali ledakan terdengar saat Jajang dan Jaka meninggalakan tempat tersebut.


Dari tempat Jajang dan Jaka yang kini berada sangat jauh nampak kepulan asap dan warna jingga yang mengepul ke angkasa, terdengar pula ledakan ledakan yang dapat menggemparkan bumi di tengah malam yang sunyi itu.


Jajang dan Jaka kembali berdiam di sebuah tempat yang sudah mereka sepakati, dari tempat itu pula terlihat api yang semula mereka tinggalkan menyala dan membakar sebuah tali yang kian terkikis habis menjadi abu.


Akhirnya tali itupun putus dan sebuah anak panah yang sangat banyak jumlahnya dengan berbagai jenis bambu runcing melesat menuju tempat di mana kini api berkobar.


Begitulah rencana Jajang dan Jaka, mereka berencana melihat di mana letak bahan bakar yang kebetulan sangat dekat dengan tempat persenjataan, hingga akhirnya tengah malam itu Jajang dan Jaka pergi, untuk memastikan.


Setelah mendapat kepastian Jajang dan Jaka membuat banyak bambu dan meruncingkan ujungnya, kemampuan perangkap yang mereka pernah pelajari mempermudah rencana mereka, tak sampai lima jam perangkap itupun berhasil di buat.


Dan kejadian itupun terjadi, Jajang dan Jaka membakar tempat bahan bakar berada melalui panah yang mereka lancarkan pertama, semua itu di lakukan untuk menarik perhatian para tentara dan benar saja, para penjajah yang terkejut dengan serangan mendadak itu lantas berkerumun.


Beberapa di antara mereka nampak tengah berusaha memadamkan api dengan alat seadanya, dan setelah semua orang tertarik dengan kebakaran itu panahpun melayang dan membunuh mereka semua.

__ADS_1


Begitulah rencana yang di siapkan Jajang dan Jaka, seringai nampak di sudut bibir Jajang dan Jaka, namun mereka kembali terkejut saat seseorang menyapa mereka.


"Tuan!" mata Jajang dan Jaka lantas memutar melihat sumber suara, dengan sigap Jajang dan Jaka langsung memasang kuda kuda dengan belati di tangan mereka.


"Maaf, tenang tenang tuan semuanya, aku tidak berniat jahat!" Ucap pria tersebut yang semula menyapa Jajang dan Jaka.


Jajang dan Jaka saling memandang, Mereka melepaskan kuda kuda mereka dan berdiri tegak seperti biasanya.


"Siapakah gerangan tuan?" tanya Jajang menatap dari ujung kaki sampai ujung kepala pria itu yang nampak sangat lusuh dan kumal.


"Aku... aku adalah budak!" ucap pria itu dan menundukkan pandangannya.


"Budak?" Jaka mengulangi kata kata tersebut dan menatap pria itu lekat lekat.


"Ya tuan tuan, aku seorang budak!" ucap pria itu membenarkan.


Sontak kembali Jajang dan Jaka saling beradu pandang dengan maksud pria tersebut yang kini berdiri tegak di hadapnnya.


"Jadikan aku budakmu tuan!" ucap pria itu kemudian bersimpuh di hadapan Jajang dan Jaka.


"Maafkan kami tuan! tapi raga yang bebas mencerminkan jiwa yang bebas!" ucap Jajang lantas pergi dengan sekelebat bersama dengan Jaka.


"Siapa dia?" tanya Jaka yang sedari tadi terus siaga.


"Ayo percepat langkah kita!" bukan menjawab Jajang malah mengingatkan Jaka, dengan kata itu sudah jadi kunci dimana mereka kini tengah di intai.


Siulan terdengar dari bibir Jajang dan di mengerti Jaka, yang artinya 'sembunyi', Jajang dan Jaka bersembunyi di sebuah pucuk kayu besar.


Beberapa orang di bawah tanah nampak keliengan mencari seseorang, Jaka menyipitkan matanya memperhatikan gerak gerik pria itu, hingga akhirnya mereka pergi.


Jajang dan Jaka beradu pandang dan kemudian mengangguk dan kembali melanjutkan perjalanan mereka.


Setelah berada di tempat yang di rasa aman, Jajang dan Jaka akhirnya buka suara.


"Aku tidak merasa mereka penjajah!" ungkap Jaka merasa sedikit bingung, mengutarakan keyakinannya.

__ADS_1


"Memang bukan!" ucap Jajang membenarkan, Jaka terpaku lantas di hutan rindang dengan kunang kunang itu Jaka mendekat ke tempat Jajang.


"Terus kenapa kita lari?" tanya Jaka merasa heran dengan tingkah saudaranya.


"Kita memang sudah di perhatikan sejak kita mengintai di sana!" ungkap Jajang, mengutarakan kemampuannya dalam meneliti musuh.


"Saat kita tidur mereka menjaga kita diam diam, apa kamu tidak sadar?" tanya Jajang terkekeh mengingat apa yang terjadi sore itu.


"Kalo itu, heheh.." Jaka menggaruk tengkuknya yang tiba tiba terasa gatal.


"Dasar! siapa bintang perempuannya?" tanya Jajang tersenyum tulus.


Jaka dengan malu malu mengelus gelang di tangannya yang Jajang sudah mengerti artinya, namun dia malah kembali menggoda saudaranya.


"Siapa ya?" Jajang tersenyum berekting seakan akan tidak tahu.


"Itu, anu hmm.. Zahra" Suara Jaka kian mengecil namun masih terdengar. Sontak Jajang yang mendengar itu tergelak dan tertawa setelahnya.


"Hahahah, sudahlah semoga kalian berjodoh!" ucap Jajang menepuk pundak kawannya.


"Aamin!" Jawab Jaka langsung tersenyum mendengar do'a dari kawan sekaligus saudaranya itu.


"Keluar!" ucap Jajang kemudian, dan membuat Jaka terkejut.


Beberapa orang nampak keluar dari semak semak dan berpakaian lusuh dan kusam, nampak disana wajah wajah pribumi yang terluka.


Ternyata sedari awal mereka telah mengikuti Jajang dan Jaka hingga akhirnya mereka sampai ke tempat tersebut.


"Sudah aman sekarang, Katakan apa mau kalian?" tanya Jajang lugas, hal itu sontak membuat mereka menunduk.


Jaka masih dalam posisi herannya, dia sama sekali tidak merasakan keberadaan orang di sekelilingnya, dan tidak merasa di perhatikan. Itu pertanda bila orang orang yang mengikutinya itu memiliki ilmu kanuragan yang lebih tinggi darinya.


Bersambung...


Jangan lupa Like, Komen dan masukin List bacaan kalian ya!

__ADS_1


Salam cinta dari Raisa.


__ADS_2