
Wajah teduh itu terbasuhi sempurna dengan air yang mengalir jernih laksana mata yang terbasuh kini.
Jaka menyelsaikan sebuah ritual suci yang sangat menenangkan hati tersebut, lunturan kesahnya mengalir mengikuti air di sungai tersebut menyajikan kedamaian tersendiri bagi yang melakoninya.
Dengan sigap setelah menyelsaiakan wudhunya Jaka lantas kembali menghadap pada Jajang yang sudah siap memberinya pelajaran.
"Sudah siap?" tanya Jajang dengan senyumnya yang mengembang.
Jaka mengangguk setuju, namun sangat mengejutkan setelahnya di mana Jajang malah duduk dengan santai di atas sebuah daun pisang yang tergelar.
"Bacalah ini dan ulangi sebanyak 99 kali!" ucang Jajng memberikan sebuah kalimat dalam bahasa arab yang merupakan dari petikan ayat dari surah Yaasin.
Jaka mengangguk dan menuruti apa yang di minta oleh Jajang dia fokus melakukan hal tersebut hingga tak terasa entah peluh sebab apa, namun batin Jaka terasa sangat lelah setelah membaca petikan ayat tersebut dan tidak terasa pula saat dirinya membuka mata waktu sudah menunjukkan sore yang sangat tua.
"Jang?" Jaka celingukan mencari sosok saudaranya namun tak dia dapati pandangannya tiba tiba bergerak seperti orang mabuk dan hampir saja terjatuh namun berhasil di topang oleh lengan kokoh Jajang.
"Bagaimana sudah cukup!" ucap Jajang mendudukkan Jaka yang kini nampak masih pusing.
"Kok kepala aku pusing ya?" tanya Jaka merasakan kepalanya yang seakan berputar.
"Itu karena kamu belum makan, sudah ayo pulang kita makan dulu!" ajak Jajang dan di angguki Jaka.
Mereka lantas pulang ke Gua tempat persembunyian mereka, menyejukkan kepala mereka yang baru saja berlatih sangat keras.
"Jak, sepertinya kita juga harus ke kota dan berbaur dengan masyarakat!" tiba tiba Jajang mengutarakan usulannya.
Jaka terdiam sejenak berusaha mencerna ucapan Jajang, dia tahu Jajang tidak pernah melakukan sesuatu hal yang gegabah oleh sebabnya diapun mengangguk menyetujui apa yang di minta saudaranya.
...
__ADS_1
Pada akhirnya keesokan paginya Jajang dan Jakapun berangkat ke sebuah kota yang memang sangat jauh tempatnya, namun kota tersebut tidaklah nampak layaknya kota karena begitu banyak hal yang membuat mata merasa sakit.
Bagaimana tidak, sesampainya di sana Jajang dan Jaka di suguhi sebuah pemandangan pemberontakan dari kaum pribumi yang bela mati untuk Negeri.
Namun layaknya orang tak berilmu mereka membabi buta melawan para penjajah dengan tangan kosong dan alhasil mereka pula lah yang celaka.
Pemandangan pilupun banyak terlihat di mana anak anak di sekitaran yang nampak kelaparan, ibu ibu dengan bayinya yang nampak kumal, para wanita muda yang di seret di gunakan persembahan, dan para pemuda yang tengah berjuang mati matian.
Hati Jajang terkikis habis melihat penomena tersebut jiwa dan batinnya meronta tak terima bila Negerinya menerima hal yang tidak sepatutnya mereka dapatkan.
Dadanya menggebu menyeru untuk membela begitu pula dengan Jaka yang nampak wajahnya memerah padam dengan tangan yang mengepal.
Tak kuasa Jaka menahan amarah dia langsung angkat tangan menyerahkan keranjang di pundaknya pada Jajang, Jajang yang melihat itu lantas menggeleng namun tak di hiraukan Jaka.
Jaka melompat di depan sekumpulan para pemuda, dia tersenyum setelahnya menatap sekilas ke belakang, Jaka merenggangkan tangan dan urat lehernya yang kaku untuk melakukan sebuah kebrutalan.
Semua penjajah yang melihat itu langsung melotot menatap tubuh tegap Jaka dan langsung menyerang dengan senjatanya.
"Merunduk!" ucap Jaka pada para pemuda di belakangnya, para pemuda itupun langsung menuruti keinginan dari Jaka dan tembakan itupun mengarah pada tempat yang tidak sepatutnya karena tak mendapatkan satu sasaranpun.
Dengan langan yang bergetar dan rahang yang sudah nampak sangat marah Jaka sudah buta mata dia langsung menghantam seluruh penjajah di sana seorang diri.
Tembakan dari mereka seluruhnya meleset dan merekalah kini yang celaka mendapatkan pukulan telak dari Jaka.
Pemandangan itupun di saksikan langsung oleh para warga dan seluruh pemuda, para penjajah itupun seluruhnya tergeletak. Kepalan tangan Jaka masih bergetar dengan darah yang banyak menetes di ujung kepalan tangannya.
"Aku tidak membunuh mereka, bila kalian mau maka berikanlah mereka hukuman yang sesuai dengan apa yang ada di tempat ini, maafkan kelancanganku aku hanya musafir yang lewat saja!" ucap Jaka yang lantas berjalan menghadap saudaranya.
"Sudah puas?" tanya Jajang tersenyum lembut.
__ADS_1
Jaka mengangguk dan mengambil keranjang yang semula dia titipkan.
"Sekarang kita mau ke kota mana lagi, lihat akibat kecerobohanmu kita sudah menarik perhatian banyak orang di sini!" ucap Jajang menunjuk ke arah para pemuda yang mengikuti langkah kaki Jaka di belakangnya.
"Tuan ajari kami ilmu bela diri!" seru salah seorang pemuda yang berdiri tepat di belakang Jaka.
"Eh..?" Jaka terkejut melat pria itu yang sujud di hadapannya, sekilas Jaka menatap Jajang yang terlihat mengangguk padanya memberikan persetujuan. Ide jahilpun keluar dari benak Jaka saat mendapatkan persetujuan saudaranya.
"Maaf, tapi aku bukan seorang guru. Bagaimana mungkin bila aku yang juga seorang murid menggurui kalian!" ucap Jaka, sekilas firasat buruk melintasi kepala Jajang saat saudaranya berkata demikian.
"Dialah guru sesungguhnya, mari semua kita belajar sama sama darinya!" seru Jaka dan sontak saja Jajangpun melotot mendapatkan seruan semacam itu.
"Eh.. Tidak tidak, aku bukan siapa siapa bukankah tadi yang ahli bela diri adalah dirimu, sejak tadi aku hanya memperhatikanmu dari kejauhan. Bagiaman mungkin aku dapat mengajari kalian ilmu bela diri!" ucap Jajang mengelak tugas yang di bebankan saudaranya pada dirinya.
"Orang bijak dan guru yang hebat tidak perlu turun tangan saat muridnya mampu mengalahkan segelintir sampah tersebut!" ucap Jaka bergaya ala ala murid yang bijaksana.
"Jak kamu adalah saudaraku bagaimana mungkin aku juga gurumu!" ucap Jajang yang mungkin tidak dapat mengelak lagi namun dia bisa menarik Jaka pada lubang yang di ciptakannya sendiri.
Sontak seluruh pemudan mengangguk faham dengan situasi saat kata kata itu keluar dari bibir Jajang.
"Jadikan kami muridmu dua guru!" ucap seluruh pemuda dan sontak saja Jaka terkejut bukan main dan menghembuskan nafasnya kasar.
"Hei kami manusia, kalian manusia, aku tidak suka kalian sujud pada kami. Yang berhak menerima sujud kalian hanya tuhan dan ibu kalian!" ucap Jaka dan sontak pelajaran pertama yang amat berhargapun keluar dari bibir Jaka membuat semua pemuda yakin akan pilihan mereka menjadikan Jajang dan Jaka sebagai Guru mereka.
Bersambung...
Jangan lupa Like, Komen dan masukan ke list bacaan kalian ya!
Salam cinta dari Raisaπππ
__ADS_1