DARAH JUANG

DARAH JUANG
Berubah


__ADS_3

Lumut hijau nampak terpampang di tangannya, menatap langit dan mentari yang meneliksik menerobos dedaunan.


"Dimana aku?" kata itu terucap dari bibirnya, mentap gaun putih di tubuhnya.


"Inikan?" gadis itu menatap bunga mawar putih tanpa diri di tangannya seketika hutan nan rindang itu berubah menjadi sebuah padang yang permai.


Beberapa gambaran masa kecilnya berlarian di sana, langit nampak cerah dengan angin yang menerpa tubuhnya.


" Rintihan rinduku, rintihan kelabu..." mendengar lantunan merdu itu Alika terbelalak mencari sosok yang yang tengah bernyanyi. Sekelebat pandangannya memudar dan matanya sontak terbuka.


"Tak ku dapati cinta sesaat ini, ku inginkan kau selamanya di hidupku.." sura merdu terlantun dari bibir pria yang kini nampak tengah merapikan sebuah kotak di hadapannya.


"Si..siapa?" Alika membuka gambaran jelas di matanya, punggung yang nampak tinggi tegap membelakanginya.


Alika berusaha bangun dari tidurnya dan mencari tahu pria yang terasa begitu familiar itu yang kini nampak di hadapannya.


"Uuh..!" Alika mengaduh merasakan kepalanya yang berdenyut dan menekan pelipisnya berusaha menyeimbangkan tubuhnya.


"Eh sudah bangun?" pria itu berbalik dan mendekati Alika, mata Alika membulat seketika saat mendapati gambaran yang di tangkapnya.


"U...u.." Belum sempat menyebut nama pria itu, dia sudah kembali terkapar, dan merasalan tubuhnya yang berat hingga akhirnya matanya kembali terbuka.


Nampak di ujung pandangannya sebuah kalimat do'a bangun tidur, Alika berada di kamarnya melirik ke kiri dan ke kanan memperhatikan kamarnya yang bersih dengan tirai nampak tertutup dan gelap.


"Alik...?" suara seseorang memanggil Alika dan mendorong pintu kamarnya.


"Eh, mamah!" Alika duduk namun berat di kepalanya seakan menghilang dan di rasakan tubuhnya yang amat ringan.


"Ah kamu ini buat khawatir mamah aja, untung aja bosnya abangmu jagain kamu tadi!" ucap mamah Alika.


Kebingungan nampak jelas terukir di wajah Alika mungkin sama persis dengan kebingungan para pembaca saat ini.(😊)


"Maksudnya mah?" Alika menatap sang mamah yang nampak cemas.

__ADS_1


Deg, jantung Alika lagi lagi berkilasan mengingat kejadian demi kejadian yang sudah dia lalui hari itu, dia menatap jam dinding yang tergantung rapih dengan gambar panda.


"Jam 10 malam?" Alika terkejut dan menatap mamahnya yang nampak terbawa bingung dengan sikap Alika.


"Iya, tadi bos abangmu mengantarkanmu tadi. Dia bilang bila kamu habis bermain dengan neneknya dan kelelahan hingga tertidur." jelas sang mamah.


Alika terbelalak, benar juga percuma baginya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi hari itu, dan mungkin hanya akan menambah kekhawatiran pada mamahnya saja.


"O ya mah, Alik akan segera KKN dan lebih memilih tempat sendiri untuk melakukan kerja lapangan." ucap Alika tersenyum tulus.


"Ah ya, baiklah. Ayo makan dulu!" ajak mamah Alika menyerahkan satu tatakan yang berisi penuh berjenis makanan.


"Baiklah mah, nanti Alik simpan sendiri bekas makannya." ucap Alika menerima makanan yang di berikan sang mamah dan memakannya perlahan.


Mamah Alikapun tersenyum mengelus rambut Alika dan keluar kamar tersebut, Alika merasakan kesenyapan seketika dan melanjutkan makannya.


...


Di kampuspun Alika yang biasanya ceria berubah menjadi dingin dan jarang berinteraksi dia menjadi lebih suka menghabiskan waktunya dalam sunyi.


Ponsel Alika yang rusakpun tidak dia perbaiki dan lebih memilih keluar dari dunia sosial, mamah dan keluarga Alikapun menjadi sedikit aneh dengan perubahan sikap Alika yang begitu drastis.


...


Di tempat lain Ubay uring uringan menahan rindu, dia sama sekali tidak menyangka kejadian hari itu akan mengubah sikap Alika.


Di hari itu Ubay hanya membuat Alika kehilangan kesadaran saja dan memberikan sedikit perawatan pada jantung Alika yang nampak bermasalah dan setelahnya diapun mengantarkan Alika pulang.


Tidak ada hal aneh terjadi namun perubahan sikap yang di tunjukan Alika sungguh membuatnya amat tersiksa dan menjadikan dirinya sering marah dan sulit mengendalikan tubuhnya.


Ubaypun akhirnya nekat dan di rabu sore, nampak Alika yang baru saja keluar dari kampus dengan sepeda motor trailnya mengenakan celana levis dan kemeja biru panjang dengan tas ransel di pundaknya keluar dari kampus dan melejit sangat cepat membelah kebisingan kota dan berhenti di sebuah tempat yang nampak ramai dengan adzan berkumandang, Alika sampai di pelataran mesjid, dia memarkirkan sepeda motornya dan memasuki mesjid tersebut.


Dari kejauhan Ubay mengikuti Alika dan melakukan sholat di mesjid yang sama, hingga akhirnya sholat berjamaah usai dan Ubay kini tengah menunggu di atas sepeda motor Alika.

__ADS_1


"Permisi!" ucap Alika menghadap tepat di depan Ubay dan sekilas menatap dari ujung kaki hingga ujung kepala pria tersebut.


"Dari mana saja kamu?" tanya Ubay enggan berlalu dari atas sepeda motor tersebut.


"Maaf tuan, aku tidak memiliki urusan denganmu dan aku juga bukan anak buahmu yang dapat kamu ancam seenakmu!" ucap Alika tegas, sikap Alika yang jauh berbeda membuat Ubay kian terkikis merasakan sakit yang dalam.


"Ada apa denganmu?" tanya Ubay berusaha menyentuh tangan Alika namun dengan cepat Alika menghindar dan berbalik meninggalkan Ubay.


Ubay kian merasa aneh dengan perubahan sikap gadis tersebut, dia memperhatikan punggung yang kini kian menjauh.


Sudah hampir satu tahun lebih Alika berubah dan tidak ada yang tahu alasan apa yang membuat gadis cantik itu yang kini terlihat sangat berbeda.


Sudah cukup bagi Ubay bersabar menunggu Alika, waktu satu tahun di acuhkan bukanlah hal yang mudah bagi Ubay, melihat Alika yang berbalik dan mengacuhkannya akhirnya Ubay menarik paksa lengan Alika.


"Lepas..!" ucap Alika terdengar suaranya yang serak.


"Kamu kenapa Alika? Apakah aku melakukan kesalahan besar padamu?" tanya Ubay kehilangan kesabaran berusaha lembut namun tegas.


"Tidak.." ucap Alika lirih dan teris berusaha pegangan kokoh Ubay pada tangannya.


"Bila tidak, maka katakan padaku kenapa kamu menjauh dan terus menghindariku?" tanya Ubay mentap Alika yang kini masih berontak pada tangannya.


"Maaf tuan, tapi apakah kita pernah dekat? Bukankah kita juga tidak pernah dekat jadi bukankah tidak ada bedanya semuanya, untuk apa anda bertanya alasan kepadaku? Bukankah semua jaebannya sudah jelas bila memang dari awal kita tidak saling mengenal!" ucap Alika tegas dan membanting tangannya sendiri hingga genggaman Ubay terlepas dari tangannya.


Dengan secepat mungkin Alika berlati pada sepeda motornya dan menyalakan mesin motor tersebut dan melesat meninggalakan Ubay yang masih terpaku dengan jawabnnya.


Di perjalanan hati Alika seakan di sayar sayat angin yang menampari wajahnya dengan air mata berlinangpun nampak terurai, Alika sadar bila dia begitu menginginkan Ubay namun dia tidak akan sanggup bila tahu banyak hal tentang pria tersebut.


Dia tidak ingin mengenal lebih jauh lagi tentang Ubay, malam itu Alika tidak kembali ke rumahnya, dia memilih mengendarai kuda besinya ke sebuah desa yang jaraknya cukup jauh, yaitu kediaman kakeknya.


Ubay sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan ucapan itu dari Alika, dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi, sedangkan diapun harus dengan cepat menguasai situasi, karena bila tidak jelas papinya akan murka dan menjodohkannya dengan wanita yang tidak dia inginkan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2