
Alika menatap wajah tua yang kini berada di upuk matanya, memperhatikan setiap sudut bekas bekas ketampanan di baliknya, rasa kagum di perlihatkan oleh Alika pada sosok sang kakek.
Meski terkadang kakeknya itu selalu melakukan hal yang tidak terduga namun bagi Alika apapun yang di lakukan sang kakek adalah kesenangan bagi dirinya.
"Mau berangkat sekarang?" tanya Jaka yang mentap mata cucunya tajam.
"Ayo!" ucap Alika bangkit dari ranjang bersemangat.
Jaka tertawa sekilas melihat bagaimana Alika yang nampak sangat antusias.
Mereka berangkat menuju pemakaman, Jajang yang berjalan denagan tongkat kecil di tangan kanannya dan Alika yang berjalan di sampingnya memperlihatkan bagiamana keharmonisan mereka.
"Eh kek, kalo nenek Sani kaya apa si orangnya?" di perjalanan Alika bertanya pada sanga kakek seakan dirinya sangat ingin tahu sosok wanita itu.
"Pengen tau banget atau pengen tau aja?" tanya sang kakek terkekeh melihat rasa penasaran cucunya.
"Banget seribu kali seribu kek!" ucap Alika menimpali candaan sang kakek.
"Ah cuma sejuta!" ucap sang kakek hingga membuat tawa keduanya pecah.
Namun mereka kembali berhenti saat pohon pohon beringin kini nampak di hadapan mereka, usia pohon itu mencerminkan usia yang sudah tidak muda.
"Assalammu'alaikum ya ahli qubur!" ucap Jaka lirih yang di ikuti Alika kemudian.
Langkah Jaka mengarah pada sebuah makam dengan sebuah batu nisan penanda, tanpa nama atau sejenisnya.
Tanah dalam kuburan itupun nampak rata, bila bukan karena ada dua buah batu penanda itu mungkin Alika akan menganggap bila di hadapannya itu bukanlah sebuah makam.
"Ini adalah makamnya Jajang, dan ini makamnya Sani!" ucap sang kakek memperlihatkan dua buah makam.
"Dan ini makamnya Surya!" ucap Jaka tersenyum pahit menatap nisan yang lebih kecil dari yang lainnya.
"Alik akan sering kesini setelahnya, dan Alik sangat bangga dapat mengenal sosok kalian!" ucap Alika mengusap batu tersebut.
Lantunan ayat ayat suci dan hadorohpun di panjatkan hingga suasana terasa hikmat seketika.
__ADS_1
.........
Sepulangnya dari pemakaman di perjalanan Alika melihat Ipung yang nampak menggunakan Jas keagungannya dan siap berangkat kerja.
"Alik dari mana?" Ipung nampak menyapa Alika, seakan perasaan tidak nyaman tiba tiba hinggap di hati Alika yang entah dari mana asalnya hingga membuat Alika mendekatkan tubuhnya pada sang kakek.
"Dari pemakaman a!" jawab Alika singkat.
"Semalam kamu tidak apa apa kan?" tanya Ipung berpura pura khawatir akan kondisi Alika.
"Alik baik baik aja, tapi mungkin kedepannya kita akan jarang bertemu karena Alik akan pindah sekolah." lirih Alika dan sontak membuat Ipung terkejut.
"Pindah sekolah? Tapi kenapa?" tanya pria itu lagi merasa penasaran dengan tangannya yang kini berada di pangkal tangan Alika, menggoyangkan tubuh Alika layaknya mainan.
"Singkirkan lenganmu anak muda!" ucap sangar Jaka mengeluarkan simanya yang luar biasa menakutkan hingga membuat Ipungpun merinding ngeri dan melepaskan tangannya.
"Karena di sana pendidikannya lebih baik, itu saja!" ucap Alika lagi singkat.
"Sudah dulu ya a, Alik sama kakek mau pamit. Alik juga mau berkemas!" ucap Alika dan berlalu pergi.
Rasa marah hinggap di dada Ipung hingga membuat pria itu gelap mata dan menedang sebuah batu di di trotoar jalan. Namun bukannya malah batu itu terbang melayang seperti yang dipikirkan banyak orang namun batu itu ternyata amat kokoh dan kini malah kakinyalah yang sakit akibat kesalahannya sendiri.
"Mamah papa? Ngapain di sini?" tanya Alika memeluk kedua orang tuanya bergantian melepas rasa rindu.
"Mau jemput kamu!" ucap sang mamah singkat hingga membuat Alika mengangkatkan alisnya sebelah.
"Dari mana mamah tau kalo.."belum selasai mengutarakan kalimatnya mata Alika langsung tertuju pada sosok sang kakak.
"Ini semua pasti lo kan?" ucap Alika menunjuk kakaknya yang nampak tengah berdiri.
"Kalo iya kenapa? Bulan depan gue mau nikah, lo mau buat gue kesusahan buat jemput lo lagi! Lagian gue bawa motor ke sini mana bisa bawa dua penumpang sekaligus!" ucap sang kakak tertawa kecil.
"Ck, gue udah tebak. Bantuin gue ngemas, kalo gak lo bantuin gue gak bakal jadi balik!" ucap Alika mengancam sang kakak.
"Asiap adekku yang comel!" ucap Adit hingga membuat semua orang tertawa melihat tingkah keduanya.
__ADS_1
Setelah berkemas Alikapun sarapan bersama dengan seluruh anggota keluarganya, dia merasakan kenyamanan tersendiri dengan hal itu.
Namun sebuah keriuhanpun terdengar di luar rumah dan menarik perhatian mereka semua dan berhambur ke luar rumah.
"Ada apa ini pak?" tanya Ayah Alika pada salah seorang pria yang nampak berlari lari kecil.
"Itu a aya anu bade bunuh diri di luhuren tower di alun alun!" ( itu kak ada orang yang mau bunuh diri di atas tower di tengah tengah desa).
Sontak semua orangpun terkejut dan melihat keriuhan yang terjadi itu, jarak alun alun yang tidak jauh dari kediaman kakek Alika itupun memudahkan mereka untuk cepat sampai di sana.
Nampak seorang wanita yang tengah berteriak teriak tidak jelas di atas menara itu memanggil manggil nama seseorang.
"A Ipuuuung.. Aku bakal buhuh diri bila kamu tidak mendengarkanku!" ancam wanita itu.
Semua orang langsung terpusat pada seorang pria berjas dengan tubuh tegap yaitu Ipung.
"A Ipung?" lirih Alika masih setia memperhatikan situasi yang ada saat ini.
"Ih, sanesna si Ipungteh kabogohna neng Alik nya? Ning nyebat nyebat nami kabogoh batur? Sok heran urangmah!" ( ih bukannya si Ipung pacarnya neng Alik? Kok manggil manggil nama pacar orang? Suka bingung saya!) ucap seorang ibu yang berdiri tidak jauh dari Alika.
Alika enggan berkomentar, matanya menghunus tajam ke arah Ipung yang kini nampak bergetar, begitupun semua orang yang kini menatap tiga orang itu bergantian yaitu, wanita di atas tower, Alika dan Ipung.
"Drama!" ucap Adit seketika hingga pandangan Alikapun mengarah pada kakaknya yang nampak tengah memakan kacang yang entah dari mana dia dapatkan.
"Sini! Minta gue!" ucap Alika merebut kacang tanah itu dari genggaman sang abang.
"Bila kamu dengar ini, neng Alika maafkan aku! Tapi a Ipung sudah berjanji padaku akan menikah denganku!" ucap wanita itu lantang menyebut nama Alika.
Alis Alika terangkat sebelah, memang ada sedikit hatinya tersayat namun diapun juga tahu dalam sebuah hubungan pasti akan ada saja halangannya, dan dia yakin bila Ipung mampu melalui semua ini.
Pandangan semua orangpun mengarah pada Alika, hingga membuat gadis itu merasa sangat tidak nyaman dengan pandangan itu.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca novel Raisa.
__ADS_1
Jangan lupa meninggalakan jejak ya kawan, karena sesedikit apapun dukungan kalian semuanya sangatlah berarti bagi Author.
Salam cinta dari Raisa 😘😘😘