DARAH JUANG

DARAH JUANG
Para Syuhada


__ADS_3

Ibu pertiwi menangis meratapi putera puteranya yang tragis. Air mata menuruni lereng menuju lembah dengan curamnya bukit.


"Jaka!, terima kasih" ucap Jajang tersenyum dalam tangis di hatinya, Jaka mengangguk dan kembali membantu Jajang membaringkan tubuhnya.


Mata Jajang berkeliling memutari tempat yang sangat dia kenali, matanya kembali mengeluarkan cairan garam merasuki perih di hatinya, pohon kelapa nampak di tempat paling tinggi di antara yang lain. Angin menerjang dan buah tuanya berjatuhan, Jajang sadar mati syahid yang mereka inginkan nasib mertua dan kawannya Surwa sudah pasti berada di syurga.


"Jaka terima kasih kamu membawaku ke sini!" ucap Jajang menatap sebuah gundukan tanah yang nampak sudah sangat tua.


"Maaf aku tidak bermaksud apa apa membawamu ke mari, hanya saja aku merasa kita memang ada perlu di sini!" ucap Jaka merasa bersalah, tidak seharusnya dia membawa Jajang ke pemakaman isterinya dan beberapa pemakaman lainnya yang merupakan korban pembantaian di Gua belasan tahun kebelakang.


"Tidak Jaka, kamu memang membawaku ke tempat yang tepat aku memang ada keperluan di sini." lirih Jajang seraya berusaha menahan rasa sakitnya.


Jaka mengangguk, dia sendiri tidak tahu mengapa ujung kakinya menginjakkan diri ke tempat itu, namun instingnya merasa ada sesuatu yang penting dan mengharuskan dia ke pemakaman itu.


"Kita akan tinggal di mana?" tanya Jajang tersenyum dalam baringannya.


"Di Gua saja untuk sementara, bagaimana?" usul Jaka kembali kehadapan Jajang dan tersenyum tulus.


"Baiklah! Kita akan tinggal di Gua terlebih dahulu. Bantu aku bangkit Jak!" Jajang berusaha bangkit dari pembaringannya, Jaka membantu Jajang dan akhirnya Jajang mampu bangkit.


Di zaman dulu memang hal semacam itu tidak aneh, mereka seakan tidak merasakan sakit apapun, meski luka yang begitu dalam kini terlihat di perut Jajang, mereka perlahan bangkit menuju tempat persembunyian mereka.


Tempat dimana dulu Sani meregang nyawa bersama para anak anak, bayi dan orang orang lemah lainnya.


Mata Jajang kembali mempettontonkan embun, cairan mulai keluar membasuhi pipinya. Kelebatan kenangan masa lalu kembali terlihat nyata. Dada Jajang terasa sesak namun diapun sadar hal itu tidak akan mengubah apapun.


Darah belasan tahun lalu nampak masih menghiasi dinding dinding Gua, sesaknya kian meracau saat dulu Sani terbaring di tempat dimana kini dia berdiri.

__ADS_1


Nampak warna merah masih menghiasi lantai Gua itu. Namun bagaimanapun Jajang sudah mengikhlaskan semuanya.


Kini perjuangannya akan dia lakukan meskipun hanya bersama Jaka namun dia tidak akan sembunyi lagi saat ini, dia akan melancarkan serangannya meskipun terlihat tidak mungkin namun Jajang tetap optimis dan akan berjuang, demi meraih keadilan bagi nusa bangsanya, demi ibu ibu pertiwinya untuk kejayaan tanah airnya.


...


Di tempat lain malam itu Filsen nampak sangat murka saat melihat jasad Jajang yang sudah tidak ada, dia langsung menembaki seluruh warga desa termasuk Surwa yang sudah di congkel matanya, Pak Sukri pun ikut tertembak dan nampak sayatan di sekujur tubuhnya namun tidak membuatnya takut.


Mereka tertawa saat mendengar kabar bila jasad Jajang menghilang, mereka akhirnya bernafas lega meski mereka meninggal setidaknya penerus perjuangan mereka tidaklah padam.


"Kurang ajar!" Filsen mengamuk saat mendapat kabar tersebut memelototi anak buahnya yang memberi kabar.


"Maaf tuan!" ucap pria tersebut namun dengan sadisnya Filsen malah menendang pengawalnya karena amarah.


"Hahah.. Lihat baik baik oleh kedua matamu! Meski kami mati perjuangan kami taka akan mati!" ujar Surwa tertawa puas.


Dengan sangat sadis Filsen mencongkel dua buah bola mata Surwa lalu menendang surwa dengan amarah yang menggebu.


"Aaarrgh.. Hahahah.." meski mengerang sakit namun surwa tetap tertawa saat kedua bola matanya di ambil, darah mengalir hebat menggenangi pipi dan membasuh tubuh yang semula sudah basah dengan keringat.


"Kau pikir dengan mengambil kedua bola mataku aku akan menangis? Hahaha.. Tidak sama sekali! Aku malah bersyukur karena mata tuhanlah yang akan memastikan kehancuranmu!" tambah Surwa tegas dengan tawanya yang terdengar sedang bersorak kegirangan.


Dor.. Kepala Surwa di tembak oleh Filsen dengan darah Surwa yang masih berada di lengannya, namun Surwa masih bertahan dan tertawa girang.


"Ashadu alla ilaha illallah wa ashadu anna Muhammadarrosulullah, Allah Huakhbar!" teriak surwa membakar api semangat kawannya yang ada di belakang, sontak seluruh warga desa berseru.


"Allahu akhbar!" ucap seluruh warga dan membuat dada Filsen berdegup sangat kencang, ada sekelebat rasa takut di dadanya melihat kekuatan para mujahidin.

__ADS_1


Dor.. Sekali lagi Filsen menembak dada kiri Surwa hingga akhirnya pria itu terjatuh ke tanah dan meregang nyawa.


"Kau pikir dengan membunuh satu orang akan menghentikan kami memberontak hah?" Pak Sukri ikut bersuara.


"Potong kedua tangannya!" ucap Filsen pada algojonya, yang di suruhpun melakoni perintah tuannya.


Darah mengalir hebat dari paha tangan Pak Sukri namun bukan sakit yang di rasa namun rasa syahdu seakan surga memanggilnya.


" Ashadu alla ilaha illallah wa ashadu anna Muhammadarrosulullah, Allah Huakhbar!" ucap lagi Pak Sukri dan di sahuti oleh warga di belakangnya.


"Allahu akhbar!" kian semangat para warga berseru, dada Filsen kembali berdegup kencang, rasa takutnya kian menjadi dan tanpa hati nurani, pria berkulit putih yang kini nampak kemerahan dengan amarah yang kian naik dia mengambil senapan dari seorang bawahannya.


"Tembak mereka semua!" ucap Filsen, tangan para pengawalnya yang bergetar mengangkat senjata mereka, rasa takut yang di rasakan Filsen tidak hanya dirinya sendiri yang merasakan namun semua pengawalnyapun lebih lebih ketakutan lagi.


Dengan tegukan salivanya rasa takut mereka kian bergetar hebat saat seluruh warga terus berucap Takbir, dengan jari telunjuk yang bergetar Filsen menembakan senapannya dan di ikuti para pengawalnya, sebelum merka menarik senapan mereka menutup mata mereka, saat itu seakan merekalah yang akan mati bukan orang yang akan mereka tebaki.


Setelah para warga meninggal merekapun bernafas lega namun himpitan batu besar di dada mereka seakan kian bertambah saat raga para putra ibu pertiwi tergeletak di hadapan mereka.


"Sial..!" ucap Filsen melemparkan senapan yang berlumur darah yang semula tangan itu di guanakan untuk mencongkel mata Surwa.


"Kita kembali!" ucap Filsen pada anak buahnya dan berlalu pergi menunggalakan tempat tersebut.


Bau amis mencekam memenuhi tempat tersebut, merah sungai melambai segukan tangis ibu pertiwi meliht putranya yang sudah gugur, Cinta dan kasih para warga pada negri dan tanah airnya tidak akan dapat luntur terkikis waktu yang kian berlalu.


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca jangan lupa Like, Komen dan masukin list bacaan kalian ya..!

__ADS_1


Salam cinta dari Raisa.


__ADS_2