
Beberapa saat yang lalu, setelah Jaka kembali ke rumahnya dia sama sekali tidak sadar bila dirinya tengah di intai, namun sangat jauh berbeda dengan Jajang. Jajang menyadari ada orang yang mengikuti saudaranya, dengan mata elangnya Jajang berhasil mengidentifikasi orang yang mengikuti saudaranya itu.
Hingga sore itupun tiba, Jajang memang sudah sangat lama menyembunyikan ramuan dan racunnya di tempat aman, dan tak kala ada orang yang terus mengintai rumahnya dia menjadi yakin bila sebuah penyerangan besar akan di lakukan.
Rohman yang merupakan kakak Yasmin tidak mereka bunuh saat di perjalanan dan di biarkan melapor pada Jaka, dengan hal itu saja sudah jelas bila mereka tengah menabur umpan untuk mendapatkan ikan. Bila benar incaran mereka adalah Yasmin dan Jaka tentulah Rohmanpun mungkin mereka tikam di perjalanan dan tidak akan membiarkan Rohman melapor pada mereka.
Memang amarah Jaka sulit di redam oleh sebabnya Jajangpun membiarkan amarah meluap di diri Jaka dan membiarkan dia meluapkan emosinya.
Sifat tenang yang biasanya ada di diri Jaka seketika menghilang saat mendengar Yasmin di culik, Rasa bencinya mengusai diri dan meluap menjadi lautan emosi.
...
Beberapa orang mengendap endap mengintipi rumah Jajang dan Jaka yang nampak sudah sangat sepi. Mereka saling beradu pandang dan saling mengangguk kemudian.
"Ambil semua racun dan obat mujarab mereka, karena itulah senjata pamungkas mereka!" seru salah satu orang yang mengenakan cadar hitam dan hanya menampakkan matanya saja yang tertutup langit malam.
"Baik, laksanakan!" ucap seluruh orang yang sudah siap merangsak masuk kedalam rumah Jaka dan Jajang.
Mereka melihat sekeliling dan tidak mendapati apapun kecuali sebuah peti, mereka membuka peti tersebut dan alangkah terkejutnya mereka saat mendapati sebuah kertas bertuliskan "'Maaf Anda Gagal"' sontak saja tiga kata itu mampu membuat semua orang tercengang dan berkumpul melihat kertas tersebut.
Dan sungguh sial bagi mereka, papan kayu yang mereka injak sudah di disain hanya mampu menopang berat 200 kg, bila lebih dari itu maka papan itupun akan menggelayut dan ujung papan itu akan menyentuh sebuah tombol dan memantikan api membakar bijih musiu dan meledakkannya.
Ledakan itulah yang di dengar oleh warga kota, mungkin mereka berpikir bila rumahnya di bakar habis penjajah nyatanya itu semua adalah rencana dari Jajang sendiri, dan ternyata rencananya berhasil dan membakar rumahnya beserta para penjajah yang sudah masuk dalam jebakannya.
Seperti biasanya para penjajah memberikan isyarat melalui tembakan dan ledakan itu sudah menandakan bila mereka harus segera menyerang, meski mereka sendiri tidak tahu bila sebenarnya suara ledakan itu merupakan sebuah pertanda kemenangan di pihak para pribumi.
Para penjajah mulai merangsak masuk dengan jalur hutan dan jalan besar dengan kendaraan, namun nahas akan nasib mereka yang gagal, mereka semua gagal dalam sekali serangan.
__ADS_1
Para penjajah yang melintas melalui jalan besar terhenti karena sebuah polisi tidur dengan bentuk pohon yang sangat besar menghalangi jalan hingga tidak bisa di lalui.
Dan bodoh bagi mereka yang memilih menghancurkan pohon tersebut dan berkerumun hingga memudahkan para pemanah menghabisi mereka dalam sekali serang hingga tidak ada yang tersisa seakan tanpa perlawanan dan pengorbanan sedikitpun.
Begitupun yang melalui jalan hutan, mereka memang sudah mempelajari trik para pribumi, namun nahas para pribumi yang memiliki pikiran terbuka lebih mudah memberikan serangan.
Tidak di butuhkan para penyerang cukup beberapa mata mata saja mampu meluluh lantahkan para penjajah yang jumlahnya sangat banyak, hingga gundukan mayatpun nampak sangat mengerikan.
Mereka terus berjaga sepanjang malam di takutkan penyerangan susulan yang akan melancar, namun tidak ada penyerangan lagi meski begitu mereka sama sekali tidak lengah dan terus berjaga di pos mereka.
Salah seorang mata mata kembali dengan kabar gembira pada Jajang bila para penjajah telah dimusnahkan, kini tinggal Jaka saja yang belum kembali.
Ada sebersit rasa khawatir namun tiba tiba rasa bahagia yang entah dari mana asalnya mengitari dada Jajang dan meluluhkan kekhawatirannya.
Salah seorang penyerang yang di tugaskan Jajang untuk mengikuti Jakapun kembali, wajah mereka nampak memerah dengan terus senyum senyum sendiri.
"Ada apa?" tanya Jajang penuh rasa penasaran dengan kondisi saudaranya.
"Hahahaha, memang pandangan dari a Jajang tak pernah meleset, kita kabur dari medan perang a. Tapi tolong jangan hukum kami, dan sebaiknya aa hukum saja a jaka!" ucap salah seorang temannya lagi.
Alis jajang terangkat sebelah merasa sangat penasaran dengan maksud dua mahluk yang nampak baru saja di rebus dalam kolam larpa pijar itu, karena wajah mereka yang nampak seperti tomat matang sangat merah berkilau.
"Apa yang sedang kalian berusaha jelaskan?" tanya Jajang merasa penasaran.
"Feet.. Ehem... Feet.. Hahahahah..!" bukannya jawaban yang mereka berikan melainkan gelak tawa yang begitu membahagiakan.
Melihat hal tersebut Jajang mulai faham dengan apa yang baru saja para penyerang itu lihat, diapun tersenyum simpul.
__ADS_1
"Seru nontonnya?" tanya Jajang lagi tersenyum menatap kedua orang yang yang tengah cekikikan.
"Ehem.. Terima kasih a, kami mendapatkan pengalaman baru!" ucap salah satu dari dua orang tersebut.
"Semoga saja a Jaka tidak kebablasan ya!" ucap lagi yang lainnya, dengan tawa yang tak lepas dari mulutnya.
"Sudah sampai tahap itu bagaiman mungkin mereka tidak khilaf, pasti mereka beruda bakal khilaf!" ucap lagi yang satunya menimpali ucapan kawannya.
"Khilaf apa?" tanya Jajang penasaran, dia juga tahu bagaimana sifat Jaka namun bila urusan kebablasan sepertinya itu hal mustahil bagi Jaka.
"Itu a.. Hmm.. Anu!" ucap pria yang di hadapannya keduanya nampak beradu pandang.
"Anu apa?" tanya Jajang lagi penasaran dengan apa yang telah terjadi.
"Anu kitu a.. Feet.. Hahahah.." gelak tawa lagi lagi tak dapat mereka bendung dan membuat Jajang menggeleng pelan.
"Rahasiakan ini, jangan sampai ada gosip buruk tentang Jaka, bila ada gosip buruk aku pastikan lidah kalian akan ada di ujung belati!" ucap Jajang mengancam keduanya.
Keduanyapun faham, bagaimana mungkin mereka mbocorkan hal semacam itu pada orang lain, bisa bisa mereka di cap tukang intip.
"Lalu sebenarnya apa yang kalian lihat?" tanya Jajang merasa penasaran dengan cerita dua mahluk yang seperti tengah kesurupan itu.
"Maaf a, kami tidak bisa ingkar janji, kami sudah berjanji padamu tidak akan menceritakan apapun pada siapapun!" ucap keduanya berbarengan dengan kalimat panjang, namun mampu seirama dan seucap.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca karya Raisa, jangan lupa meninggalkan jejaknya ya...!
__ADS_1
Jangan lupa vote, dan giftnya juga, karena sedikit apapun dukungan kalian itu sangat berarti bagi author, terimakasih!
Salam cinta dari Raisaπππ