DARAH JUANG

DARAH JUANG
Pohon kematian


__ADS_3

Beberapa hari berlalu mentari dan rembulan sudah bergantian memberikan sinarnya pada bumi, kondisi Jajang kini nampak lebih baik terlihat dari luka di perutnya yang nampak telah mengering.


"Mau ikut latihan?" tanya Jajang pada Jaka yang nampak tengah merapikan bekas sarapan mereka.


Mata Jaka langsung berbinar mendapatkan tawaran dari Jajang, dengan langkah pasti dan penuh semangat Jaka mendekat ke arah Jajang dan mengangguk.


"Baiklah, ayo!" Jajang tersenyum dan menggunakan benda benda yang ada di alam mereka dengan giat berlatih penuh semangat.


Mode bertahan seperti dulu sudah cukup membuat korban berjatuhan, kini meski mereka hanya berdua mereka bertekad untuk melawan dan melakukan serangan balik.


Hampir satu tahun mereka berlatih, dan Jakapun kini telah berubah menjadi pria perkasa dan nampak lebih mempesona, sebuah kayu kecil runcing seukuran tusuk sate mereka bawa untuk melindungi diri.


Benda kecil itu telah lulus uji coba untuk di gunakan sebagai senjata, sebelumnya sudah beberapa kali Jajang gagal membuat senjata kecil yang mematikan. Nampak benda kecil itu tidak ada bedanya dengan besi, warnanya hitam pekat dan bergaris layaknya batu.


Jajang awalnya cukup ragu dengan kayu yang dia gunakan selain karena kayu itu mudah terbakar dan sangat rapuh saat terkena benda tajam. Namun ternyata pemikirannya salah kayu itu sangat berguna dan mengapa dia mudah terbakar karena ternyata getah dari kayu tersebut mengandung sebuah zat yang mudah terbakar dan mengandung racun.


Awalnya Jajang juga tidak tahu bila kayu tersebut mengandung racun hingga saat dia melihat tikus hutan yang melintasi pohon yang entah apa namanya itu mati saat kakinya tertancap ranting pohon tersebut yang telah mengering. Hingga akhirnya Jajang memberikan julukan pada pohon tersebut sebagai pohon kematian.


Pohon kematian nampak sangat menawan dengan daun berwarna kuning keemasan dan bunga berwarna merah muda bahkan buahnyapun nampak sangat menggoda berwarna hijau yang muda dan merah yang sudah matang bahkan bentuk buahnya saja sangat sulit di bedakan dengan buah apel.


Dan benar saja buah itupun beracun namun bunganya juga tidak kalah mematikan, Jajang yang menemukan benda langka itu lantas bersuka cita karena bila di gunakan dengan hati hati semua hal di pohon itu akan menjadi sangat berguna.


Pagi itu Jajang dan Jaka membawa sebakul benda yang mematikan di punggungnya mereka melompat dari pohon ke pohon dan berhenti di sebuah tempat luas dengan tanah terawat berwarna merah.

__ADS_1


Jajang menunduk di hadapan dua belah batu bersebrangan, Jajang mengelus pusara yang kini tepat berada di hadapannya.


"Aku akan berjuang demi cita cita kita sayang, tunggu aku kembali!" ucap Jajang yang kemudian bangkit berdiri dan melangkahkan kakinya, seperti terhempas angin tubuh Jajang dengan cepat melayang di antara pepohonan nan rimbun.


Hingga satu hari penuh mereka akhirnya sampai di tepi pantai.


Nampak jelas sebuah dermaga yang tengah di bangun oleh orang orang dengan cambukan sebagai upahnya, yang tua, muda, bahkan lansia. Ada wanita dan anak anak pula di dalamnya, hati Jajang meringis dengan nasib tragis yang menimpa mereka para pribumi yang menjadi budak para pendatang.


"Jang! Kita harus apa?" tanya Jaka yang bersembunyi di semak semak bersama Jajang.


"Kita lihat dulu situasinya, kita tidak boleh gegabah, lihatlah senjata mereka cukup lengkap!" ucap Jajang menunjuk para tentara yang tengah berjaga dengan atribut lengkapnya.


Jaka mengangguk mengerti mendengar bisikan Jajang, untuk sementara mereka undur diri di sore yang kian menua itu, Jajang dan Jaka bersembunyi dengan jarak sekitar 500 Meter dari tempat orang orang pribumi yang tengah bekerja rodi.


Malam yang di tunggupun tiba, Jajang dan Jaka membasuh wajahnya setelah tidur sejenak untuk mengisi energi guna melakukan penyerangan, air mengalir membasuhi wajah mereka sebelum berangkat terlebih dahulu mereka melakukan sembahyang sholat hajat, tahajud dan sholat tasbih atau kita lebih mengenalnya sebagai sholat taubat.


Setelah di rasa waktu yang mereka tetapkan pas Jajang dan Jaka mengendap di antara hembusan angin malam, nampak seluruh warga yang tengah tertidur dan para tentara beberapa tengah berjaga, Jajang memperhatikan langkah kaki para penjajah yang menggunakan sepatu buth yang beralas tebal, kini rencana merekapun mungkin akan gagal bila menaburkan racun di tanah dan bukan para penjajah yang akan mati bila Jajang melakukan sedikit saja kesalahan namun para pribumi yang tidak bersalah yang akan menjadi korbannya.


"Bagaimana ini?" bisik Jaka memperhatikan para penjaga yang berlalu lalang.


Terlihat para penjaga itu nampak bukan hanya dari para penjajah melaikan pribumi yang berhianatpun ikut turut membantu para penjajah, hati Jajang seakan di remas saat mendapati kenyataan tersebut.


"Kamu tunggu di sini!" ucap Jajang yang kemudian mengendap endap.

__ADS_1


Tanpa sura Jajang membekap salah seorang penjaga yang berkulit mirip dengannya, dan melucuti pakaiannya, pria itu di buat pingsan oleh Jajang namun bila imun dalam tubuh pria itu rendah bisa saja pria itu mati karena racun dalam bekapan itu layaknya obat bius namun sangat mematikan bagi sebagian orang.


Jajang mengenakan pakaian pria tadi dan kembali membekap pria lainnya dan menyembunyikan kedua tubuh tanpa pakaian itu.


Jajang kembali kehadapan Jaka dan memberikan satu setelan baju, Jaka terkekeh geli melihat penampilan Jajang yang nampak aneh namun dia kembali serius dan mengenakan pakaian yang di berikan Jajang.


"Malam ini kita harus berhasil!" ucap Jaka penuh keyakinan.


Jajang mengangguk dengan keyakinan yang sama, mereka mengendap endap di antara kegelapan meninjau sekeliling memperhatikan sekitaran.


Mereka memperhatikan para warga yang nampak lelap dalam lelah, beberapa orang nampak berdarah di belakang punggungnya, mereka juga memperhatikan dua orang pria yang berjaga nampak tengah mabuk berat.


Jaka terkekeh melihat kelakuan mereka yang nampak tak ada bedanya dengan orang gila, mereka berbicara layaknya orang tidak sadar. Jajang menggeleng saat melihat Jaka terkekeh geli, sifat humoris Jaka memang tidak pernah membuat Jajang merasa kesepian Jaka sering kali membuat suasana menegangkan menjadi menyenangkan dan santai.


Ketegangan yang semula sempat terciptapun kini lenyap perlahan saat semua personil tentara nampak tidak perduli pada mereka, tujuan Jajang langsung mengarah pada kunci kunci gembok yang ada di salah seorang pengawal.


Jajang bukanlah seorang pencuri mungkin dia akan kesulitan menerapan pencurian kunci tersebut, namun dia yang pernah mengadili berjenis jenis pencuri di keraton tentu saja tahu bagamana taktik yang di lakukan para pencuri untuk berhasil memuluskan rencana mereka.


Tak di sangka Jajang, kini hal yang paling dia benci harus dia lakukan namun dia juga melakukan itu demi kebakan jadi dia tidak merasa keberatan melakukan pencurian.


Bersambung...


Jangan lupa Like, Komen dan tekan gambar hatinya.

__ADS_1


Salam cinta dari Raisa...😘😘😘


__ADS_2