DARAH JUANG

DARAH JUANG
Senandung jeritan rindu


__ADS_3

Gunung batu berwarna coklat, gunung membentang berkatifah hijau, angin yang menyapu kabut. Dalam aliran air bergemuruh menerpa bebatuan, dibawahnya ikan berenang menyapu kotoran.


Di tepi sungai itu api menyala berkobar, belati dan pisau di bakar di atasnya.


"Gigit ini bila kau merasakan sakit!" ujar seorang pria yang di percaya sebagai seorang Tabib.


Pria yang di minta itu mengangguk menerima gumpalan kain yang dia berikan.


Jajang menatap dari dekat memperhatikan setiap hal yang di lakukan sang Tabib, tangan Tabib itu nampak cekatan menumbuk sebuah dedaunan hijau yang entah apa isinya.


Tabib itu mengangguk memberi isyarat kepada jajang untuk memegangi pria tersebut, Jajang mengangguk memegang tangan pria di sampingnya, pria itu mengangguk mengerti dan menggenggam tangan Jajang.


Tabib itu mengambil sebuah belati panas dari atas kobaran api dan sebuah jeritan yang tertahan oleh kain yang menyumpal di mulutnya, tabib itu mencongkel sebuah benda kecil seperti besi sebesar ujung telunjuk dari sela sela daging dan urat warga itu.


Pria yang belum terlalu tua itu menjadi lemas saat darah mengalir dan di tempeli sebuah obat berwarna hijau di lukanya, terasa dingin dan nyaman sangat berbeda dengan sebelumnya yang terasa begitu menyiksa dan menyakitkan.


"Terima kasih!" ucap pria itu mentap Jajang yang terus menjaganya, Jajang mengangguk.


"Kita saudara sudah sepatutnya kita saling membantu!" ucap Jajang dengan senyum tulusnya.


Wajah teduh Jajang mampu membuat semua orang merasa nyaman dan menyejukkan kegundahan.


"Aku pamit dulu, ingin melihat kondisi sekeliling!" ucap Jajang tersenyum lembut.


Warga yang tengah terluka itu mengangguk dan membalas senyuman Jajang yang pamit.

__ADS_1


Nampak semua warga yang semuanya pria itu bergotong royong mencari kemungkinan mereka akan tinggal, mustahil bagi mereka tinggal di tempat itu di karenakan sudah pasti para penjajah itu akan mengikuti lorong dari bawah tanah menuju kesana, meski memang sebelumnya terah di ambrukkan namun hal pelacakan yang di lakukan penjajah bisa saja menememukan mereka.


Namun tetap mereka bersyukur karena para wanita dan anak anak sudah di ungsikan jauh membelah lautan dan mungkin kini mereka sudah sampai di pulau batu dan tinggal dengan damai.


"Jang bagaimana?" tanya Surwa yang muncul di belakang rama dengan kaki dan tangan lemahnya akibat kejadian beberapa belas tahun lalu.


"Sepertinya di sini tidak aman Sur, kita harus secepatnya pergi dari sini, untuk menghindari kecurigaan kita harus menyusuri sungai agar tidak terdeteksi keberadaan kita!" Ucap Jajang serius.


Surwa mengangguk faham dia memberikan kabar pada para warga desa lain yang tengah memperhatikan sekeliling untuk berkumpul dengan siulan sandinya.


"Ada apa?" tanya seorang pria yang baru turun dari rimbunan pohon.


"Kita harus secepatnya meninggalkan tempat ini!, kita bergantian membawa orang orang yang terluka." ujar Surwa memberikan perhatian pada para warga.


"Baiklah, kita harus bersiap sekarang!" seorang pria bertubuh tegap besar menimpali.


Warga nampak sudah bersiap berangkat, semuanya terlebih dahulu melakukan do'a untuk kepergian mereka sesui kepercayaan mereka masing masing.


Beragam suara di langit tanah tercinta, suara bangsi di gua tertangga, suara kecapi di pegunungan jelita, suara bonang mengembang di pendapa, suara kecak di mata pura, suara tifa di hutan kebun pala, semua terdengar namun tanpa terucap dari semilir angin yang menghempas di telinga.


guruh air perlahan menghilang dari pendengaran saat langkah kaki mereka kian menjauh dan menapaki batu batu besar dan kecil mereka lewati, airpun mengalir membasuhi kaki mereka yang kian pucat.


Langkah mereka kian menjauh dan kini mereka sampai di sebuah tempat yang sangat tertutup dengan pohon cerelang dan bambu bambu haur yang berhimpitan.


"Kita tidak boleh menginjak tanah di sekitar sini agar mereka tidak mengetahui keberadaan kita, kita harus langsung menaiki pohon saja." Jajang menjelaskan dan memangku seorang pria yang tengah terluka yang sebelumnya berada di atas tandu lantas melompat dan menaiki pohon yang cukup besar, kadaka dan lumut hijau menjadi pijakan pertama Jajang. Licin sudah pasti namun pijakan kakinya tidak meleset dan berdiri tegap di susul oleh orang orang di bawahnya yang mengikuti Jajang.

__ADS_1


Jajang meloncat dari pohon ke pohon dan terus di ikuti warga yang lain hingga akhirnya mereka sampai di sebuah tempat yang sangat tertutup dan jauh dari awal mereka pergi.


Tidak terasa langkah mereka hingga senja sudah berada di ujung langit, Jajang menghentikan langkahnya yang di ikuti oleh para warga di belkangnya.


"Kita akan tinggal disini sementara!" ucap Jajang menurunkan pria yang dia bawa, dan terlihat keadaan pria itu yang nampak lebih baik dari sebelumnya.


"Ya!" seru seluruh warga bersorak. Dengan cekatan para warga memotong beberapa pohon dan membangun rumah mereka di atas pohon dan merapikannya agar bila hujan mereka tidak kebasahan.


Namun selain itu mereka juga membuat sebuah gubuk kecil di bawahnya untuk memasak, dan menyantap makanan mereka. Keadaan riuh tercipta meski hati mereka terasa sakit karena harus berpisah dari orang orang yang di kasihi namun merekapun tahu bila hal itu di lakukan untuk kebaikan mereka.


Seadainya anak anak dan lansia turut ikut bersama mereka tentu langkah mereka tidak akan sejauh itu, dan bukan hal mustahil bila mereka akan mudah tertangkap bila para wanita ikut bersama mereka.


Syukur tak henti hentinya mereka ucapkan, meski ada yang terluka namun hal itu bukanlah apa apa karena sudah pasti jumlah penjajah yang matipun tidak sedikit. Mungkin kini para penjajah itu sudah berlumur darah dengan hitam dari arang sisa puing puing bangunan yang semula mereka bakar sendiri.


Sore berjalan dengan syahdu hingga malam tiba, semua kejadian hari itu sungguh sangat membuat mereka lelah namun tidak mengurangi kewaspadaan mereka.


Beberapa orang berjaga di sekitaran wilayah memastikan tidak terjadi kejanggalan, sedangkan sisanya beriatirahat, hingga merekaoun bergantian di tengah malam hari.


Sudah menjadi biasa bagibagi Jajang merenung di malam hari yang mana dia selalu merindukan sosok sang isteri dan kini dia pula harus di pisahkan dengan puterinya, namun hal yang dia ambil adalah sesuatu yang memang harus di ambil untuk keselamatan putetinya sendiri.


Dia sangat percaya pada kemampuan puterinya hingga akhirnya diapun bersenandung di antara malam dan dauh daun yang bertabrakan menciptakan senandung yang sangat terasa amat indah, membuat dada Jajang menjadi tenang dan syahdu dia rasakan terasa lembut.


Bersambung...


Jangan lupa Like, Komen dan masukin list bacaan kalian ya...

__ADS_1


Salam cinta dari Raisa..


__ADS_2