Dear Him

Dear Him
10.10


__ADS_3

Keesokan harinya, tanpa kuduga aku kini berada di alun-alun. Sebenarnya bukan di alun-alun nya, hanya dekat dari alun-alun.


Kini aku berdiri di sebuah tempat yang terlihat kosong, gelap, dan sangat sepi, hingga beberapa orang datang dan menutup jalan keluar ku. Mereka semua lelaki, sekilas nampak seperti ANGKASA RAYA. Apa mereka ALDEKAR?


Kemudian seseorang muncul, bukan dia yang familiar di ingatanku. Tapi cowok di sebelahnya, benar-benar familiar... Jangan bilang... Rama?!


" Lo Driana ya? Pacarnya Fadel kan?! " Seru cowok di samping Rama itu. Pacar nya Kak Fadel? Siapa yang bilang begitu?!!! Dan lagi, kayaknya mereka kenal Kak Fadel... Apa mereka benar-benar ALDEKAR yang sering Kak Fadel sebut?


" Kalau iya, emang kenapa?! " Aku berusaha menggertak. Jujur, hati kecil ku takut. Menciut, tapi aku tak mau menunjukkan pada mereka kalau aku takut. Tanpa kuduga, Rama berjalan kearah ku dan mulai menyudutkan ku.


" Lama gak ketemu ya? Gak usah sok gertak gitu deh... Gue tau lo belom pacaran sama si Fadel Angkasa Raskara itu... " Rama tersenyum sinis, ia masih berusaha menyudutkan ku. Apa yang harus kulakukan lagi?!


" Rama, lo.. Lo jangan deket deket!! " Aku hendak mendorong badan Rama, tapi Rama langsung menahan tanganku. Membuat ku tak bisa apa-apa.


" Waktu itu lo nolak jadi pacar gue, sekarang lo pacaran sama cowok kayak Fadel? Cih, gak bakal gue biarin... " Tangan Rama masih menahan tanganku. Ia kini menyudutkan ku dan hendak meraba paha dan dada ku.


" Ram!! Lo gila!! "


" Gue gila karena lo, gue gak bakal lakuin ini kalo lo gak jadi pacar nya Fadel... Sekarang, gue bakal bikin lo lupa sama pacar lo yang namanya Fadel itu. " Rama semakin meraba paha ku, sekarang... Kali ini, aku benar-benar berharap Kak Fadel dan Kak Kean ada disini...


" Kak Fadel... Kak Kean... Bintang... Langit... Teman-teman... Tolong datang!! " Aku hanya bisa membatin sembari memejamkan mata. Air mata terasa membasahi pipi ku, aku... Takut. Aku berharap ANGKASA RAYA cepat-cepat datang dan membantuku.


Sesaat terdengar suara deru motor menggelegar, setelah aku membuka mata ku, terlihat Kak Fadel dan para ANGKASA RAYA berdiri tepat di depan ku dengan Rama yang kini di pukul habis-habisan oleh Langit.


" Brengsek!!! Apa-apaan lo?!!! Apa yang baru aja lo mau lakuin ke sodara gue?! " Langit memukuli Rama habis-habisan, terlihat Langit benar-benar memukuli Rama tanpa henti. Tapi Rama membalas pukulan Langit hingga Langit terhuyung ke arah ku.

__ADS_1


" Lang!! Lo bener-bener keterlaluan, Ram!! " Aku memeluk erat Langit yang kini terbaring dengan darah keluar dari bibirnya, walaupun begitu Langit masih berusaha bangun. Melindungi ku.


Tanpa aba-aba, Kak Fadel langsung memukul Rama dan membanting nya. Rambut nya yang semula rapi kini acak-acakan akibat perkelahian dengan Rama. Kak Fadel memukuli Rama terus-menerus sembari mengumpat. Wajah Kak Fadel benar-benar menunjukkan ia kesal bukan main.


" Heh... Ketua ANGKASA RAYA ternyata jadi teledor cuma gara-gara cewek ya? Bahkan rela masuk ke jebakan lawan... " Rama, dengan darah keluar dari bibirnya, dan wajahnya yang penuh luka, kini tersenyum sinis kemudian membuang ludah nya dan mulai memukul Kak Fadel.


" Gue gak peduli. Entah gue masuk ke jebakan kelompok lo, entah gue masuk ke kandang harimau sekalipun, gue gak bakal biarin pacar gue kenapa-napa gara-gara orang brengsek kayak lo!!! " Kak Fadel berseru, tatapan matanya kini lebih tajam dari biasanya. Kak Fadel menghindari semua serangan dari Rama kemudian membalas serangan dari Rama.


Gue gak bakal biarin pacar gue kenapa-napa... Siapa yang Kak Fadel maksud? Apa jangan-jangan itu, aku?


" MERAH!! RAMA!! TOLONG HENTIKAN!! " Teriakan itu menggelegar di gang tempat kami berada, membuat Rama, Merah, para ALDEKAR dan juga ANGKASA RAYA termasuk aku menoleh kearah sumber suara.


Abim, Samudra, Bobi, Galen, Kak Alden dan Kak Anta berdiri tegas dan berdiri di depan kami, para ANGKASA RAYA.


" Wah wah wah, benar-benar menakjubkan. Keenam pengkhianat datang untuk menyelamatkan kawan baru mereka. " Merah tertawa sinis, ia menatap lagi keenam cowok yang kini berdiri di dekat para ANGKASA RAYA.


Sebuah jebakan yang disiapkan, beberapa buah beling kaca tiba-tiba jatuh seperti hujan. Menarget para ANGKASA RAYA kecuali aku, Kak Keandre, Kak Alden dan Kak Anta.


Para ALDEKAR langsung pergi begitu mendengar satu persatu jeritan para ANGKASA RAYA. Mereka membuat ANGKASA RAYA dijatuhi puluhan hujan kaca.


" Tidak!!! Kak Fadel!! Langit!! Bintang!! Temen-temen!! " Setelah hujan kaca itu mereda, aku membekap mulutku ketika melihat para ANGKASA RAYA berlumuran darah.


Pakaian, tangan, kaki, celana, bahkan wajah mereka tertutup darah mereka. Beling kaca menempel di sekujur tubuh mereka, yang membuat ku semakin sesak, mereka yang sudah lemas tak berdaya ambruk begitu saja.


****************

__ADS_1


Kini aku, Kak Keandre, Kak Anta dan Kak Alden berada di rumah sakit. Kak Keandre langsung menelepon ambulans dan membawa para ANGKASA RAYA ke rumah sakit, dan di rawat di kamar inap khusus untuk ramai-ramai.


Selang infus menempel ditangan seluruh ANGKASA RAYA. Mereka semua tak sadarkan diri. Termasuk Kak Fadel, Bintang dan juga Langit. Padahal aku sudah berusaha berisik supaya Langit terbangun, tapi nyatanya ia belum bangun juga.


Bulan datang dan menangisi Bintang yang dari pagi belum sadar bahkan sampai sore.


" Driana, kamu keluar aja dulu sama Bulan. Aku bakal jagain yang lain, Alden, Anta, tolong ya. " Kak Kean mengusap pelan rambutku. Akhirnya aku, Bulan, Kak Alden dan Kak Anta memilih keluar.


****************


Keandre POV :


Setelah Alden, Anta, Bulan, dan Driana keluar meninggalkan ku sendiri dengan para ANGKASA RAYA yang sedang tertidur lelap akibat kelelahan kecuali Fadel, Langit, dan Bintang, aku duduk sembari membuka jendela.


Cahaya lampu kota di malam hari, begitu terang. Suara ricuh klakson kendaraan di mana-mana, langit yang semakin gelap, dan disertai hujan lebat, menemaniku.


Pintu terbuka, memperlihatkan ayah ku yang seorang dokter, dan juga dokter yang merawat ANGKASA RAYA dari lama, datang menghampiri ku dengan tatapan yang seolah-olah merasa tak enak akan suatu hal.


" Ada apa ayah? Kayaknya ada yang mau ayah kasih tau ke Kean. " Aku berbalik menghadap pria di hadapanku itu, ia sekilas menatapku kemudian menatap ke sembarang arah dengan lagi-lagi tatapan tak enak akan sesuatu.


" Kean... Fadel, Langit, dan Bintang.. Ketiga temanmu itu, lukanya lebih parah di banding teman-teman mu yang lain. Terutama Fadel. " Kiano Laskar Valendra, ayah ku menatapku pelan, kemudian mengalihkan pandangannya ke Fadel, Bintang dan Langit.


" Jadi... Ayah gak mau bilang ini, tapi yah apa boleh buat.. Kalau Fadel, Langit dan Bintang sampai besok sore belum bangun, kamu harus bangunkan paksa. Jangan sampai di biarkan mereka gak sadar sampai malam. "


Setelah mengatakan itu, ayah hendak pergi. Walaupun begitu, langkahnya terhenti dengan pertanyaan ku.

__ADS_1


" Memang, kalau mereka belum bangun sampai malam... Apa yang akan terjadi? "


__ADS_2