
Aku kini berada di sekolah, menunggu jam nya ekskul PMR di mulai sembari mendengarkan musik dari headset ku.
" Lo dari tadi disini? "
Aku menoleh, terlihat Kak Fadel dengan kaos PMR berwarna abu miliknya, tubuhnya berdiri tegap dengan rambutnya yang sedikit acak-acakan. Iris mata nya menatap ku dengan tatapan bertanya-tanya.
" Iya, aku disini dari tadi.. "
Kak Fadel seketika duduk di sebelahku, membuat ku berpindah sedikit supaya tidak berdempet dengannya. Hingga tanpa aku sangka, Kak Fadel menyenderkan kepalanya ke bahu ku seraya menatap ponselku.
" Mendengarkan lagu apa? " Kak Fadel bertanya. Belum sempat aku menjawabnya, tangannya mengambil headset ku dan memakai sebelah nya di telinganya.
𝙄 𝙪𝙨𝙚𝙙 𝙩𝙤 𝙧𝙪𝙡𝙚 𝙩𝙝𝙚 𝙬𝙤𝙧𝙡𝙙
𝙎𝙚𝙖𝙨 𝙬𝙤𝙪𝙡𝙙 𝙧𝙞𝙨𝙚 𝙬𝙝𝙚𝙣 𝙄 𝙜𝙖𝙫𝙚 𝙩𝙝𝙚 𝙬𝙤𝙧𝙙
𝙉𝙤𝙬 𝙞𝙣 𝙩𝙝𝙚 𝙢𝙤𝙧𝙣𝙞𝙣𝙜, 𝙄 𝙨𝙡𝙚𝙚𝙥 𝙖𝙡𝙤𝙣𝙚
𝙎𝙬𝙚𝙚𝙥 𝙩𝙝𝙚 𝙨𝙩𝙧𝙚𝙚𝙩𝙨 𝙄 𝙪𝙨𝙚𝙙 𝙩𝙤 𝙤𝙬𝙣
𝙄 𝙪𝙨𝙚𝙙 𝙩𝙤 𝙧𝙤𝙡𝙡 𝙩𝙝𝙚 𝙙𝙞𝙘𝙚
𝙁𝙚𝙚𝙡 𝙩𝙝𝙚 𝙛𝙚𝙖𝙧 𝙞𝙣 𝙢𝙮 𝙚𝙣𝙚𝙢𝙞𝙚𝙨' 𝙚𝙮𝙚𝙨
𝙇𝙞𝙨𝙩𝙚𝙣 𝙖𝙨 𝙩𝙝𝙚 𝙘𝙧𝙤𝙬𝙙 𝙬𝙤𝙪𝙡𝙙 𝙨𝙞𝙣𝙜
𝙉𝙤𝙬 𝙩𝙝𝙚 𝙤𝙡𝙙 𝙠𝙞𝙣𝙜 𝙞𝙨 𝙙𝙚𝙖𝙙, 𝙡𝙤𝙣𝙜 𝙡𝙞𝙫𝙚 𝙩𝙝𝙚 𝙠𝙞𝙣𝙜
𝙊𝙣𝙚 𝙢𝙞𝙣𝙪𝙩𝙚, 𝙄 𝙝𝙚𝙡𝙙 𝙩𝙝𝙚 𝙠𝙚𝙮
𝙉𝙚𝙭𝙩, 𝙩𝙝𝙚 𝙬𝙖𝙡𝙡𝙨 𝙬𝙚𝙧𝙚 𝙘𝙡𝙤𝙨𝙚𝙙 𝙤𝙣 𝙢𝙚
𝘼𝙣𝙙 𝙄 𝙙𝙞𝙨𝙘𝙤𝙫𝙚𝙧𝙚𝙙 𝙩𝙝𝙖𝙩 𝙢𝙮 𝙘𝙖𝙨𝙩𝙡𝙚𝙨 𝙨𝙩𝙖𝙣𝙙
𝙐𝙥𝙤𝙣 𝙥𝙞𝙡𝙡𝙖𝙧𝙨 𝙤𝙛 𝙨𝙖𝙡𝙩 𝙖𝙣𝙙 𝙥𝙞𝙡𝙡𝙖𝙧𝙨 𝙤𝙛 𝙨𝙖𝙣𝙙
𝙄 𝙝𝙚𝙖𝙧 𝙅𝙚𝙧𝙪𝙨𝙖𝙡𝙚𝙢 𝙗𝙚𝙡𝙡𝙨 𝙖-𝙧𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣'
𝙍𝙤𝙢𝙖𝙣 𝙘𝙖𝙫𝙖𝙡𝙧𝙮 𝙘𝙝𝙤𝙞𝙧𝙨 𝙖𝙧𝙚 𝙨𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣'
𝘽𝙚 𝙢𝙮 𝙢𝙞𝙧𝙧𝙤𝙧, 𝙢𝙮 𝙨𝙬𝙤𝙧𝙙 𝙖𝙣𝙙 𝙨𝙝𝙞𝙚𝙡𝙙
𝙈𝙮 𝙢𝙞𝙨𝙨𝙞𝙤𝙣𝙖𝙧𝙞𝙚𝙨 𝙞𝙣 𝙖 𝙛𝙤𝙧𝙚𝙞𝙜𝙣 𝙛𝙞𝙚𝙡𝙙
𝙁𝙤𝙧 𝙨𝙤𝙢𝙚 𝙧𝙚𝙖𝙨𝙤𝙣 𝙄 𝙘𝙖𝙣'𝙩 𝙚𝙭𝙥𝙡𝙖𝙞𝙣
𝙊𝙣𝙘𝙚 𝙮𝙤𝙪'𝙙 𝙜𝙤𝙣𝙚, 𝙩𝙝𝙚𝙧𝙚 𝙬𝙖𝙨 𝙣𝙚𝙫𝙚𝙧
𝙉𝙚𝙫𝙚𝙧 𝙖𝙣 𝙝𝙤𝙣𝙚𝙨𝙩 𝙬𝙤𝙧𝙙
𝘼𝙣𝙙 𝙩𝙝𝙖𝙩 𝙬𝙖𝙨 𝙬𝙝𝙚𝙣 𝙄 𝙧𝙪𝙡𝙚𝙙 𝙩𝙝𝙚 𝙬𝙤𝙧𝙡𝙙
Aku dan Kak Fadel bersenandung pelan seraya menunggu PMR di mulai. Masih sekitar setengah jam lagi PMR di mulai.
" Viva la vida, huh? "
Aku menoleh ke arah Kak Fadel yang kini menyerahkan headset ku seraya menatapku.
" Iya, kakak tau lagu ini? "
" Yeah, lagu favorit. Terkadang, setiap denger lagu ini, gue selalu ngerasa ada yang kurang di gue apalagi kalo merintah ANGKASA RAYA. Gue takut aja gue salah dalam merintah para anggota. "
Kak Fadel menundukkan kepalanya, tangannya menutup wajahnya. Aku hanya bisa menepuk bahu Kak Fadel.
" Kayaknya selama kakak jadi ketua di ANGKASA RAYA, semuanya suka sama pemerintahan kakak. Karena, semuanya berasa nyaman gitu. "
__ADS_1
" Langit juga yang sebelumnya cuma nyaman di rumah, sekarang lebih sering di markas, hehe. "
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Setelah beberapa jam, ekskul PMR di bubarkan. Sekarang aku menemani Kak Fadel menghadap guru pembimbing ekskul PMR dan mengundurkan diri.
" Pak, saya mau mengundurkan diri. Terima kasih atas ilmu yang bapak ajarkan. Saya pamit keluar PMR... "
Setelah selesai, Kak Fadel menatap kearah langit yang mendung berwarna abu abu itu.
" Mau pulang bareng? Atau mau ke markas? "
Aku tersenyum kecil ketika merasa hal ini benar-benar dejavu. Aku menggandeng tangan Kak Fadel.
" Ayo ke markas. "
Aku kini berada di atas motor milik Kak Fadel. Hujan menerpa kami berdua. Membasahi seluruh Bandung. Sore itu, kami kembali ke markas ANGKASA RAYA.
" Gue balik. "
Kak Fadel melempar kunci motornya ke arah meja kemudian duduk di sofa dekat Kak Kean. Sedangkan aku membaringkan tubuhku di bahu Langit yang lumayan nikmat jika kau tertidur di bahu nya.
Keandre POV :
Setelah Fadel dan Driana kembali, aku menghampiri Fadel. Memberi tahu kondisi dari markas ANGKASA RAYA yang berada di dekat alun-alun.
" Del, kita harus hati-hati. Tadi pagi, markas kita yang di alun-alun di serang habis-habisan. "
Aku melirik ke arah Driana. Ia memejamkan matanya, tertidur di bahu Langit. Langit seketika memindahkan posisi tidur Driana kemudian kami mulai membahas penyerangan itu.
" Markas di alun-alun?! Agam, Varo, Rey, Mars sama Agara kan di sana!! Gimana keadaan mereka?! "
" Mereka gak apa-apa. Tapi tangan Mars cedera gegara salah satu anggota ALDEKAR bawa celurit. "
" Rey, Agam, Mars, Varo, Agara?! Lo semua gak apa-apa?! " Fadel berlari dan menghampiri mereka. Mereka saling menatap kemudian mengangguk pelan.
" Kita gak apa-apa... Fadel... Ukh.. "
Baru saja Rey menyahut, ia menahan tangannya, darah bercucuran membasahi lengannya.
" Fadel... Lo... Harus lindungi Driana... "
Kali ini Varo hendak berbicara, tapi ia keburu tumbang. Tangannya yang menutupi luka di perutnya berlumuran darah.
" Apa maksud lo, lindungi Driana? "
Fadel menatap ke arah Mars yang memberikan kertas yang sudah lecek. Aku, Fadel, Bintang dan Langit langsung membaca nya.
" Driana Cahya Permana akan mati malam ini jika kalian tidak memberikan benda itu pada kami. "
Aku, Langit dan Bintang saling menatap, sedangkan Fadel, wajahnya memerah. Tangannya terkepal sempurna dan langsung melempar asal kertas itu.
" Menyebalkan.. "
Keandre POV End
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Aku terbangun di sebuah ruangan asing. Tangan dan kaki ku terikat di kursi. Aku menatap sekitar dengan cukup panik. Di mana ini? Kenapa aku bisa ada di sini? Di mana Kak Fadel?
Aku berusaha membuka ikatan tali yang mengikat tangan dan kaki ku, hingga Rama datang menghampiri ku.
" Hey Driana. Apa kabar? "
" Rama!! Lepasin gue!! "
__ADS_1
Rama terkekeh pelan, tangan kanannya yang memegang pisau itu kini menempel di wajahku. Kali ini, ini bukan Rama yang aku kenal.
" Malam ini, pangeran lo bakal dateng ke sini. Kalo gue gak dapet barang yang gue mau, lo bakal mati disini. "
Rama terkekeh kemudian berjalan pergi. Aku berteriak-teriak, berharap seseorang menolong ku. Aku tak mau mati, tapi aku tak mau Kak Fadel dan ANGKASA RAYA datang kesini...
Sementara itu di markas ANGKASA RAYA,
Abimanyu, Bobi, Galen, Alden, Anta dan Samu, keenam anggota ANGKASA RAYA yang terbilang baru itu dalam perjalanan ke markas ANGKASA RAYA di Dago. Hingga setelah sampai, mereka berenam di buat terkejut.
Semuanya terkapar tak berdaya, termasuk panglima ANGKASA RAYA. Alden dan Anta sontak berlari ke arah Fadel dan Kean.
" Fadel?! Kean?! Bangun!! "
Fadel menolehkan kepala nya pelan, wajahnya pucat. Luka akibat hujan kaca tempo lalu belum sembuh dan kini di serang beruntun oleh pengkhianat ANGKASA RAYA.
" Abim, Galen, Samu, Bobi!!! Ambil kotak obat nya!! "
Beruntung para ANGKASA RAYA tidak menerima luka berat. Hanya luka sayatan atau pukulan.
" Lo gak apa-apa, Del? "
" Mereka mau " Benda Itu "... Ga mungkin gue kasih. " Fadel lagi-lagi mengacak rambutnya kian kencang.
" Seberapa penting benda itu? "
**********
Fadel POV
" Seberapa penting benda itu? "
Alden menatapku bingung. Iya, cuma gue dan mantan leader ANGKASA RAYA yang tau tentang seberapa pentingnya " benda itu ".
Gue mengusap pelipis. Menyebalkan.... Driana sekarang ada di tangan mereka dan mereka mau benda itu....
Fadel POV Ends
Fadel langsung mengambil jaket dan kunci motornya, para anggota ANGKASA RAYA langsung menuju markas pusat ANGKASA RAYA yaitu di Braga.
Markas pusat,
Fadel dan para anggota ANGKASA RAYA membuka pintu, membuat para mantan leader ANGKASA RAYA, yaitu Laskar, Raga, Laut, dan Reyga menoleh.
" Laskar, Laut, Reyga, Raga!!! Gue butuh ngomong sama kalian berempat. Hanya kita berlima! "
Laskar, Laut, Reyga, Raga dan Fadel kini berada di ruangan khusus. Mereka saling tatap kemudian menatap Fadel.
" Ada apa? "
Fadel langsung mengeluarkan sebuah kotak dari tas ranselnya. Meletakkannya ke atas meja.
" Gara-gara ini, pacar gue ada di tangan mereka. Gara-gara ini orang yang gue sayangi di ancem mati! "
Laskar menatap Fadel lekat-lekat kemudian melempar kotak itu.
" Isi kotak ini adalah bukti segala hal yang ALDEKAR lakukan selama ini, Del. Makanya ALDEKAR- "
" TAPI PACAR GUE YANG JADI TARUHANNYA!!! KALO GA GUE KASIH MALEM INI, PACAR GUE BAKAL MATI DI TANGAN MEREKA!!! "
Laskar, Laut, Reyga dan Raga menatap Fadel lagi. Se-spesial itu kah perempuan itu? Tapi, tak mungkin mereka memberikan isi kotak itu.
" FADEL!! " Reyga yang penuh emosi mendengar komplain Fadel langsung menggebrak meja. Fadel ikut menggebrak meja dan bahkan saling mencengkram kerah seragam masing-masing.
" Apa?!! Lo semua lebih milih orang yang gue sayang mati!!! Korbanin aja terus orang yang gue sayang, korbanin aja pacar gue!! "
__ADS_1