Dear Him

Dear Him
15.15


__ADS_3

" Ini... "


Semua hal yang terjadi, dari pertama kali aku bertemu dengan Kak Fadel, semuanya tertulis di sana. Dan yang paling membuatku tersenyum kecil adalah bagian saat aku dan Kak Fadel bertemu.


" Hari ini gue ketemu cewek. Adek kelas. Dia cantik. Gue ketemu pas pulang ekskul. Dia ajak kenalan gue, dia canggung. Dan, gue anter dia pulang hari itu. Kayaknya, gue tertarik sama dia.


Pas tau dia adeknya Langit... Mampus. "


Aku tersenyum kecil ketika melihat tulisan di bawahnya. Seseram itu kah Langit? Sampai-sampai ketua ANGKASA RAYA bilang mampus ketika tau aku adiknya Langit?


Halaman demi halaman aku buka, membaca sekilas kemudian menutup buku itu.


" Terima kasih, Kak Laskar... Kak Raga... Dan kalian semua... "


Nampak semuanya tersenyum. Beberapa menit kemudian, kami berjalan masuk. Kembali ke dalam.


Di dalam, kami duduk lagi. Masih benar-benar khawatir dengan Kak Fadel.


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Dokter keluar, membuat kami semua yang sedari tadi menunggu seketika berdiri dan menghampiri dokter.


" Dokter, bagaimana keadaannya? "


Dokter itu tersenyum pelan, sebelum menjawab pertanyaan beruntun dari kami.


" Dia selamat. Peluru sudah berhasil di keluarkan. Dia berhasil selamat. Sekarang dia hanya perlu istirahat untuk pemulihan. "


Kami semua menghela nafas lega. Syukurlah... Aku juga menghela nafas lega. Setidaknya Kak Fadel aman.


Dua hari berlalu, Kak Fadel kini sudah berada di ruang rawat biasa. Selang infus lagi dan lagi menghiasi tangannya. Detak jantungnya masih lemah, tetapi tidak selemah dulu.


Aku kini tengah sarapan di ruang rawat Kak Fadel. Para anggota ANGKASA RAYA sedang rapat sebentar di markas mereka di Dago. Hanya aku yang ada disini, sendiri.


Pergerakan dari Kak Fadel menghentikan sarapan ku, jari-jemari nya bergerak perlahan. Kelopak matanya juga terbuka perlahan.


" Kak Fadel! "


Aku menghampiri ranjang Kak Fadel, dan tanpa kuduga Kak Fadel langsung menarik tanganku. Membuatku berada sangat dekat dengannya.


" Kak... Kakak baru bangun... Jangan begini dulu... "


Kak Fadel melonggarkan cengkraman tangannya kemudian tersenyum kearah ku. Tangannya kini mengelus puncak kepalaku.


" Thanks. Lo mau nungguin gue. "

__ADS_1


Aku tersenyum pelan. Tiba-tiba pintu di ketuk, membuatku langsung beranjak membuka pintu.


" Kak Kean! Kalian! Ayo masuk, Kak Fadel udah sadar! "


Para anggota ANGKASA RAYA masuk, nampak wajah terkejut sekaligus bahagia tercetak di wajah mereka masing-masing. Melihat ketua mereka sudah sadar sembari tersenyum pelan kearah mereka, membuat masing-masing dari mereka memeluk erat Kak Fadel.


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Sementara itu di penjara,


Rama terduduk menatap mantan ketua ALDEKAR terdahulu yang menemuinya, Rafael.


" Lo bikin gue kecewa nerima orang kayak lo, Rama. Gue kecewa sama lo. Apalagi sampe lukain Merah yang merupakan atasan lo. "


Rama menatap lelaki di hadapannya kemudian terkekeh. Membuat Rafael, lelaki di hadapannya menatap Rama heran.


" Lo bisa apa? Lo gak pernah berurusan langsung begini! Lo cuma di belakang layar, Rafael! "


Rafael menunduk, rambutnya menutupi kedua mata nya. Tangannya terkepal dengan sempurna. Jika saja tak ada kaca yang menghalangi mereka berdua, mungkin ia akan menghajar Rama habis-habisan.


" ANGKASA RAYA itu musuh kita! Kalo pemimpin kita udah berpihak ke musuh kita, ya kita lawan! "


Rafael tersenyum pelan, ia menatap langit-langit kemudian menatap tajam Rama. Tangannya ia letakkan di dalam saku jaketnya, tak ingin kehilangan kendali dan mulai memecahkan kaca di hadapannya. Rafael menghela nafas pelan kemudian menyahut.


" Gitu ya? Kalo gitu... Jangan heran kalo mulai sekarang, lo jadi musuh ALDEKAR dan ANGKASA RAYA. "


" Musuh ALDEKAR? Jangan bercanda di saat yang gak tepat, El. "


" Gue gak bercanda.. Dan lo tau kalo gue lagi gak bercanda. "


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Rafael keluar dari kantor polisi, ia menaiki motornya menuju rumah sakit tempat Fadel dan Merah di rawat ketika ia mendapat pesan dari Laskar bahwa pemimpin ALDEKAR itu dalam kondisi kritis.


Rafael berlari ke ruang ICU, nampak Fadel yang masih mengenakan seragam pasien dan para anggota ANGKASA RAYA termasuk Laskar menunggu di sana.


Seburuk-buruknya Merah, tapi ia tetap sahabat bagi Fadel dan beberapa anggota ANGKASA RAYA. Terlebih, jika bukan karena Merah yang melindungi Fadel, mungkin Fadel sudah sekarat.


Dua jam berlalu, dokter keluar dari ruang ICU. Sontak semua orang yang menunggu dokter itu keluar langsung menghampiri.


" Maaf... Kami sudah mencoba semampu kami, tapi... Tuhan berkehendak lain. "


Semuanya shock, terlebih para mantan ketua ALDEKAR beserta Fadel dan beberapa anggota ANGKASA RAYA yang pernah menjadi teman dari Merah.


Kami semua semakin shock ketika kami menghampiri Merah. Tubuhnya kaku dan dingin, kulitnya juga pucat. Dan, wajahnya juga sudah di tutup kain putih.

__ADS_1


" No... "


Kak Fadel menghampiri Merah yang terbujur kaku. Kak Fadel menutup wajahnya, tak ingin orang lain melihat wajahnya. Tapi aku tau, hati nya pasti hancur mendengar hal itu.


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Beberapa minggu berlalu, kini kami semua berada di makam Merah, sang ketua ALDEKAR yang berkorban melindungi Kak Fadel, sang ketua ANGKASA RAYA.


" Sorry, Rah. Sorry... Gara-gara gue, lo jadi musuhan sama Fadel, temen lo... " Rafael tersenyum kecil ketika mengunjungi makam Merah.


" Thanks Rah, mungkin kalo lo gak lindungin gue, mungkin gue sekarat saat ini. " Kak Fadel juga tersenyum kecil, tatapan matanya kosong ke arah makam Merah.


Aku menggenggam tangan Kak Fadel, aku tau tentang persahabatan beberapa anggota ANGKASA RAYA termasuk Kak Fadel dan Kak Kean dengan Merah. Ini pasti berat bagi mereka, sangat berat.


" Kita pulang dulu, see you again, Merah. "


Semua nya kembali menaiki motor masing-masing, sedangkan aku di bonceng Kak Fadel. Semua motor itu menjauhi makam, melaju lagi ke jalan raya.


Hari sudah malam, aku dan Kak Fadel masih di jalan. Entah kemana tujuan Kak Fadel, yasudah lah aku hanya akan mengikuti saja.


Motor berhenti di dekat jalan kancil, jalan yang sangat familiar di ingatanku. Motor berhenti di sebuah warung nasi goreng.


" Gue laper, lo mau pesen apa? "


Kak Fadel turun dan duduk di sebelah ku sebelum ia memesan. Kami berbincang-bincang sedikit sebelum pesanan kami datang.


" Gue ngerasa harus nembak elo lagi... " Kak Fadel bergumam pelan, aku langsung menoleh kearah Kak Fadel yang kini mengelus tanganku.


" Driana Cahya Permana, perempuan tercantik yang gue pernah temui selain bunda gue dan ibu elu. Maukah lo jadi pacar gue? "


Aku tersenyum bukan main, hati ku kini dag-dig-dug luar biasa. Sepertinya wajahku memerah saat ini.


" Aku mau, Kak Fadel Angkasa Raskara. "


Kami berdua tersenyum, tepat setelah itu pesanan kami datang. Kami langsung melahap makanan kami masing-masing.


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Di rumah ku,


Aku turun dari motor Kak Fadel, aku tersenyum pelan ketika Kak Fadel mengecup puncak kepalaku.


" See you tomorrow, princess Raskara. " Kak Fadel tersenyum, sedangkan aku memukul pelan bahu Kak Fadel. Raskara, itu nama terakhir Kak Fadel. Dan itu di sematkan dalam namaku? Ini membuat wajahku memerah lagi.


" See you tomorrow too, prince Raskara. "

__ADS_1


Kami semua tertawa pelan kemudian berpisah. Aku masuk ke dalam rumah ketika Kak Fadel melajukan motornya menjauhi rumahku.


__ADS_2