Dear Him

Dear Him
11.11


__ADS_3

" Memang, kalau mereka belum bangun sampai malam... Apa yang akan terjadi? "


Ayah nampak menghela nafas berat, nafas ku menjadi tertahan, menahan nafas, ketika ayah mengatakan hal itu.


" Mereka bisa meninggal. "


Sekujur tubuhku lemas, segitu parahnya?! Terlebih, Fadel, Bintang dan Langit?! Kenapa harus mereka bertiga?!


" Ayah akan berusaha untuk membuat mereka sadar. Tapi itu kemungkinan terburuknya, Kean. "


POV KEAN, END.


********


Aku kini duduk di taman rumah sakit bersama Bulan, Kak Anta dan Kak Alden. Badanku terasa lemas melihat Kak Fadel terbaring di sana dengan selang infus menghiasi tangannya. Terlebih, Langit juga di sana. Dengan keadaan yang sama dengan Kak Fadel.


" Driana, gue pulang dulu ya. See you later, Anta, Alden, Anna... "


Bulan berjalan menjauh ketika sebuah gojek menghampiri nya. Meninggalkan aku dengan Kak Alden dan Kak Anta. Lagi-lagi tangisku tak terbendung lagi.


" Sudahlah Driana... Fadel, Langit, sama Bintang kuat kok. Mereka pasti lagi berusaha untuk bangun. " Hibur Kak Anta seraya tersenyum menatap ku, tangan dinginnya mengelus pelan tangan ku.


" Iya, mereka pasti ga mau kalo liat lo sedih begini. Jadi, jangan nangis lagi biar Fadel, Langit dan Bintang cepat sembuh. " Kak Alden juga kini menepuk bahu ku. Hal ini malah membuatku semakin menangis kencang bukan main.


Beberapa saat kemudian, kami bertiga kembali ke ruang rawat para ANGKASA RAYA. Nampak Kak Kean terduduk lemas di dekat jendela. Mata nya menatap keluar dengan tatapan kekosongan.


" Kak? Kak Kean? "


Kak Kean menoleh ke arah ku kemudian memelukku. Nafas Kak Kean menderu tak beraturan, seperti habis menangis. Aku hanya menepuk bahu Kak Kean, begitu juga dengan Kak Alden dan Kak Anta.


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Keesokan harinya, aku, Kak Kean, Kak Alden dan Kak Anta sudah berada di ruang rawat ANGKASA RAYA. Tengah memakan bubur ayam yang menjadi menu sarapan kami.


Beberapa anggota ANGKASA RAYA sudah tersadar sepenuhnya. Hanya tersisa ketiga anggota lagi, Kak Fadel, Langit dan Bintang.


Kami menatap sendu kearah ketiga lelaki yang tengah terbaring tak berdaya di sana. Hingga kami semua melihat beberapa pergerakan dari Bintang dan Kak Fadel.


" Bintang? Fadel?! "


Kami semua berdiri, melihat Bintang dan Kak Fadel yang jari jemari mereka bergerak perlahan. Kelopak mata mereka terbuka perlahan. Menatap kami semua.


" Bos!!! "


Semua anggota ANGKASA RAYA langsung memeluk Kak Fadel yang hendak mendudukkan dirinya yang baru saja sadar. Kemudian para anggota ANGKASA RAYA bergantian memeluk Bintang.


Aku senang, setidaknya Bintang dan Kak Fadel sudah sadar. Tapi di saat bersamaan, hati ku hancur melihat Langit masih terbaring di ranjang sebelah Kak Fadel. Kini hanya tersisa satu orang, Langit. Langit masih belum ada tanda-tanda. Ia masih memejamkan matanya, damai.


" Langit.... Aku mohon bangun... Aku ga punya siapa-siapa lagi selain kamu.... "


Aku mengelus pelan kepala Langit. Mata nya yang terpejam, kulitnya yang pucat bahkan mendingin, detak jantung yang perlahan melemah. Aku khawatir akan kehilangan dia. Dia kakak ku, aku tak mau kehilangannya.

__ADS_1


" Aku mohon bangun, Langit... Aku mohon... Aku tak mau kehilangan mu... "


Detak jantungnya perlahan melemah, aku memejamkan mata seraya mengelus tangan dingin nya. Aku tak ingin kehilangan dia... Setelah kehilangan sahabat masa kecil ku, aku tak mau kehilangan kakakku.


Tangan Langit yang ku genggam erat kini membalas dengan genggaman pelan. Aku membuka mataku, menatap mata coklat Langit yang menatapku aneh.


" Kenapa hm? Kau menangis? "


" Langit!!! "


Aku memukul pelan bahu Langit, sedangkan ia hanya tertawa pelan. Syukurlah, semuanya bangun tepat pada waktunya. Aku tak ingin kehilangan mereka semua terlebih Langit.


" Kita bertahan, ya. "


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


" Bos, ANGKASA RAYA bertahan. Mereka sudah sadar sepenuhnya. "


Merah membanting semua barang-barang yang berada di atas meja nya. Bahkan melempar gelas kaca di atas meja nya kearah lelaki yang memberi kabar tadi.


" Sial!! ANGKASA RAYA.... Ga bakal gue biarin kalian selamat kayak begini... "


******


" Ouch!! "


Aku kini bersama para anggota ANGKASA RAYA yang lain berada di markas ANGKASA RAYA di Dago. Aku kini membalut tangan Langit dengan perban karena luka nya masih belum boleh di buka.


" Gue bilang sakit woyy... "


" Diem dong. "


" Iya bawel... "


Aku tersenyum pelan kemudian menutup luka di tangan Langit dengan perban.


" Done. "


Langit tersenyum, kemudian menatap kalender. Libur sekolah kami sebentar lagi berakhir. Tak mungkin para ANGKASA RAYA kembali dengan luka berat, itu akan membuat mereka di skors atau bahkan di keluarkan.


" Driana... Aku mau ngobrol sama kamu... "


Nampak Asia, Eropa, dan beberapa anggota ANGKASA RAYA lain datang menghampiri ku. Langit seketika berjalan menjauh menuju kamarnya.


" Ada apa, Asia? Eropa? "


Asia dan Eropa yang merupakan sepupu ku dari pihak ayah ku itu menatap khawatir ke arah ku.


" Lo gak apa-apa kan, Driana? " Asia menyahut. Iris coklat nya menatap lekat-lekat diriku.


" Aku gak apa-apa, Asia. Aku lebih khawatir dengan kalian... "

__ADS_1


" Kami gak apa-apa. "


" Driana.. Gue saranin lo jangan sendiri. Maksud gue, kalo lo mau pergi kemana, lo jangan sendiri. " Agam menyahut, tangannya saling menggenggam tak berhenti. Aku menatap nya bingung.


" Agam bener. Lo jangan sendiri. Kita semua takut ALDEKAR bakal nargetin elo. " Mars ikut menyahut, ia menatap Agam kemudian lanjut berbicara.


" Kita takut ALDEKAR bakal nargetin elo dan bakal entah culik elo atau segala macem. Kita semua juga, lo tau... Baru keluar rumah sakit. Ga mungkin berantem dulu... " Varo membalas, sedangkan Rey dan Noah mengangguk.


" Iya... Makasih... Kalian juga hati-hati. "


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Beberapa minggu berlalu, kini kami sudah masuk sekolah dengan normal.


" Driana, hari ini ekskul kan? " Bulan datang menghampiri ku, kebetulan ia masuk PMR. Ekskul yang sama denganku.


" Iya. "


" Okay!! See you pas ekskul! "


Aku duduk di kursi ku, memandang ke arah luar. Pikiranku benar-benar kacau dengan segala hal yang tiba-tiba terjadi akhir-akhir ini.


" Haah... Akhir-akhir ini banyak yang sudah terjadi... "


Notifikasi di ponsel ku seketika membuyarkan lamunan ku. Membuat ku melihat notifikasi itu.


Kak Fadel


Kak Fadel : driana, hari ini ekskul?


Aku tersenyum kemudian menjawab.


You : Iya Kak.


Kak Fadel : gue bakal dateng sama Kean. Hari ini gue bakal ekskul terakhir


You : Maksud kakak?


Kak Fadel : maksud gue, ini hari terakhir gue ekskul. Gue mau keluar dari ekskul


You : Ohhh okay kak


Kak Fadel : masih banyak yang harus gue urus. lagian, ANGKASA RAYA lebih penting daripada ekskul nya.


Kak Fadel : kamu ga apa-apa kan, driana?


You : Aku ga apa-apa kak


Kak Fadel : maaf, bukannya ga mau ikut ekskul. tapi lo juga tau, masalah ALDEKAR belom beres


You : Santai kak, yang penting aku masih bisa ketemu kakak ><

__ADS_1


Kak Fadel : okay


__ADS_2