Dear Him

Dear Him
13.13


__ADS_3

" Oke, kita ke markas mereka malam ini. " Laskar beranjak dari duduknya kemudian mengambil kotak yang sedari tadi Fadel pegang.


" Kar, lo sendiri yang bilang benda itu berharga, kenapa lo malah ngorbanin benda itu? " Raga menatap Laskar yang nampak sedikit menimbang nimbang keputusan yang ia buat ini.


" Kita buat rencana, sehingga pacar Fadel aman, benda ini aman, mereka dapat akibatnya. "


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Malam harinya,


Di markas ALDEKAR, terlihat para anggota ALDEKAR berdiri di depan markas ALDEKAR yang merupakan gudang besar yang cukup jauh dari Bandung. Tak lama kemudian, terdengar suara mesin motor. Sudah pasti itu ANGKASA RAYA.


Motor para anggota ANGKASA RAYA berhenti di depan gudang itu. Semuanya serentak turun dari motor dan mengangkat tangan. Setelah di pastikan aman, tak ada senjata apapun, para ANGKASA RAYA masuk ke dalam markas ALDEKAR.


" Gak gue sangka, lo dateng juga. Fadel.. "


Fadel menatap tajam Merah yang tengah duduk di kursi. Senyum kemenangan tercetak di wajah Merah.


" Ini kotaknya, sekarang kasih tau gue, Rah. Di mana Driana? " Fadel mengeluarkan sebuah kotak dari saku jaket nya. Menunjukkannya kepada Merah.


" Gak bakal gue kasih tau di mana dia kalo lo gak ngasih kotak itu terlebih dulu. "


Keandre POV :


Gue dan yang lain sekarang ada di bagian belakang markas ALDEKAR. Beberapa anggota mereka menyuruh kami disini, sementara Fadel di dalem.


Tanpa diduga beberapa anggota ALDEKAR mengeluarkan pisau dan senjata tajam lain dan mengarahkannya ke arah kami.


" Semuanya, merunduk!! "


Terjadi baku tembak di sana. Gue dan anggota ANGKASA RAYA yang lain bersembunyi di balik beberapa mobil tua di sana.


" Weh!!! Ga ada yang bilang bakal baku hantam!!! " Mars menunduk seraya berseru.


" Oke, gue bakal maju duluan. " Bintang berlari kearah mereka dengan pisau di tangannya.


" Woyyy jangan gegabah Tang!!! "


" Gue bakal bantu. " Entah kenapa, gue juga ikut berlari dengan tangan yang menggenggam erat pecahan kaca akibat tembakan tembakan itu dan berlari ke arah ALDEKAR.


Keandre POV End :


Keandre dan Bintang berlari dan berhasil melumpuhkan beberapa anggota ALDEKAR. Walaupun begitu, mereka berdua juga terluka.

__ADS_1


" Laskar!!! Raga!!! Reyga!!! Laut!!! Cepet dateng!! " seru Langit yang kini ikut menyerang para ALDEKAR.


Tiba-tiba, suara motor menderu dan menabrak paksa pintu gudang belakang itu. Nampak Laskar, Raga, Reyga dan Laut, mantan leader ANGKASA RAYA itu.


" Raga, Reyga, bantu bagian sana!! Gue bakal bantu Kean dan Mars! "


Terjadi baku hantam, darah di mana-mana. Senjata senjata yang berlumuran darah juga dimana-mana. ALDEKAR kekurangan anggota, di luar sih. Sejujurnya jumlah anggota ALDEKAR lebih banyak di dalam ketimbang di luar.


Semua anggota ALDEKAR yang berada di gudang belakang tumbang, menyisakan para anggota ANGKASA RAYA yang sudah berlumuran darah berjalan masuk perlahan.


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Sementara itu, aku masih berada di dalam ruangan gelap itu. Masih berusaha melepaskan diri seraya berteriak meminta tolong. Semua tenaga ku benar-benar habis tak tersisa, suaraku serak.


Tiba-tiba terdengar suara baku tembak dari gudang belakang, membuatku semakin khawatir.


" Siapa itu? Jangan sampai mereka... "


Aku masih berusaha melepaskan ikatan tali ini, pikiranku kacau. Khawatir akan terulang lagi kejadian itu. Mereka semua di rumah sakit, hampir di ambang kematian. Aku tak mau itu terjadi...


Pintu seketika terbuka, terlihat Kak Fadel dengan baju nya yang berlumuran darah membantuku membuka ikatan talinya.


" Driana, ayo pergi.. "


" Driana, dengar... Don't be afraid, okay? Lo cepet pergi ke depan, di sana udah ada Kean, Langit, Bintang sama yang lain. "


Kak Fadel mengelus pelan tanganku, mata nya tak lepas dari tangan ku. Aku hanya melihat Kak Fadel dengan terkejut. Apa maksudnya lari ke depan? Aku diminta, keluar terlebih dulu dan meninggalkan Kak Fadel?


" Gak! Aku gak mau pergi duluan kecuali bareng sama Kak Fadel! "


Kak Fadel menggeleng pelan kemudian memelukku sesaat.


" Terlalu beresiko kalo kita pergi bareng. Lo duluan, gue bakal disini sebentar. Oke? "


Kak Fadel langsung berlari ke belakang, membuat beberapa anggota ALDEKAR yang dari tadi menembaki kami langsung menembaki Kak Fadel.


Aku langsung berlari keluar, nampak beberapa anggota ALDEKAR mengejar ku dan menembaki ku.


" Driana, menunduk!! "


Aku menunduk, Langit dan Bintang berlari ke arah beberapa orang yang mengejar ku tadi dan memukuli mereka.


" Driana, di mana Fadel? " Kak Kean dengan nafas terengah-engah serta berlumuran darah itu menatap ku.

__ADS_1


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Fadel POV :


Sekarang, gue lari kesana kemari. Tak tau arah. Gak tau juga gue lari kemana. ALDEKAR masih ngejer gue, bagus. Setidaknya Driana dan yang lain selamat.


Tembakan semakin kencang, di mana-mana tembakan. Semua mengarah ke gue. Apa gue bakal mati disini? Gue belom nentuin leader baru... Yeah, paling Kean sih yang bakal jadi leader selanjutnya.


Gue terus lari bahkan masuk ke apartemen kosong. Lari dan menaiki tangga, dan terus lari tak tau kemana. Hingga gue sampe di atas. Terpojok.


" Lo gak bisa kemana-mana Del. "


Merah berdiri di hadapan gue, tangannya udah keliatan bawa bawa pistol. Gue gak bisa apa-apa. Terlalu beresiko kalo gue manggil Laskar dan yang lain.


" Serahin kotak itu, atau lo yang bakal mati disini, Del. " Merah mengarahkan pistolnya kearah gue. Yaudah sih, sebenernya gue juga gak peduli gue bakal selamat atau enggak. Kalo gue mati juga, Kean bakal urusin segala hal tentang ANGKASA RAYA. Gak guna juga gue jadi leader.


Fadel POV Ends


Aku, Kak Kean dan semua anggota ANGKASA RAYA berlari masuk ke dalam gudang itu. Benar-benar berantakan, bekas tembakan di mana-mana. Kak Fadel juga gak ada.


Sebuah pintu yang mengarahkan keluar mengalihkan pandangan ku, aku langsung berlari kearah sana disusul para ANGKASA RAYA. Aku bingung berlari kemana, tapi melihat jejak darah di tanah... Ini pasti Kak Fadel...


Aku mengikuti jejak itu sampai masuk ke dalam sebuah apartemen kosong. Darahnya berceceran dimana-mana, hingga sampai di beberapa anak terakhir terdengar suara tembakan.


DORR!!! DORR!! DORR!!!


Badanku seketika melemas, seolah-olah aku tak ada tenaga di diriku. Tapi, di satu sisi aku ingin cepat ke sana dan melihat apa yang terjadi. Akhirnya aku memutuskan untuk berlari kesana.


Terlihat Merah yang merupakan ketua ALDEKAR itu menodongkan pistol ke arah samping kanan Kak Fadel sehingga peluru tadi tak mengenai siapapun di sana. Syukurlah...


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Fadel POV :


Merah menodongkan pistol ke gue. Gue gak mungkin biarin kotak ini di tangan ALDEKAR, karena gue tau seberapa pentingnya ini. Tapi di satu sisi, gara-gara kotak ini, Driana jadi di ancam.


" Tembak aja gue. "


Merah membelalak kaget pas gue ngomong itu. Kenapa? Kan, dia pengen gue mati. Dengan gue mati, dia dan siapapun gak bakal ada yang tau di mana kotak itu gue sembunyiin karena gue gak bawa itu kesini.


Dan... Driana juga bakal aman kalo sama Laskar dan yang lain. Yeah, Merah gak bisa dapet segalanya semudah itu. Seperti kata pepatah, " Tak semudah itu ferguso ".


Tangan merah bergetar hebat, tangannya hampir mendorong pistol itu agar gak nodong gue, tapi dia masih maksa buat nodong gue.

__ADS_1


" Kenapa lo mau mati? "


__ADS_2