Dear Him

Dear Him
14.14


__ADS_3

" Kenapa lo mau mati? "


Gue cuma bisa natep dia. Kenapa? Aneh, kenapa dia nanya perihal kenapa gue mau mati? 3A emang... Ada-Ada Aja...


" Kenapa? Aneh bener lo nanya begitu... "


" Jawab aja Del... "


" Karena gue udah muak di dunia ini? Lo yang paling tau apa yang gue butuhin di dunia ini, Rah... Semuanya udah di renggut sama Tuhan begitu aja. "


Gue menghela nafas, itu salah satu alasan lain selain biar Merah gak nemuin kotak itu. Gue muak sama dunia ini... Bener-bener muak.


" So, apa yang lo tunggu? Tembak aja gue. "


Gue lihat dengan cukup jelas, jari-jemari Merah sudah melekat pada pelatuknya. Jika ia menariknya, habislah gue. Gue memejamkan mata. Ahh, masih banyak hal yang belom gue lakuin...


Gue belom nembak Driana.. Gue belom bisa buat ANGKASA RAYA bangga, belom bisa ngajak Driana night ride keliling Bandung... Masih banyak hal, yang mau gue lakuin.


DORR!!! DORR!! DORR!!


Fadel POV End :


Aku berlari menghampiri Kak Fadel yang menatap Merah dengan tatapan bingung. Aku melihat kearah Merah, sedangkan Merah melempar sebuah ponsel kearah ku dan membuang jauh-jauh pistol yang ada di tangannya.


" Cepet panggil polisi sebelum gue berubah pikiran. "


Aku menatap bingung Merah. Kenapa tiba-tiba ia ingin aku memanggil polisi? Walaupun begitu, aku tetap melakukannya.


Merah tersenyum kemudian menepuk bahu Kak Fadel. Sedangkan Kak Fadel tersenyum pelan kearah Merah. Kelihatan sekali merah berdua memiliki ikatan persahabatan yang sangat kuat.


Aku yang berada di belakang mereka hanya tersenyum kecil melihat hal itu. Jarang sekali aku melihat Kak Fadel tersenyum begitu selain dengan Kak Kean, Bintang atau Langit. Seberapa spesial Merah bagi Kak Fadel?


Tiba-tiba, Rama yang berada di depan ku langsung mengambil pistol yang sempat Merah buang jauh-jauh. Tanpa aku duga, ia langsung menarik pelatuk. Tiga buah peluru meluncur kearah ku. Sial...


Jika mengenai ku, mungkin aku hanya kasian dengan tangisan Langit dan Bulan. Tetapi, peluru itu mengenai kedua lelaki, Kak Fadel dan Merah.

__ADS_1


Tiga peluru menembus mereka bertiga. Darah mengalir membasahi kemeja mereka. Membuatku yang terduduk di belakang mereka, membuatku membelalak kaget.


Kak Fadel dan Merah tumbang di depanku, dengan darah mengalir dan mengenai tubuhku. Aku terdiam membeku, jangan... Jangan mereka...


Aku berdiri dan menghampiri Rama. Hati ku hancur ketika melihat Rama menembak Kak Fadel dan Merah. Merah menodongkan pistol ke arah ku. Tapi, entah kemana pergi nya rasa takutku, aku sama sekali tak takut ketika Rama menodongkan pistolnya.


" Lo gak pantes bareng Fadel... Lo pantes nya bareng gue, jadi punya gue... "


Aku langsung menampar nya, bahkan pistol Rama sampai terlempar ke tempat lain.


" Lo... Lo nampar gue? "


" Berani-beraninya lo tembak badan cowok gue!! Bisa-bisa nya lo bikin atasan lo sendiri tumbang!! Lo gila Rama!! "


Seketika Kak Kean dan yang lain datang, beserta beberapa orang yang gak aku kenal, beberapa orang itu menghampiri Rama. Sedangkan Kak Kean dan yang lain menghampiri ku.


" Fadel!!! Gawat, Kean panggil ambulan!! "


Kak Laskar, lelaki yang Kak Fadel pernah bilang sebagai pendiri ANGKASA RAYA langsung memanggil Kak Kean.


Sedangkan aku lihat Rama di pukul habis-habisan oleh beberapa orang tadi. Tapi aku tak peduli, Kak Fadel jauh lebih penting di banding Rama brengshake itu.


Selama perjalanan menuju rumah sakit, aku memegang erat tangan Kak Fadel. Sedangkan Kak Fadel masih berusaha agar terjaga.


" Kak, bertahan ya... Aku gak mau kakak kenapa-napa... "


Kak Fadel tersenyum pelan, nafasnya lama kelamaan menjadi lambat. Detak jantungnya semakin pelan.


" Driana... Gue beruntung gue bisa ketemu sama orang kayak elu.... Gue suka sama lo, gue mau ada disisi elu... "


Aku menatap lekat-lekat Kak Fadel. Disaat seperti ini dia menembak ku? INI BUKAN SAAT YANG TEPAT WEH!!!!


" Kak... Ini bukan saat yang tepat buat nyatain perasaan kakak... "


Entah mengapa, sesak rasanya mendengar pernyataan cinta Kak Fadel. Menyatakan cinta nya pada ku di saat ia sekarat... Itu membuat hati ku seolah terkoyak.

__ADS_1


" Gue gak tau sampe kapan gue hidup... Kalo gue mati hari ini, setidaknya lo tau perasaan gue... "


Lagi dan lagi hati ku di buat terkoyak oleh Kak Fadel. " Kalo gue mati hati ini, setidaknya lo tau perasaan gue.. ". Kata itu benar-benar membuat tubuhku lemas. Gak, aku gak mau Kak Fadel mati hari ini!


" Jangan bicara begitu Kak... Aku gak mau kakak mati hari ini... Aku masih butuh kakak... Aku masih mau bersama kakak... "


Kak Fadel terkekeh pelan, tangan nya yang perlahan mendingin menyentuh pipi ku dan menghapus air mata di pipi ku.


" Jangan nangis... Gue janji gue bakal bertahan. Demi elo... "


Kak Fadel menatap langit-langit mobil ambulan, kemudian memejamkan matanya. Tangannya menjadi dingin, ini benar-benar membuatku takut. Takut kehilangan.


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Kami berada di ruang ICU, aku dan para anggota ANGKASA RAYA menunggu di ruang tunggu depan ruang ICU. Aku khawatir sesuatu terjadi padanya.


Kak Kean, Bintang dan Langit yang duduk di sebelahku menepuk pelan bahu ku. Aku menyandarkan kepala ku ke bahu Langit. Malam itu, semua air mata ku keluar. Aku tak tau kalau aku akan menangis sangat kencang saat ini. Apa sebesar itu aku menyukai Kak Fadel? Sampai-sampai aku mengeluarkan seluruh air mata ku?


2 jam berlalu, aku kini memeluk Langit. Kak Laskar dan beberapa mantan pemimpin ANGKASA RAYA akhirnya memutuskan agar mengajakku keluar. Yah, kurasa aku memang butuh udara segar.


Di taman rumah sakit, aku berjalan pelan diiringi mantan pemimpin ANGKASA RAYA. Aku tak mengenal semuanya, hanya Kak Laskar dan Kak Raga yang ku kenal.


" Fadel kuat kok. Dia juga pasti berusaha untuk bangun... " Kak Raga merangkul ku seraya mengajakku untuk duduk di kursi taman sana.


Aku menunduk, menatap kearah sepatu ku. Aku tak tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku sempat melihat Kak Laskar saling tatap menatap dengan para mantan pemimpin ANGKASA RAYA itu hingga akhirnya Kak Laskar dan yang lain berlutut di depan ku. Menatap ku.


" Driana... Sebenernya gue gak mau kasih ini karena... Dia pengen bikin kejutan buat kamu... Tapi, gue ngerasa dengan ini mungkin setidaknya lo bahagia sedikit... "


Kak Laskar merogoh sesuatu di saku jaket ANGKASA RAYA nya. Aku menatap Kak Laskar, heran. Apa yang ingin Kak Laskar berikan?


Kak Laskar mengeluarkan sebuah buku kecil berwarna hitam dari saku jaket nya. Nampak di halaman depan buku itu bertuliskan, " Fadel Angkasa Raskara ".


Kak Laskar memberikan buku itu, sekarang buku itu berada di tanganku. Para mantan pemimpin yang lain saling menatap.


" Ini apa, Kak? "

__ADS_1


" Buku diary milik Fadel... Kita gak mau kasih itu sebenarnya, karena Fadel bilang kalo buku itu di kasih ke elo pas Fadel udah nyatain perasaannya ke elo. Cuma ya... Keadaan berbeda sekarang... " Kak Raga menjelaskan, sedangkan aku langsung membuka halaman buku itu.


" Ini... "


__ADS_2