
Orang yang mengawasi Mirna dan Rizki mengawasi beberapa detik. Dan akhirnya ia pergi menuruni tangga turun. Sementara dua orang yang memanggil masih belum juga dapat balasan dari dalam kamar.
"Kayaknya, orangnya nggak ada, deh," Rizki menebak-nebak.
"Atau mungkin, dia dan selingkuhannya sembunyi di dalam," balas Mirna tegas.
Mirna masih mengetuk pintu. Namun jawaban dari dalam kamar masih belum ada juga. Tak ada suara apapun dari dalamnya. Hingga Rizki meminta Mirna untuk mendobrak pintu itu bersamaan.
"Kita dobrak aja bareng-bareng! Mungkin emang orangnya sembunyi."
Mirna menuruti dengan mengangguk. Mereka menghitung sampai tiga, dan pintu ternyata tidak terkunci. Jadi saat pintu didobrak, dengan halusnya pintu itu terbuka.
Mirna dan Rizki melongo sejenak dan saling beradu pandang. Kalau pintunya tidak terkunci, kenapa tidak mereka coba buka dengan turunkan daun pintunya dari tadi?
Tanpa berlama-lama lagi, keduanya masuk. Benar saja, kamar ini kosong. Tak ada seorangpun di dalamnya. Hanya Mirna dan Rizki yang ada. Dicari-cari kesana-kemari dalam kamar itupun, tak ada tanda-tanda Yumne dan Johana bersembunyi.
"Sial! Mereka pasti udah tahu kita akan datang, dan berhasil kabur sebelum kita tangkap!", seru Rizki kesal.
Mirna meraba kasurnya dengan sarung tangan canggihnya itu. Cahaya biru menyala lagi. Artinya, bisa saja Yumne dan Johana sudah cukup lama bersembunyi di kamar hotel ini.
"Mantap sekali! Sarung tanganku juga basah saat menyentuh kasur ini. Tak hanya menyala biru," lapor Mirna pada Rizki.
"Artinya?" tanya Rizki pendek.
"Ini keberuntungan kita. Yumne dan Johana belum lama di kamar ini. Mungkin sekitar 1 jam. Baru setelah itu, mereka pergi dari kamar ini dan keluar hotel."
__ADS_1
"Kalau sarung tanganmu kering, pertanda apa?"
"Ya, sebaliknya. Pelakunya sudah sangat lama pergi dari TKP. Sarung tangan menyala biru tapi kering, artinya pelakunya sudah lama pergi dari tempat itu sekitar 24 jam."
"Jadi dikatakan lama sekali setelah dia pergi 24 jam dari tempat kejadian?"
"Benar. Karena itu, amat penting juga jika pihak kepolisian haruslah ikut gesit juga."
Rizki mengangguk paham. Dan tanpa mereka sadari, keduanya diawasi oleh drone yang melayang ke kamar mereka. Drone kecil itu terbang dengan kamera pengintai yang menempel bersamanya. Ini tentu bukan drone biasa.
Di tempat lain, ada 5 pria dewasa yang menonton mereka dari layar monitor yang cukup besar di sebuah ruangan gelap. Cahaya yang dimiliki hanya dari satu lampu kecil. Dua orang menonton layar itu, sedangkan tiga laginya melakukan hal lain. Ada yang mengetik, ada juga yang tengah membuat sebuah benda.
"Dengan drone yang sudah dibuat, kita bisa ikuti gadis detektif swasta dan kepala polisi negara ini kemanapun," kata salah satu di antara mereka saat melihat layar itu.
"Ya. Ide yang sangat brilian, Lex!" seru seorangnya lagi, yang merupakan boss kelompok pria tersebut.
"Mantap! Sekarang persiapkan diri kita semuanya."
Sang boss memberikan perintah pada tiga anak buahnya yang lain untuk berkumpul. Dan setelah berkumpul, mereka pun segera bersiap untuk melakukan aksi.
"Saatnya beraksi, kita mulai pesta ini!"
...***...
Mirna dan Rizki sudah berada di mobil. Mereka tengah menyusun rencana. Dan tanpa mereka sadari, ternyata drone yang mengawasi mereka masih mengikuti.
__ADS_1
"Kita tunggu terus di sini! Bisa saja, Yumne dan Johana pergi tidak lama," kata Rizki dengan sedikit menegang.
"Kita tunggu dengan sabar, Mas!" balas Mirna.
Keduanya duduk di jok masing-masing. Kini drone yang awalnya ikut masuk ke dalam mobil Rizki itu keluar lewat kaca jendela belakang mobil Rizki yang sedikit terbuka.
Saat drone itu sudah hilang diambil pemiliknya yang bersembunyi di balik semak-semak dan dinding tempat menyimpan tanaman hias hotel, mulailah terjadi hal yang tak terduga.
Pemilik drone keluar dengan liar. Mereka dengan ganasnya mengepung mobilnya Rizki. Rizki dan Mirna kaget. Empat pria itu mengeluarkan senjata juga, seperti pistol dan pisau.
"Hei! Kalian yang di dalam, keluar!" seru salah satu dari mereka yang berambut gondrong.
Rizki berusaha melindungi Mirna, sedangkan Mirna mempersiapkan senjatanya. Yaitu belati lempar dan tali Wonder Woman-nya.
"Cepat keluar, atau kami hancurkan mobil kalian dengan bom!" seru pria yang lainnya yang berkepala botak.
Tak ada pilihan lain, Mirna dan Rizki keluar mobil. Rizki juga sudah menyiapkan senjatanya, yaitu pistol polisi dan tongkat pemukul yang biasa dipakai polisi juga.
"Siapa kalian, dan apa tujuan kalian menyerang kami?" tanya Mirna mulai marah dengan persiapan dirinya melempar belati lempar itu.
Namun, yang menjawab malah pria yang baru datang sambil berjalan di belakang mereka, "Mereka anak buahku!"
Mirna menahan senjatanya. Terlihatlah, siapa itu. Itulah pelaku utama yang selama ini dicarinya. Pelaku perselingkuhan yang sulit ditangkap, tidak seperti pria atau wanita selingkuh lainnya.
"Waw! Yumne!" seru Mirna tak percaya.
__ADS_1
...°°°...