
Mirna, Rival dan Veriel berhasil kabur. Untungnya mereka segera ditemukan oleh mobilnya Rizki. Rizki secepat mungkin memberhentikan mobilnya dan meminta ketiganya untuk masuk.
Mirna, Rival dan Veriel pun masuk ke mobil Rizki. Setelah ketiganya masuk mobil, segera saja Rizki tancap gas mobilnya. Sialnya, ternyata Yumne masih bisa mengejar dengan mobilnya. Dengan tim-nya, mereka saling kejar-kejaran dengan mobil masing-masing.
Salah satu anak buahnya Rizki membuka kaca jendela mobil, lalu ia keluarkan badannya dan mengarahkan pistol untuk menembak mobilnya Yumne.
Akan tetapi, mobil Yumne amat lincah. Sehingga bisa menghindari tembakan pistol itu. Polisi itu melapor pada Rizki.
"Komandan! Tembakan tak mempan pada target. Tembakan saya meleset. Ganti!"
Sambil menyetir sebisa mungkin, Rizki membalas, "Jangan menyerang lagi! Kecuali jika mereka membalas serangan tadi. Ganti!"
"Siap laksanakan, Komandan!"
Benar saja, tembakan barusan dibalas oleh pistolnya Jodi. Ia keluarkan tubuh dan kepalanya dan menembak balik. Tiga mobil polisi itu berusaha untuk menghindar. Mereka menuju ke jalan lain. Namun tetap saja tersusul oleh mobilnya Yumne dan Jodi.
Tak ada pilihan lain, Mirna harus balas serangan itu. Ia keluarkan belati lemparnya dan berniat untuk melemparkannya pada mobilnya Jodi, yang menjaga di depan mobilnya Yumne dan Johana.
Akan tetapi, Rizki melarang karena dikhawatirkan berbahaya bagi Mirna dan semuanya.
"Tapi bagiku, nggak ada pilihan lain, Mas. Kita harus balas serangan itu!" seru Mirna tegas.
"Sekali jangan, tetap jangan! Ini jalan raya, bisa sangat berbahaya kalau nggak pada tempatnya," balas Rizki memberikan pengertian.
"Benar juga kata Mas Riz, Mir. Udahlah, kita tahan dulu," Shania juga memberikan pengertian.
Akhirnya, Mirna menuruti perintah Rizki. Ia masukkan lagi senjatanya ke tas. Walaupun dengan rasa khawatir karena takut mobilnya Rizki diserang bukan dengan tembakan pistol biasa. Melainkan benda paling berbahaya lainnya, seperti senapan angin besar atau bahkan bom.
Di mobilnya Jodi, satu mobil tertawa terbahak-bahak karena merasa menang. Begitu juga dengan di mobilnya Johana dan Yumne. Mereka merasa kalau Mirna dan tim-nya itu pengecut. Pecundang, karena tak membalas serangan mereka.
"Mereka sepertinya mulai ketakutan, Yum! Sekarang kita serang terus?" tanya Jodi sambil tertawa.
Dengan santai Yumne menjawab, "Balas dengan ledakan. Bukankah kau punya bom itu?"
"Siap, Boss!"
Jodi meminta Graha untuk mengambilkan satu bola dinamit yang ada di bagasi mobil. Di sanalah aneka senjata Yumne di mobilnya Jodi tersimpan.
Graha menurut, lalu segera memberikannya pada Alex, karena ia yang berkeinginan untuk melempar bola dinamit itu ke mobilnya Rizki.
Ketika melihat ke jendela belakang mobil, Shania mulai mendeteksi, bahwa Jodi akan memberikan serangan yang bukan saja berbahaya, tapi amat mematikan. Ia pun meminta Rizki dan yang lainnya untuk menuju ke sebuah gunung yang ternyata tak jauh dari tempat mereka berada sekarang. Bukan lagi jalan raya, melainkan jalan berliku, terjal. Sebelah kanan gunung, dan kirinya adalah jurang.
"Kamu yakin, Shan?" tanya Rizki.
"Iya, Mas. Cepat kasih tahu pasukan, Mas! Mobilnya akan hancur, lalu kita naik gunung sebelah kita ini."
Rizki pun menghentikan mobilnya. Begitu juga dengan anak-anak buah lainnya, mengikuti apa yang komandan mereka lakukan. Saat itulah momen yang pass bagi Yumne dan yang lainnya.
Mobilnya Jodi berhenti juga lalu segera melempar bola bom itu. Shania menjerit, "AWAAAS!!!"
Dan segeralah semuanya naik ke tebing gunung, hingga...
...DUAAARRR!!!...
Dua mobil meledak, yaitu mobilnya Rizki dan mobilnya anak buahnya Rizki. Sedangkan mobil polisi yang ketiga hanya bagian lampu depannya saja yang pecah.
Semuanya naik ke gunung dengan tangga tanahnya. Tidak sampai puncaknya pun tak masalah. Yang jelas bisa jauh-jauh pergi dari Yumne dan tim-nya. Mereka harus secepatnya sampai di badan gunung.
Untuk naik ke puncaknya, tentu tidak mudah dan cepat. Berbeda dengan menaiki tanjakan, biarpun ada tangga yang terbuat dari tanah. Namun, sewaktu-waktu bisa saja tanah itu rapuh, menjadi tanah biasa yang menanjak. Dan itu amat sangat berbahaya, jika tidak berhati-hati.
__ADS_1
Hingga Mirna teringat, sebelum ia pergi, ia sempat memasang alat canggih ayahnya yang lain. Tombol kecil yang ia pasang pada dua sepatunya. Itu adalah tombol super, yang hanya bisa digunakan pada sepatu, atau dipasang pada cincin kawin.
"Tunggu, kita berhenti dulu! Aku baru ingat sesuatu," katanya pada yang lain.
"Tidak ada waktu untuk berhenti! Sekarang belum waktunya istirahat," pinta Rizki tegas.
"Kalian akan tahu sendiri. Ini supaya cepat sampai di puncak. Shania dan Mas Riz pegangan padaku cepat!"
Shania dan Rizki saling beradu pandang. Keduanya pun mengikuti keinginan Mirna, berpegang tangan. Lalu Mirna menekan tombol di sepatu kanan dan kirinya dengan telunjuk tangan kanannya. Dan tangan kanannya kembali memegang tangan Shania.
Sebelum terjadi sesuatu, tiba-tiba terdengar suara robot dari sepatu Mirna yang berkata, "Siap meluncur terbang!"
Mirna berpesan pada Rival dan Veriel agar menunggu sebentar. Kedua pesulap itu menurut. Lalu Mirna melompat, dan terjadi hal yang tidak terduga.
...Mirna terbang meluncur seperti roket dengan cepat!...
Tak hanya dua pesulap itu. Yumne dan pasukannya yang melihat dari bawah juga ikut terkejut. Sungguh ayah Mirna benar-benar seperti sosok Bruce Wayne. Tak hanya sebagai pahlawan super atau detektif. Tapi juga terkadang seperti ilmuwan, mempunyai IQ yang tinggi, layaknya seorang Albert Einstein.
Alat-alat canggih yang dibuatnya tak hanya untuk senjata. Tapi juga untuk pergi seperti tombol canggih itu. Namun, saat masih hidup dulu, Zuko selalu memasangnya satu di cincin kawinnya. Karena ia sering terbang seorang diri. Kalau di sepatunya, itu saat dengan kakeknya Rizki (masih ingatlah siapa nama kakeknya Rizki).
"Yumne! Sepertinya yang paling utama yang harus kita incar adalah sepatunya," kata Alex yang masih tak tahu apa yang bisa membuat sepatunya Mirna seperti roket itu.
"Ya, Yumne. Mungkin dengan itu, bisa membuat kita kabur ke bulan," tambah Jodi disusul dengan tawa.
Yumne jadi tambah kesal nampaknya. Dengan keras ia berkata, "Semua alat canggih ayahnya harus aku miliki. Harus! Dan kita gunakan untuk membunuh siapa saja yang menghalangi kita untuk berbuat sesuatu yang kita inginkan."
"Termasuk alat canggih yang membuatnya seperti roket itu?" tanya Graha.
"Ya. Apapun itu, harus kita miliki. Karena orang seperti dia dan Rizki sangat berbahaya untuk kita. Ayo!"
Yumne dan yang lainnya melanjutkan perjalanan. Sementara Mirna sudah membawa Shania dan Rizki ke puncak gunung. Tinggal secepatnya membawa Rival dan Veriel menyusul ke sana.
Keduanya berhasil dibawa ke atas oleh Mirna. Gadis itu berusaha secepat kilat untuk membawa mereka. Terlihat Yumne dan pasukannya ternyata gagal untuk sampai di puncak. Bahkan, Yumne malah balik lagi ke bawah.
"Belum apa-apa udah nyerah," kata Rizki sambil tertawa.
Mirna yang sampai di puncak dengan Rival dan Veriel juga ikut tertawa. Namun, ia yakin sesungguhnya Yumne belum menyerah. Ia akan lakukan apapun untuk menculiknya kembali.
Dugaannya tepat. Ia dan pasukannya malah bisa meluncur naik di tanah. Seolah-olah mereka bisa mengendalikan tanah. Melihat itu, Mirna malah santai tapi juga tegas.
"Apa dia sama pasukannya keturunan Avatar pengendali tanah, ya?" tanya Rival sambil mengerutkan keningnya.
Dengan santai Mirna menjawab, "Bukan. Mereka kebal karena jin, makanya bisa sakti begitu."
Mirna pun tersenyum. Dan saat mereka sampai di puncak menyusul tim-nya Mirna, tanpa berlama-lama lagi pertempuran dimulai. Perkelahian tak bisa dihindari lagi.
Anak-anak buahnya Rizki yang naik dengan tali pengait yang dikaitkan ke pohon di dekat puncak gunung juga ikut membantu. Mereka semua juga sakti. Tak hanya dengan senjata tembakan, tapi juga jurus bela diri taekwondo.
"Kalian pikir polisi hanya mampu tembak-tembakan seperti anak kecil? Hah, kalian salah besar!" seru Rizki setelah menjatuhkan Alex. Keduanya memang bisa taekwondo.
Sementara Rival dan Veriel kesulitan menghadapi Graha dan Johana. Dengan ilmu sulap saja, keduanya bisa bertahan dari pengendalian darah yang dilakukan oleh Graha dan Johana. Tapi, itu belum cukup.
"Ayo, lawan dengan bela diri atau senjata! Atau kami kendalikan darah kalian agar tewas jatuh dari gunung ini," tantang Johana.
Kedua pesulap itu sudah mulai ketakutan. Hingga Rival melihat ada sebuah ranting pohon tua yang sudah ada di tanah. Segera saja pesulap hitam itu mengambilnya. Ia pegang dengan tangan kanannya.
Graha dan Johana mentertawakan. Saking gelinya, Graha berkata, "Mau lawan pakai ranting pohon? Cih, kami mudah rampas dan patahkan seperti tulang-tulang kalian!"
Namun, Rival membalas dengan senyum santai. Ia pun membalas, "Benarkah, kalau jadi ini bisa kalian rampas dari kami dan mematahkannya?"
__ADS_1
Pria itu memutarnya dengan satu tangannya, dan memindahkan ranting pohon itu ke tangan kirinya di belakang tubuhnya. Ajaib, ranting pohon itu jadi pedang sungguhan.
Graha dan Johana amat terkejut. Keduanya terdiam begitu saja. Rival tersenyum bangga. Ia pun meminta Veriel melakukan hal yang sama. Veriel menurut. Dan ia temukan ranting pohon yang kebetulan juga tak jauh darinya.
Setelah dipindah tangankan ke tangan kirinya di belakang badannya, sulap itu berhasil membuat ranting pohon itu jadi pedang. Benar-benar pedang untuk perang, bukan untuk sulap.
"Rival, jangan buang-buang waktu lagi! Kita harus segera jatuhkan mereka!" pinta Veriel tegas, dengan bergaya seperti tentara yang akan siap melawan musuh.
"Kamu benar. Kita harus bantu mereka. Khususnya gadis yang menyatukan kita," jawab Rival.
Mirna turun dari atas dengan sepatu roketnya. Ia mendarat perlahan dan berada di antara Rival dan Veriel. Sayangnya, ia sedikit berdarah di sebelah bibirnya. Namun, ia mengaku tidak apa-apa. Hanya luka kecil biasa dan itu adalah noda bekas darah yang sudah ia bersihkan.
"Kalian pesulap bersenjata. Bagus kalian mau membantuku. Sayangnya, aku kehabisan belati lemparku karena ku lempar dari atas tadi," katanya dengan nafas sedikit terengah-engah.
Veriel pun melihat ada tiga hingga lima lembar daun terbawa angin di sebelah kaki kanannya. Lalu memiliki sebuah ide.
"Pakai ini!" pintanya. Dengan sulapnya lagi, lima lembar daun itu jadi belati lempar.
Mirna menerimanya. Lalu bersiap dengan dua pesulap itu untuk melawan musuh. Mirna melempar dua belatinya dengan tepat sasaran. Alhasil, Graha dan Johana berhasil terkalahkan. Keduanya terluka.
Namun, pengendali logam besi rantai dari Alex dan Jodi berhasil mengikat kedua tangannya Mirna yang masih memegang belati lempar barunya. Badannya ditarik.
Mirna berusaha menahan, agar badannya tidak tertarik. Tapi sangat kesulitan. Dengan bantuan pedang Veriel dan Rival, rantai-rantai besi itu berhasil dipotong. Alex dan Jodi tak bisa mempercayai ini.
Kini tim-nya Yumne kembali ketakutan. Segera saja mereka turun dengan bantuan rantai-rantai yang masih tersisa. Kemudian kabur dengan mobil.
"Mampus juga mereka!" seru Mirna senang.
"Sekarang bagaimana kita pulang?" tanya Shania.
"Saya telepon kantor polisi untuk bantu kita," jawab Rizki.
Rizki menghubungi kantor polisi pusat dan meminta bantuan kirimkan bantuan mobil ke gunung. Bantuan akan segera datang. Selain itu, kantor polisi juga mengabarkan ada ortunya Shania, Sella, Bu Eka juga istrinya Veriel yang cemas karena keluarga yang mereka sayangi itu hilang. Ada juga pacarnya Rival yang ikut cemas.
"Ya sudah. Ucapkan pada mereka, kami baik-baik saja di sini! Dan akan segera pulang dengan mobil kiriman kalian," kata Rizki tegas.
"Baik, Komandan! Permisi!"
"Ya."
Bantuan akan segera datang. Dan bantuan itu tiba juga setelah menunggu selama hampir satu setengah jam. Akhirnya, mereka turun lagi dengan bantuan sepatu roketnya Mirna yang dipasang tombol itu.
Semuanya dibawa ke kantor polisi pusat, walaupun dalam keadaan sedikit babak belur. Bahkan sampai ada sedikit noda merah bekas darah yang mengalir.
Sesampainya di kantor polisi pusat, semua keluarga yang menunggu (termasuk juga keluarga anak buahnya Rizki) segera menyambut. Meskipun sedikit ngeri melihat orang yang mereka tunggu-tunggu itu terdapat memar di wajah, lengan, hingga kaki di bagian betisnya.
Tapi dengan santainya, Mirna berkata, "Beginilah orang yang berjuang membela kebenaran. Terkadang harus ikhlas cedera seperti ini di sebagian tubuhnya."
Semuanya tertawa mendengar kata-kata Mirna itu. Ia pun kembali dipeluk neneknya. Paling tidak, lukanya hanya butuh obat luka kecil dan sedikit kompres untuk luka memar birunya yang kecil. Jadi tak perlu dibawa ke rumah sakit.
...***...
Di markasnya Yumne dan pasukannya
Yumne dan tim-nya yang sudah terluka, malah lebih parah lagi dari pasukannya Mirna, merasa sudah tak tahan lagi dengan Mirna, Rizki dan tim-nya. Yumne yang sedang diobati di apartemennya oleh seorang asisten rumah tangganya, menjerit sambil menahan rasa sakit.
"Akan ku balas kau, Mirna! AKAN KU BALAS KAAAU!!!"
...°°°...
__ADS_1