
Setelah mengenang orang tuanya selama seharian dan semalaman di rumah, Mirna ikut Rizki ke Garutya. Jadi ia tidak ikut sekolah hari ini. Shania tak ikut karena tak diizinkan orang tuanya mengikuti jejak Yumne ke Garutya, karena harus sekolah. Sementara Mirna sudah biasa. Karena itu, tak heran ia tidak masuk sekolah untuk urusan ini.
...***...
Sesampainya di sana, Mirna dan Rizki turun dari mobil. Kata salah satu anak buahnya Rizki, Yumne dan tim-nya ada di sebuah hotel bintang lima ini. Selain itu, mereka juga pernah terlihat jelas di sebuah restoran.
"Ini nomor kamarnya. Sudah saya catat," kata anak buahnya Rizki itu memberikan kertas kecil yang dilipat pada Mirna.
Mirna membukanya, terdapat tulisan tiga angka disana. Berarti memang itu nomor kamarnya Yumne dan Johana.
Mirna memeriksa sejenak dengan gelang hidungnya. Ia cium bau kertas itu. Aromanya sama dengan fotonya Yumne dan Johana yang ia bawa. Sudah terekam oleh otaknya, sekarang saatnya beraksi.
Segera saja mereka menggunakan lift untuk naik ke lantai kamar itu berada. Tak perlu lagi minta bantuan resepsionis hotel untuk mencari tahu lebih jelas tentang kamarnya Yumne.
Begitu sampai, mereka menuju kamar Yumne. Nomor kamarnya sudah tercium oleh Mirna dengan gelang hidungnya. Ia endus bau pintunya dan merekamnya ke otak. Ada aroma target di dalamnya. Tapi sayangnya tidak terlalu kuat.
"Memang ada aroma Yumne dan Johana di dalam. Tapi, sayangnya tak terlalu kuat."
"Kenapa bisa?" tanya Rizki pendek.
Mirna terdiam sejenak seperti patung. Hingga ia menjawab, "Orangnya sedang tidak ada di dalam."
"Sial! Dia gampang banget kaburnya. Kayak tahu aja kalau kita bakal datang nangkap dia."
"Udahlah, Mas! Kita cari petunjuk sekarang di dalam."
"Ya udah."
Pintu kamarnya ternyata tidak terkunci. Namun keduanya berhati-hati. Rizki dan 3 anak buahnya sudah persiapkan pistol masing-masing, karena takutnya ada jebakan dari anggota tim-nya Yumne.
Sementara Mirna mengendus-endus kamar. Ia mencium aroma meja, kursi, lantai, kasur, hingga ke kamar mandi. Sampai saat ia cium kamar mandi, ia merasa ada yang aneh. Seperti mencium bau yang sangat tidak sedap sekali.
Kalau kapur barus, pastinya wangi. Ini seperti aroma yang pernah ia kenal. Ini bau...
...Sabu-sabu!...
__ADS_1
Iya, ini aroma sabu-sabu. Mirna mencari-cari sumber bau ini. Hingga ia temukan sebuah tas keresek hitam di ujung kamar mandi itu. Ukurannya sangat kecil. Dan terlihat isinya adalah beberapa plastik kecil. Biasanya untuk bungkus obat-obatan.
Ketika Mirna cium, itulah asal bau sabu-sabu itu. Entah berapa kilogram beratnya. Mirna segera melepaskan gelang hidungnya karena saking tak kuatnya dengan aroma itu.
"Mas, lihat ini!" seru Mirna pada Rizki.
Terlihat oleh Rizki, ternyata ada isi beberapa bungkus kecil sabu-sabu. Ketika dihitung, ada 25 bungkus plastik obat sabu-sabu.
Mirna mencium aroma foto Yumne kembali dengan sabu-sabu itu. Aromanya terekam diotaknya, dan sama. Berarti Yumne juga jadi tersangka kasus narkoba.
"Artinya dia juga pecandu narkoba jenis sabu-sabu."
"Iya, kamu benar. Berarti dia menanggung dua kasus. Berselingkuh dan penyalahgunaan narkoba," balas Rizki.
Saat akan keluar kamar, salah satu anak buahnya Rizki memanggil dan memberikan satu plastik obat kecil. Terdapat ini bekas bubuk sabu-sabu.
"Artinya, dia punya 26 bungkus sabu," kata Mirna menyimpulkan.
"Tepat! Kita harus segera tangkap dia. Kalau bisa, hari ini juga kita jebloskan ke penjara," Rizki sudah mulai kesal.
Tak mau menunggu lama, Mirna mengajak Rizki dan anak-anak buahnya untuk mencari-cari mereka. Langsung saja mereka ke daerah yang cukup ramai.
Sebagian ada yang mengenal Mirna dan Rizki. Mereka sudah terkenal seperti seorang artis. Namun, dengan sopan keduanya menolak karena harus segera mencari Yumne. Mereka pun dijaga ketat oleh anak-anak buahnya Rizki hingga menjadi bodyguard.
Dan akhirnya, ditemukanlah dua mobil yang diketahui adalah mobilnya Yumne dan Jodi. Mirna dan Rizki segera menyerbu. Tepat sekali, di dalam mobilnya Yumne ada Johana. Sedangkan di mobilnya Jodi ada Jodi sendiri yang tengah asyik merokok.
"HEH, KELUAR KALIAN!" seru Mirna dengan amarah kesalnya.
Johana dan Jodi bukannya panik tapi malah senang melihat Mirna dan Rizki. Dengan santainya, mereka keluar dari mobil masing-masing.
"Wah, datang juga nih gadis berdarah laki!" seru Johana tersenyum jahat kemudian bertepuk tangan.
"Kemana saja, Neng? Baru nongol sekarang," tambah Jodi. Ia matikan rokoknya dengan cara diremas-remas oleh tangan kanannya. Ajaib, tangannya tidak hangus karena rokoknya. Abu dan remasan rokoknya pun ia buang ke tanah.
"Nggak usah banyak pesta, deh! Sekarang saatnya kalian dapat hadiah. Masuk ke jeruji besi dunia," kata Mirna dengan persiapan senjatanya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, datanglah Yumne, Alex dan Graha. Nampaknya, ia juga bersiap mempersiapkan senjata. Entah apa senjata yang akan ia gunakan.
"Kami mau menginap di hotel yang banyak polisinya, Dek! Tapi, kami mau kamu mengalami pengalaman yang istimewa hari ini!" pinta Yumne dengan senyum jahat dan santainya.
Mirna terdiam. Sementara Rizki mulai geram. Namun ia tahan senjata api pistolnya. Dan mencegah anak-anak buahnya untuk tidak gegabah. Ikuti cara Mirna! Jika ia melawan Yumne, ikut bantu dia. Tapi jika diam, haruslah ikut diam.
"Tak usah banyak merayu! Menyerahlah sekarang juga, atau persiapkan diri masuk ke neraka dunia!" pinta Mirna tegas.
"Sok tegas banget, ya! Aku suka itu," Yumne tertawa jahat.
Dan serangan pun disebarkan pada Mirna dan Rizki. Ia melemparkan pisau biasa. Namun untungnya Mirna masih bisa menghindar. Yumne pun lari. Mirna segera mengejarnya bersama senjata talinya. Sedangkan Rizki segera menyerang Alex, Jodi, Graha dan Johana.
Yumne lari sambil memakai sebuah plastik ke tangan kanan dan kirinya. Lalu berhenti secara tiba-tiba. Dengan trik tipu dayanya, ia bergaya seperti orang yang benar-benar menyerah.
"Baik, Dek Mirna! Ampun, aku menyerah!"
Mirna berhenti berlari. Hanya saja ia tidak begitu percaya atas apa yang Yumne lakukan.
"Benarkah itu?" tanya Mirna memastikan.
"Benar, aku menyerah! Silahkan borgol aku!" kata Yumne melemaskan suaranya.
Mirna masih sedikit ragu. Yumne bisa mendeteksinya kalau Mirna masih curiga. Segera saja ia mengambil sesuatu dari tasnya.
"Tapi sebelum borgol aku, akan ku berikan sesuatu padamu!" katanya berusaha meyakinkan Mirna.
"Apa maksudmu?" tanya Mirna heran.
Yumne mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Seperti bubuk yang berwarna merah. Hingga ia lempar ke arah sasarannya yang tepat, yaitu matanya Mirna.
Mirna pun menjerit kesakitan. Bahkan sampai membuatnya menangis darah. Darah merah mengalir dari matanya dengan deras. Jeritan kesakitannya tak bisa dihentikan lagi, karena saking sakit matanya. Matanya pun tentu ikut memerah ketat.
Yumne tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan. Ia pun dijemput oleh mobilnya Johana dan pergi kabur. Begitu juga dengan mobilnya Jodi yang datang menyusul, juga ikut kabur.
Mirna tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia sudah tak berdaya. Rizki yang juga terluka, datang dan membantu Mirna berdiri. Dibantu orang-orang sekitar, Rizki membawa Mirna ke rumah sakit.
__ADS_1
...°°°...