Dek Mirna

Dek Mirna
Chapter XXXI : Mirna vs Yumne (part 4 : Great Lightning of Father's Spirit)


__ADS_3

Mirna pulang diantarkan oleh Rizki. Semenjak jadi tunanetra, Mirna selalu diantar jemput oleh Rizki dengan mobil polisinya. Namun karena Mirna memakai seragamnya Shania, Rizki harus menjemputnya di depan gerbang perumahan tempat rumah Shania berada.


Keberuntungan menghampiri Mirna hari ini. Seragamnya sudah kering dan disetrika. Jadi Mirna tinggal memakainya kembali. Mirna pulang dengan jalannya yang dituntun oleh tongkat jalannya yang khusus untuk orang tunanetra dan arahan Rizki.


Mirna hanya menggunakan kata 'cerita panjang' saat ditanya oleh Rizki perihal dirinya meminjam seragamnya Shania. Rizki tak mau memaksa. Ia hanya mengangguk paham. Langsung saja ia diantar ke rumahnya.


Sesampainya di rumah, Mirna tak bercerita apa-apa pada Bu Eka. Ia hanya tersenyum meraba tangan neneknya saat berjabat tangan untuk bersalaman. Rizki kembali ke kantor polisi untuk kasus keberadaan Yumne. Kata salah satu anak buahnya, Yumne sekarang keluar negeri. Dan masih dicari informasinya tentang negara yang Yumne kunjungi.


Saat mengganti bajunya, tiba-tiba ada pesan masuk di ponselnya Mirna. Mirna mencari-cari sumber suara ponselnya yang berbunyi. Dan setelah ditemukan, Mirna meminta neneknya untuk membacakan pesan itu.


Alangkah terkejutnya Bu Eka, kalau ternyata itu pesan dari Yumne. Nampaknya itu pesan yang mengancam. Belum dibacakan dengan bersuara kepada Mirna, Bu Eka malah meminta Mirna.


"Jangan! Mendingan kamu jangan tahu! Nggak boleh tahu!"


"Emangnya, Yumne kirim pesan apa?" tanya Mirna tegas.


"Jangan! Sebaiknya jangan tahu! Berbahaya! Biar Den Rizki yang tahu pesan ini!"


"Tolong, Nek! Ini tugasku juga menangkap tukang selingkuh dan pelacur itu. Biarpun aku tak bisa melihat lagi."


"Tapi Nak..."


"Tolong, Nek! Mirna nggak mau mundur, biarpun dua mata ini tak berfungsi baik. Apapun yang terjadi, aku harus hadapi. Itu tugas Mirna menggantikan almarhum Papa."


"Kamu yakin, Nak?"


"Demi Allah aku yakin! Ayo bacakan! Mirna nggak mau jadi pengecut. Orang lemah. Mirna bisa buktikan, kalau orang cacat seperti ini bisa jadi orang tangguh. Bukan jadi pengecut. Pecundang."


Bu Eka terdiam sejenak. Ada juga rasa salut dalam hatinya pada cucunya yang sudah mengalami cacat mata. Akhirnya, ia bacakan pesan dari Yumne.


[Gadis bocah berdarah laki! Datanglah ke negara Kalimatana! Aku tunggu kamu di Samirandi. Ada yang butuh bantuanmu.


Ingat, besok malam! Akan ku beri alamatnya nanti sore.


^^^Salam, Yumne]^^^


"Kau mau bertarung lagi, Nak? Kalimatana 'kan banyak premannya. Yumne pasti sewa preman-preman di sana buat melawan kamu. Bahkan, bisa-bisa nyawamu melayang," Bu Eka mencemaskan cucunya.


Mirna menggelengkan tegas kepalanya. Ia menjawab, "Seperti yang Mirna bilang sebelumnya, Nek! Mirna mau buktikan, kalau orang cacat fisik seperti ini bisa jadi orang tangguh. Jadi, Mirna yakin 100%."


Bu Eka menangis. Ia pun memeluk cucunya. Mirna membalas pelukan neneknya. Di pelukan Mirna, Bu Eka berkata, "Berdoa dulu ya, Sayang! Nenek yakin kamu pasti bisa."


"Iya, Nek. Serahkan semuanya kepada Allah. Insya Allah, Mirna kuat menghadapi tantangan ini," balas Mirna. Ia juga mulai menangis.


Mirna akan mengirimkan pesan Yumne pada Rizki. Ia juga akan kirim pesan Yumne berupa alamat tempat untuk bertempur besok. Tapi ia butuh bantuan Shania. Shania menyetujui hal itu, malah ia ingin ikut besok.


Mirna semakin senang. Shania akan usahakan agar diizinkan ikut oleh kedua orang tuanya.


...***...


Besoknya, Mirna sudah bersiap dengan Rizki. Untungnya Shania diizinkan oleh kedua orang tuanya ikut. Mereka akan menggunakan pesawat untuk menuju pulau Kalimatana. Pesawat akan terbang pukul 8. Agar tidak ketinggalan, mereka pergi setelah subuh.


Ada rasa campur aduk di hati Mirna ketika pesawat mulai lepas landas. Ada rasa percaya diri, yakin kalau ia bisa. Tapi di sisi lain, ada rasa cemas juga. Bagaimana kalau apa yang neneknya ucapkan benar? Sudah dirinya kehilangan penglihatan. Dan di pertempuran kali ini, bisa-bisa nyawanya yang menghilang.


Akan tetapi, tiba-tiba perasaan yakinnya meninggi kembali. Pasti kali ini ia menang lagi. Kalah sekali tak apa. Namun kalau sekarang kalah lagi, bagi Mirna itu bukan masalah. Pasti nyawanya masih bisa selamat, walaupun mengalami luka-luka.

__ADS_1


...***...


Setelah menempuh perjalanan udara selama 2 setengah jam lamanya, mereka sampai di pulau terluas di Asia ini. Sekarang waktunya mencari hotel.


Untuk biaya hotel, kepolisian Kalimatana dan Javabirna sudah bekerja sama. Karena kepala polisi Kalimatana, Rodhi, adalah sepupunya Rizki. Jadi tak perlu bayar biaya. Selain itu, Rodhi akan bekerja sama dengan Mirna untuk mencari Yumne.


Di kamar hotel, karena Mirna buta, jadi ia harus satu kamar dengan orang lain. Ia sekamar berdua dengan Shania. Shania pun bercerita kalau orang tuanya mengizinkan ikut dengan rasa salut yang luar biasa dari Shania pada Mirna, sebagai anak korban bully di sekolah.


Agar Mirna tidak semakin lemah mengingat dirinya sering dibully, maka kedua orang tuanya Shania mengizinkannya untuk ikut. Dengan pesan, agar Mirna dijaga sebaik mungkin.


...***...


Malam harinya, Mirna dan pasukannya sudah siap menunggu Yumne dan tim-nya. Hingga datanglah Yumne dan pasukannya. Walaupun sudah buta, namun Mirna merasakan kalau Yumne tidak membawa apa yang sudah dijanjikan. Orang yang minta pertolongannya.


"Mana orang yang minta tolongnya?" tanya Mirna tegas.


Yumne tertawa jahat dengan pasukannya lalu menjawab, "Udah jadi orang buta pun masih gampang ditipu kamu. Itu disebut jebakan."


"Dia sudah jadi si buta dari gua hantu, Yumne! Mana mungkin bisa mengetahui kalau itu jebakan, agar dia datang ke sini," tambah Alex dengan tawa jahat kemenangan.


Sudah marah karena dijebak supaya datang, Mirna segera mempersiapkan senjatanya. Begitu juga dengan Rizki dan anak-anak buahnya.


"Wah, nggak sabar untuk perang nih, Yum! Kita sikat aja langsung," kata Graha dengan senyum jahatnya sambil mengeluarkan senjatanya juga.


"Sudah pasti. Persiapkan semuanya!"


Pertempuran pun akan segera dimulai. Shania hanya bisa mundur karena tak bisa berbuat apa-apa. Dan terjadilah perang dalam gudang bekas itu di malam hari. Beberapa warga yang lewat segera persiapkan diri untuk menonton.


Mereka yang sudah tahu siapa Mirna, lebih mendukung Mirna dan pasukannya daripada Yumne. Ada yang bilang berantas saja langsung tukang selingkuh dan pelacur itu. Bahkan ada yang sampai bilang bunuh langsung keduanya.


Yumne memaksanya bangun untuk berdiri dan melawannya. Mirna menyeka darah dari mulutnya, lalu ia tumpahkan ke tanah.


Meskipun begitu, wajahnya yang sudah terbawa emosi marah itu tetap tidak luntur. Gaya kuda-kuda karatenya ia persiapkan dan kembali menghajar Yumne. Yumne tentu tidak tinggal diam. Ia membalas serangan itu.


Mirna semakin melemah. Lukanya semakin parah. Darah mengalir tak hanya dari mulutnya, tapi juga dari luka di tubuhnya. Rizki jadi panik dan mendekati Mirna.


"Sudah, biar aku yang hajar mereka!" pinta Rizki tegas.


Dengan tubuh yang semakin lemah dan suaranya yang mulai rasa lirih, Mirna membalas, "Nggak, Mas! Itu tugasku...berantas...orang...kurang ajar...kayak dia."


Mirna berusaha berdiri, walau sudah tak terlalu normal lagi kakinya untuk membuatnya berdiri karena kedua kakinya sudah terluka. Meskipun senjata talinya juga malah direbut oleh Yumne, dan ia gunakan untuk cambuk Mirna saat bertempur tadi.


Mirna meraba keberadaan Yumne, dan momen ini dimanfaatkan oleh Johana. Ia gunakan jurus pengendalian darah itu. Badannya tak bisa ia kendalikan sendiri. Mirna tak bisa membuat tubuhnya diam.


Rizki dan anak-anak buahnya juga merasa aneh dan bertanya-tanya, termasuk Shania. Tapi Shania tahu, jurus apa yang Johana lakukan itu.


Saat mendiamkannya, Johana tertawa jahat dengan keras dan mengangkat tubuhnya Mirna perlahan dari jauh. Ia pun bertanya, "Apa lagi yang bisa kamu lakukan, gadis buta dari gua hantu? Hah? Masih mau sok jagoan?!"


Hingga akhirnya...


...Bruuuk!!!...


Tubuh Mirna dijatuhkan dengan keras. Gadis itu semakin tak berdaya. Suara batuknya semakin keras. Ia pun berlutut lemas, tak bisa berdiri lagi.


Melihat itu, Yumne, Johana dan pasukan mereka tertawa penuh kemenangan. Mirna pun tergeletak di tanah. Badannya jatuh tengkurap. Yumne dan pasukannya semakin senang. Mereka mengira Mirna tewas.

__ADS_1


Rizki dan beberapa anggota polisinya hanya bisa terdiam. Awalnya ada yang mau melawan Yumne. Namun Rizki melarang. Segera saja mereka mendekati Mirna yang sudah tak bergerak.


Shania yang melihat mulai menangis. Ia segera berlari menuju tubuh Mirna. Sepertinya, Mirna memang sudah tewas.


Akan tetapi, ini belum selesai ternyata. Suatu keajaiban terjadi. Tubuh Mirna tiba-tiba bersinar cerah. Tubuhnya bersinar putih yang menyilaukan mata. Semuanya terkejut melihat fenomena itu.


Termasuk juga Yumne dan tim-nya. Mereka merasa aneh. Ajaibnya lagi, dengan tubuh Mirna yang bersinar itu, Mirna jadi bisa berdiri normal. Ia bisa bangun dengan sendirinya, seperti orang-orang sehat pada umumnya. Kacamata yang dipakainya pun jatuh, tapi masih utuh.


Dan terjadilah badai yang sangat dahsyat hingga keluar gudang. Yang menonton jadi ketakutan. Jangankan yang menonton, yang di dalam gudang pun ikut ketakutan. Angin bertiup sangat kencang. Tambah mengerikan dengan adanya petir yang sangat besar menggelegar.


Petir itu bahkan sampai menyambar ke atap gudang. Banyak yang mau kabur dari gudang itu. Penonton perang itu juga kabur menyelamatkan diri.


Saat setelah bersinar tubuhnya, Mirna tiba-tiba berubah wujud. Bukan Mirna lagi, melainkan jadi sosok lain. Dia jadi ayahnya. Mirna berubah jadi sosok Zuko.


"Pak...Pak Zuko!" seru Rizki terkejut.


"Itu...ayahnya Mirna?" tanya Shania sambil melindungi matanya dari badai angin yang menerbangkan debu.


"Iya, itu almarhum ayahnya Mirna. Gimana bisa Mirna jadi ayahnya?"


Zuko mengangkat tangan kanannya. Lalu mengarahkannya pada Yumne dan pasukannya sampai mereka terkena sambaran petir, hingga mereka terpental sampai keluar gudang.


Karena terkena pukulan punggung Yumne dan pasukannya, dinding gudang pun hancur. Dinding kaca jendelanya pun pecah. Seakan-akan, Zuko mengendalikan petir itu. Setelah itu, Zuko berlari cepat keluar gudang dan merebut kembali tali Wonder Woman putrinya. Ia gunakan untuk cambuk Yumne.


Yumne berusaha membalas, namun tangannya sudah dicambuk kuat oleh Zuko hingga kulit lengannya itu sobek dan berdarah.


Tak sampai disitu. Zuko mengangkat Yumne dengan mencekik lehernya. Yumne dicekik kuat-kuat hingga pria gundul itu kesakitan dan terbatuk-batuk. Ia pun dilempar Zuko hingga menerobos kembali dinding gudang yang masih utuh.


Zuko berjalan mendekati Yumne. Dengan amarahnya yang mengerikan, Zuko mengendalikan petir dengan kedua tangannya. Seolah-olah ia mau menyambar Yumne hingga tewas dengan petir itu.


Sudah tak tahan badai itu, Rizki dan Shania berusaha menenangkan Mirna yang sepertinya dirasuki arwah bapaknya, hingga ia menjadi sosok Zuko. Supaya tidak mengundang amarah tinggi Zuko, mereka tetap menganggap bahwa itu adalah Zuko sendiri.


"Pak Zuko! Sudah cukup, Pak! Kalau Bapak gunakan petir terus untuk melawannya, itu tak hanya menyakiti atau menewaskan Yumne. Tapi juga menyakiti yang ada disini, juga warga di sini."


"Benar, Pak! Apa yang Mas Riz bilang benar. Hentikan sekarang juga, Pak! Ini juga bisa menyakiti Mirna, yang Bapak rasuki," tambah Shania.


Zuko perlahan menegakkan kedua tangannya. Keajaiban terjadi kembali. Badai itu berhenti. Angin kencang kembali tenang, petir pun berhenti menggelegar. Semuanya jadi sunyi.


Rizki mendekati Zuko. Ia berkata, "Saya yakin, Bapak nggak mau nyakitin badan putri Bapak sendiri. Kasihan dia! Cobaan besarnya datang dengan kecacatan matanya. Kalau anda nggak berhenti, pasti dia bisa tewas betulan."


Zuko tidak bicara. Sampai akhirnya tubuhnya jatuh. Untungnya Rizki segera menangkap tubuhnya. Tubuh itu bersinar kembali. Dan berubah ke wujud semula menjadi Mirna. Meskipun jadi sosok ayahnya, namun luka-luka di tubuh Mirna tidak hilang. Ini benar-benar butuh bantuan medis.


Mirna membuka matanya perlahan. Ia melihat sekelilingnya. Matanya masih belum bisa melihat. Ia masih tunanetra.


"Alhamdulillah, kamu masih hidup!" seru Shania senang.


"Iya. Kami kira kamu udah mati tadi," tambah Rizki ikut senang.


Ketika melihat ke sekelilingnya, Mirna terduduk dan bertanya, "Papa! Mana Papa, Mas? Papa!"


Mirna memanggil ayahnya. Ia pun ditenangkan Rizki dan Shania. Ia pun dibawa ke rumah sakit. Terlihat tak ada lagi Yumne dan tim-nya di luar gudang. Ternyata mereka sudah kabur. Namun, itu tidak penting bagi Rizki dan yang lainnya.


Dalam perjalanan ke rumah sakit itu, Mirna bercerita bahwa ia bertemu sang ayah. Ayahnya tak bicara sepatah katapun. Ia hanya tersenyum dan memeluk Mirna. Mirna pun membalas pelukannya.


Dan dugaan Rizki serta Shania adalah, Mirna bertemu ayahnya di alam mimpi pingsannya. Dalam pelukan di dunia mimpi, jadi sosok ayahnya di alam nyata.

__ADS_1


...°°°...


__ADS_2