
Mirna segera diberitahukan oleh salah satu tetangganya. Panik, gadis itu ikut ke rumah sakit, diantar oleh tetangganya itu. Sementara Bu Eka dan Zuko diantar ambulance yang sudah dipanggil oleh tetangga sebelah.
Singkat cerita sampai di rumah sakit, Zuko dibawa ke ruang ICU. Dengan ranjang dorong, ia sangat lemas tak berdaya. Sungguh amat sulit bergerak dengan sendirinya. Rasanya seperti sudah tak bertulang tubuhnya. Padahal ia pingsan biasa, bisa sadarkan diri nanti. Namun, rasanya di pegang tangannya oleh Mirna, Mirna merasakan ayahnya seperti lunak tak bertulang.
Dokter dan suster melarang yang lain masuk ke ruang pemeriksaan. Mereka akan menangani Zuko. Segera saja alat medis infus, tabung oksigen, fentilator dan yang lainnya disiapkan. Ruangan pun ditutup rapat-rapat.
Mirna dan Bu Eka sudah mulai menangis. Khususnya Mirna, ia sangat takut kehilangan ayahnya. Sudah dialaminya kehilangan sang bunda, ia tak mau berkurang orang tuanya. Ia masih ingin ada orang tua, seperti anak kebanyakan.
Tetangga yang mengantarkan hanya bisa memberikan semangat untuk mendoakan kesembuhan Zuko. Mungkin saja, Zuko kelelahan karena kegiatan penelusuran yang sering ia lakukan. Pergi pagi-pagi, pulang pun paling cepat tengah malam. Sangat amat disayangkan jika Zuko pergi dari muka bumi hanya karena hal itu.
Waktu terus berlalu selama 3 jam lamanya. Dokter masih belum juga keluar ruangan. Paling tidak yang keluar suster. Namun setiap kali ditanya, jawabannya malah harus ditanyakan pada sang dokter. Atau hasil tesnya belum keluar.
Zuko diperiksa darah. Dan hasilnya harus ditanyakan pada dokternya. Namun sudah 3 jam lamanya, belum juga ada hasil. Sampai 5 menit kemudian, akhirnya sang dokter keluar ruangan. Segera saja Bu Eka dan Mirna menanyakan keadaan Zuko.
Bu Eka yang diajak ke ruang dokter. Mirna diminta menunggu bersama tetangganya. Mirna mengangguk menurut. Bu Eka pun pergi dengan dokter. Kini Mirna hanya dengan dua orang tetangganya.
"Mirna! Mau makan sesuatu?" tanya tetangganya yang duduk di sebelahnya.
Dalam diam suara, gadis itu menjawab dengan gelengan kepala. Artinya ia tidak mau makan apapun.
"Atau minum aja, ya! Kasihan kerongkongan kamu sama bibirnya, kering nanti."
Mirna terdiam beku. Tapi 3 detik kemudian ia menjawab dengan anggukkan. Tetangganya itu meminta temannya yang ikut mengantar ke rumah sakit tersebut untuk membelikan Mirna minum air mineral.
"Ini, air mineral dua botol! Sama buat Bu Eka nanti," pintanya sambil menyerahkan uang 50 ribuan.
"Pakai uang aku aja! Aku bawa dompet juga kok," balas temannya itu.
"Ya udah. Ingat, dua botol ya!"
"Ya."
Setelah ditinggal tetangga yang satunya, Mirna kembali murung. Gadis berhijab itu tak mau mengobrol. Tetangganya sudah berusaha untuk mengajaknya ngobrol, tapi tak berhasil. Hingga akhirnya ia menyerah. Hanya meminta Mirna mendoakan sang ayah.
Akhirnya, Bu Eka datang dengan perasaan yang lemas. Perasaan tak enak, menyedihkan, tidak mengenakan. Begitu menghadapi Mirna, ia memeluknya sambil menangis sendu. Kemudian meminta Mirna bersabar.
Mirna yang tak mengerti bertanya, "Nek! Papa sakit apa?"
Bu Eka mau menjawab, tapi ada rasa tak tega. Akan tetapi ia tahu, kalau Mirna ingin ia jujur. Tak mau dibohongi. Jadi mau/tak mau, Bu Eka harus jujur pada cucunya sendiri.
"Papa...kamu...kena kanker darah, Nak!"
Mirna terkejut dalam diam. Tak bisa berkata-kata lagi. Mirna benar-benar akan kehilangan ayahnya. Entah harus bicara apa lagi. Ia segera menangis memeluk neneknya. Dan tanpa diduga-duga, gadis itu masuk ke ruang ICU.
Bu Eka dan tetangganya ikut masuk untuk mencegah Mirna. Tapi terlambat, gadis itu sudah terlanjur masuk.
Mirna menangis sambil memohon Zuko terbangun. Namun tetap usahanya tak membawakan hasil. Zuko belum juga terbangun dari pingsannya. Hidungnya sudah dimasuki fentilator yang memanjang. Matanya tertutup rapat. Padahal layar monitor masih menunjukkan garis kusut, pertanda detak jantung Zuko masih bekerja.
__ADS_1
Bu Eka dan dua tetangganya hanya bisa terdiam. Tak tahu harus berbuat apalagi. Tak ada yang bisa dilakukan, kecuali berdoa. Serahkan semuanya pada Sang Maha Kuasa, tapi tidak putus doanya.
Suster datang dan meminta Mirna untuk melepaskan genggaman tangannya dari tangan kiri Zuko, karena Zuko akan dipindahkan ke ruang tempat rawat inap. Ia harus dirawat sampai benar-benar dapat perawatan yang intensif dari dokter.
Mirna mulai sendu. Ia pun melepaskan sang ayah pelan-pelan. Sungguh amat menyakitkan hati baginya. Tak tega melihat ayahnya seperti ini. Ia dan neneknya membawa Zuko yang didorong di ranjang dorong itu bersama dua orang suster.
...***...
Tak pernah terpikirkan oleh Mirna dan neneknya kalau ayahnya bisa punya penyakit mematikan seperti ini. Bahkan ini bisa merenggut nyawanya kapanpun.
Akan tetapi, ini tidak membuat Mirna merasa galau setelah 3 hari di rumah sakit menemani Zuko. Dengan Bh Eka, gadis itu mencari-cari sekolah SMA yang bisa membuatnya terus melanjutkan sekolah.
Hingga sang ayah menyarankan agar Mirna masuk sekolah Madrasah Aliyah. Tidak masuk pesantrennya, tapi hanya sebagai anak sekolah seperti biasa. Pergi ke sekolah, pulangnya pun ke rumah. Jadi hanya murid sekolah biasa, tidak sekaligus jadi santriwati.
Mirna memenuhi keinginan sang ayah. Ia pun mendapatkan sebuah informasi dari tetangganya, ada sebuah MA yang dekat dengan daerah perumahannya. Mirna pun berniat mendaftar ke sana bersama Bu Eka. Sementara Zuko ditemani oleh tetangganya yang kadang menjenguk ke sana.
...***...
Suatu hari saat masih libur sekolah, Mirna mendapat informasi bahwa idolanya yang merupakan boyband Korea Selatan itu akan datang ke Javabirna. Bukan ke ibukotanya, melainkan konser ke Jayakarta.
Mirna mau menontonnya, tapi ia tak mungkin meninggalkan ayahnya. Tak tega juga meminta neneknya atau tetangganya yang menemani Zuko selama ia pergi lihat konser itu.
Tak mau ambil pusing, Mirna izin pada Zuko dengan membicarakannya secara empat mata. Dan apa reaksi Zuko?
Ia tak marah! Ia biarkan putri semata wayangnya itu menonton. Ia sangat ingin putrinya bahagia, apalagi memenuhi keinginan Mirna yang ingin jadi artis penyanyi.
"Tapi aku nggak tega nenek nemenin Papa. Nanti kecapekan gimana?" tanya Mirna cemas.
"Nggak akan. Nenek masih bisa kuat, Sayang," Bu Eka meyakinkan cucunya.
Walau masih ada rasa tak tega, Mirna menerima dengan senang hati. Ia memeluk sang ayah dengan tangis haru sambil berterima kasih padanya.
"Papa hati-hati, ya! Konsernya besok malam, jadi Mirna harus pergi pagi-pagi abis subuh," kata Mirna di tengah tangisnya.
"Kamu yang harusnya hati-hati. Kota itu seluas Baradina. Jangan pisah atau pencar, ya! Abis lihat konser, langsung pulang ke hotel. Terus segera balik ke Baradina besoknya!" balas Zuko memberi pesan dengan balasan pelukannya.
Mirna mengangguk. Dan ia segera persiapkan barang-barang untuk dibawa ke sana besok.
...***...
Langsung saja, besoknya saat sudah di Jayakarta
Mirna tak sabar untuk menonton konser boyband Korea favoritnya itu. Ia sudah persiapkan poster gambar boyband itu yang ia lepas dari dinding kamarnya. Saat pulang nanti, akan ia pasang lagi di kamar.
Singkat cerita, konser pun dimulai pada malam harinya setelah magrib. Konser itu merupakan konser besar khusus grup band atau grup vokal mancanegara. Jadi tak ada band lokal yang diundang.
Tak hanya grup vokal Korea yang diundang. Tapi juga band-band Barat. Yang jelas, band dan grup vokal mancanegara yang amat terkenal, tak ada lokal.
__ADS_1
Grup vokal laki-laki Korea Selatan yang Mirna sukai pun akhirnya tampil juga. Menyanyikan lagu yang disukai oleh para penggemar berat mereka. Saat itulah Zuko menelepon dengan saluran video call di aplikasi WhatsApp.
"Dia sedang asyik nyanyi dengan semangat sambil lihat 3 member pangerannya, Pak!" kata tetangganya Mirna yang bernama Heni. Ia juga penggemar berat boyband Korea ini.
"Coba saya mau lihat!" pinta Zuko.
Ponsel Heni diarahkan pada Mirna yang tengah semangat menyanyi, walaupun dengan lirik yang sedikit asal-asalan, sesuai dengan apa yang ia dengar.
Melihat ponselnya Heni, Mirna menyapa ayahnya dengan senang hati.
"Tunggu, Pa! Lagi asyik lihat pangeran Sungjong, Myunsoo dan Woo-hyun, nih!" serunya polos dan semangat.
Zuko tak marah. Asal putrinya bahagia, ia sudah ikut bahagia. Zuko tahu siapa yang Mirna sebut tadi. Karena Mirna pernah menunjukkan wajahnya di poster itu padanya.
"Silahkan, nyanyi sepuasnya!" seru Zuko dengan semangat juga.
"Iya, Pa!"
Telepon pun ditutup dengan ucapan salam dari Heni. Bu Eka ikut bahagia melihat putranya senang di tengah tubuhnya yang lemah karena sakit keras itu.
...***...
Seminggu kemudian
Zuko kini ganti fentilator. Fentilator itu model yang dimasukkan ke tubuh lewat mulutnya. Sekarang ia tak bisa bicara. Sakitnya sudah semakin parah. Kemungkinan besar Mirna akan kehilangan ayahnya sebelum ia masuk ke sekolah barunya minggu depan.
Hingga apa yang tak diinginkan terjadi. Zuko semakin melemah. Yang bisa dilakukan Bu Eka dan Mirna hanya mengaji surah Yaa-Siin dan berdoa, khususnya setiap habis sholat wajib maupun sunnah.
Zuko semakin sesak nafas. Mirna bacakan dua kalimat syahadat di telinga kanannya Zuko. Bibir Zuko bergerak sedikit-sedikit, mengisyaratkan bahwa ia mengikuti kalimat yang dibisikkan putrinya.
Dan sampailah sudah. Zuko menghembuskan nafas terakhirnya. Layar monitor sudah menunjukkan garis lurus. Detak jantung Zuko sudah terhenti. Zuko sudah dinyatakan meninggal dunia, menyusul istrinya.
Mirna sempat menangis histeris. Ia mau memeluk ayahnya, namun ditarik lembut menjauh oleh sang nenek. Mirna pun memeluk erat sang nenek. Jenazah ayahnya pun ditutup rapat-rapat dengan selimut, dari kaki hingga kepala.
...***...
Zuko dimakamkan di sebelah kiri makamnya Siti. Para pengubur jenazah melakukan hal yang serupa saat Siti dikuburkan dulu. Mirna amat sangat sedih. Isak tangisnya tetap tak berhenti, sambil membawa pigura foto ayahnya. Ki Albi dan beberapa anak buahnya juga datang melayat.
Bu Eka juga ikut bersedih tentunya. Apalagi ini putra satu-satunya. Wafat meninggalkan dirinya dan cucunya. Menyusul menantu dan suaminya.
Setelah berdoa bersama dengan dipimpin oleh ustad, Bu Eka dan Mirna menaburkan bunga. Setelah itu, Mirna pun berbicara pada batu nisan yang bertuliskan identitas Zuko.
"Pa! Mirna udah gak punya ayah kayak Papa lagi sekarang. Sejak inilah, Mirna akan meneruskan takhta Papa. Tidak akan jadi penyanyi, tapi jadi detektif seperti Papa. Tapi, detektif yang membela kebenaran. Khususnya melawan laki-laki yang merendahkan martabat kaum hawa. Tambah lagi, melawan para wanita yang salah jalan. Selamat tinggal, Papa! Negara, aku dan nenek aku terus mengenangmu, sampai kapanpun."
...•••...
...°°°...
__ADS_1