
Kasus terbaru, menangani para warga LGBT. Mulai dari laki-laki jadi perempuan, hingga sebaliknya. Juga warga yang mengubah identitas dirinya dari perempuan sejati menjadi transgender. Begitupun sebaliknya, laki-laki sejak lahir jadi transgender.
Untuk yang transgender, mereka tidak dipenjara. Hanya diintrogasi apa sebab-akibat mereka mau seperti itu, dan dinasehati. Karena sudah terlanjur ganti, mereka tidak dihukum untuk kembali ke semula. Mereka hanya harus dijaga ketat oleh penjaga khusus di rumah mereka. Jika masih punya orang tua, mereka dijaga ortu mereka. Dan jika sudah tinggal mandiri, mereka akan dapat pembantu khusus dari kepolisian.
Kegiatan transgender ini harus dicatat, kemudian di serahkan pada pihak kepolisian. Kalau melakukan hal-hal yang melanggar hukum negara atau agama, barulah mereka dapat hukuman penjara selama satu tahun. Tapi jika tidak, ya tidak dihukum. Namun kalau mau menikah, mereka harus izin dulu pada polisi lewat penjaga mereka. Begitulah hukum untuk para transgender di Javabirna.
Balik ke cerita.
Mirna harus menyelesaikan kasus tentang dunia LGBT ini. Ini dialami oleh seorang mantan bintang film di Javabirna yang bernama Ahmad Rafi'i. Orangnya amat terkenal di negeri ini. Ia laku juga bermain film.
Sayangnya, ia mempunya adik yang bernama Sandi, yang bekerja sebagai seorang pria gay di kota Baradina. Sebagai laki-laki yang menjadi perempuan, Sandi memiliki nama Selni. Setiap malam, ia harus ke diskotik untuk mendapatkan uang dengan bekerja sebagai laki-laki yang menjadi perempuan dengan menggoda para pria di sana.
Ini semua ia lakukan sejak Ahmad pensiun dari dunia hiburan karena harus mengurus adiknya. Ini juga sejak ia dan adiknya jadi yatim-piatu, seperti Mirna. Keduanya yang sudah lulus sekolah harus bekerja. Sejak pensiun dari dunia hiburan, Ahmad bekerja jadi seorang guru di sekolah dasar.
Itupun masih kurang untuk gajinya. Namun, Ahmad tak mengeluh. Ini demi adiknya yang serba banyak mau dan playboy. Hingga akhirnya, adiknya dapat kerja. Tapi, Ahmad tak tahu adiknya bekerja sebagai apa.
Dan diketahui juga olehnya melalui tetangga, kalau Sandi kerja sebagai seorang pria gay. Ahmad sangat kecewa mendengarnya. Pernah ia marahi, tapi bukannya membuat sang adik kapok malah menjadikannya tambah nakal. Harga dirinya sebagai laki-laki perlahan menghilang.
"Jadi, udah dikasih tahu gimana pun juga, tetap ngotot gitu?" tanya Mirna butuh kepastian.
"Iya. Dia tetap keras kepala nggak mau nurut. Makanya, saya butuh bantuan kamu untuk nasehati dia. Agar dia nggak kerja haram kayak gitu lagi. Bisa jadi, kalau sama Dek Mirna, adik saya itu mau berubah," jawab Ahmad sambil menangis.
"Insya Allah, saya akan coba. Tentu untuk hal ini nggak perlu cara kekerasan. Saya akan coba sabar menyadarkan adik anda."
"Terima kasih banyak! Semoga, Dek Mirna berhasil menyadarkan adik saya!"
"Insya Allah. Banyaklah berdo'a, pasti Mas Sandi jadi laki-laki sejati!"
"Iya."
Begitulah pembicaraan Mirna dan Ahmad hari itu. Sudah disepakati, Mirna akan membantu Ahmad sebisa mungkin.
...***...
Untuk masalah ini, Mirna ingin lakukan berdua dengan Rizki. Karena ia tak terlalu butuh banyak senjata. Ia hanya butuh penyamaran menjadi pelacur lagi, dan senjatanya hanya tali.
Mirna memulai introgasi ini di sore hari sepulang sekolah. Supaya tidak dicurigai, Mirna dan Rizki juga harus ikut mabuk seperti mereka yang ada di diskotik. Namun karena mereka tak mau minum betulan khamr seperti itu, jadi Mirna mengganti minuman itu dengan air putih biasa, teh manis dan sirup rasa buah melon yang ia bawa dari rumah.
"Kamu masukin ke botol?" tanya Rizki sambil menyetir saat sudah dalam perjalanan ke sana.
"Iya. Aku udah bawa tiga botol kaca bekas kecap yang aku beli dari seorang tukang bakso dekat rumahku. Jadi kita cuman pinjam gelasnya di diskotik nanti," jawab Mirna sambil melihat tiga botol kaca besar itu.
__ADS_1
"Memang udah dicuci botolnya?"
"Udah, dong! Sampai bersih banget. Aku cuci sampai 3 kali, biar aroma kecapnya pun ikut hilang."
Rizki hanya mengangguk paham. Sampai akhirnya mereka sampai di diskotik yang selalu didatangi oleh Sandi. Tentu ini informasi dari Ahmad. Ia pernah mengendap-endap membuntuti Sandi.
"Kamu yakin ini diskotik yang biasa didatangi Sandi?" tanya Rizki saat keluar mobil.
"Iya. Itu menurut Ak Ahmad sendiri," jawab Mirna pendek.
Mereka pun masuk. Dan Mirna bersama Rizki menyamar jadi sepasang kekasih. Namun karena nyamar jadi pelacur juga, jika terbawa godaan gombal laki-laki di tempat seperti ini, Mirna harus berakting centil pada mereka. Agar tidak diketahui siapa dia sebenarnya.
Rizki memakai jaket kulitnya, dengan kacamata hitam. Ia juga harus rela memakai kalung, seperti anak-anak diskotik atau orang-orang yang hobi ke tempat kasino lainnya.
"Sebaiknya, kita jangan mencar! Kalau berpencar nyarinya, bisa-bisa susah kita untuk pulang. Atau dia akan kabur," pesan Rizki dengan berbisik pada Mirna.
Mau/tak mau, Mirna harus menuruti apa kata Rizki. Akhirnya, ia mengangguk dan buang jauh-jauh ide untuk jadi pelacur itu.
Keduanya masuk ke tempat itu. Ternyata diskotik ini berbeda dengan tempat dugem dan musik DJ lainnya, sore hari sudah sangat ramai. Tempatnya pun sangat luar biasa mewah. Luas juga untuk bisa menari-nari sesuka hati mereka di tempat seperti ini.
Mirna dan Rizki yang baru masuk saja, sudah merasa tidak enak di sini. Gerah, panas dan dorongan keras dari orang-orang mereka rasakan.
"Pinjam gelasnya dua, Mas!" pinta Rizki pada pelayan minuman bir itu.
"Baik," balas pelayan itu pendek.
Ia pun memberikan dua gelas pada Rizki. Dan Rizki memberikan satu gelas pada Mirna. Mirna pun mengambil botol kaca di tasnya. Lalu menyimpan di tempat khusus untuk yang mau minum-minum saja. Tapi cukup jauh dari orang lain.
"Mau yang teh, sirup atau air putih?" tanya Mirna.
"Teh aja, deh!" jawab Rizki.
Mirna menuangkan teh ke gelasnya Rizki. Sedangkan ia menuangkan sirup melon itu ke gelasnya. Mereka pun bersulang dan pura-pura bermesraan, karena dilihat oleh sebagian dari mereka yang juga duduk sambil minum dan merokok serta mengobrol.
Hingga akhirnya, datanglah dua pria. Lebih tepatnya, seorang pria tua dengan pria waria. Begitu melihat yang waria itu, Mirna melirik foto Sandi yang dibawanya dari Ahmad.
Betul sekali. Walau sudah berdandan menjadi wanita, namun siapapun yang mengenalnya sudah pasti mengetahui bahwa itu Sandi, anak laki-laki sungguhan.
"Itu orangnya, Mas!" kata Mirna pada Rizki dengan berbisik, sambil menunjuk pada Sandi.
"Lebih baik secepatnya, tapi perlahan! Supaya cepat tertangkapnya," perintah Rizki, juga dengan bisikkan.
__ADS_1
Mirna menurut. Tali segera ia keluarkan dari tasnya perlahan sambil melihat situasi. Setelah dirasa aman, Mirna segera memutar talinya dan ia lempar pada Sandi yang sudah jadi Serly itu.
Segera saja Mirna melakukan ikatan kuat talinya, dan menyeret Sandi untuk dibawa kepada Rizki.
Seketika seisi diskotik jadi heboh karena ulah Mirna, bukan karena musik DJ-nya.
"Kena juga anda!" seru Mirna pada Sandi.
Serly alias Sandi itu merasa ketakutan. Karena jadi waria, lagak ketakutannya seperti wanita. Ia meminta ampun pada Mirna dan Rizki agar tidak disiksa dan dibawa ke penjara.
"Ampun! Aku minta ampun! Tolong jangan sakiti aku!"
"Kami nggak akan sakiti kamu kalau kamu jujur menjawab pertanyaan kami," balas Mirna tegas.
"Iya-iya. Aku akan jawab jujur."
Agar tak lepas, Mirna mengeluarkan pisau kecil yang biasa dipakai anak-anak Pramuka. Ia tahan Sandi dengan pisau itu di bagian leher Sandi. Seolah-olah, Mirna seperti para perampok yang akan membunuh mangsanya jika mangsa itu tidak memberikan barang yang rampok itu inginkan.
"Sekarang jawab! Siapa boss kamu untuk lakukan hal LGBT kayak gini?" tanya Mirna tegas tanpa ampun.
Yang lain hanya bisa melihat dengan terdiam. Bahkan, seorang bapak tua gemuk yang jadi pasangan gay-nya Sandi juga ikut terdiam. Sementara Rizki berjaga-jaga, jika ada yang mengganggu, akan ia tembak betulan dengan pistolnya.
"A...anu...boss aku adalah..." Sandi terbata-bata menjawabnya karena saking takutnya, takut setengah mati.
"Cepat! Kami nggak mau buang-buang waktu di sini!"
"Boss...saya...adalah...Gra...Graha."
"Siapa? Tolong ulang sekali lagi!" tanya Rizki keras.
"Graha," jawab Sandi cepat.
Rupanya, Graha adalah atasan para LGBT di negeri ini. Graha anak buahnya Yumne. Ditanyai tentang Graha, dan benar dugaan itu. Graha yang jadi anak buahnya Yumne.
Mirna melepas pisau tahannya dari dekat leher Sandi itu. Segera saja, Rizki dan Mirna memborong Sandi ke kantor polisi untuk ditahan selama 5 hari. Dia akan dilatih jadi laki-laki sejati pada umumnya.
Jadi, target utama sekarang tak hanya Yumne dan Johana. Tapi juga Graha. Dan Graha akan masuk penjara yang berbeda. Atas kasus membuat orang jadi waria, berbuat LGBT dan menjadikan transgender ada di Javabirna.
...Kasus selesai!...
...°°°...
__ADS_1