Dek Mirna

Dek Mirna
Chapter XXI : Memories of Mirna (part 3 : Family Union)


__ADS_3

Dengan wajah kesal masih terisi amarah, Zuko membawa mobil besar hitamnya ke suatu tempat. Lebih tepatnya, ia menuju ke rumah seseorang. Ternyata, ia menuju ke rumah Aki Albi. Di mobil, Zuko menghubungi Aki Albi. Untuk memberitahukan bahwa ia ingin menginap di rumahnya sementara waktu.


Aki Albi menerima telepon itu. Sempat ia bertanya kenapa Zuko ingin ke rumahnya. Zuko menjawab singkat, bahwa ia nanti akan bercerita kalau sudah sampai. Aki Albi menunggu. Dan setelah menghubungi Aki Albi, Zuko mematikan ponselnya.


Jalan raya semakin lama semakin sepi karena gelapnya malam yang semakin larut. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam. Zuko mempercepat laju mobilnya sedikit. Hingga sampailah ia di rumah Aki Albi.


Aki Albi menyambut kedatangan Zuko dengan senang. Mobil Zuko di parkir di sebelah rumahnya. Segera saja Zuko keluar mobil setelah memarkirkan mobilnya. Ia mengeluarkan tas yang berisi satu pakaiannya untuk besok. Zuko berniat menginap satu hingga dua malam saja di rumah itu.


Aki Albi mempersilahkan Zuko masuk. Di rumah itu, Aki Albi tinggal sendiri. Beliau sudah duda sejak Rizki masih kuliah di jurusan hukum untuk jadi polisi seperti kakeknya (dan menjadi seperti yang sudah kita tahu, kepala polisi Javabirna). Beliau juga memiliki anak perempuan dua, ibunya Rizki dan bibinya Rizki yang tinggal di luar negeri dengan suaminya.


"Silahkan duduk! Saya siapkan teh dulu," katanya kemudian pergi.


Zuko duduk di ruang tamu itu. Dilihatnya rumah Aki Albi, ada patung harimau yang menganga mulutnya. Mengisyaratkan harimau itu mengaum. Sisanya pajangan-pajangan foto dan lukisan. Hingga datanglah Aki Albi sambil membawa nampan yang membawa dua cangkir teh hangat dan setoples kue kering.


"Silahkan, mumpung masih hangat!" katanya sambil menyimpan tiga benda itu di meja tamu dengan hati-hati agar tidak jatuh.


Zuko izin meminum tehnya. Kemudian memakan satu potong kue keringnya. Aki Albi terduduk di sofa tamu sebelah sofa tempat Zuko duduk. Beliau pun menanyakan alasan Zuko menginap di rumahnya.


Sambil memakan kue kering itu, Zuko menceritakan apa yang terjadi di rumahnya barusan. Setelah mendengar dengan saksama, Aki Albi mengangguk paham. Beliau pun memberikan arahan pada Zuko.


"Sesibuk apapun kalau dipanggil, kamu sautin aja! Siapapun itu, yang manggil kamu."


"Tapi, aku benar-benar lagi sibuk, Ki. Aki 'kan tahu, kasus pemerkosaan seorang wanita kuliahan itu tinggal sedikit lagi selesai. Jadi tanggung kalau aku diganggu saat sedang menyelidiki, malah diganggu," balas Zuko dengan sedikit pengerasan suara.


"Apapun itu, pentingkan dulu panggilan di keluargamu! Kalau panggilannya dari orang yang minta bantuan jasamu sebagai detektif, apa kamu mau abaikan juga? Nggak mau, 'kan."


"Tapi Ki..."


"Udahlah. Itu saran Aki buat kamu, ya. Namun sebaiknya, kamu turuti apa kata Aki barusan."


Zuko terdiam. Ia pun meminum kembali tehnya seteguk. Sementara Aki Albi pergi ke dalam untuk menyimpan nampan itu ke tempat asalnya di dapur.


Zuko tidur di kamar sebelah kamarnya Aki Albi. Ia membuka jaketnya dan menggantungnya di kastop belakang pintu kamar. Aki Albi mengizinkan Zuko beristirahat dan menginap di rumahnya, selama yang Zuko mau.


"Makasih, Ki!" kata Zuko setelah membuka jaketnya.


"Sama-sama. Sekarang mending kamu langsung tidur, ya! Untuk kasus pelaku itu, kita lakukan pagi-pagi besok setelah subuh," balas Aki Albi.


"Iya, Ki."

__ADS_1


"Oh iya! Kalau belum sholat isya', sholat dulu, ya!"


"Udah di rumah kok, Ki."


"Ya udah. Selamat tidur, semoga nyaman kamu di sini!"


"Iya. Sekali lagi makasih, Ki!"


Aki Albi mengangguk sambil tersenyum. Zuko pun menutup pintu kamar. Ia merebahkan badannya ke kasur. Ia memikirkan saran Aki Albi tadi. Sejenak ia melihat pantulan dirinya di cermin besar yang ada di pintu lemari sebelah kasur.


Dalam pantulan cermin itu, Zuko menghela nafas. Ia menutup kedua matanya sejenak, dan tersadar bahwa kini kedua matanya sudah di serang kantuk. Zuko pun memutuskan untuk tidur. Besok, kasus perlakuan pada wanita kuliah itu harus segera beres, setelah jadi perbincangan di Javabirna selama dua hari.


...***...


Besoknya setelah sholat subuh, Zuko dan Aki Albi sarapan dan mandi. Mereka harus segera menuju ke sebuah apartemen mewah yang konon jadi tempat tinggal pelaku pemerkosaan itu. Semuanya sudah jelas melalui anak-anak buahnya Aki Albi yang menyelidiki melalui alat-alat canggih milik Zuko dan keterangan dari para warga yang jadi tetangganya di apartemen itu. Malah ada yang bilang, pelakunya adalah pecandu narkoba.


Setelah rapi dan bersih, keduanya segera meluncur ke sana dengan menggunakan mobil Zuko. Informasi ini sudah di dapat dari kemarin malam. Dan atas perintah Aki Albi, anak-anak buahnya harus menunggu kedatangannya dan Zuko di depan apartemen itu.


...***...


Siang hari, tepatnya di tengah hari. Ini waktu Mirna pulang sekolah setelah sholat dzuhur di sekolahnya. Ketika mau pulang, tiba-tiba ia melihat ayahnya berjalan bersama kawanan polisi dan pemimpinnya, Aki Albi.


Tanpa berlama-lama lagi, gadis yang masih berseragam putih merah itu berlari cepat sambil menjerit memanggil sang ayah, "PAPAAA!!!"


"Papa! Kapan Papa pulang? Mirna kangen banget," tanya putri kecilnya sambil menangis melepas rasa rindunya.


Zuko jadi ikut menangis. Tak bisa berkata-kata lagi. Ia peluk erat putri satu-satunya itu. Ia buai, elus dengan ikhlas dan rasa kasih sayang pada kepalanya yang ditutupi oleh jilbab berikat tali itu.


Sejenak Zuko melepas pelukannya dan menjawab, "Mirna Sayang! Maaf, Papa belum bisa pulang sekarang. Sabar, ya! Papa pasti pulang kok."


"Tapi kapan, Pa? Nenek sama Mama juga kangen. Sampai kapan Papa sama Mama berantem begini? Mirna jadi ikut sedih."


Aki Albi hanya bisa ikut terharu melihat momen itu. Ia ikut tersenyum kecil melihat kepolosan Mirna, dan menahan tangis haru.


Zuko melepas pelukannya perlahan, dan memberikan pengertian pada putrinya, "Sayang! Papa sekarang lagi ada tugas. Sedikit lagi akan tertangkap pelakunya. Insya Allah, Papa akan pulang setelah tugas ini selesai. Sabar dulu, ya!"


Mirna terdiam, dan akhirnya ia mengangguk paham. Ia hapus air matanya dan tersenyum pada sang ayah tercintanya. Zuko ikut tersenyum melihat sang putri kesayangannya itu akhirnya memahami apa yang ia alami saat ini. Keduanya kembali berpelukan.


Lalu saling lepas pelukan dan Zuko meminta Mirna untuk pulang. Mirna menurut, kemudian bersalaman pada sang ayah. Lalu pamit untuk pulang naik angkotnya. Walau sudah punya sepeda, tapi Mirna menggunakan sepedanya ke sekolah sejak SMP.

__ADS_1


"Hati-hati ya, Sayang!" pesan Zuko pada Mirna.


"Iya. Papa juga, semoga berhasil!" balas Mirna dengan polosnya.


Zuko hanya mengangguk sambil tersenyum kemudian lanjut berjalan menuju ke sebuah apartemen. Mirna yang melihat dari kejauhan hanya bisa tersenyum kecil.


...***...


Malam harinya, Mirna menonton televisi untuk melihat tim sepak bola liga Javabirna barat, Persib. Ia pendukung setia tim sepak bola ini. Khususnya pemain yang berasal dari Belanda dan lokal.


Mirna duduk di depan TV dengan semangat. Ketika tim kesayangannya memasukkan bolanya ke gawang, Mirna menjerit dengan hebohnya.


"JEBRET, GOOOL!!!"


Jerit heboh senangnya membuat ibu dan neneknya hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. Untuk menghemat suaranya agar tidak habis, Mirna selalu meminum air putih setelah menjerit.


Tak lama terdengarlah suara pintu rumah diketuk. Bu Eka yang membukanya. Ketika dilihat...


"Zu... Zuko?" tanyanya tak percaya.


Ya, dia adalah Zuko. Akhirnya ia pulang. Zuko melihat ibunya dengan senyuman kecil dan wajah sedih merasa bersalah. Ia pun berlutut pada ibunya sambil menangis. Menyesal telah meninggalkan rumah.


Bu Eka membangunkan putra semata wayangnya itu. Ia pun berkata, "Ibu sudah memaafkan kamu. Kamu tidak minta maaf pun, Ibu selalu memaafkanmu."


Zuko menghapus air matanya, walau air mata itu menetes lagi kedua membasahi pipinya. Hingga ia terlihat oleh Siti yang menyusul. Siti juga tak percaya Kanda-nya pulang ke rumah. Bahkan sedihnya lagi, ia memeluk Siti secepat kilat.


Istrinya dipeluk erat, dan dengan tambahan tangis penyesalan serta permohonan maaf dari sang suami. Siti membatu, tak tahu harus merespon bagaimana. Namun, akhirnya ia memaafkan juga Zuko.


Zuko pun diajak masuk, hingga terlihat olehnya Mirna tengah asyik menonton pertandingan sepak bola di TV. Zuko ingin membuat kejutan untuk putrinya.


"Gimana Bung Mark Clok-nya? Menang?" tanya Zuko dengan senyuman.


Dari suara itu, Mirna sudah bisa menebak siapa yang datang. Dilihatnya ke belakang perlahan. Dugaannya tidak salah. Tak asing lagi baginya, itu ayah kandungnya yang akhirnya pulang.


Mirna segera sikat memeluk. Tangis haru bahagianya tak terbendung lagi. Namun Zuko hanya tertawa kecil, walau air matanya juga menetes lagi.


"Akhirnya Papa pulang juga. Mirna tunggu-tunggu dari tadi," kata Mirna di tengah tangisnya.


"Iya, Sayang! Papa pulang ini," balas Zuko dengan tulus.

__ADS_1


Keduanya lepas pelukan, dan dengan hebohnya Mirna mengajak sang ayah menonton bersama pertandingan sepak bola itu. Siti, Zuko dan Bu Eka hanya tertawa kecil melihat Mirna yang kembali tersenyum lagi. Setelah seharian galau dan lemas karena ayahnya pergi sehabis bertengkar dengan ibunya.


...°°°...


__ADS_2