
Di sekolah, Mirna dan Shania sedang makan mie goreng bersama. Mereka membelinya bersamaan di waktu istirahat ini. Keduanya makan sambil mengobrol dan canda-tawa. Lalu datanglah Banyu dan Febri. Keduanya baru saja membeli minum.
Memang Febri sudah bertaubat. Tapi Hannah dan Ikbal nampaknya belum mau meminta maaf pada Mirna. Khususnya Hannah, yang masih saja iri hati dan dengki tingkat dewanya pada Mirna. Hanya karena dia gadis detektif yang terkenalnya sama dengan artis.
Sampai akhirnya, Hannah merencanakan sesuatu dengan Ikbal dan juga kelompoknya. Ia berbisik pada Ikbal membicarakan sesuatu. Dan sampailah pada kata kesepakatan dari Ikbal. Mereka akan melakukannya segera. Secepat mungkin. Kalau perlu, lakukan sekarang sebelum bell masuk berbunyi.
"Siap, Neng! Sekarang juga, aku akan buat fitnah itu," kata Ikbal.
"Okey. Cepat ya, keburu masuk nih!" seru Hannah dengan suara kecil.
Ikbal mengacungkan jempol tangan kanannya, lalu bergegas pergi. Ia pergi ke dalam masjid sebelah sekolah. Tepat saat itulah, ada Ronzi yang baru saja keluar dari masjid itu sehabis sholat Dhuha. Dengan wajah curiganya, Ronzi mengikuti kemana Ikbal mau pergi.
Ronzi mengikuti diam-diam agar tidak mudah ketahuan oleh Ikbal. Cowok itu melihat Ikbal pergi mendekati kotak amal masjid. Dugaan Ronzi tepat, Ikbal akan membawa pergi kotak amal itu. Hingga ia bawa ke tempat penyimpanan bola basket, voli dan untuk futsal.
Sebelum pergi, Ikbal mengambil sesuatu dari sakunya. Ronzi melihat diam-diam dari balik tangga. Jika ada yang bertanya padanya apa yang dia lakukan di tangga, Ronzi akan menyuruh orang itu untuk pergi secara halus. Nanti orang itu akan tahu sendiri.
__ADS_1
Lalu Ikbal pun pergi. Setelah pergi, Ronzi mendekati tempat penyimpanan bola itu. Ia mengambil kotak amal masjid sekolah itu dan melihat, ada kata-kata yang tertempel di kotak amal tersebut:
...Milik Mirna Setyawati!...
Baru saja Ronzi akan mengembalikannya ke masjid, tiba-tiba ada kepanikan dari petugas masjid sekolah. Tepat lagi dugaan Ronzi, kepanikan karena kotak amal masjid telah hilang.
Satu sekolah jadi ikut penasaran, siapa yang mengambilnya. Sampai akhirnya semuanya ke masjid untuk mencarinya. Sementara Ronzi berdiam diri dulu sejenak, sambil melepaskan tempelan kata-kata yang memfitnah Mirna itu.
"Saya tahu siapa pelakunya, Pak!" seru Hannah pada kepala sekolah.
"Benarkah, siapa dia?" tanya kepala sekolah.
Mirna yang dengar kaget bukan main. Begitu juga dengan Febri, Shania dan Banyu. Mereka yakin Mirna tak melakukan pencurian itu. Karena sejak tadi Mirna duduk makan bersama teman-temannya, dan belum ke masjid sekolah hari ini.
Awalnya Mirna mau bicara, tapi ditahan oleh Febri yang sudah emosi.
__ADS_1
"Heh, cewek sok cantik! Jangan asal nuduh, ya! Mirna daritadi makan sama aku dan teman-teman yang lainnya kok. Jangan percaya dia, Pak! Ini fitnah, INI FITNAH!"
"Apa buktinya kalau ini fitnah? Kamu orang taubat nggak tahu apa-apa kejadian komplitnya. Orang taubat, pastinya sama orang baik kayak mereka. Jadi mending diem, deh!" balas Ikbal sambil menunjuk pada Febri dan Mirna ketika bilang kata 'mereka'.
"Kamu yang lebih baik diem, Ikbal! Jangan kura-kura dalam perahu, deh! Kamu sama boss cewek kamu itu sama aja, 11-12."
"Pembela memang lemah. Lebay banget jadinya."
"Nggak nyambung kamu! Udah munafik, nggak nyambung lagi. Kamu yang lebay justru."
Semakin emosi, Ikbal pun berniat untuk menonjok Febri. Namun, tangannya ditahan oleh seseorang. Dan ternyata itu adalah Ronzi. Ronzi pun melepaskan genggaman tangannya yang menahan tonjokan tangan Ikbal. Setelah itu, ia serahkan kotak amal tersebut pada kepala sekolah.
Ronzi menyerahkannya sambil berkata, "Saya saksi mata yang melihat kejadian itu dari awal sampai akhir, Pak. Saya akan ceritakan semuanya!"
Kepala sekolah mempercayai Ronzi. Ia pun meminta Ronzi menjelaskan semuanya di ruang kepala sekolah. Sementara Hannah dan Ikbal mendapatkan hukuman berupa memungut sampah yang ada di lingkungan sekolah.
__ADS_1
Dalam perjalanan ke ruang kepsek, Ronzi berkata dalam hatinya, 'Ku lakukan semua ini bukan hanya karena aku ikhlas membantu sesama. Tapi... karena aku mencintaimu, Mirna.'
...°°°...