
Mirna menggunakan lensa kontaknya. Ia lihat terus foto dan jalan raya ke depan. Dengan begitu, ia bisa mengetahui jalur yang digunakan Yumne dan Johana ke hotel di Sukaratu itu. Ia harus bolak-balik lihat jalan dan foto, agar tidak salah sasaran jalan.
Saat sampai di lampu lalu lintas yang masih hijau, Rizki menghentikan mobilnya. Ia bertanya, "Lurus, kanan, atau kiri?"
Mirna melihat foto dan jalan raya lagi. Ia pun menjawab singkat, "Lurus! Nanti ada lampu lalu lintas lagi, kita belok kanan."
Rizki segera meng-gas mobilnya sebelum lampu lalu lintas merah menyala. Mereka jalan masih cukup jauh menuju lampu lalu lintas berikutnya. Dan sampailah di lampu lalu lintas yang Mirna maksud.
"Belok kanan, 'kan?" tanya Rizki memastikan.
"Ya," jawab Mirna pendek.
Rizki dengan cukup ganasnya membelokkan mobil polisinya ke arah kanan. Sampai mobil yang mau maju lurus harus rem mendadak sambil membunyikan klakson cukup keras dan menggeram marah, "MAU BELOK LIHAT-LIHAT, DONG!"
Mirna dan Rizki hanya tertawa kecil mendengar itu. Mereka segera berjalan terus lurus. Hingga ada dua belokkan jalan, kanan dan kiri. Sebelum sangat dekat, Rizki bertanya lagi.
"Mana sekarang?"
Mirna melihat arah jalan. Namun, ini kesialan baginya. Karena kanan dan kirinya bercahaya biru. Artinya, Yumne memakai jalan kanan dan kiri juga.
"Astaghfirullah, cahaya dua-duanya biru, Mas! Jadi tidak jelas pakai jalan yang mana," Mirna jadi sedikit kesal.
Rizki terdiam. Ia jadi ikut bingung juga. Sampai akhirnya ada seorang polisi yang mengenalnya. Tidak diketahui oleh Mirna siapa polisi itu. Namun, ia tunduk pada Rizki sebagai kepala polisi negeri Javabirna.
Rizki meminta pada Mirna, "Saya ada urusan sebentar. Kamu tunggu di sini, jangan kemana-mana!"
__ADS_1
Setelah itu, Rizki keluar mobil dan mengobrol berdua bersama polisi yang jadi anak buahnya itu. Mirna hanya melihat dari dalam mobil. Namun, ternyata obrolan Rizki dan anak buahnya itu memang hanya sebentar. Sehabis mengobrol, Rizki balik ke mobilnya.
Ia masuk dan segera bicara pada Mirna, "Jalur yang dipakai untuk ke hotel itu bisa lewat kanan atau kiri. Tapi yang paling dekat lewat kanan. Jadi dapat di pastikan, si Yumne pakai jalur kanan."
"Mas kata siapa?" tanya Mirna ingin tahu.
"Anak buah Mas yang tadi itu. Dia dari kemarin melacak juga keberadaannya Yumne. Dan dia ikuti sampai hotel. Rupanya, memang Yumne pakai jalur kanan."
Mirna mengangguk paham. Rizki segera menyalakan mesin mobil dan meng-gas mobilnya. Ia bunyikan klakson untuk pamit pada anak buahnya yang jadi polisi lalu lintas juga.
Dalam perjalanan, Mirna bertanya, "Kalau lebih dekat lewat jalur kanan, kenapa sebagian orang lewat jalur kiri juga?"
"Untuk menghindari kemacetan. Hotel Sukaratu 'kan hotel yang paling populer se-Baradina," jawab Rizki.
Mirna terdiam saja. Dan sampailah mereka di tujuan. Rizki memarkirkan mobilnya dan keduanya segera masuk hotel. Untuk memastikan bahwa Yumne masih di sini, Mirna bertanya pada bagian penerima tamu hotel.
"Siang, Mbak! Kami mencari tamu yang bernama Yumne dan Johana. Apakah ada?" tanya Mirna sedikit tegas.
"Baik, saya lihat dulu ya!"
Mirna dan Rizki menunggu. Dan untungnya, petugas penerima tamu itu jujur. Nampaknya ia tidak disogok oleh Yumne. Karena mungkin Yumne tak tahu bahwa ia tengah diincar oleh Mirna dan Rizki. Ini dibuktikan lewat buku tamu itu.
"Ada. Tn.Yumne Ahmadi dan Ny.Johana Halimah, bukan?"
"Iya, itu nama mereka. Mereka ada dimana?"
__ADS_1
"Mereka di kamar nomor 305."
"Ada di lantai berapa?" ini bagian Rizki yang bertanya.
"Di lantai 6, Pak."
"Baik. Terima kasih, Mbak! Kalau begitu, kami permisi dulu!"
"Silahkan!"
Mirna dan Rizki segera menuju lift dengan jalan mereka yang sedikit terburu-buru. Begitu memasuki lift, Rizki menekan tombol angka enam. Dan lift pun menutup. Sekarang keduanya tinggal menunggu lift sampai di lantai tujuan.
Saat sudah sampai, Mirna dan Rizki kembali bergegas berjalan keluar lift. Mereka pun mencari kamar yang dimaksud. Sampailah di kamar itu.
Namun untuk memastikan ini benar-benar kamarnya Yumne, Mirna memakai sarung tangan canggihnya. Ia rekam suaranya dengan berkata, "Benarkah ini kamar Tn.Yumne Ahmadi dan Ny.Johana Halimah?"
Sinar sarung tangan dinyalakan, lalu ia raba selama beberapa detik pintunya. Cahaya biru bersinar. Ini betulan.
"Iya, ini kamarnya. Saya sedikit ragu aja, mungkin petugas itu bohong," kata Mirna pada Rizki.
"Udahlah. Ayo ketuk pintunya!" balas Rizki tegas.
Mirna dan Rizki mengetuk pintu kamar itu sambil mengucapkan salam. Namun, disadari atau belum disadari, mereka diawasi oleh sepasang mata. Lebih tepatnya, ia mengawasi dari balik tembok yang menuju ke tangga darurat.
...Siapakah dia?...
__ADS_1
...Apakah itu Yumne?...
...°°°...