
Mirna sudah mulai pulih sekarang. Pertempuran di gunung kemarin ternyata sampai menghebohkan awak media hingga ke seluruh negeri. Tambah lagi wawancara dari Veriel dan Rival yang turut membantu Mirna dan tim untuk mengalahkan Yumne dan yang lainnya.
Untuk pedang dua pesulap itu, keduanya bersikeras akan menyerahkannya pada Mirna, agar Mirna tidak kekurangan senjata lagi. Mirna menerima dengan senang hati. Namun, ia jadikan pajangan biasa. Karena katanya pedang bisa saja membunuh jika dipakai langsung untuk melawan musuh. Ia juga menambahkan, agar dipakai saja oleh detektif negara generasi berikutnya.
Suatu hari, Mirna yang sedang ada di sekolah bersama Shania, Banyu dan Febri, tiba-tiba ditelepon oleh salah satu nomor tak dikenalnya. Mirna mengerutkan kening dan menjawab telepon itu.
"Hallo, assalamualaikum!" seru Mirna memanggil.
"Wa'alaikumsalam, ini benar dengan detektif Dek Mirna?" jawab yang menelepon dengan balik bertanya.
"Iya benar, saya sendiri. Ini siapa ya?"
"Saya Miranda. Saya butuh bantuan kamu, untuk menyelidiki tunangan saya, Zein. Saya akan kirim fotonya ke kamu lewat W-A nanti. Dan tolong selidiki dia di kantornya!"
"Baik, insya Allah kalau ada waktu saya akan laksanakan segera, Mbak. Kantor tunangannya Mbak Miranda itu dimana?"
"Nanti saya kirim sama fotonya. Tolong, ya!"
"Baiklah. Saya akan laksanakan, dan urusan pembayaran nanti saja setelah tugas ini selesai."
"Ya. Inti permasalahannya pun akan saya kirim lewat W-A juga, ya. Karena saya nggak bisa lama-lama nelepon sekarang ini."
"Siap, Mbak! Saya tunggu kirimannya!"
Mirna dan klien berikutnya yang bernama Miranda itu sepakat. Keduanya menutup telepon di ponsel masing-masing. Mirna kembali ke teman-temannya.
"Dari klien baru, Mir?" tanya Febri.
"Iya. Tapi ini beda. Selidiki tunangannya," jawab Mirna santai.
"Waw! Udah tunangan aja masih bisa selingkuh, apalagi kalau udah kawin," seru Banyu disusul dengan tawa kecilnya.
"Bener. Lihat sedikit, langsung sikat coy! Itulah cowok," tambah Febri dengan tawanya yang sedikit keras.
Dan akhirnya ada pesan masuk di WhatsApp Mirna. Kiriman foto, alamat target dan kasusnya.
[Itu foto Zein. Asli! Awalnya, dia orang yang gampang setia sama saya. Baik, dan sayang keluarga saya. Khususnya sama adik saya, yang cacat tunarungu sejak lahir. Nggak mau pacar-pacaran, dia langsung lamar saya untuk jadi tunangannya.
Hingga seminggu setelah pertunangan kita, tiba-tiba dia berubah. Awalnya dia lemah lembut, jadi kasar ngomongnya. Nggak hanya sama saya dan keluarga saya, khususnya adik saya. Ke mamanya pun dia kasar. Padahal dia cowok sholeh, udah nggak punya ayah sejak masih SD.
...Nggak hanya sampai disitu!...
Sudah dua mingguan ini, dia sering pulang malam. Biasanya 5 menit sebelum magrib, dia udah pulang. Tapi sekarang, pulangnya kadang jam 10, 11 atau tengah malam. Bahkan pernah saya dapati dia pulang dalam keadaan mabok saat pulang tengah malam di malam minggu.
Tolong selidiki dia! Apakah kini diam-diam dia jadi pemabuk? Apakah dia jadi suka wanita lain juga? Selidiki dia baik-baik, Dek!
Terima kasih!
^^^Salam, Miranda Salsabila]^^^
Setelah membaca pesan itu, Mirna mulai berpikir untuk segera melakukan pencarian itu bersama Rizki. Ia segera mengirim pesan itu pada Rizki. Walaupun dibalas responnya lama karena Rizki melihat ponselnya sambil berpatroli keliling kota.
Ingin tahu pesan itu, Shania meminta Mirna untuk memperlihatkan pesan itu padanya. Shania memang tak akan bisa membaca pesan itu, tapi dia hanya meraba ponselnya Mirna saja. Paling tidak, untuk mendeteksi dimana keberadaan suaminya klien yang satu ini.
__ADS_1
Shania menggenggam ponselnya Mirna dan menutup mata. Hasilnya menjadi seperti ini:
{Pria yang bernama Zein itu, selalu dan malam ini, masih saja berada di suatu tempat yang biasa dipakai orang-orang untuk bermain kartu, minum minuman keras, bermain biliar. Dan di tempat ini, Zein selalu minum juga. Sambil bermain judi. Artinya pria ini hobi bermain judi. Menggunakan media bermain kartu.}
Shania membuka mata. Ia mengembalikan ponsel Mirna dan berkata, "Dia pemain judi. Judinya dengan bermain kartu biasa."
"Apa, tunangannya pemain judi?" tanya Mirna kaget.
"Iya. Untuk selingkuh dengan wanita lain atau tidak, otakku tidak mendeteksi sampai sejauh itu. Tapi, aku hafal betul tempat perjudian itu."
"Kita saja langsung ke sana. Malam ini!"
...***...
Malam harinya...
Mereka sampai di sebuah tempat yang disebut 'bandar judi'. Shania menutup matanya, mendeteksi dimanakah lokasi Zein bermain judi kartu sambil minum.
"Nggak terlalu jauh dari pintu masuk. Dia ada di meja nomor 11 sebelah kiri," lapornya.
"Nggak ada waktu lagi. Kita harus segera cari dia, agar bisa secepatnya dapat Yumne dan pasukannya!" perintah Rizki tegas.
Mereka pun masuk ke bandar judi itu. Sesuai dengan kebiasaan dan rencana yang sudah disusun, Mirna dan yang lainnya harus menyamar. Tempat ini bisa dibilang sejenis kafe yang bisa dijadikan bandar judi. Karena terlihat tak hanya orang yang bermain judi di sini. Tapi ada juga yang makan es krim biasa, minum kopi sendiri, serta menyanyi karaoke.
"Kita pura-pura makan di sini!" pinta Mirna.
"Untuk rencana itu dibatalkan! Karena pasti banyak orang yang curiga, khususnya yang sedang judi. Banyak yang judi di sini soalnya. Jadi, kita makan betulan," saran Rizki.
Mirna dan Shania menyetujui saran Rizki. Mereka memanggil pelayan kafe itu. Yang di pesan oleh Rizki hanya kopi putih hangat, sedangkan Shania dan Mirna memesan es krim kecil biasa.
Sudah bisa dipastikan, itu botol miras. Mirna melihat pria itu sudah menuangkannya sedikit ke gelas kecil milik Zein sendiri. Dan terlihat, datanglah 3 hingga 4 pria dan 1 wanita menghampiri mejanya.
"Mas! Pasti itu teman-teman main judinya," kata Mirna dengan bisikan pada Rizki.
"Iya. Wanita itu bisa aja selingkuhannya," balas Rizki dengan bisikan juga.
"Kalau wanita itu selingkuhannya, aku belum yakin. Bisa aja itu teman main judinya juga," bantah Mirna halus.
"Bener juga. Bisa saja begitu."
Teman-temannya Zein menuangkan miras itu ke gelas mereka masing-masing. Dengan alat bantu dengar canggih ayahnya, sehingga bisa dengar suara Zein dan teman-temannya dari jarak jauh (bahkan saking canggihnya, bisa mendengar suara mereka berbisik juga).
"Biar aku yang dengar! Kalian diam biasa aja!" pinta Mirna.
Rizki dan Shania terdiam. Mirna mendengar baik-baik apa yang Zein dan grup judinya bicarakan.
"Kebetulan, aku ada duit 5 juta 5 ratus rupai, nih! Menanglah hari ini!" seru salah satu teman judi Zein, sambil mengeluarkan uangnya itu.
"Nih, 10 juta!" seru temannya yang lain, sambil melempar uang 10 juta rupai yang diikat itu.
"Ayo, ada lagi? Kita bakalan mulai!" kata teman wanita Zein yang akan segera mengocok kartunya.
"Mantap aku, 25 juta!" seru Zein dengan melempar uang itu ke meja.
__ADS_1
Total 40 juta lima ratus rupai. Tidak ada lagi yang mau mengeluarkan. Yang tidak mengeluarkan, jika menang sudah pasti dapat uangnya. Dan judi itu pun dimulai.
"Hebat judinya! Taruhan uang 40 juta lima ratus rupai," lapor Mirna.
"Judi gila," balas Rizki mendengar total uang taruhan judi itu.
Pesanan Mirna dan tim-nya datang. Mereka pun menikmatinya secara perlahan. Sekarang saatnya menikmati makanan sambil terus mendeteksi Zein. Dan dugaan Mirna rupanya lebih kuat dan benar. Teman wanita Zein itu tiba-tiba mulai berlagak manja pada Zein.
Zein membalas dengan kemesraan dan gombalannya pada wanita itu. Keduanya minum sambil terus fokus dengan judi kartunya. Terdengar oleh Mirna, Zein ini ditantang oleh salah satu temannya untuk mengeluarkan kartu. Karena ternyata Zein lebih sering menang dalam judi.
Dengan santainya Zein menunggu teman-temannya yang lain mengeluarkan kartu. Sampai pada akhirnya Zein mengeluarkan juga kartunya. Dengan amat santai kalem, pria itu mengeluarkan setiap kertas kartunya. Hingga...
"Akhirnya dapat seperti biasa. Memang!" serunya setelah ia tunjukkan kartunya.
Kalahnya judi ini, membuat sebagian ada yang biasa saja. Tapi ada juga yang kesal sampai memukul meja dengan suara kecil, agar tak menarik perhatian orang lain. Untuk menghilangkan kekesalan itu, mereka menambahkan minumnya.
Mirna pun menatap Rizki. Rizki mengangguk pelan, juga pada Shania yang juga mengangguk pelan. Sebuah aba-aba yang memberikan arti sekaranglah saatnya untuk menyergap mereka. Khususnya Zein, yang tak hanya berselingkuh. Tapi juga ia bermain judi.
"Jangan bergerak!" seru Rizki pada Zein dan grup judinya, sambil menunjukkan pistolnya.
Mirna pun melepaskan wignya. Kacamata hitamnya ia ganti dengan kacamata minus biasa yang dipakainya. Sekarang terlihat lagi hijabnya. Dan sekarang saatnya, menangkap. Tapi, sudah pasti tidak mudah. Karena Zein dan grupnya melawan.
"Datang juga kau, gadis detektif!" seru Zein senang.
Mirna mulai marah. Keadaan kafe jadi sedikit kacau. Yang bernyanyi karaoke juga jadi panik. Sampai Mirna mengambil senjatanya. Bahkan sebagian pelayan dan pengunjung kafe lainnya lari ketakutan keluar kafe.
"Memang kenapa kalau aku datang? Takut? Justru aku suka, kalau pelakunya adalah tunangan selingkuh yang hobi berjudi," kata Mirna dengan tawa dan tepuk tangannya.
Zein jadi tersenyum jahat. Ia pun mengambil satu kursi pengunjung dan melemparnya ke arah Mirna. Namun akhirnya bisa tertangkap oleh Shania, yang bisa mendeteksi kemana kursinya akan dilempar.
Tak puas melihat Mirna belum tersakiti, Zein mengambil meja dan mendorongnya ke arah Mirna. Gadis itu menahan meja kayu tersebut dan mendorong balik ke arah Zein. Teman judi Zein ada yang sudah mulai tersakiti karena kena dorongan meja itu, sementara Zein dan selingkuhannya menghindar.
Hingga kekuatan muncul dari Zein, tangannya memanjang jadi elastis seperti karet. Ia pun menangkap Mirna dan Shania, lalu melempar keduanya keluar kafe. Rizki yang mau menembak, malah direbut pistolnya oleh Zein. Dan ia ditonjok perutnya oleh Zein.
Mulai butuh bantuan, Rizki segera memanggil bala bantuan dari anak-anak buahnya. Setelah itu, ia segera berlari mengambil pistolnya yang dilempar oleh Zein barusan setelah direbut.
Zein mulai sibuk menghadapi Mirna dan Shania. Walau dua gadis itu sudah terluka, namun Zein masih belum juga puas. Tanpa berlama-lama lagi saat sudah berada di luar kafe, Mirna menyiapkan belati lemparnya. Ia lempar benda itu pada Zein. Sialnya, Zein bisa menghindar. Sementara selingkuhannya berhasil kabur ke mobilnya Zein.
Rizki segera mengejar selingkuhannya Zein, dan berhasil menembak bagian kaki kanannya. Beruntung saat itu sudah datang anak-anak buahnya Rizki. Rizki memberikan aba-aba untuk anak buahnya agar memborgol selingkuhannya Zein dan segera bawa ke mobil polisi. Anak buahnya menurut, dan wanita itu tak bisa berbuat apa-apa karena kakinya sudah sangat kesakitan.
Sementara itu, Mirna dan Shania masih saja melawan Zein dan teman-teman judinya yang masih bisa bertahan walau sudah terluka. Mirna pun melawan dengan pisau kecilnya, tapi selalu gagal karena Zein selalu mengambilnya dari jarak jauh.
"Kayaknya dia penganut ilmu hitam seperti Johana. Jadinya bisa jadi manusia karet," kata Shania pada Mirna.
"Aku menyebutnya siluman karet," balas Mirna pendek.
Mirna segera menekan tombol di sepatunya. Ia pun meminta Shania agar berpegangan padanya karena mereka akan terbang. Shania menurut, dan Mirna melompat. Ia pun mengeluarkan satu belati lemparnya dan melemparkan benda itu dari atas menuju Zein dan teman-teman judinya. Tindakan ini berhasil. Zein dan teman-teman judinya berhasil terluka.
Saat Zein masih bisa menahan sakit cakaran belati lempar itu, dan berniat membalas Mirna, Rizki menembakkan pistolnya pada Zein. Zein akhirnya tambah terluka dan makin melemah. Sementara teman-temannya tertembak oleh anak buahnya Rizki yang lain. Mereka pun diborgol dan dibawa ke kantor polisi.
Kafe pun tenang kembali. Dan banyak yang mengagumi ketangguhan Mirna, Rizki dan Shania. Mirna pun berjanji akan menggantikan segala kerusakan di kafe itu. Dan besok, Rizki akan beritahukan Miranda bahwa tunangannya itu sudah tertangkap.
...Kasus selesai!...
__ADS_1
...°°°...