
...•••...
Adanya sedikit perselisihan antara kedua orang tua bisa saja dialami oleh siapapun yang masih punya orang tua yang lengkap. Bahkan bukan rahasia lagi jika itu semua menjadikan mereka bercerai. Tapi tak sedikit juga yang akhirnya akur kembali sehingga tidak ada perceraian.
Itulah yang pernah terjadi antara Zuko dan Siti. Kedua orang tua kandung Mirna ini biarpun sering terlihat harmonis dan saling bekerja sama atau mendukung satu sama lain, ternyata pernah juga mengalami pertengkaran yang cukup serius. Bahkan nyaris membuat keduanya berpisah.
Semua berawal dari pagi yang indah. Rumah mewah itu amat sangat santai. Mirna kecil sedang bermain di luar dengan sang ibunda tercinta. Mirna melihat Siti sedang memberikan makanan ikan pada seekor kucing. Mirna amat salut dan ikut senang melihatnya. Apalagi kucing itu masih kecil.
Hingga datanglah seekor kucing yang cukup besar. Warna bulunya sama dengan kucing kecil itu. Sudah bisa dipastikan, kucing dewasa itu adalah induk anak kucing yang diberi makan oleh Siti barusan.
Siti menambahkan ikan pada kucing itu, agar induknya juga bisa ikut makan. Akan tetapi, tiba-tiba saja Mirna malah mau menggendong anak kucing itu. Karena saking gemasnya ia melihat anak kucing yang sangat imut dan lucu itu.
"Ayo sini! Kamu mau 'kan jadi peliharaanku?" tanya Mirna saat sudah menggendong anak kucing itu.
Siti terkejut melihat putri semata wayangnya malah berperilaku begitu pada kucing itu. Ia pun berkata dengan keras, "Ya Allah, Mirna! Apa-apaan kamu ini? Jangan diganggu, dong! Kasihan lagi makan kucingnya."
"Nggak akan dibawa ke dalam kok, Ma. Aku balikin lagi ke induknya."
Induk kucing itu melihat anaknya digendong Mirna. Merasa kalau Mirna mengganggu anaknya yang tengah tenang makan, apalagi sampai membuat anaknya jadi mengeong terus karena benar-benar merasa terganggu, induknya pun beraksi.
Ia pun marah pada Mirna. Dan dengan kuku tajamnya, induk kucing itu mencakar Mirna di bagian telapak tangan kanan belakangnya. Walau dicakar kecil, tapi mengucurkan darah merah. Induk kucing itu meraung dan lanjut memakan ikan pemberian Siti.
Mirna pun menurunkan anak kucing itu dari gendongannya. Ia pun menangis sambil mengeluh kesakitan. Mirna melihat lukanya. Walau cakarannya kecil, tapi mengeluarkan cukup banyak darah segar.
"Tuh 'kan, apa Mama bilang! Jadinya dicakar deh sama induknya," kata Siti sambil melihat luka putrinya.
Mirna masih menangis. Dan ia pun menyesali perbuatannya. Segera saja Mirna dibawa masuk ke rumah. Ia dibantu jalan oleh Siti, kemudian saat sudah masuk, Mirna terduduk di sofa ruang tamu.
"Kamu tunggu di sini, ya! Mama ambilkan kotak obat dulu," pesan Siti kemudian pergi.
"Cepat Ma!" balas Mirna dengan keras, karena tak tahan dengan rasa sakitnya.
__ADS_1
Siti segera menuju ke ruang tengah, lalu mengambil kotak obat yang ada di lemari kecil di bawah TV. Setelah itu, ia kembali ke ruang tamu.
Tepat setelah Siti pergi ke ruang tamu, Zuko keluar dari kamar dan merasa heran melihat istrinya membawa kotak obat. Ia pun segera menyusul Siti ke ruang tamu. Terlihat ada putrinya yang ternyata sedang menangis menahan rasa sakit pada lukanya.
"Lho, Siti! Mirna kenapa?" tanya Zuko ketika menyusul.
"Dia dicakar kucing yang lagi makan tadi," jawab Siti sambil mengoleskan obat pada lukanya Mirna dengan kapas.
Zuko mengangguk paham. Ia pun mendekati Mirna dan menasehatinya, "Makanya, kalau kucing lagi makan itu nggak boleh diganggu! Jadinya gini akibatnya."
"Aku udah kasih tahu, Mas. Dianya aja jadi keras kepala tadi. Karena terlalu baper lihat anaknya yang juga ikut makan."
Zuko tertawa kecil mendengarnya. Ia pun memeluk Mirna yang masih menangis kesakitan. Kini tinggal ditempel plester pada luka itu. Dan sekarang Mirna jadi sedikit tenang. Tangisnya mulai berkurang walau rasa sakitnya masih ada.
"Ingat, lain kali jangan gitu lagi, ya!" pesan sang ayah.
Mirna yang sekarang menghapus air matanya menjawab dengan anggukkan. Ia pun diminta tersenyum oleh Zuko. Dengan polos layaknya anak-anak kecil pada umumnya, Mirna menurut.
Mirna melebarkan senyumnya dan memeluk Zuko dengan cepat. Zuko hanya tertawa kecil dan membalas pelukan itu. Siti yang melihatnya hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala.
...***...
Hingga suatu malam, setelah makan malam. Siti memanggil suaminya yang tengah sibuk menyelidiki suatu kasus. Kasus yang sudah diberikan oleh Aki Albi (kakeknya Rizki yang masih menjadi kepala polisi Javabirna saat itu). Zuko malah terus sibuk dengan tugasnya, hingga ia abaikan panggilan sang istri yang terus menjeritkan namanya.
Sudah mulai kesal tak ada respon dari sang suami, Siti menyusul ke ruang kerjanya. Terlihat Zuko tengah melihat foto dan mengetik kata-kata di komputer sambil menghisap rokoknya. Siti pun menghampiri Zuko dan mulai protes atas apa yang suaminya lakukan malam ini.
"Oh...jadi Mas lebih mentingin kasus orang lain daripada istri sendiri!? Bagus, aku suka itu!"
Siti bertepuk tangan dan tersenyum sinis. Zuko melihat istrinya. Dibalas dengan kekesalan juga, Zuko segera mematikan rokoknya dan berdiri.
"Hei! Kamu inget ya baik-baik! Ini demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga kita juga. Jadi kalau kamu nggak butuh lagi, lebih baik keluar dari rumah ini!" balas Zuko dengan kerasnya sambil menunjuk sang istri.
__ADS_1
"Nggak. Harusnya kamu yang keluar dari rumah ini. Mas udah terus abaikan istri, anak, juga ibu Mas sendiri. Dasar, suami yang suka ikut campur urusan orang lain!"
"Apa kamu bilang?!"
"Mas itu suami yang suka ikut campur urusan orang lain!"
...Plaak!...
Siti ditampar Zuko, di pipi bagian kirinya. Sang istri tak percaya atas apa yang suaminya perbuat. Bu Eka yang melihatnya tak sengaja bersama sang cucu juga tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini.
"Zuko! Apa-apaan kamu!" seru Bu Eka kesal.
Zuko melihat ibunya datang. Malahan bersama Mirna. Zuko jadi merasa bersalah atas apa yang ia lakukan barusan. Bahkan ia melakukannya di depan mata kepala ibu dan putri tunggalnya sendiri.
Siti menangis sambil menyentuh pipi kirinya yang sedikit memerah. Ia pun dipeluk Bu Eka dan Mirna. Merasa bersalah juga nampaknya, Zuko mematikan komputernya. Ia pun pergi sambil membawa jaket kulit hitamnya yang menggantung di kastop dekat meja kerjanya.
Zuko pun pergi dengan kunci mobil. Ia segera disusul oleh Bu Eka. Namanya terus dipanggil hingga keduanya sampai di lantai bawah. Bu Eka pun sampai di dekat putranya yang sudah membuka pintu rumah.
"Zuko! Mau kemana kamu?" tanya Bu Eka dengan genggaman tangannya pada putra tunggalnya.
Dengan wajah kesal Zuko menjawab, "Aku mau pergi, Bu. Aku mau ke rumah seseorang."
"Mau apa kamu?"
"Ini urusan aku sebagai detektif, Bu. Biar nggak ada yang ganggu."
Zuko pun melepaskan genggaman tangan ibunya. Ia segera membuka kunci gembok pagar rumah, dan membuka full pagar itu. Ia pun masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesin. Tanpa berlama-lama lagi, Zuko segera menginjak pedal gas mobil dan pergi begitu saja tanpa menutupi lagi pagar rumahnya.
Bu Eka menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas. Ia pun memanggil pembantunya dan menyuruhnya untuk mengunci kembali pagar rumah dengan kunci gembok juga. Pembantunya pun menurut.
Setelah itu, Bu Eka kembali ke dalam. Ia melihat Siti yang sudah di bawa oleh Mirna ke lantai bawah. Mirna pun izin menuju kamarnya di lantai atas. Sekarang saatnya Bu Eka menenangkan menantunya dengan baik-baik.
__ADS_1
...°°°...