Dek Mirna

Dek Mirna
Chapter XXXIII : My Fan is Son's Nemesis


__ADS_3

Sudah masuk kelas 12 menjadi senior tertua di sekolah, bisa tidak jadi hal yang menyenangkan. Tetap saja tak ada yang berubah. Para junior yang sering membully Mirna tetap saja tidak mau meminta maaf. Mereka senantiasa ikut-ikutan membully Mirna dengan senior mereka yang dari dulu mempermainkan Mirna.


Namun, Shania dan Banyu senantiasa ikut membelanya. Bahkan, Banyu bisa dengan tegas melakukan hal yang sewenang-wenang pada yang berbuat bully pada Mirna. Contohnya pernah ketika Mirna akan dilemparkan sampah botol air mineral yang berisikan tanah oleh pembully langganannya. Ketika itu, dengan sigap Banyu datang dan menangkap botol plastik itu. Kemudian ia lemparkan balik pada pembully itu, Febri.


Satu sekolah jadi menertawakan Febri. Shania yang kini sudah tak dapat melihat lagi ikut menertawakan. Mirna hanya tersenyum melihat itu dan meminta yang lainnya untuk berhenti menertawakan Febri. Dengan senyuman, Mirna mendekati Febri dan membersihkan sampah tanah yang keluar dari botol plastik itu. Tanah itu keluar begitu tepat mengenai diri Febri.


"Sorry, Feb! Gue harap loe segera taubat! Nggak gini lagi," kata Mirna sambil membersihkan tanah itu. Dan membuangnya ke tempat sampah bersama botol plastik bekas itu.


Febri terdiam mendengarnya. Ia tak bisa berkata-kata lagi. Kelihatannya Mirna tak ingin balas dendam atas apa yang sering ia lakukan.


Setelah membersihkan kotoran di celana dan setengah seragam Febri yang terkena kotoran tanah itu, Mirna pergi menghampiri Banyu dan Shania kembali. Gadis itu mengajak keduanya untuk segera membeli jajanan di luar, karena ditakutkan bell masuk segera berbunyi.


Febri melihat Mirna berjalan. Namun saat gadis itu mulai berada di lubang gerbang sekolah, Febri berlari mendekatinya sambil menjeritkan namanya. Mirna berhenti berjalan, lalu menoleh ke arah Febri.


Cowok itu berhenti lari mendekati Mirna. Awalnya ia terdiam sejenak, kemudian menepuk pundak Mirna.


Dengan suara yang lembut, ia berkata, "Maafin gue selama ini ya, Mir! Gue sering ngehina, nge-bully loe. Namun, loe emang wanita perkasa. Wanita gagah, Wonder Woman. Banyak yang udah loe bantu sampai tuntas. Tapi masih punya hati nurani. Melawan, tapi tidak sampai membunuh."


Tak hanya Mirna. Shania dan Banyu juga tak percaya atas apa yang mereka dengar barusan. Febri benar-benar meminta maaf. Namun, apakah ia serius meminta maafnya?


"Loe serius, Feb? Bisa aja ini prank loe buat kita," tanya Banyu tegas.

__ADS_1


"Nggak, Banyu! Serius, gue nggak bohong. Gue benar-benar salut sama Mirna. Dia melawan musuh-musuhnya aja tanpa punya rasa sampai harus membunuh. Tapi cukup masukkan ke penjara dengan penjagaan yang ketat dan tegas," jawab Febri sungguh-sungguh.


Shania melihat Febri dengan raut wajah serius. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada juga. Otaknya seperti merekam dengan lebih jauh ke arah Febri. Ia seperti mendeteksi apakah Febri jujur atau berbohong.


Shania berjalan mendekati Febri dan melihat matanya. Kemudian menyentuh lengan tangan kanannya. Setelah disentuh beberapa detik, Shania mengangguk.


Kemudian ia berkata, "Ini asli jujur, Banyu. Dia serius minta maafnya. Bukan prank."


Mirna yang sedari tadi diam, mulai membuka mulutnya. Ia menyetujui apa yang Shania ucapkan. Febri tidak berbohong. Ia benar-benar menyesali perbuatannya selama ini. Akhirnya, Banyu percaya apa yang Mirna dan Shania ucapkan.


"Gue udah maafin loe, Feb! Gue harap, loe nggak ngelakuin hal kayak gitu lagi!" kata Mirna halus.


"Ya. Sekarang, kita makan bareng aja! Nanti keburu bell masuk bunyi."


Febri menyetujui. Ia pun ikut makan bersama dengan 3 teman sekelasnya. Tanpa disadari keempatnya, ada sepasang mata melihat dari jarak cukup jauh. Namun dia laki-laki, dan bukan Iqbal.


Laki-laki itu meminum air soda yang ada di kaleng yang ia pegang. Dari bibirnya bukan menampakkan amarah. Melainkan senyum. Ini seperti senyum kebanggaan.


...***...


Kita ke rumah seseorang

__ADS_1


Laki-laki yang melihat Mirna dan 3 teman sekelasnya itu menyimpan tasnya di kamar. Ia pun merebahkan diri di kasur. Kemudian melihat langit-langit kamar sambil menghela nafas. Nampaknya, ia seperti mau membuat sebuah rencana.


Setelah merebah sejenak, ia tengkurap sambil memeluk guling. Ia mengingat masa lalu yang paling membahagiakan bagi hidupnya. Ia pernah bertemu dua orang yang sangat ia kagumi.


Laki-laki ini ternyata pernah melihat Mirna dan Zuko bersamaan di sebuah mall. Mereka tengah berbelanja di sebuah toko buku yang ada di mall itu. Laki-laki ini bersama dengan sang ayah, ibu dan satu kakaknya.


Secara tak sengaja laki-laki ini melihat Mirna dan Zuko yang tengah melihat sebuah buku yang akan dibeli. Ia amat berbinar melihat Zuko, juga pada Mirna. Sepertinya itu masa-masa Siti sudah wafat.


Pandangan matanya disadarkan oleh pria dewasa yang ternyata adalah Yumne. Laki-laki yang sebaya dengan Mirna ini ternyata anak bungsunya Yumne dengan istri pertamanya, Anti.


"Ronzi! Ayo, kita pergi! Bukunya udah ada," kata Yumne pada putranya yang ternyata bernama Ronzi itu.


Pandangan Ronzi jadi tersadar kembali dan membalas, "Eh...iya Ayah. Sebentar!".


Ronzi berjalan dengan Yumne, Anti dan kakaknya yang bernama Beim. Beim adalah anaknya Yumne dan Anti yang terkenal sebagai aktor sekaligus musisi seperti ayahnya di Javabirna. Namun bedanya, Yumne bukan bintang film juga. Ia hanya musisi.


Ronzi dan keluarganya berjalan ke meja kasir. Di meja kasir, Ronzi memperhatikan Zuko dan Mirna. Mereka masih memilih buku yang akan dibeli. Terlihat oleh Ronzi, Mirna sudah menemukan buku yang ia inginkan. Gadis itu menghampiri Zuko. Namun Zuko belum menemukan buku yang ia mau.


Ingin sekali Ronzi melihat keduanya lebih lama lagi. Tapi, keluarganya sudah terlanjur mengajaknya untuk keluar dari toko buku itu. Ronzi pun pasrah. Namun, itu sudah cukup membuatnya senang. Ia adalah penggemarnya Zuko sebagai detektif andalan Javabirna. Dan pengagum Mirna sebagai putri detektif yang cantik.


...°°°...

__ADS_1


__ADS_2