Dek Mirna

Dek Mirna
Chapter VII : Father's Legacy Weapon


__ADS_3

Mirna mengumpulkan barang-barang canggih ayahnya di rumah. Ada tali yang biasa dipakai ibunya dulu untuk pergi terbang dari satu gedung ke gedung lainnya saat menyelidiki sebuah kasus kebakaran di sebuah gedung kampus. Tali ini juga bisa digunakan sebagai senjata, seperti talinya Wonder Woman.


Selain itu, ada juga sarung tangan yang bisa mendeteksi seseorang di suatu tempat. Dimana kita nyalakan lampu dengan menekan tombol di tengahnya. Saat sudah menyala, kita raba tempat itu. Seperti lantai, tempat duduk, kasur, dan sebagainya. Jika berwarna biru menyala, artinya sang pelaku pernah berada di tempat itu. Tapi sebaliknya, jika menyala merah, maka pelakunya tak pernah ada di sana.


Namun sebelum itu, tekan dulu tombol di pergelangan tangan. Tekan lama untuk merekam suara kita. Sebut nama pelakunya, barulah kita tekan tombol di tengah telapak tangan depan. Jika sudah menyala putih, maka sapu tangan itu sudah bisa dipakai. Kemudian, kita raba tempat itu.


Tapi jika mau lebih detail untuk mengetahui keberadaan pelaku, tekan kamera kecil yang ada di telapak tangan belakangnya. Potret foto pelaku, lalu kita rekam suara kita.


Mirna mengambil sarung tangan tersebut. Karena itu amat penting. Ia juga tidak lupa dengan gelang hidung untuk melacak kemana arahnya Yumne dan Johana pergi. Tentu saja, supaya tidak perlu susah-susah memakai anjing pelacak polisi. Jadi, ini benar-benar bisa membantu Rizki dan polisi lainnya.


Untuk senjata, tak hanya tali dan jurus karatenya saja yang Mirna pakai. Ia juga memiliki pisau kecil lempar milik ayahnya juga, atau biasa di sebut belati lempar. Namun, ayahnya menggunakan pisau ini sewaktu dulu untuk melukai pelaku. Jadi tak perlu menunggu tembakan pistol polisi.

__ADS_1


Akan tetapi, jika tidak kena sang pelaku, barulah polisi bertindak dengan menembakkan peluru pistolnya pada pelaku. Begitulah kerja samanya Zuko dengan kepala polisi dan para anak buahnya.


"Kayaknya ini cukup," gumam Mirna dengan sedikit lega.


Bu Eka melihat Mirna yang tengah sibuk melihat-lihat senjata Zuko. Ini membuatnya cukup khawatir pada sang cucu. Cemas karena takutnya Mirna terluka. Sebab yang ia tahu, Mirna tidak tahu banyak cara menggunakannya. Selain itu, Mirna tidak sering melihat almarhum ayahnya menggunakan senjata-senjata itu.


"Mirna! Lebih baik kamu pakai karatemu saja! Jangan pakai senjata tangan itu! Bahaya, nanti kamu terluka!" Bu Eka mengungkapkan rasa cemasnya.


Mirna melirik neneknya dan tersenyum, kemudian menjawab, "Nggak, Nek. Nenek nggak usah khawatir! Aku pernah kok lihat Papa pakai semua ini. Aku pernah diajari cara-cara pakainya."


"Papa pernah pakai lebih banyak daripada polisi. Polisinya yang bantu interogasi. Jadi, Nenek nggak usah cemas. Walau aku belum terbiasa pakainya, tapi aku akan tetap berlatih cara pakainya."

__ADS_1


"Pakai bela diri bagi Nenek itu udah bagus. Kalau pakai senjata, yang ada kamu malah membunuh mereka. Sama saja kamu jadi pelaku kejahatan."


Mirna terdiam. Kini, wajahnya jadi sedikit kesal. Dengan raut wajah yang mulai mengerut kesal, Mirna mendekati neneknya dan berkata, "Udahlah, ini bukan urusan Nenek! Nenek urus aja rumah ini! Ini urusan Mirna. Ada juga polisi yang selalu ikut, kok."


Mirna pun pergi dengan membawa semua senjata itu. Melihat cucunya yang keras kepala pada pendiriannya menjadi detektif swasta seperti ayahnya, Bu Eka hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia menggeleng sambil menghela nafas.


...***...


Malam harinya, Mirna mengumpulkan senjata-senjata itu di kasurnya. Kelihatannya, semua senjata itu masih berfungsi. Belati lemparnya masih tajam runcing, serta sapu tangan perabanya masih menyala semua lampunya.


"Aku akan latih cara pakainya di halaman rumah hari Minggu nanti," gumamnya sambil mengambil salah satu belati lempar itu.

__ADS_1


Mirna pun memasukannya ke kotak khusus menyimpan senjata itu yang sudah ia ambil dari gudang. Ia simpan dalam lemari bajunya. Kemudian mulai belajar untuk sekolah besok.


...°°°...


__ADS_2