
Setelah galau karena kehilangan ibunya selama 5 hari ini, Mirna jadi sedikit lebih baik. Ia bisa sekolah kembali dengan tenang. Walau begitu, terkadang dia masih sedikit lemas karena mengingat ibunya.
Di sore hari, Mirna melihat foto ibunya yang dipajang di dinding ruang keluarga. Melihat senyuman Siti membuat Mirna jadi berkaca-kaca. Ayahnya mementingkan pekerjaannya yang menyelidiki kasus bersama polisi. Terkadang ia pulang tengah malam. Bahkan pernah pulang jam 2 pagi, hanya untuk menangkap pelaku kejahatan dengan polisi yang kabur dari tangkapan mereka jam 10 malam tadi. Penjahatnya terlalu tangguh, jadi susah di tangkap kembali.
Namun, bukan berarti Mirna mau punya ibu baru. Ia tak mau punya ibu tiri. Bukan, bukan karena takutnya seperti di drama-drama di televisi. Punya ibu tiri pura-pura baik di depan ayahnya, tapi ternyata jahat dan kejam di belakangnya. Mirna tak hanya tidak ingin seperti kisah Bawang Putih atau Cinderella, punya ibu tiri jahat yang pura-pura baik.
Tidak, sekali lagi bukan hanya karena takutnya seperti kisah dua tokoh cerita fiksi itu. Melainkan, karena juga ia tak ingin cinta sejati sang ayah dan ibunya hancur lagi gara-gara pasangannya sudah meninggal dunia. Biarpun sudah wafat pasangannya, tapi tetap mereka harus jadi pasangan yang serasi. Serasi dan harmonis, sampai ke alam surga nanti.
Mirna sudah cukup shock dengan orang tuanya yang bertengkar kemarin sebelum Siti wafat. Sekarang tak mau lagi, shock dengan adanya ibu pengganti Siti untuknya. Bagi Mirna, biarpun Siti sudah wafat, namun tetap dialah cinta sejatinya Zuko. Dialah cinta sejatinya sang ayah dunia-akhirat. Tidak ada yang lain.
...***...
Besoknya, Zuko sedang sarapan di meja makan sendiri. Sementara Bu Eka tengah menyiapkan sarapan untuk Mirna. Sarapan hari ini adalah nasi goreng yang sangat Mirna sukai. Begitu Mirna datang, Zuko segera menyambutnya dengan ceria. Karena selain ibunya, Mirna-lah keluarga yang ia miliki setelah ditinggal sang istri.
Mirna termasuk anggota keluarganya yang paling utama. Darah-dagingnya sendiri, yang lahir dari rahim almarhumah istrinya. Lahir setelah adanya ikatan tali pernikahan dengan sang istri tercinta.
Mirna membalas sambutan sang ayah hanya dengan senyuman. Gadis itu duduk lalu segera meminum air putih hangat yang sudah sang nenek siapkan. Ia minum setengah gelas, barulah kemudian memakan sarapan nasi gorengnya. Mirna makan dengan lahap. Sampai-sampai membuat Zuko dan Bu Eka terdiam.
Zuko jadi berhenti mengunyah, sedangkan Bu Eka jadi membatalkan niatnya menyendok nasi gorengnya ke mulutnya. Tidak biasanya Mirna makan secepat ini. Karena biasanya kalau makan makanan favoritnya, Mirna selalu makan pelan-pelan. Ia biarkan lidahnya menikmati rasa makanan itu dengan nyaman.
"Kenapa makannya cepat-cepat gitu? Ini masih lama," tanya Zuko.
"Ada keperluan di sekolah," jawab Mirna sambil mengunyah nasi gorengnya.
Hingga sang ayah hanya menggeleng kepala dan kembali menyantap sarapannya. Neneknya juga demikian. Ia mulai santap nasi goreng buatannya.
__ADS_1
Setelah sarapan, Mirna langsung minum air putih sisanya. Lalu segera ambil tas ranselnya kemudian pamit pada neneknya. Karena Zuko sedikit lama, Mirna berseru memanggil papanya itu.
"Papa! Ayo cepat, nanti aku telat!"
"Iya sabar sedikit," balas Zuko dari dalam rumah.
Zuko pamit pada ibunya lalu segera mengambil kunci mobil dan masuk ke dalamnya bersama sang putri. Mesin mobil pun dinyalakan, lalu ia keluarkan mobil dari halaman garasi rumah dengan perlahan. Ia dan putrinya mulai pergi dibawa laju mobil.
Dalam perjalanan, Mirna hanya terdiam melihat ke jendela kaca depan mobil. Sementara Zuko sibuk menyetir dan melihat ponselnya. Matanya berganti-ganti arah, ke arah jendela depan dan layar ponselnya. Ia utak-atik ponsel itu, kemudian mendekatkannya ke telinga kanan.
Zuko menelepon seseorang. Entah siapa yang ia telepon. Dari pembicaraan yang Mirna dengar, Zuko seperti menanyakan siapa yang menelepon ayahnya. Dan pertanyaan apa tujuan si penelepon itu menghubungi Zuko.
Selesai menelepon orang asing itu, Zuko mulai berlagak kesal.
"Dari siapa, Pa?" tanya Mirna santai.
"Papa udah tanya siapa dia, tapi dia malah jawab yang lain gitu?"
"Iya. Jadinya, pertanyaannya apa, jawabnya malah kemana. 'Kan aneh!"
Mirna terdiam. Bisa jadi, orang ini mah berbuat kejahatan. Memang Zuko juga ada musuh bebuyutan. Tapi tak pernah diberitahu pada Mirna dan neneknya tentang musuhnya ini. Hanya pihak kepolisian yang tahu. Dan jarang-jarang juga musuhnya ini masuk ke sosial media atau televisi.
Musuhnya Zuko sama seperti Yumne. Ia sering kabur keluar negeri juga, atau berpindah-pindah tempat. Hanya saja, dia bukan peselingkuh seperti Yumne dan Johana. Melainkan ia adalah seorang pembunuh. Yang paling utama ia bunuh adalah wanita dan anak-anak. Entah apa tujuannya, tak pernah diberitahu juga pada awak media.
...***...
__ADS_1
5 hari kemudian...
Di rumahnya yang luas, Mirna tengah menikmati indahnya pagi hari. Tidak terlalu pagi. Sekitar jam 10. Sekarang hari Minggu. Namun, Zuko tak bisa mengajak Mirna dan Bu Eka liburan weekend karena harus mencari pembunuh tersebut. Sudah banyak korban berjatuhan. Walau anak-anak juga ikut jadi korbannya, namun yang paling banyak adalah wanita.
Kasus napi yang kabur itu sudah beres. Ia tewas bunuh diri tertabrak kereta api hari itu. Hari yang bersamaan dengan tewasnya Siti. Sekarang pembunuh berjenis kelamin laki-laki yang tak hanya suka menelepon Zuko. Tapi juga Aki Albi dan anak buah polisi lainnya.
Mirna tengah tenang menikmati sejuknya pagi sambil mendengarkan musik dari ponselnya dengan bantuan headset. Hingga ia merasa, seperti ada orang yang mengawasinya dari jarak yang cukup jauh.
Mirna melihat ke arah pagar rumah, karena rasanya orang yang memata-matainya ada di sana. Ketika ia lihat sebentar dari sofa di teras depan pintu ruang dapurnya itu, tidak ada siapa-siapa di sana. Ia pun mencoba bersantai sambil berwaspada.
Ketika ia beranjak dari tempat duduknya, orang itu melompat masuk. Dengan lari secepat mungkin, orang itu membius Mirna dari belakang. Mirna pun pingsan tak sadarkan diri. Lalu tanpa berlama-lama lagi, ia dibawa kabur dengan menggunakan mobil.
Bu Eka kemudian pulang ke rumah sehabis belanja di pasar. Alangkah terkejutnya ia, begitu melihat di teras rumah tak ada cucunya. Ia pun mencari sampai ke ruang tamu belakang dekat garasi. Tidak ada tanda-tanda akan adanya Mirna.
Mulai panik, Bu Eka segera menghubungi Zuko. Ia beritahukan bahwa Mirna kini hilang. Ia jelaskan juga bahwa Mirna mungkin diculik oleh orang lain yang masuk ke rumah secara diam-diam.
"Iya udah, Bu. Aku pulang sekarang, sama Ki Albi. Ibu tunggu di rumah, jangan kemana-mana!" pesan Zuko mulai ikut panik.
"Cepat ya, Ko!" balas Bu Eka mulai ketakutan.
Zuko hanya mengangguk dan mematikan telepon di ponselnya. Ia beritahukan hal ini secepat kilat pada Aki Albi. Aki Albi bersedia membantu dengan kawanan anak buah polisinya. Malah ada yang menduga, bahwa yang menculik Mirna ini adalah pembunuh yang selama ini mereka cari. Dan Mirna bisa jadi target berikutnya.
Zuko pun pulang dengan cepat. Dengan hati-hati ia membawa mobilnya dalam kecepatan tinggi.
...***Siapa orang ini sebenarnya?...
__ADS_1
...Kenapa dia incar perempuan dan anak kecil***?...
...°°°...