Dek Mirna

Dek Mirna
Chapter XVI : Mirna vs Yumne (part 2 : Two on Three Battle)


__ADS_3

Mirna pergi ke sekolah seperti biasanya dengan sepedanya. Sesampainya di sekolah, ia bertemu dengan Delia. Wajahnya nampak bahagia karena sudah menolongnya dalam menangani kasus kebohongan suaminya.


Sambil memberikan amplop coklat kecil panjang yang berisi uang, Delia berkata, "Di amplop ini, ada tambahan bonus buat kamu jajan selama sebulan. Jadi ini ada 2 juta 5 ratus ribu rupai."


Mirna sedikit kaget mendengarnya. Ia menolak halus untuk uang lima ratus ribu itu, "Tante, nggak usah tambahin bonus! Demi Allah, aku ikhlas tulus bantunya. Nggak bayar juga, nggak apa-apa kok! Malah lebih bagus nggak usah bayar."


"Jangan nolak rezeki gitu! Kamu ini masih kecil, butuh jajan pastinya. Jadi terima ajalah!" balas Delia.


"Kalau bonus, jangan gede-gede gini! Nanti takutnya aku boros pakainya."


"Pakainya buat yang bermanfaat ajalah! Buat nenek kamu, silahkan! Disedekahkan juga, lebih bagus. Tante nggak marah. Kalau kamu beli barang pun, beli yang kamu benar-benar butuhkan barangnya."


Mirna terdiam sejenak. Ia masih punya banyak uang tabungan di rumahnya untuk membeli barang yang ia mau atau dibutuhkan. Atau terkadang untuk membantu Bu Eka untuk berbelanja makanan yang dibutuhkan, seperti beras, sayur, buah dan lainnya, termasuk untuk air mineral. Juga untuk bayar air dan listrik.


Namun jika ia tolak, tidak tega juga. Apalagi seperti yang sudah kita ketahui, bahwa Delia ini adalah sahabat mendiang ibunya Mirna. Dan akhirnya, keputusan yang Mirna ambil adalah menerima uang itu.


Mirna berterima kasih pada Delia dan mengucapkan kalimat hamdalah juga. Delia pun pamit pergi. Mirna mengangguk sambil tersenyum. Ia pun memasukkan uangnya ke tas ransel dan lanjut berjalan ke dalam kelas.


Sesampainya di kelas, Mirna disambut oleh beberapa teman yang selalu membully-nya. Khususnya Febri, Iqbal dan Hanah juga masih saja ikut membully. Padahal tempo hari ia ditolong oleh Mirna.


"Wah, datang juga nih, si cewek kurang waras!" seru Iqbal kemudian disusul dengan tawa puasnya.


"Bener. Kapan ya, dia masuk ke rumah sakit jiwanya?" tanya Febri dan kemudian disusul tawa puasnya juga.


"Harusnya dia masuk SLB!" tambah Hanah.


Mirna hanya diam. Ia pun mendekati tempat duduknya dan terduduk. Walau di luar lingkungan sekolah bersikap tangguh, tegas dan jadi wanita yang perkasa, tapi di sekolah ia masih merasa lemah. Merasa terinjak-injak, merasa dilempar batu layaknya jumroh. Seolah-olah ia adalah setan yang harus diludahi tiga kali atau dilempari batu untuk mereka yang berhaji.


Dari masa orang tuanya masih ada sampai sudah jadi yatim-piatu seperti ini, Mirna terus jadi korban bully. Namun di lingkungan rumah dan dunia politik, ia merasa paling dihormati. Padahal, ia tak pernah merendahkan orang lain. Ia selalu rendah hati. Tapi cobaannya di sekolah amat sangat berat.

__ADS_1


Sungguh amat memprihatinkan. Dari keluarga berada dan sangat dihormati di dunia politik, tapi malah di hina habis-habisan. Malah dia merasa bahwa dirinya manusia pembawa sial. Yang tahu hal ini hanya para guru dan teman-teman yang hanya diam tak bisa membela.


Khususnya Shania yang sudah jujur pada Mirna kenapa dia diam saja, bukannya membela Mirna yang tidak bersalah. Mirna yang menjadi Wonder Woman di Javabirna ini, kini jadi orang yang lemah. Dirinya selemah kertas. Bukan sekuat besi dan baja.


Akan tetapi, walau sesungguhnya hatinya amat sakit diinjak-injak terus habis-habisan, namun Mirna berusaha tegas. Ia berusaha buktikan kalau orang kuat itu tak hanya kuat secara fisik maupun mental saja. Tapi kuat kesabarannya dalam menghadapi cobaan di dunia ini. Karena dunia ini memang banyak kejamnya daripada baiknya.


...***...


Sepulang sekolah, Mirna berjalan sedikit loyo ke parkiran sepeda. Memang cukup banyak anak sekolah yang membawa sepeda ke sekolah ini. Mirna segera mengeluarkan sepedanya dari area parkir.


Setelah itu, Mirna segera mengayuh hingga sampai ke rumah. Akan tetapi, tiba-tiba ia mendapat telepon di ponselnya. Rizki menghubunginya. Untuk menjawab teleponnya Mirna meminggirkan sepedanya ke trotoar yang berada di depan tempat parkir ruko-ruko. Setelah sepedanya terhenti, segera dijawabnya telepon dari Rizki.


"Ya Assalamualaikum, Mas! Ada apa?" tanya Mirna langsung setelah mengucapkan salam pembuka.


Di seberang sana, Rizki membalas salam dan menjawab, "Kamu udah sampai rumah belum?"


"Belum, nih. Masih di jalan mau pulang. Kenapa gitu?"


Mirna terdiam. Ia mengingat pertempurannya dengan Yumne dan anak buahnya yang tempo hari. Sepertinya, memang benar atas dugaan Rizki ini. Namun, yang bertempur dengan Mirna bukanlah Alex dengan Jodi. Melainkan dengan Graha (iya, 'kan?).


Tapi, Mirna sudah bisa memastikan bahwa Jodi ini adalah salah satu anak buahnya Yumne juga. Mirna pun menurut. Ia segera menutup telepon dengan Rizki, dan mengayuh sepedanya dengan sedikit kecepatan dan berhati-hati.


Sesampainya di rumah, Mirna memarkirkan sepeda di teras rumah. Lalu buru-buru mengucapkan salam pada Bu Eka, kemudian mengganti pakaiannya dengan pakaian dan celana untuk pergi. Tak lupa bawa tas dan alat-alat canggih ayahnya.


Segera di teleponnya Shania. Untungnya Shania juga menyanggupi untuk membantu. Kemudian pesan masuk di WhatsApp Mirna. Pesan dari Rizki yang mengatakan bahwa anak buahnya akan menjemput Mirna dan Shania ke rumahnya Mirna.


Mirna menceritakan semuanya pada neneknya, perihal dirinya pergi terburu-buru seperti ini. Bu Eka tak lagi mau mencegah. Ia sudah yakin kalau cucunya akan selalu dalam lindungan Sang Maha Kuasa dan bisa mengatasi masalah para klien-nya sampai benar-benar tuntas.


Shania datang dengan mobil polisi yang menjemput Mirna. Ternyata Shania sudah bertemu mobil jemputan itu di gerbang perumahan tempat rumah Mirna berada. Dan tanpa berlama-lama lagi, Mirna dan Shania pamit pada Bu Eka lalu mereka pun pergi. Mobil pun segera meluncur ke mall di daerah Dergo.

__ADS_1


...***...


Mirna dan Shania sampai. Lawan mereka memang berbeda, juga berbeda tempat. Ini mall yang berada di daerah jalan Dergo, sedangkan kemarin hampir sedikit lagi mendekati daerah alun-alun kota. Kalau ini masih sangat jauh.


Setelah Mirna dan Rizki maju, pasukan Yumne pun maju. Mereka datang dengan wajah percaya diri yang amat ganas. Yang menunjukkan seolah-olah bahwa merekalah yang terkuat di jagat raya ini.


"Datang juga gadis yang kemarin melemparku dan Graha ke jendela kaca mall. Ku kira kau tidak akan datang," kata Alex dengan susulan tawa sombongnya.


"Dia perempuan berjiwa laki-laki, Lex. Jadi jangan macam-macam sama dia!" balas Yumne dengan sombongnya juga.


"Sungguh Wonder Woman yang nyata," tambah Jodi dengan santainya.


Mirna sudah sangat muak. Ia pun dengan keras berkata, "Tak usah banyak bicara, Bung! Kita ke sini untuk adu ketangkasan. Bukan adu mulut."


"Wah, nampaknya ada yang tidak sabaran. Baiklah, ayo mulai!"


Pertempuran dimulai. Mirna sudah memasukkan belati lemparnya ke saku celana di belakangnya. Dan tali di sebelah kanan celana. Pertempuran terlihat oleh para pengunjung mall, seperti kemarin.


Shania menunggu di mobil. Terlihat oleh teropong dua matanya, pertempuran itu sampai ke teras mall. Sungguh sangat seru dan ramai.


Banyak yang mendukung tim Mirna dan Rizki, sedangkan tim Yumne tidak ada yang mendukung. Memang kalah banyak. Namun, Mirna dan Rizki berhasil mengalahkan kembali tim Yumne.


Alex berhasil ditali lagi salah satu kakinya, dan dilempar ke dalam mall di lantai satu. Hingga ia terseret ke belakang di dalam mall itu. Sedangkan Jodi berhasil kena tembakkan pistolnya Rizki di bagian punggungnya, setelah bertempur saling berkelahi. Kemudian ia kabur dan ditembak oleh Rizki.


Sementara untuk Yumne, ia berhasil dilukai lagi dengan belati lemparnya Mirna. Kali ini, lengan tangan kirinya tercakar dua kali oleh belati lempar Mirna. Ia dan dua anak buahnya yang dikenal paling kuat itu akhirnya mundur.


"Tunggu pembalasanku, Mirna! Kami akan kembali!" seru Yumne dengan marahnya. Ia pun pergi dengan Alex dan Jodi ke parkiran mobil.


Satu mall memberikan tepuk tangan meriah dan sorak-sorai pada Mirna dan Rizki. Keduanya segera pamit dan pergi dari mall itu.

__ADS_1


Tim sedikit lawan tim banyak, memang belum tentu tim banyak yang menang.


...°°°...


__ADS_2