Demonark : The Blood Curse

Demonark : The Blood Curse
1.1 : First Meets


__ADS_3

Carmen Elizabeth Avery, itu lah nama perempuan yang sedang duduk di bagian tepi tebing dekat pantai.


Rambut coklat panjangnya yang terurai, terhembus angin pantai yang hari ini kencang sekali. Iris mata berwarna coklat nya kini menatap langit biru di atas nya, Ia menghela nafas pelan.


" Seseorang tolong aku!! "


Carmen berbalik, menatap ke hutan di belakangnya. Mencari-cari asal suara itu, walaupun begitu Ia tak ingin menghampiri suara itu.


" Siapa itu? "


Baru saja Carmen bangkit dari duduknya dan hendak menghampiri asal suara itu, tiba-tiba sesuatu yang sangat cepat langsung mendorongnya. Membuat Carmen seketika terjatuh dari tebing ke permukaan pantai.


" Apa aku... Akan mati? "


Tubuh perempuan itu semakin tenggelam ke dalam pantai, tubuhnya yang saat terjatuh menabrak tebing kini berlumuran darah. Ia tak bisa bergerak.


" Siapapun... Tolong... Aku... "


1.1 : First Meets


" Ouch! "


Carmen terbangun di sebuah ruangan yang cukup luas. Ruangan itu benar-benar luas, kamar tidur berukuran besar itu dihiasi dengan warna merah dan kuning. Ia memegang kepalanya, Ia benar-benar tak sadar apa yang terjadi setelah Ia terjatuh. Apa Ia selamat? Siapa yang menyelamatkannya?


" You're okay? "


Carmen menatap kearah seorang laki-laki berambut biru gelap dengan dua pasang mata berwarna biru gelap yang indah. Laki-laki itu menatap Carmen lekat-lekat.


" Yeah... I'm fine.. "


" Aku panggil yang lain terlebih dulu.. " ucap laki-laki itu kemudian meninggalkan Carmen sendirian di ruangan itu.


Tempat apa ini? Kenapa dia bisa ada disini? Mungkin pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang kini Carmen pertanyakan.


Pintu di sebelah kiri nya kini terbuka. Memperlihatkan lima laki-laki masuk ke dalam ruangan dan memeriksa keadaan Carmen.


" Kau baik-baik saja? Tak ada pusing dan semacamnya? " Laki-laki berambut hitam pendek dengan iris coklat gelap itu kini menatap khawatir Carmen.


" Aku tak apa-apa. "


" Bodoh sekali kau menanyakan hal seperti itu ke seseorang yang baru saja jatuh dari tebing dan tenggelam, Howie. " Laki-laki berambut pirang belah tengah dengan poni tergantung, serta mata biru itu terkekeh pelan.


" Siapa kalian? "


Kelima laki-laki itu terdiam menatap Carmen. Sedangkan Carmen menunggu jawaban. Kemungkinan mereka yang membawa nya ke tempat ini, kan?

__ADS_1


" Oh... Ekhem... Namaku Brian. Ini teman-teman ku. " Brian, laki-laki yang cukup tinggi, berbadan tegap, berambut coklat ikal pendek, serta iris coklat itu tersenyum kepada Carmen.


" Kevin. " Kevin, laki-laki yang paling tinggi di antara yang lain, berbadan tegap, berambut hitam pendek dan iris hitam itu tersenyum pelan. Kemudian menatap yang lain.


" Alexander, kau bisa memanggilku Alex. " Alex, laki-laki yang lebih tinggi dari Brian, berbadan tegap, berambut hitam pendek, dan iris hitam itu menunduk.


" Howie! " Howie, laki-laki yang lebih pendek dari Brian, berbadan tegap, berambut coklat kehitaman yang di pangkas pendek, serta iris coklat itu tersenyum seraya menjabat tangan Carmen.


" Nickolas. Kau bisa memanggilku Nick. " Nick, laki-laki yang lebih tinggi dari Alex. Sepertinya ia paling tinggi kedua setelah Kevin. Ia berbadan tegap, serta memiliki rambut pirang belah tengah dengan poni yang menjuntai menutupi dahi nya, iris biru nya menatap Carmen lekat-lekat.


" Hai.. Eummmm... Namaku Carmen, Carmen Elizabeth Avery. " Carmen menatap kelima laki-laki itu dengan senyum kikuk.


" Nice to meet ya, Carmen! " Nick tersenyum lagi, sedangkan Carmen mengangguk pelan.


" Eum... Terima kasih sudah menyelamatkan ku, tapi.... Aku harus pulang. " Carmen bangkit dari ranjangnya, membuat kelima laki-laki itu menatap Carmen khawatir.


" Kau benar-benar tidak apa-apa? Pusing? Mual? Semacamnya? " Nick menghampiri Carmen yang sudah berjalan ke ambang pintu. Membuat Carmen menatap Nick untuk menjawabnya.


" Aku tak apa, Nick. Terima kasih ya. "


Carmen pamit, kemudian keluar dari bangunan yang ternyata sebuah rumah yang cukup besar yang terletak di dekat pantai. Baguslah, setidaknya Carmen hanya tinggal kembali ke tengah kota.


Sesaat setelah Carmen berjalan di tengah hutan penghubung pantai dengan kota, tiba-tiba, muncul beberapa orang bermata merah menyala menghadang Carmen yang sudah berjalan cukup jauh dari pantai.


" GRAWWRRR!!! "


Orang-orang bermata merah itu hendak menerkam Carmen, tapi mereka seketika terpelanting oleh tendangan seseorang, Nick.


" Nick?! "


" Tetaplah di belakang ku. "


Nick berdiri di depan Carmen seraya merentangkan tangannya. Ia menatap beberapa orang bermata merah itu.


" GRAWWWRRR!! "


" Carmen, diamlah sebentar. "


Nick langsung berlari ke arah orang-orang bermata merah itu, sedangkan Carmen hanya terdiam menatap Nick yang tengah bertarung melindunginya.


Nick berdiri di tengah-tengah orang-orang bermata merah itu, seketika di tangannya terdapat sebuah pisau dengan petir di mana-mana.


" Menyebalkan! "


Nick melemparkan pisau yang Ia pegang, seketika pisau pisau itu terbang dan membelah orang-orang itu.

__ADS_1


Dalam waktu singkat, orang-orang bermata merah itu tumbang semua. Menyisakan mayat mereka dengan Nick yang berdiri menatap mayat mereka semua.


" Are you okay, Carmen? Apa ada yang terluka? " Nick berjalan menghampiri Carmen yang nampak shock. Carmen mengangguk cepat membalas pertanyaan Nick.


" Aku tak apa, Nick. Thanks. "


Nick menatap lekat-lekat Carmen, ekspresi nya menunjukkan bahwa ia tak ingin melakukan sesuatu yang mungkin akan ia lakukan.


" I'm so sorry, Carmen. Aku tak mau melakukan ini, tapi- "


Nick meletakkan telapak tangannya di wajah Carmen, menutupi mata coklat Carmen. Nick bergumam gumam yang saking kecilnya, Carmen tak bisa mendengar apa yang Nick katakan.


" Maafkan aku, tapi aku yakin suatu hari nanti kita akan bertemu lagi... "


" Nick? Apa maksudmu? "


" Lupakan kejadian hari ini... Lupakanlah bahwa kau mengenalku, Brian, Kevin, Alex dan Howie... "


\*\*\*\*\*


" Aku senang ada murid baru disini! Kami senang bisa menyambutmu, Carmen! "


Carmen Elizabeth Avery, perempuan bermata coklat dengan rambut coklat yang panjang terurai. Ia mengenakan seragam sekolah dengan jas berwarna biru dengan pita kecil berwarna merah yang berada di kerah seragamnya.


Carmen berjalan menelusuri lorong bersama dengan seorang wanita paruh baya yang sudah bisa di pastikan adalah guru atau staff di sekolah ini.


" Selamat datang di Moonrise Academy! Maaf kamarmu berada di asrama lama yang cukup jauh dari asrama murid lain. Nanti jika ada kamar di asrama baru, kami akan memindahkan mu. "


" Tidak apa-apa ma'am. Aku bisa di asrama lama. "


" Baiklah. Aku ada sedikit kesibukan. Kamar mu ada di ujung lorong, kau bisa kesana kan?? "


" Tepat di ujung lorong? "


" Iya, di ujung lorong nanti ada belokan ke kiri, lalu lurus terus sampai ujung. Kau hanya perlu menempelkan kartu ini ke pintu. " ucap guru itu seraya memberikan sebuah kartu pada Carmen.


" Okay ma'am. Thank you... "


Guru itu berjalan pergi meninggalkan Carmen. Sedangkan Carmen berjalan menuju lorong yang di maksud guru tadi.


Hingga Carmen bertemu dengan seorang laki-laki tinggi dengan rambut pirang dengan model curtain hair. Mereka berdua berpapasan.


" Kau- " Laki-laki itu nampak terkesiap kaget ketika melihat Carmen. Sedangkan Carmen langsung menunduk dan berjalan melewati laki-laki itu.


" Maaf... "

__ADS_1


Carmen berjalan menuju ruangannya, meninggalkan laki-laki berambut pirang tadi di sana.


" It's been a long day, Carmen. "


__ADS_2