Demonark : The Blood Curse

Demonark : The Blood Curse
10.10 : The Blood Curse


__ADS_3

" Putri... Putri... "


Seorang perempuan dengan iris coklat serta rambut coklat yang panjang itu menoleh ke belakang. Perempuan itu mengenakan gaun pink dengan rambutnya yang ia gerai serta dengan hiasan sebuah pita yang cukup panjang. Serta sebuah mahkota terletak di atas kepalanya.


" Oh, sudah kuduga kau, Nick! "


Nick, laki-laki berambut pirang dengan mata biru itu tersenyum pelan. Ia mengenakan baju putih dengan hitam di beberapa bagian. Ia menunduk pelan, benar-benar sopan. Dia kini terlihat seperti pangeran.


" Kau mau latihan, kan? Aku ikut!! " Perempuan itu berjalan dan merangkul Nick. Membuat laki-laki itu sontak mengalihkan perhatiannya.


" Kau terlalu dekat... Victoria.. " ucap Nick yang masih mengalihkan perhatiannya.


Mereka berdua berjalan ke sebuah ruangan, hingga terlihat empat laki-laki yang sepertinya sudah menunggu mereka berdua.


" Halo Victoria!! "


" Halo, Howie.. " Victoria tersenyum pada seorang laki-laki yang ia panggil Howie.


Ya, laki-laki dengan rambut coklat serta iris mata yang senada, baju yang ia kenakan mirip dengan baju Nick. Ia tersenyum lebar pada Victoria.


Victoria mengangkat sebuah pedang, kemudian menatap kelima laki-laki itu. Hingga Nick maju dengan sebuah pedang di tangannya.


" Nona Victoria, silahkan serang terlebih dahulu. " Nick menunduk sedangkan Victoria tersenyum pelan.


Victoria berlari kearah Nick dengan pedang yang ia arahkan ke Nick. Laki-laki itu berhasil menghindari serangan Victoria.


" Maaf Victoria, maybe next time.. " Nick tersenyum, ia mulai menyerang Victoria dengan pedangnya itu.


Dalam beberapa menit, Nick dan Victoria kini saling menodongkan pedang mereka. Seri. Lagi dan lagi mereka seri.


" Kau menyebalkan, Nick. " Victoria mencubit tangan Nick dengan gemas. Sedangkan yang dicubit hanya meringis pelan.


Tok... Tok... Tok...


Kelima laki-laki itu sontak berpura-pura berlatih, sedangkan Victoria membuka pintu ruang latihan itu.


" Maaf mengganggu nona, raja memanggil anda tadi. " seorang pelayan itu menunduk pelan.


Victoria menatap kelima kawannya singkat, kemudian mengangguk. Ia berjalan keluar perlahan.


" Aku akan kembali lagi nanti. "


10.10 : The Blood Curse


" Ayah memanggil? " Victoria menunduk pelan.


Raja bernama Ace itu tinggi tegap, memiliki rambut biru sebahu, iris biru menatap putrinya dengan hangat, sebuah mahkota juga terletak di kepalanya.


" Awwww putri ku sudah cukup dewasa yaaa... " Ace turun dari kursi tahta nya dan berlari memeluk Victoria.


" Ada apa dengan ayah? " Victoria terkekeh pelan dan menatap ayahnya.


" Ayah ingin memberimu sesuatu.. "

__ADS_1


Ace berlutut, ia memegang erat tangan putri nya itu. Membuat sekeliling mereka berdua bersinar biru.


" Gunakan kekuatan ini sebaik-baiknya... "


Setelah beberapa menit berbincang dengan ayah nya, Victoria keluar dari ruangan itu dengan tatapan lesu.


" Putri Victoria? "


Victoria menoleh, nampak seorang laki-laki berambut hitam legam, iris coklat, sebuah mahkota terdapat di atas kepalanya. Pakaiannya juga menggambarkan ia adalah pangeran.


" Pangeran Randall? "


Laki-laki bernama Randall itu tersenyum dan menghampiri Victoria.


" Victoria, aku akan melamar mu besok. "


Victoria seketika berbalik dengan ekspresi marah. Ia menatap Randall tak percaya.


" Yak!! Aku tak menyetujui itu! Ayah juga tak menyetujui itu! "


Randall terkekeh, ia mendekatkan wajahnya pada Victoria. Ia menatap lekat-lekat perempuan di hadapannya.


" Aku tak butuh persetujuan kalian! Kau milikku, Victoria. Kau milikku, dan aku milikmu. "


Randall semakin memojokkan Victoria, membuat perempuan itu semakin meninggikan suara nya.


" Pangeran Randall!! "


" Ayah!! "


\*\*\*\*\*


Di hadapan Victoria, terlihat Raja Ace kini berlumuran darah, sebuah pedang tertancap di jantung nya. Nafasnya bahkan sudah habis, jantung nya tak berdetak, kulitnya pucat.


Randall menghampiri Victoria yang terduduk sembari memanggil-manggil nama sang ayah. Randall mengambil mahkota Ace dan meletakkannya di atas kepalanya.


" Apa yang kau lakukan pada ayahku?! " Victoria berdiri dan menampar Randall.


" Sebulan lalu, kau menolak lamaran ku.. " Randall menatap mayat sang raja, ia tersenyum sinis mendengar perkataan Victoria.


" Karena aku tak mencintaimu! "


" Dalam peraturan kerajaan, tak peduli kau cinta atau tidak. Selama kau ada tunangan, kau aman. "


" Ayah ku membiarkan ku memilih keputusan ku. "


Randall kini tertawa, di tangannya kini muncul sebuah pedang.


" Aku sudah lebih kuat di banding sebelumnya. Aku sudah lebih berkuasa di banding sebelumnya! "


Victoria kini mengambil pedang milik ayahnya yang berada di dekat sana. Mengarahkan pedang itu pada Randall.


" Kurasa aku harus melawan mu terlebih dahulu, Victoria. "

__ADS_1


Randall mengayunkan pedangnya kearah Victoria, sedangkan Victoria sudah bersiap menahan pedang Randall dengan pedangnya. Hingga seseorang sudah menahan pedang Randall sebelum Victoria.


" Nick?! "


Nick berdiri di depan Victoria, tangannya memegang pedangnya erat-erat. Pedang Nick lah yang menahan serangan pedang Randall.


Nick mendorong mundur Randall dengan pedangnya. Membuat Randall terkekeh melihat Brian dan yang lain datang dan melindungi Victoria.


" Kenapa? Kenapa selalu dia? Kenapa selalu dia?!! " Randall berteriak frustasi dan menatap sinis Nick.


Randall yang berteriak frustasi itu kini menatap Victoria dengan senyuman jahat nya. Seolah-olah ia mempunyai kepribadian ganda.


" Apa kau tau, kemana yang mulai ratu selama ini, Victoria? "


Randall terkekeh lagi, gema tawa nya terdengar di penjuru ruangan. Victoria menatap curiga Randall. Sedangkan Nick dan yang lain bersiap melindungi Victoria.


" Aku membunuhnya!! "


Randall tertawa puas dan melemparkan mahkota milik sang ratu beserta pedang milik sang ratu.


" Ibu!! "


Nick dan yang lain menatap kaget mahkota dan pedang milik ratu. Nick dan Brian kini menahan tubuh Victoria agar tidak berlari mendekati Randall hanya untuk memukul laki-laki itu.


" Anda benar-benar keterlaluan, Pangeran Randall.. " Nick memegang erat pedangnya, tatapan tajam nya kini tertuju pada Randall.


" Hahaha!! Sekarang, akan aku bunuh kalian semua! Tak akan ada yang bisa menghalangi pertunangan aku dan Victoria! "


Randall melesat kearah Victoria, membuat Howie dan Kevin yang berada di belakang Victoria menahan serangan pedang Randall.


" Cih, kalian benar-benar menyebalkan!! "


Randall melesat dan terus menerus menyerang Victoria. Nick dan yang lain juga terus menerus melindungi Victoria.


" Matilah kau! "


Randall yang tiba-tiba melesat kearah Alex kini berhasil menusuk perut Alex hingga berlumuran darah.


" Ukh... " Alex terduduk, ia menahan luka di perut nya. Membuat semua perhatian tertuju pada Alex.


" Alex!! Bertahanlah!! " Nick bersuara seraya menahan serangan Randall.


Satu persatu Brian dan yang lain tumbang, hanya menyisakan Nick, Brian dan Victoria. Membuat Nick dan Brian terpecah fokus mereka. Antara menyelamatkan kawan-kawannya atau melindungi Victoria.


" Yak, Randall!! "


Randall menatap Victoria dengan senyuman sinis nya. Ia mengangkat pedang nya yang sudah berlumuran darah itu dan mengarahkannya ke Victoria, Nick dan Brian.


Victoria memegang sebuah buku bersampul merah yang ibu dan ayahnya berikan padanya. Ia membuka buku itu, telapak tangannya Ia arahkan ke Randall.


" Demonark... The Blood Curse!! "


" Apa yang- "

__ADS_1


__ADS_2