Demonark : The Blood Curse

Demonark : The Blood Curse
16.16 : The End


__ADS_3

Nick, Jay, Billy dan yang lain seketika sampai di sebuah bangunan yang mirip seperti kerajaan di tengah hutan yang bernama Valley Ark.


" Ini tempatnya. " Nick menatap sekitar, ia mengangguk. Memberitahu yang lain bahwa ini benar-benar tempat dimana Carmen berada.


" Ayo kita masuk. "


Mereka semua membuka pintu kerajaan itu dan berjalan masuk. Kerajaan itu benar-benar sepi. Tak ada aktivitas apapun di dalam.


Mereka kini berada di sebuah lorong yang cukup panjang dan luas. Lorong itu menyambungkan ruangan di kanan dan kiri. Mereka semua memperhatikan sekitar, kalau-kalau ada yang mencurigakan.


[ " Ini tempatnya? " ] ucap Howie keheranan. Ia menatap Billy dan Nick yang mengangguk dengan yakin.


[ " Carmen ada di ruang bawah tanah. Kita harus cepat mencarinya. " ] ucap Billy dan Nick bersamaan.


[ " Kalau begitu ayo kita berpencar. Akan sulit menemukan dimana Carmen jika kita bersama. " ] usul Aaron yang bersiap untuk berpencar, tetapi dihentikan oleh Jay.


[ " Justru kita harus bersama, Ar. Bagaimana jika sesuatu terjadi pada salah satu dari kita? Lebih baik kita bersama. " ] ucap Jay dan di balas dengan anggukan pelan dari Aaron.


[ " Aku menemukan sebuah pintu! " ]


Semuanya langsung berjalan ke arah ruang televisi yang berada di ujung lorong. Nick tengah meraba-raba pintu misterius di hadapannya.


[ " Carmen tidak memberitahumu cara untuk masuk kah? " ] ujar Leo dan di balas dengan gelengan dari Nick.


[ " Aku akan mencoba membukanya. " ]


Kevin memegang pintu misterius itu. Ia memejamkan matanya, seketika gumpalan hitam langsung muncul dari tangan Kevin dan masuk ke dalam pintu melalui celah pintu.


Kleekk...


Pintu terbuka, mereka semua langsung turun dengan perlahan. Jika Nick dan Billy sudah bilang kalau Carmen di ruang bawah tanah, sudah pasti Randall juga berada di sana. Bersiap saja dengan serangan dadakan darinya.


16.16 : The End


Mereka semua membuka pintu yang tak terkunci itu. Memperlihatkan sebuah ruangan berbentuk lingkaran yang dihiasi tanaman dan semacamnya. Dinding yang bernuansa putih biru, atap di bagian tengah bahkan terdapat sebuah jendela yang menampakan bulan purnama di malam itu.


[ " Carmen! " ] Semuanya sontak senang ketika melihat Carmen berada di sebuah ranjang yang diletakkan di bawah jendela di bagian tengah ruangan.


[ " Guys tunggu! Ini pasti jeba- " ]


Baru saja Brian memperingatkan teman-temannya, ia sudah di serang oleh Randall yang bersembunyi di balik dinding. Beruntung Brian berhasil menghindari serangan Randall.


" Ha, kalian sampai juga. Hebat juga kalian. " Randall kini memainkan pedang miliknya seraya menatap seluruh lawannya.


" Jika kau hanya ingin dilepaskan dari mantra, kau tidak harus melakukan ini, Randall. " Nick perlahan berjalan mendekati Randall.


" Heh, aku tak ingin itu. Aku. Menginginkan. Dirinya. "


" Dasar, dari dulu kau sama saja. "


Randall langsung mengayunkan pedangnya kearah Nick dan yang lain. Nick juga langsung mengambil pedangnya dari backpack milik Julian dan mengangkatnya.


[ " Aku akan mengurus Randall. Kalian urus Carmen. Bangunkan dia dan selamatkan dia, cepat! " ] seru Nick.


Semuanya langsung menuju Carmen, berusaha menyadarkan perempuan itu. Sedangkan Nick tengah berhadapan dengan Randall.


" Ukhhh... "


Nick menghempaskan pedang Randall menjauhi dirinya. Walaupun ini pertama kalinya Nick menggunakan pedang, tapi ia benar-benar lihai.


" Sebentar lagi akan terjadi Blood Moon. Jika Carmen tak sadar sampai Blood Moon terjadi, maka ia akan menjadi milikku. "


Randall terkekeh dan terus menyerang Nick. Nick hanya bisa bertahan dan terus bertahan.


\*\*\*\*\*


Sementara itu, Jay dan yang lain masih berusaha menyadarkan Carmen. Hingga bulan purnama itu berubah menjadi merah gelap. Cahaya bulan berwarna merah itu kini menyinari Carmen.

__ADS_1


" Blood Moon!! Hahahaha!! "


[ " Apa yang kalian lakukan?! Cepat sadarkan Carmen!! " ] seru Nick seraya terus menerus bertahan.


" Demonark... The Moonlight. "


Seketika bulan berwarna merah itu kembali normal, membuat Randall menoleh ke belakang sekilas.


" Apa yang terjadi?! " Randall nampak kebingungan melihat kejadian itu.


Carmen sudah sadar, ia sudah memegang buku miliknya. Carmen lah yang membatalkan Blood Moon itu.


" Dasar sialan!! " Randall langsung ber-teleportasi ke belakang Carmen. Para lelaki itu sontak berusaha melindungi Carmen.


" Bloodark, Swords. "


Randall seketika terpelanting menjauhi Carmen. Carmen langsung berjalan mendekati Randall yang terluka.


" Maaf Randall. Tapi tak akan aku biarkan kau melukai teman-teman ku. "


" Heh, benarkah? "


Randall langsung berdiri, bangkit. Ia menatap Carmen, ia mengarahkan tangannya. Membuat Carmen tersetrum tiba-tiba.


" CARMEN!! "


" Kau pikir kau lolos, Carmen? Kau sudah separuh dalam kendali ku. Jadi, kenapa kau tidak membunuh teman-teman mu saja? "


Carmen seketika berdiri menghadap seluruh teman-temannya. Ia bersiap untuk menyerang lagi.


" Sonata Lights! "


Seketika segala cahaya yang berada di sana langsung berubah menjadi beribu-ribu jarum yang langsung menyerang para laki-laki itu.


" ****! "


" Carmen!! Kendalikan kekuatan mu! " seru Nick yang langsung muncul di belakang Randall dan melawannya.


" Kau tak akan bisa mengendalikan nya! " seru Randall yang kini tengah bertarung dengan Nick.


" Kau bisa Carmen! Kendalikan kekuatan mu! Kau bisa melakukan nya! " seru Brian dan yang lain.


Carmen berteriak histeris, kedua tangannya langsung memegang kepalanya. Ia menundukkan kepala nya, membuat serangan yang dilancarkan Carmen menjadi gagal. Dan buku bersampul merah itu seketika berubah menjadi energi gelap.


[ " Itu buku aslinya! " ] seru Billy, ia menatap buku bersampul merah yang asli, buku itu berada di sisi ruangan.


[ " Got it! " ]


Leo dan Jay langsung mengambil buku bersampul merah yang asli. Mereka mengangkat tinggi-tinggi buku itu.


\*\*\*\*\*


Carmen yang sedari tadi memegang kepalanya dan berteriak histeris, kini menatap sekeliling dengan bingung.


" Ukh, kepalaku sakit... " ucap Carmen yang sudah sadar, ia menatap sekeliling.


" Brengsek!! "


Randall langsung berdiri di bawah cahaya bulan yang perlahan kembali berwarna merah. Ia memegang erat pedangnya.


" Tak ada cara lain. "


Nick, Carmen, Jay dan yang lain langsung bersiap melindungi satu sama lain. Mereka bersiap dengan senjata dan kekuatan mereka.


" Devilark, Blood Moon!! "


Seluruh ruangan seketika berubah menjadi berwarna merah darah. Seluruh energi terhisap ke Randall. Membuat Nick dan yang lain perlahan melemah.

__ADS_1


" Kalian! " Carmen menatap khawatir teman-temannya yang melemah.


Carmen langsung mengambil pedang milik Nick, menggenggam pedang itu dengan erat. Energi Carmen seketika menjadi besar, iris matanya yang berwarna coklat kini berubah menjadi biru.


" Victoria? "


Randall menatap Carmen yang berdiri di samping Nick dan yang lain. Ia melihat bayangan Victoria di diri Carmen.


Carmen seketika menghilang, dan ber-teleportasi ke samping kanan Randall. Ia menghilang lagi, lalu muncul lagi. Hingga Carmen muncul di belakang Randall dan menusuk Randall dengan pedang yang ia pegang.


" Akhhh.. " Randall memegang tubuhnya yang berdarah, ia kini gemetar.


" Aku tak ingin melakukan ini, Randall. Tapi, jika kau melukai teman-teman ku, maka aku akan melukaimu juga. " ucap Carmen.


Randall terkekeh, ia menatap kearah Carmen. Wajahnya semakin pucat, perlahan bagian tubuhnya hancur menjadi debu.


" Suatu saat nanti, aku akan datang lagi, Carmen. "


" Jika kau datang lagi, kami akan membunuhmu lagi. "


\*\*\*\*\*


Randall kini telah berubah menjadi debu sepenuhnya. Bulan kembali berwarna putih lagi. Seluruh Devilark dan Demonark yang merupakan bawahan Randall juga berubah menjadi debu.


Carmen langsung menggunakan buku bersampul merah nya, ia langsung menggunakan kemampuan teleportasi dan membawa semuanya kembali ke hutan di dekat Moonrise Academy.


" Kalian tak apa? "


Nick dan yang lain tersenyum dan langsung memeluk Carmen. Membuat perempuan itu terkejut bukan main.


" Yeah, kami tak apa. Terima kasih sudah menyelamatkan kami, Carmen. "


Carmen menggunakan kemampuannya untuk menyembuhkan mereka, ia langsung memukul pelan mereka semua.


" Seharusnya aku yang berterima kasih. Kalian sudah menyelamatkan ku. "


Semuanya tersenyum, Nick yang baru teringat, langsung membuka backpack pemberian Julian dan memberikan kelima kristal yang Carmen minta.


" Ini kristal yang kau minta. " Nick tersenyum dan memberikan semuanya.


" Untuk apa kristal itu? "


" Oh iya. "


Carmen langsung mengambil buku bersampul merah miliknya, kemudian memasangkan 5 kristal itu di sebuah halaman.


Carmen membaca mantra sekilas, dan kristal itu langsung hancur lebur.


" Ini, nyawa Randall yang di kristalisasi. Ya, dia bilang dia akan hidup lagi. Jika kita tidak menghancurkan ini, Randall bisa hidup 5 kali lagi. Tapi jika begini, kemungkinan Randall hidup lagi semakin kecil. "


Nick dan yang lain tersenyum dan merangkul Carmen.


" Ya jika dia hidup lagi pun, kita semua yang akan melawannya bersama-sama! "


Carmen dan yang lain mengangguk setuju mendengar seruan Jay dan Nick.


" Iya, kita semua yang akan melawannya bersama-sama! "


\*\*\*\*\*


Sementara itu, di Valley Ark


Debu Randall yang masih berada di sana, kini tertiup angin hingga ke sebuah ruangan yang terisolasi. Dengan sebuah tangki di ruangan itu.


Debu itu terbang hingga ke dalam tangki itu, dan perlahan sebuah tangan muncul dari debu itu.


• Demonark : The Blood Curse •

__ADS_1


• The End •


__ADS_2