
" Sudah lama tak bertemu, Carmen. "
Carmen mendongak, terlihat seorang laki-laki berambut coklat ikal dengan baju putih yang di balut jaket berwarna hitam serta celana jeans serta iris hijau. Laki-laki itu setinggi Nick mungkin? Laki-laki itu menatap Carmen dengan hangat.
" Juni? "
Laki-laki itu tersenyum, kemudian duduk di sebelah Carmen dengan tatapan hangat nya.
" Kau masih ingat ya, Carmen. "
Carmen sontak memeluk laki-laki bernama Juni itu. Air mata perlahan membasahi pipi perempuan itu. Juni yang melihat itu hanya bisa memeluk nya erat.
" Senang bertemu denganmu lagi, Juni. " Carmen tersenyum seraya menghapus air matanya.
Tiba-tiba, Juni menarik tubuh Carmen bangkit dari tempat duduk dan menyembunyikan Carmen di punggungnya. Juni mengeluarkan sebuah pisau dari jaket nya dan menodongkan nya pada beberapa laki-laki yang kini berada tepat di hadapan Juni dan Carmen.
" Nick? " Carmen mengintip dari balik tubuh tegap Juni.
" Kau kenal dia? " Juni dengan ekspresi bingung nya kini balik badan, menatap Carmen.
" Kau kenal dia, Carmen? " Brian yang berada di belakang Nick kini menyahut.
Carmen kini berdiri di antara Nick serta kawan-kawannya dan Juni. Ia menatap Nick dan Juni.
" Juni... Ini, teman-teman sekolah ku. "
Carmen menatap Juni dan memperkenalkan semua. Juni tersenyum singkat pada mereka.
" Guys, ini teman masa kecil ku, Juni. "
Setelah perkenalan singkat itu, Juni menghampiri Carmen dan pamit.
" Ini nomorku. Chat aku, mungkin? Aku ada urusan. Semangat belajar nya ya! " Juni tersenyum, tangannya terkepal menyemangati.
" Thanks Juni! "
Juni tersenyum dan kini berjalan kearah Nick dan yang lain, Nick dan yang lain hanya menatap heran Juni.
" Maafkan aku, tadi aku menodongkan pisau ke kalian... " Juni menjulurkan lidahnya, ia menatap Nick dan yang lain lagi.
" Tak apa. Kau sahabat masa kecilnya, pasti tak ingin dia terluka. Maaf juga kami mengagetkan mu. " Nick balas tersenyum.
" Tolong jaga Carmen. "
Setelah perkataan itu, Juni berjalan menjauhi yang lain tanpa sepatah kata lagi. Carmen tersenyum singkat. Hari itu berakhir dengan mereka yang kembali ke Moonrise Academy.
__ADS_1
5.5 : Nick
" Huft hari yang melelahkan... " Billy merebahkan dirinya di sofa ruang musik Nick dan yang lain.
" Kenapa Devilark muncul? Maksud ku... Devilark muncul setiap malam kan? Kenapa tadi... Oh ayolah tadi mereka muncul saat siang bolong! " Alex berseru, membuat yang lain jadi ikut-ikut memikirkan kejadian tadi.
" Lalu... Carmen. Dia diincar. Kenapa dia? " Nick bergumam pelan, walaupun begitu keenam kawannya itu bisa mendengar perkataannya.
" Hey Howie. Ada apa denganmu? " Brian yang sedari tadi diam saja, kini menatap Howie yang diam tanpa sepatah kata.
" Temannya Carmen yang tadi... " Howie bergumam pelan, kemudian menatap keenam kawannya.
" Apa tidak aneh? Tadi dia... Langsung melindungi Carmen dan mengeluarkan pisau sekaligus menodongkan pisaunya tepat pada kita saat kita baru saja memunculkan diri. "
" Mungkin saja instingnya bagus. Ada beberapa orang yang memiliki insting bagus walaupun tidak sebagus kita. " Billy menyahut.
" Kau merasakan sesuatu kah, Howie? " Nick menatap Howie lekat-lekat. Kawannya itu hanya menggeleng pelan.
" Enggak. Mungkin belum... " Howie nampak masih tenggelam dalam pikirannya.
" Howie, kalau kau merasakan sesuatu yang janggal, beritahu kami. Jangan gegabah. " Kevin menepuk bahu Howie pelan. Sedangkan yang di tepuk hanya mengangguk.
" Yeah, akan ku beritahu. "
\*\*\*\*\*
Carmen tengah duduk di kursi perpustakaan dan membaca buku. Nick dan yang lain masih berlatih Death Ball katanya. Dan Carmen tak mau mengganggu mereka. Sudah cukup beberapa hari ini dia mengganggu aktivitas kelima laki-laki itu.
" Haah... Aku akan ke asrama ku.. " Carmen membawa buku-buku yang sudah selesai ia baca dan hendak mengembalikan buku nya ke rak mereka.
BRUKK
Carmen berjalan pelan ke tempat buku bersampul merah itu terjatuh dari rak nya. Ia membolak-balikan buku itu dan hendak meletakkan buku itu ke rak nya, hingga ia tertarik pada isinya yang menjelaskan tentang mistis mistis fantasi.
" Well mungkin... Aku akan baca ini di asrama... "
Setelah di asrama Carmen, ia duduk di kursi belajarnya dan membaca lembar lembar buku itu. Hingga perhatiannya tertuju pada sebuah bab.
" Devilark "
Carmen mulai membolak-balikan halaman dalam bab berjudul Devilark itu. Hingga perhatiannya teralihkan ke ciri-ciri Devilark.
" Mata merah... Pucat... Muncul saat gelap... Ganas... Taring... " Gumam Carmen ketika membaca halaman itu. Persis seperti ciri-ciri orang yang menyerangnya di alun-alun.
" Apakah yang kemarin adalah Devilark? " Carmen kembali membolak-balikan halaman hingga sampai ke sebuah bab yang sepertinya memiliki hubungan dengan Devilark.
__ADS_1
" Demonark. "
Carmen lagi-lagi membalikkan halaman dengan penasaran, hingga ia terpaku pada ciri-cirinya.
" Pucat... Bisa membaca pikiran... Berlari cepat... " Carmen bergumam lagi, membuat Carmen seketika sadar. Kenapa ciri-cirinya, mirip dengan Nick dan yang lain?
Lari mereka lumayan cepat, mereka juga lumayan pucat di banding murid lain, walaupun lebih pucat Devilark yang di alun-alun. Mereka juga bisa baca pikiran..
Tanpa aba-aba, Carmen berlari keluar asrama nya, menuju asrama Nick dan membuka lorong ruang musik mereka.
" Carmen? "
\*\*\*\*\*
Carmen yang masuk ke ruang musik tanpa aba-aba kini melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat.
Di sekitar Nick dan yang lain, terdapat bangkai bangkai hewan yang seperti di hisap energi nya. Kehabisan tenaga. Banyak sekali bangkai hewan di sekitar mereka.
Dan sebuah kebetulan yang mengerikan, saat Carmen masuk, Nick dan yang lain tengah menghisap energi hewan hewan itu. Bahkan mereka mencabut jantung hewan hewan itu secara langsung.
" Carmen? " Nick menoleh kearah Carmen yang ketakutan.
" Kalian... "
Nick bangkit dan membersihkan mulutnya yang belepotan darah dan sedikit cairan hitam yang bisa di duga adalah energi hewan-hewan itu.
" Jangan mendekati ku! "
Carmen berjalan mundur, sedangkan ketujuh laki-laki itu menatap Carmen.
" Carmen... Dengarkan aku dulu... Aku.. " Nick semakin mendekati Carmen, bahkan menahan tangan Carmen. Membuat perempuan itu tidak dapat pergi.
" Nick... Lepasin.. " Carmen hanya menunduk, berharap Nick akan melepaskannya. Tapi tentu saja laki-laki itu tak melepaskannya.
" Dengarkan aku dulu... Setelah itu barulah kau memutuskan untuk tetap berteman dengan kami atau tidak... " Nick nampak masih berusaha membujuk Carmen.
Siapa yang tidak takut tiba-tiba melihat kawan-kawannya tengah menghisap energi makhluk hidup di hadapannya, bahkan mencabut jantung makhluk hidup di depannya?
" Lepasin, Nick! "
Carmen akhirnya menepis tangan Nick dan berlari keluar. Brian yang sudah melarang Nick agar tidak mengejar malah di hiraukan oleh Nick. Nick tetap mengejar Carmen bahkan sampai keluar akademi.
Carmen berhenti berlari di dermaga dekat Moonrise Academy. Ia menatap ke belakang, apakah Nick mengejar atau tidak.
" Carmen? Apa yang kau lakukan disini? "
__ADS_1
Carmen menoleh, nampak Juni berdiri di hadapannya. Menatap heran Carmen yang berdiri di hadapannya.
" Juni? "