
Carmen seketika menarik Nick agar berdiri di samping kanannya dan mendorong Howie dan Alex agar menyingkir. Sehingga Carmen yang menahan bola Death Ball itu.
" Carmen... " ucap Nick yang masih terkejut dengan yang baru saja terjadi.
" Sorry gengs!! " Seseorang berambut biru datang menghampiri mereka dengan seseorang berambut merah di sampingnya.
" Lebih baik kalian hati-hati, Billy, Chris.. Kalian bisa saja melukai orang lain! " Brian menghampiri mereka berdua dan mulai mengomel.
" Kamu tak apa, Carmen? " Kevin seketika menarik tangan Carmen. Melihat kalau-kalau ada luka atau semacamnya.
" Aku tak apa Kev... Sedikit perih tapi tak apa... " Carmen tersenyum kikuk, ia menarik tangannya pelan.
" Bagaimana kau bisa menahan bahkan menangkis bola Death Ball dengan tangan kosong, Carmen? "
Carmen, Nick dan yang lain sontak menatap Brian yang sepertinya sudah selesai memarahi kedua laki-laki yang Brian sebut dengan nama Billy dan Chris.
" Eh?? Aku... Aku... "
" Sudahlah Brian. Terserah Carmen mau menjawab atau enggak. " Kevin berdiri di hadapan Brian, Brian hanya menggerutu pelan dan menatap yang lain.
" Terima kasih ya, sudah menemani ku berkeliling... Terima kasih juga sudah menyelamatkan ku tadi.. " Carmen lagi dan lagi tersenyum kikuk, di balas dengan tawaan keempat laki-laki di hadapannya.
" Kami menikmatinya kok! "
" Lagipula, kami juga tidak menyelamatkan mu. "
" Yeah tapi kalian sudah ancang-ancang melindungi ku... "
" Sepertinya kami tidak terlalu pandai melindungi ya? " Nick terkekeh pelan.
" Tidak juga.. Jadi... Sampai jumpa besok ya!! " Carmen menunduk singkat dan berlari pelan dari sana. Meninggalkan keempat laki-laki itu kebingungan.
" Apa aku harus mengejarnya? " Howie menatap ketiga kawannya.
" Sepertinya dia shock.. " Alex bergumam pelan seraya mengangguk pelan.
" Sudahlah, mungkin dia shock dengan kejadian tadi dan pertanyaan Brian. Biarkan dia istirahat terlebih dahulu. "
3.3 : Ruang Musik
Carmen berjalan cepat menuju asrama nya, nafasnya kini memburu. Ia menghela nafas lega ketika ia sudah menyentuh pintu asrama nya.
" Hey. "
Carmen tersentak kemudian menatap ke arah lorong. Terlihat Brian yang berjalan mendekati Carmen.
" Maaf, tak bermaksud menakuti mu. "
Carmen menatap lekat-lekat Brian. Ia sebenarnya tak ingin berbicara dengan Brian terlebih melihatnya yang selalu menatap Carmen dengan sinis. Tapi yah, mau bagaimana lagi?
" Namaku Brian. Anyway, aku ingin minta maaf jika image ku di dirimu benar-benar jelek. Aku tak bermaksud menjauhkan dirimu dengan mereka... "
Keduanya terdiam, hingga Brian menghela nafas dan melanjutkan pembicaraannya.
__ADS_1
" Aku melakukan itu untuk kebaikan mu, Carmen. "
" Kebaikan ku? "
Brian tidak menjawab, ia berbalik badan dan berjalan meninggalkan Carmen.
" Good night, Carmen. "
Setelah mengatakan itu, Brian berjalan meninggalkan asrama Carmen tanpa basa-basi.
" Good night too, Brian! "
\*\*\*\*\*
" Morning Carmen!! "
Carmen tersentak kaget ketika melihat kelima laki-laki itu sudah berada di ambang pintu asrama nya.
" Morning guys.. " Carmen tersenyum seraya menatap Brian sekilas. Ekspresi Brian tidak se-sinis kemarin. Walaupun begitu, tetap saja.
" Kau sudah bangun? Padahal kelas akan di mulai jam 8 malam kan? " Brian menghampiri Carmen, membuat keempat laki-laki itu menatap heran Brian.
" Eh? AKU LUPA KALAU KELAS DISINI MASUK JAM 8 MALAM!!!! " Carmen menunduk lemas seraya melempar sembarang tas selempang nya. Sementara kelima lelaki itu terkekeh pelan.
" Lalu? Apa yang mau kau lakukan, Carmen? " Nick menatap Carmen dengan tatapan hangat nya.
" Aha! Aku ingin ke ruangan musik di sekolah ini. "
" Kalau kau mau, kami bisa menunjukkan ruangan musik yang kami buat. " Nick tersenyum pelan.
" Benarkah?! Aku mau!! "
" Oke oke.. "
Carmen berjalan di antara Nick dan Brian, sementara Alex, Kevin dan Howie berjalan di belakang Nick, Brian dan Carmen. Mereka berjalan menuju sebuah asrama.
" Ayo masuk, Carmen! " Howie menarik tangan Carmen masuk ke sebuah asrama yang sepertinya milik salah satu dari mereka.
Nick tersenyum kemudian menarik sebuah buku yang berada di rak, membuat dinding di hadapan mereka berubah menjadi sebuah lorong yang lumayan panjang.
" Wahhh... "
Mereka telah sampai di ujung lorong. Terdapat ruangan yang cukup besar menyambut mereka. Terdapat lima lorong termasuk yang tadi mereka lewati terhubung ke ruangan besar itu.
Ruangan besar itu bernuansa putih, terdapat televisi, beberapa buah sofa, sebuah piano besar, serta tanaman hias mengelilingi tempat itu. Atap ruangan itu berupa kaca, sinar matahari memasuki ruangan itu lewat sana. Air yang mengalir seperti sungai berukuran kecil juga mengelilingi ruangan itu. Benar-benar indah.
" Ini ruangan musik kami... Sekaligus ruangan rahasia kami... "
Carmen menatap takjub sekeliling tempat itu, membuat kelima laki-laki itu hanya tersenyum pelan melihat kawan baru mereka bahagia melihat ruangan kebanggaan mereka.
" Keren... "
Carmen masih menatap sekeliling, hingga ia mendengar suara Nick dari kepalanya. Aneh memang. Padahal Nick tengah mengobrol dengan keempat kawannya.
__ADS_1
[ " Nick? " ] Carmen memanggil Nick dari kepalanya, memastikan apakah suara Nick yang tadi nyata atau hanya imajinasinya.
[ " Yeah? " ]
[ " Apa yang... Kenapa ini terjadi? Maksudku.. Kenapa... " ] Carmen nampak kelabakan, ia kehabisan kata-kata ketika menyadari suara Nick yang barusan benar-benar nyata.
[ " Ini telepati. Aku dan yang lain bisa menggunakan nya untuk berkomunikasi. " ]
" Carmen, sini! " Howie berseru sembari menunjuk kursi kosong di sebelahnya.
Carmen duduk di antara Howie dan Brian, ia kini mencuri pandang dengan Nick.
[ " Nick.. " ]
[ " Hmm? " ]
[ " Sebenarnya ada yang ingin aku ceritakan. Hanya saja.. " ]
Nick terkekeh kemudian mendekatkan tubuhnya kearah Carmen dan memegang tangan mungil Carmen.
" Ceritakan saja. "
Carmen mengangguk pelan kemudian menatap yang lain. Hingga akhirnya ia menghela nafas pelan.
" Soal kemarin malam... Pertanyaan Brian.. " Carmen berbicara seraya menatap Brian sekilas.
" Kau tak usah membahasnya kalau kau tak nyaman, Carmen. " Nick menatap Carmen, tangan hangatnya kini mengelus pelan tangan Carmen.
" Tak apa Nick. Aku ingin membahasnya dengan kalian.. "
Kelima laki-laki itu menatap Carmen khawatir. Hingga akhirnya membiarkan Carmen membahasnya.
" Dulu... Aku pernah jatuh dari tebing dan di selamatkan oleh lima orang laki-laki. "
Nick dan yang lain tersentak, membuat Carmen menatap heran mereka.
" Kau ingat nama mereka? " Alex menyahut, Carmen menggelengkan kepalanya kuat-kuat pertanda tak ingat.
" Aku tak ingat nama mereka. Aku juga tak ingat wajah mereka. Hanya saja mereka menyelamatkan ku, setelah aku di selamatkan mereka dan menuju ke rumah, ada beberapa orang yang menyerang ku, kemudian salah satu dari mereka menyelamatkan ku! "
[ " Nick? Kenapa itu bisa terjadi? ] Howie tiba-tiba menggunakan telepati dengan Nick.
[ " Entahlah, aku juga tidak tau! " ]
" Lalu apa yang terjadi selanjutnya? " Kevin menatap Carmen, berusaha terlihat tenang di banding yang lain.
" Setelah kejadian itu, teman ku memberikan sesuatu pada ku. Dia khawatir aku kenapa-napa seperti waktu itu. "
" Teman? "
" Iya. Namanya Juni. Berkat kalung yang ia berikan ini, aku jadi aman dari segala bahaya.. Karena itu, aku bisa menahan bola Death Ball karena ini juga. " Carmen menggenggam kalung berwarna perak yang ia pakai, ia menjelaskan dengan antusias.
" Kalung? "
__ADS_1