
" Carmen?! "
Devilark itu terdorong, walaupun begitu belum tumbang sepenuhnya.
" Di luar banyak Devilark, Bill! " seru Carmen ketika Billy menarik tangan nya menuju pintu depan.
" Sial, kau benar.. " Billy memutar arah, masih dengan tangannya yang menarik tangan Carmen.
[ " Dia di beri semacam kemampuan sementara, sehingga aku tak bisa menggunakan kemampuan ku disini. Jadi jangan tanya lagi kenapa kita tidak teleportasi. " ] ucap Billy lewat telepati yang ia tujukan pada Carmen.
Devilark itu muncul dan menyerang Billy, membuat buku itu terjatuh dari tangan Billy.
" GRAAAKKHHH!! "
Carmen melihat nya, dengan mata kepalanya sendiri, energi Billy di hisap oleh Devilark itu. Membuat Billy tak bisa bergerak.
" Yak!! "
Devilark itu menoleh, begitu juga dengan Billy. Carmen memegang buku merah itu. Mengayunkan nya perlahan.
" Lepaskan dia! "
" GRRRR... "
" Lari... Carmen... "
Devilark itu menghempaskan Billy dan melesat kearah Carmen. Walaupun Billy sudah menyuruh Carmen untuk lari, tapi kaki nya tetap tak beranjak dari sana. Carmen hanya membuka buku itu dengan acak.
Seketika, energi sekeliling Carmen berubah. Iris mata Carmen juga sekilas berubah. Ia memegang erat buku bersampul merah itu.
" GRAKKKHH!! "
Devilark itu seketika menghilang layaknya asap. Energi sekeliling Carmen kembali normal, buku bersampul merah itu pun tertutup lagi. Carmen langsung berlari menghampiri Billy.
" Billy!! Kau tak apa?! "
Wajah Billy yang tadi lebih pucat di banding biasanya perlahan kembali normal, ya normal. Pucat nya Billy yang normal.
Energi Billy perlahan kembali, Billy yang sadar akan hal itu menatap heran Carmen.
" Apa yang terjadi, Carmen? "
" Entahlah... Rasanya, saat buku ini terbuka, ada kekuatan yang tiba-tiba muncul.. "
9.9 : Kemampuan Rahasia
Carmen dan Billy keluar perlahan dari perpustakaan. Terlihat banyak debu jejak Devilark berserakan di mana-mana.
__ADS_1
" Billy! Carmen!! " Nick dan yang lain seketika berlari menghampiri Carmen dan Billy.
" Apa yang terjadi di luar sini? " Billy menatap sekeliling. Hanya ada debu debu jejak Devilark di sekeliling rumah.
" Mereka tak ada habisnya. Jadi kami hanya menahan para Devilark ini agar tidak ke perpustakaan. Hingga tiba-tiba mereka berteriak dan menghilang seperti asap. Dan... Berubah menjadi debu begini. " Charles menatap debu debu yang tersisa ketika menjelaskan.
" Carmen... Itu.. " Billy menatap Carmen dengan tatapan bingung.
" By the way, kalian tak apa-apa kan? " Howie menatap Billy dan Carmen. Melihat keduanya apakah ada luka atau semacamnya.
" Kami tak apa. "
" Sebaiknya kita cepat keluar dari sini sebelum Devilark muncul lagi kesini.. " ucap Jay dan mengajak semuanya pergi dari rumah itu.
Mereka berlari menjauhi rumah itu, hingga muncul seorang Devilark yang berukuran raksasa tengah menghadang mereka.
" Serahkan... Perempuan itu... Pada ku. "
" Tak akan pernah! " seru Nick.
Raksasa itu mengayunkan tangan besarnya kearah Nick dan yang lain. Leo dengan cepat menarik tangan Carmen agar menghindari serangan raksasa itu.
Api menjalar di tubuh raksasa itu, tapi itu tak cukup. Aaron dan Peter berlari kearah raksasa itu dan seketika berubah menjadi Devilark.
" GRAAKKHHH!! "
" Sialan... "
Jay melayang, energi di sekitarnya ia gunakan untuk menyerang raksasa itu. Walaupun begitu, ia tidak cukup kuat karena kehabisan energi.
" Leo!! Charles!! " Jay berseru, ia menatap kedua kawannya yang juga berlari menuju sang raksasa.
Leo dan Charles juga berlari dan berubah menjadi Devilark. Menyerang raksasa itu bersama Aaron dan Peter.
Kevin membuat gumpalan itu lagi dan menyerang raksasa itu, Billy dengan kemampuan teleportasi nya, membuka portal agar Kevin bisa menyerang lawan dengan jarak jauh dan tepat sasaran.
Howie berada di baris belakang dan memberikan energi cadangannya pada yang lain. Sedangkan Nick berlari dengan kecepatan tinggi dan menyerang raksasa itu.
Walaupun begitu, serangan mereka semua tidak cukup untuk melawannya. Lawan mereka kali ini, lebih kuat dari Devilark.
Raksasa itu menghempaskan semuanya. Semua terbaring lemah, energi mereka tak cukup. Sudah di pakai untuk melawan Devilark yang bertambah terus di rumah, kini mereka harus melawan raksasa ini.
" Hei kau!! "
Carmen berdiri di arah sebaliknya, membuat raksasa itu mengalihkan perhatian nya pada Carmen dan bukan pada teman-temannya lagi.
Carmen membuka buku nya acak, ia ingin mencoba seperti tadi lagi. Apakah tadi kebetulan? Atau ia memang bisa melakukannya?
__ADS_1
Carmen menyatukan kedua telapak tangannya. Dengan telapak tangan bagian kiri berada di atas telapak tangan bagian kanan dan arah jari berlawanan. Tangan kirinya ia arahkan menghadap ke depan dengan posisi masih di atas tangan kanan.
Seketika energi di sekeliling Carmen meningkat, iris mata nya berubah lagi. Kini, tatapan matanya benar-benar berbeda. Menatap datar raksasa itu.
Kedua tangannya ia angkat dari posisinya, sehingga dengan posisi yang sama tapi tidak menempel satu sama lain.
Seketika energi berwarna merah keluar dari celah kedua telapak tangannya yang ia satukan tadi.
BLARRRRR!!!
Raksasa itu lagi dan lagi berubah menjadi debu, hancur seketika. Carmen kembali normal, buku itu tertutup lagi. Ia kini menghampiri kawan-kawannya yang tercengang di belakang.
" Kalian tak apa?! "
" Bagaimana kau melakukannya?! " Leo berseru seraya meniru gerakan tangan Carmen tadi.
" Buku itu... Menyimpan kekuatan? " Brian memegang buku bersampul merah itu dan melihat setiap sudut buku itu.
" Entahlah, aku tak tau.. " Carmen tersenyum pelan.
" Anyway, ayo kita cepat ke kota. Bisa jadi laki-laki bernama Juni itu masih tak menyerah dan mengirim pasukan lagi. " ujar Jay dan diikuti oleh semuanya.
\*\*\*\*\*
Kini Carmen, Nick dan kawan-kawannya sudah berada di Moonrise Academy lagi. Memutuskan agar kembali ke akademi masing-masing sebelum Juni menyerang lagi.
Kini mereka berkumpul di ruang musik rahasia mereka lagi. Dan kini, Carmen melihat lekat-lekat buku itu.
Carmen membuka asal lembaran buku itu, hingga secarik kertas pembatas terjatuh dan mengalihkan perhatian nya.
" Demonark : The Blood Curse. " ucap Carmen pelan, walaupun begitu Carmen tak berani untuk membuka buku itu dan membaca bagian The Blood Curse itu.
" Nick, aku titip ini sesaat pada mu, ya? " Carmen tersenyum, ia memberikan buku merah itu pada Nick.
" Tentu! Akan aku jaga buku ini. "
Carmen tersenyum pelan, ia menatap sekeliling kemudian bersandar di bahu Nick.
" Maaf ya, sejak kau kenal kami, kehidupan mu jadi berantakan. " Nick terkekeh, ia mengelus pelan rambut Carmen.
" Semenjak aku kenal kalian, hidup ku jadi lumayan berwarna tau! Aku senang kok. "
" Syukurlah... Ke depannya, ayo kita berteman lebih akrab lagi! "
Carmen mengangguk antusias mendengar ajakan Nick. Di sambut dengan tawa hangat dari yang lain.
" Aku harap, Juni tidak terlalu mencari masalah dengan kami sehingga mereka bisa beristirahat sejenak. Aku khawatir pada mereka.. "
__ADS_1