
" Kalung? "
Carmen menatap kelima kawannya dan memberikan kalung berwarna perak itu pada mereka. Kalung perak dengan permata dengan warna biru itu kini berada di tangan kelima kawannya.
" Ini kalung yang teman ku berikan padaku. "
" Begitu ya. Ini, kami kembalikan. " Nick mengembalikan kalung itu pada Carmen.
" Sudah cukup larut, kau harus tidur. Aku akan mengantar mu. " Nick bangkit kemudian menggenggam tangan Carmen.
" Eh? Oke... See ya, guys. "
Nick dan Carmen berjalan beriringan menuju asrama Carmen dengan tangan mereka yang saling tertaut sampai ke depan kamar asrama Carmen.
" Terima kasih Nick. Sampai jumpa besok.. "
Carmen membalikkan badan, tetapi tertahan oleh tangannya yang di tahan oleh Nick. Membuatnya menoleh kearah laki-laki berambut pirang itu.
" Besok.. Maukah kau pergi ke alun-alun? Ber... Akh.. " Nick nampak menyusun kata-kata seraya menatap langit-langit. Tangannya masih tak lepas dari pergelangan Carmen.
" Akan aku tanya yang lain juga. Tapi... Maukah besok kau pergi ke alun-alun? Bersama? "
Carmen menundukkan wajahnya, terlihat sekali wajah perempuan itu memerah. Ia menatap Nick dan mengangguk.
" Aku mau! "
" Baiklah... Sampai jumpa besok, Carmen. "
Nick tersenyum kemudian membalikkan badannya, begitu pula dengan Carmen yang membalikkan badannya dan masuk ke dalam kamar nya.
4.4 : Insiden
Pagi harinya, nampak Carmen yang sudah berada di alun-alun dengan pakaian kasual nya. Celana jeans dengan tas selempang kecil berwarna merah, serta baju putih dengan jaket coklat muda di kenakan nya. Walau terlihat aneh tapi begitulah yang Carmen kenakan.
" Carmen!! Sorry nunggu lama ya? " Nick melambaikan tangan kearah Carmen dan berjalan mendekat.
" Enggak kok. Aku baru sampai... " Carmen tersenyum menatap Nick dan kawan-kawannya.
Nick mengenakan baju hitam serta jaket hitam dan celana jeans. Rambut dengan gayanya yang seperti biasa. Serta senyuman manis tercetak di bibir Nick.
Brian mengenakan celana jeans dengan baju putih yang ia tutupi dengan jaket hitam. Ia nampak lebih ramah di banding biasanya.
Howie mengenakan baju biru tua dengan celana jeans. Berbeda dari biasanya. Alex mengenakan baju hitam dengan celana kargo. Alex lumayan mencolok dengan penampilan nya yang sekarang. Sedangkan Kevin mengenakan baju coklat dengan celana berwarna abu-abu. Kevin terlihat lebih segar dengan penampilan nya yang sekarang.
" Kita mau memulai dari mana nih? " Howie mendekatkan dirinya pada Carmen.
" Kau mau es krim? " Kevin tersenyum manis, tangannya sudah menunjuk ke sebuah penjual es krim yang berada di dekat sana.
" Sure! "
Semuanya membeli es krim dan berkeliling alun-alun sembari memakan es krim mereka. Satu persatu tempat di alun-alun mereka datangi.
" Kau mau ke sana? " Brian menunjuk ke sebuah menara yang berada cukup dekat dari mereka.
__ADS_1
" Mau!! "
" Kalau begitu tunggu sebentar. Aku akan belikan tiket untuk kita. " Brian berlari kecil menuju loket di dekat sana.
Carmen tersenyum, ia masih berkutat dengan es krim vanilla nya yang belum habis sedari tadi.
" Menyenangkan? " Nick yang duduk di sebelah Carmen kini menatap perempuan itu.
Rambut pirang Nick yang terhembus angin, membuat Nick terlihat semakin... Keren? Tampan? Mungkin keduanya.
" Iya... "
Carmen menunduk dan memilih untuk berkutat lagi dengan es krim nya. Wajahnya terlihat memerah, membuat Kevin dan yang lain terkekeh pelan.
Di saat semuanya tersenyum, seketika raut wajah Howie berubah. Seolah-olah merasakan ada tanda bahaya atau semacamnya.
" Eum.. Carmen? Kami ada urusan sebentar. Tunggu di sini ya... " Nick tersenyum singkat, tangannya mengelus rambut panjang Carmen kemudian meninggalkan Carmen.
" Berjanjilah kau tetap disini. " Kevin mengulurkan tangannya, membuat janji kelingking dengan Carmen.
" Aku janji. "
\*\*\*\*\*
Sudah 30 menit Nick dan yang lain tidak datang. Dan Carmen masih menunggu mereka di kursi alun-alun. Setia menunggu.
" Datangi... Atau enggak... Datangi... Atau enggak... " Carmen kini berkutat dengan keputusannya.
Ia khawatir jika ia datang, mereka sudah kembali ke sini. Tapi, jika ia menunggu, bagaimana kalau sesuatu terjadi pada mereka?
" Nick? Brian? Kevin? Howie? Alex? " Carmen berjalan berkeliling pelan, ia memanggil-manggil kawan nya, berharap mereka membalas sahutan nya.
Hingga seseorang menarik tangan Carmen memasuki sebuah gang kecil. Carmen seketika membanting dan menendang seseorang itu.
Terlihat seseorang dengan hoodie hitam, tudung hoodie itu menutupi wajahnya, walaupun begitu terlihat sekali mata orang itu berwarna merah menyala.
" Apa-apaan- "
" GRAAOOO!!! "
Carmen berbalik arah dan hendak berlari, tapi orang itu terlalu cepat. Orang itu menarik tangan Carmen dan mencengkram tangan nya.
" Lepaskan! "
Carmen meronta-ronta, berusaha melepaskan diri. Kini orang itu mencekik leher nya dan menahan dirinya di tembok ujung gang.
" Juni... Nick... Siapapun... Tolong.. " Carmen bergumam pelan, tangannya yang menahan tangan orang itu agar berhenti mencekiknya kini perlahan melemas.
Wajah Carmen pucat pasi saat ini. Seolah-olah tenaga nya benar-benar habis. Bukan karena di cekik, seperti... Energi nya dihisap habis oleh orang itu.
BUAKKKK!!!
" Beraninya kau... "
__ADS_1
Nick berdiri di depan Carmen, berdiri menghadapi orang itu dengan kedua tangannya yang sudah terkepal erat dan tatapan tajam.
" Kau tak apa, Carmen? "
Billy, laki-laki berambut biru yang pertama kali Carmen temui di lapangan, teman Nick. Billy berdiri di samping Carmen dan menggendongnya ala bridal style.
" GRAAAKKKHH!! "
" Sial.. "
Nick menarik tangan orang itu menjauhi Billy dan Carmen, sedangkan Brian, Alex, Howie, Chris dan Kevin seketika memukul orang itu dari arah belakang.
" Gadis itu... Carmen Elizabeth Avery... Serahkan pada kami... "
Nick, Brian, Kevin, Howie, Alex, Billy dan Chris menatap kaget orang itu. Carmen? Mereka menargetkan Carmen? Mengapa?
" Gengs... Sepertinya kita harus melakukan sesuatu.. " Billy yang masih menggendong Carmen kini menatap sekeliling. Terdapat banyak sekali orang bermata merah seperti lawan mereka.
" Billy, bawa Carmen jauh-jauh dari sini! " Howie berseru, ia menghindari semua serangan sembari terus menerus menyerang.
" Bagaimana dengan kalian?! "
" Kami akan urus yang disini... Lindungi Carmen terlebih dahulu... "
Billy menatap keenam kawannya, hingga menggendong Carmen erat erat dan masuk ke sebuah portal berwarna biru terang di belakang nya. Teleportasi.
Carmen yang masih berada di gendongan Billy hanya memegang erat Billy. Carmen seketika berseru pada Billy.
" Bil... Aku sedikit... Mual... "
" Pejamkan mata mu... Akan sedikit mual, bertahanlah sebentar lagi.. "
Carmen memejamkan matanya, sedangkan Billy langsung memunculkan mereka berdua di sisi lain alun-alun dengan cepat. Kemudian menurunkan Carmen dari gendongannya.
" Masih mual kah? " Billy menatap khawatir Carmen yang kini terlihat menahan mual.
" Aku tak apa... Terima kasih, Billy.. "
Billy menghampiri Carmen, tangan laki-laki itu kini melekat di pipi Carmen. Mulut laki-laki itu bergumam gumam. Entah apa yang ia gumam kan.
" Masih mual? "
" Tidak seperti tadi... Aku tak tau apa yang kau lakukan tadi, tapi.. Terima kasih lagi. " Carmen menunduk dan tersenyum, hingga menyadari raut wajah Billy yang sepertinya khawatir juga dengan kawan-kawannya.
" Kau kesana aja, temani Nick dan yang lain. " Carmen tersenyum dan memegang tangan Billy.
" Bagaimana denganmu? "
" Aku tak apa. Pergilah, Billy. "
Billy nampak bingung. Pilihan mana yang tepat untuknya? Carmen terus meyakinkan laki-laki itu dan akhirnya Billy memilih kembali dan membantu teman-temannya.
" Aku harus berada di tengah alun-alun.. " Carmen berjalan cepat menuju tengah alun-alun. Setidaknya banyak orang, jadi orang bermata merah itu tidak bisa menyerangnya.
__ADS_1
" Huft... Akhirnya ramai.. " Carmen mendudukkan dirinya di kursi, menghela nafas lega.
" Sudah lama tak bertemu, Carmen. "