
Carmen berdiri di ambang pintu sebuah kamar yang terletak di lorong. Persis dengan yang guru tadi katakan. Carmen menempelkan kartu yang ia dapat dan pintu terbuka.
" Akhirnya aku sampai... "
Carmen menatap isi kamarnya yang bisa di bilang cukup berantakan. Laci laci yang terbuka dan tak tertutup lagi, kertas kertas berserakan di lantai, tirai yang menutupi jendela ternyata robek, dan sebagainya.
" Baiklah... Ayo kita bersih-bersih! "
Carmen mulai membersihkan kamarnya perlahan-lahan. Hingga tak terasa 30 menit berlalu dan kamarnya rapi kembali.
" Sudah kuduga aku bisa membersihkan ini semua!! " Carmen terkekeh pelan seraya membuka jendela.
Tiba-tiba seekor kelelawar berukuran besar bermata merah menyala muncul tepat di depan Carmen ketika Carmen membuka jendela.
" Awas!! "
Carmen memejamkan mata, entah apa yang terjadi saat ini. Yang jelas, seseorang baru saja masuk ke kamarnya dan mengusir bahkan membunuh seekor kelelawar itu.
Carmen membuka mata perlahan, nampak laki-laki berambut pirang yang ia temui tadi di lorong, tengah berdiri di hadapannya dengan seseorang yang kurus kering berada di tangan laki-laki pirang itu.
" Hei!! "
Carmen terkejut ketika melihat laki-laki berambut pirang itu tengah mencekik seseorang. Carmen berusaha menarik tangan laki-laki pirang itu agar melepaskan cekikan nya.
Seketika laki-laki kurus kering yang tadi berada di tangan laki-laki pirang itu kini hangus menjadi debu. Membuat Carmen bingung apa yang harus ia lakukan.
" Kau membunuh seseorang!! " seru Carmen dengan suara yang ia usahakan pelan. Ia menatap pintu yang tertutup rapat. Ia khawatir ada yang mendengar pembicaraan mereka berdua.
" Aku menyelamatkan mu. "
" Tapi tidak harus membunuhnya! "
Laki-laki pirang itu membersihkan tangannya setelah Ia membuang debu laki-laki yang ia cekik tadi, kemudian menatap Carmen lekat-lekat.
" Sial... Kenapa Devilark menyerang? " Gumam laki-laki itu kemudian menatap Carmen yang menatap curiga.
" Apa yang kau lakukan barusan?! Kau membunuh orang!! "
" Yak! Jika aku tak datang cepat, mungkin energi mu akan langsung habis dan hanya bertahan beberapa menit di sekolah ini. "
Laki-laki itu menggerutu sesaat, dan beranjak pergi, hingga Carmen menghentikan langkahnya.
" Namaku Carmen. Siapa namamu? "
Laki-laki itu menoleh, menatap Carmen sekilas.
" Aku Nickolas. Panggil aku Nick. "
2.2 : Hello Nick
__ADS_1
" Nice to meet ya, Carmen. " Nick tersenyum ramah.
Berbeda sekali dengan Nick yang membunuh... Maksudnya, menyelamatkan Carmen. Sebelumnya Nick terkesan cuek, sombong dan sebagainya. Kini Nick tersenyum ramah, seolah-olah yang tadi adalah kepribadiannya yang lain.
" Nice to meet you too, Nick. "
Keduanya terdiam, hingga Nick merangkul Carmen dan membuat perempuan itu kini hanya beberapa senti dari Nick.
" Eh... Nick.. "
" Kau baru kan? Ayo. Aku akan mengajakmu berkeliling sekolah ini. "
Nick merangkul Carmen dengan lembut dan mulai berkeliling dari koridor utama, hingga langkah mereka berdua di hentikan oleh beberapa orang yang menyapa Nick.
" Siapa itu? "
Keempat laki-laki yang menghampiri Nick itu seketika terkejut. Raut wajah mereka seketika berubah. Seolah-olah terkejut sekaligus senang.
" Carmen, ini teman-teman ku... " Nick menatap keempat temannya, membuat keempatnya seketika mendekati Carmen dengan antusias.
" Namaku Howie!! Ayo kita berteman baik ya, Carmen! "
Howie, laki-laki yang tinggi badannya lebih pendek dari Brian, berbadan tegap, berambut coklat kehitaman yang di pangkas pendek, serta iris coklat itu tersenyum antusias seraya mengayunkan tangan Carmen dengan semangat.
" Howie selalu begitu, terlalu berlebihan. Anyway namaku Alex. Bertemanlah dengan ku. "
Alex, laki-laki yang lebih tinggi dari Brian, berbadan tegap, berambut hitam pendek, dan iris hitam itu mendorong pelan Howie seraya menatap Carmen dengan antusias yang sama dengan Howie.
" Namaku Kevin.. Jangan pedulikan mereka berdua.. "
Kevin, laki-laki yang paling tinggi di antara yang lain, berbadan tegap, berambut hitam pendek dan iris hitam itu tersenyum pelan seraya mendekatkan dirinya ke Carmen.
" KAU SAMA AJA KEV!!! "
Pandangan Carmen kini tertuju ke seorang laki-laki yang cukup tinggi, berbadan tegap, berambut coklat ikal pendek, serta iris coklat yang menatap sinis Carmen.
" Bagaimana dengan- "
Baru saja Carmen hendak berbicara, laki-laki itu memotong perkataannya dengan sinis.
" Kau tak akan pernah tau namaku. "
" Ah begitu ya... "
Kevin, Alex, Howie dan Nick seketika merangkul Carmen, meninggalkan laki-laki tadi di belakang mereka.
" Jangan pedulikan kata-kata Brian. Dia sedang sensitif.. "
Howie tersenyum pelan pada Carmen yang menunduk, sepertinya masih memikirkan kata-kata laki-laki yang Howie panggil dengan sebutan Brian.
__ADS_1
" Tidak biasanya Brian sensitif begitu, jangan terlalu di pedulikan ya. " Kevin ikut ikut tersenyum seraya menatap laki-laki bernama Brian itu.
" Baiklah, aku akan mengantar Carmen keliling sekolah, jadi- " Nick hendak melanjutkan kata-katanya, hingga di potong oleh keempat kawannya.
" Aku ikut! "
" Aku juga! "
" Aku juga!! "
" Baiklah, ayo gengs. "
\*\*\*\*\*
Kini Carmen dengan kelima kawan barunya tengah berkeliling Moonrise Academy. Mulai dari kelas-kelas, asrama baru dan asrama lama, kamar mandi, aula, hingga sekarang berada di perpustakaan yang sangat besar dan luas.
" Oke, ini adalah perpustakaan sekolah ini! "
" Woahhh.. Benar-benar luas.. Apa kalian semua suka membaca? "
" Tidak terlalu. Diantara kami, yang paling suka baca buku adalah Nick dan Brian. " Howie tersenyum seraya merangkul Nick.
" Ayo ke lapangan. Carmen pasti menunggu bagian ini. " Kevin berseru hingga akhirnya semuanya berjalan menuju lapangan.
Beberapa saat kemudian, Nick, Carmen dan yang lain sudah sampai di lapangan yang cukup ramai bahkan selarut ini.
" Mereka bermain apa? " Carmen menunjuk kearah beberapa orang yang tengah melempar tangkap sebuah bola di lapangan.
" Namanya Death Ball. Sebuah pertandingan olahraga disini yang menggunakan bola berwarna putih, orange dan biru, kemudian melemparnya ke tiga lubang yang berada di masing-masing lapangan. "
Alex menjelaskan seraya menatap orang-orang yang tengah bermain.
" Disebut Death Ball karena bola di permainan ini. Ada satu bola yang di desain dengan teknologi sehingga kedua tim memperebutkan bola terbang itu, sisanya memperebutkan dua bola yang lain. " Nick tersenyum seraya menjelaskan.
" Ohhh begitu ya... "
Di saat Carmen, Nick dan yang lain tengah berdiri di pinggir lapangan seraya menjelaskan tentang Death Ball, tiba-tiba sebuah bola berwarna orange yang berukuran cukup besar melayang kearah mereka.
" Gawat... " Nick yang melihat itu sontak memberi kode pada yang lain.
BUAAKKKK!!!
Nick, Brian, Howie, Alex dan Kevin menatap kaget Carmen yang berdiri di depan seraya menangkis bola Death Ball dengan tangannya sendiri.
Sebelumnya, di saat setelah Nick melihat bola Death Ball menuju mereka, Nick seketika berdiri tepat di depan Carmen, melindunginya.
Sementara Howie dan Alex berdiri di depan Nick dan Carmen, bersiap menangkis bola Death Ball itu. Dan Brian berdiri di samping kiri Carmen, bersiap mendorong gadis itu jikalau bola itu melayang terlalu kencang.
Tapi... Carmen seketika menarik Nick agar berdiri di samping kanannya dan mendorong Howie dan Alex agar menyingkir. Sehingga Carmen yang menahan bola Death Ball itu.
__ADS_1
" Carmen... "