
Carmen terbangun di sebuah tempat yang disinari cahaya rembulan. Ia menatap sekeliling tempat asing itu. Hingga Juni berjalan menghampiri nya.
" Sudah sadar, Carmen? "
Carmen menatap Juni dengan tatapan benci, beruntung buku nya masih berada di tangan Carmen.
" Apa yang kau mau, Randall? "
Juni tertawa, tawa nya menggelegar ke seluruh ruangan. Ia menatap Carmen dengan senyuman sinis.
" Apa yang aku mau? Kau juga seharusnya tau dari ingatan mu. " Juni tersenyum, iris nya perlahan berubah menjadi merah gelap.
" Kau tau kalau aku tak bisa melepaskan mu dari mantra itu. Hanya Victoria yang bisa. " ucap Carmen.
" Ya ya ya, tapi kau bisa menggunakan buku itu. Berarti kau bisa mencobanya untuk melepaskan ku dari mantra menyebalkan ini, kan? "
Carmen menatap sekeliling lagi, Ia bangkit dari duduk nya dan menghampiri Juni.
" Di mana aku? "
" Tenang saja, kau ada di tempatku. "
Juni berjalan menjauhi Carmen, Carmen sudah bersiap dengan sebuah pisau di belakang nya. Sontak, Carmen berlari kearah Juni dan menusuk Juni.
" Ahh.. "
Juni sontak berbalik, mencabut pisau yang tertusuk di perutnya dengan kasar. Ia menatap tajam perempuan di hadapannya.
" Apa yang- "
Juni seketika menahan kedua pergelangan tangan Carmen, membuat perempuan itu tidak bisa bergerak. Juni menahan tubuh Carmen, sehingga Carmen tak bisa pergi.
" Kau berani juga ya, Carmen. "
Carmen langsung menendang Juni dengan kencang, Ia berhasil kabur walau sementara. Juni seketika melesat kearah Carmen dan mencekik lehernya.
" Aku tak ingin melakukan ini, karena kau adalah seseorang yang tubuh ini sukai. " ucap Juni, atau bisa kita bilang, Randall.
" Randall... Kau brengsek! "
Randall terkekeh, kemudian semakin mencekik Carmen hingga tubuh perempuan itu terangkat tinggi-tinggi.
" Kau akan menjadi milikku, Carmen. Cepat atau lambat. "
14.14 : Devils Lake
Julian, Nick, Jay dan yang lain kini berdiri di sebuah bangunan tua yang terlihat sudah di tinggalkan.
" Ngapain kita kesini? " celetuk Billy.
" Mencari sedikit bantuan tambahan. "
Mereka semua masuk ke dalam bangunan itu. Baru saja mereka sampai di ambang pintu bangunan itu, sontak mereka di serang oleh seseorang.
" **** man! " ucap Aaron dan Charles bersamaan.
Tiba-tiba, seorang perempuan berkulit pucat, bermata merah, memiliki rambut hitam legam yang digerai sebahu, berdiri di hadapan mereka semua.
" Hahaha sudah kuduga akan ada yang datang! Setelah tuan Randall memberitahu ku! " Perempuan itu tertawa layaknya orang gila.
__ADS_1
Seketika, perempuan itu menghilang layaknya asap, membuat seluruh laki-laki itu siap siaga
" Sialan, Roy sudah dihabisi oleh perempuan itu. " Gerutu Julian ketika melihat tubuh seorang laki-laki yang sekarat.
" Hati-hati gengs. "
Semuanya saling melindungi, termasuk Julian yang berada di paling depan. Semuanya sudah bersiap siaga untuk menerima serangan dadakan dari perempuan itu.
" Haha, aku menangkap mu! "
Perempuan itu seketika muncul di belakang Julian, ia menyentuh Julian. Membuat laki-laki itu terjatuh, tak berdaya.
" Julian! Kau tak apa?! " Jay berusaha membopong tubuh Julian.
[ " Aneh. Energinya terus terkuras habis setelah perempuan itu menyentuh nya! " ] seru Howie.
[ " Apa? " ] Semuanya sontak menatap Howie, tak percaya dengan perkataan laki-laki itu.
" Summon... The Endlessly Backpack. "
Seketika, muncul sebuah ransel di hadapan mereka. Nick meraba isi ransel itu, ia memegang sebuah pedang yang sama persis dengan yang ia pegang di balai kota.
" Pedang ini- "
" Di dalam ransel ini, terdapat barang-barang yang kalian butuhkan. Termasuk pedang itu. Gunakanlah, dan selamatkan Carmen, untukku. "
Julian bangkit, perempuan itu seketika membunuh Julian, tepat di depan mereka semua. Jantung Julian di cabut paksa, tempat itu kini berlumuran darah, tubuh Julian seketika berubah menjadi debu, tanda sudah tiada.
" Benar-benar nikmat sekali energi nya! "
Nick menggenggam erat pedang miliknya dan langsung menusuk perempuan yang berada di hadapannya.
Perempuan itu tersungkur, Nick menatap perempuan itu dengan datar. Pedang nya kini berlumuran darah.
" Di mana tempat tuan mu yaitu Randall? " Tanya Leo, iris Leo seketika berubah menjadi kuning. Begitu juga dengan iris Demonark di hadapan mereka.
" Apa yang Leo lakukan? " Bisik Kevin kepada Aaron.
" Dia sedang menghipnotis perempuan itu. "
Leo memejamkan matanya, iris nya kembali normal. Ia bangkit dan menghampiri kawan-kawannya.
" Ayo, akan aku tunjukkan tempat nya. "
Sementara itu, Carmen kini terbaring lemah di ruangan yang sama. Energi nya sudah terkuras habis. Ia seketika terbangun, menatap waspada Juni yang menatapnya juga.
" Lihatlah, Carmen. " Randall menunjuk ke atas. Menunjuk rembulan yang berubah warna menjadi merah gelap.
" Blood Moon sebentar lagi terjadi. Di saat itu, aku akan menggunakan ritual nya. Kau akan menjadi milikku.. "
Carmen menatap rembulan berwarna merah itu. Kemudian menatap Randall dengan tatapan benci.
" Sampai kapanpun, aku bukanlah milikmu, Randall. "
" Tak apa, akan aku buat kau menjadi milikku, Carmen. "
Carmen memejamkan matanya, berharap Nick dan teman-temannya datang menolongnya tepat waktu.
" Dimana pun kalian berada, aku mohon. Tolong aku! " Batin Carmen.
__ADS_1
\*\*\*\*\*
[ " Tolong aku, Nick. " ]
Nick yang sedang melesat, kini menghentikan langkahnya. Membuat yang lain terheran-heran.
" Ada apa, Nick? " Alex yang berada di samping Nick langsung bertanya.
Wajah Nick memperlihatkan bahagia sekaligus khawatir. Suara di kepala nya tadi, tak salah lagi. Itu suara Carmen.
" Carmen? " Gumam Nick, lagi dan lagi semuanya heran.
" Carmen? Kamu di mana? " Nick bergumam lagi.
[ " Nick... Cari 5 permata di Devils Lake.. " ]
" Apa maksudmu? "
[ " Setelah dapat 5 permata itu... Bawa ke Valley Ark, arah utara dari Devils Lake.. Cepat. Tak ada waktu lagi. " ]
" Bertahanlah, Carmen. Kami akan segera menyelamatkan mu! "
Nick menatap teman-temannya yang heran dengannya.
" Kita harus ke Devils Lake! " ucap Nick yang kemudian langsung bersiap melesat.
" Akan aku tunjukkan dimana. Aku tau dimana Devils Lake. " Leo menyahut, kemudian melesat di paling depan.
" Kami mengandalkan mu, Leo. "
\*\*\*\*\*
Dalam beberapa jam, Nick dan yang lain telah sampai di sebuah tempat bernama Devils Lake.
[ " Howie, apa kamu bisa merasakan energi di sekitar sini? " ] tanya Nick seraya melihat kesana kemari.
[ " Kalau energi Devilark atau Demonark, tidak ada. Tapi aku merasakan energi lain di sekitar sini. " ] jawab Howie, ia menatap kearah yang ia rasa ada energi.
[ " Carmen memberitahu ku, di Devils Lake ada 5 permata yang harus kita ambil. Setelah itu kita bisa menyelamatkan Carmen. " ] ucap Nick.
[ " Kalau begitu, tunjukkan di mana letaknya, Howie. " ]
Setelah Howie memberitahu tiap-tiap letaknya, Nick dan yang lain sontak mencari. Nick yang sudah berada di titik yang Howie katakan, langsung mencari.
[ " Aku menemukannya! " ] seru Billy dan Leo.
[ " Howie, bagaimana di tempat ku? " ] tanya Nick seraya menatap Howie.
[ " Tepat di bawahmu, Nick. " ]
Nick tersenyum pelan, seketika listrik menjalar di tangannya. Ia langsung mengarahkan tangannya ke tanah. Hingga ia menggenggam sebuah permata berwarna merah.
[ " Aku mendapatkannya! " ]
Sementara itu, di tempat Carmen dan Randall.
Randall mengerang, ia memegang kepalanya. Nafasnya tak beraturan. Ia kini melempar semua benda yang ada di sampingnya.
" Devilark, cepat cari 5 Blood Diamond itu! "
__ADS_1