Dendam Gadis Ular & Cinta Pangeran Tampan

Dendam Gadis Ular & Cinta Pangeran Tampan
episode 1


__ADS_3

pertemuan pertama


Gedebuk, gedebuk, gedebuk ....


Suara hentakan kaki kuda berlari di pacu dengan gagahnya oleh seorang pria. Ia berlari memburu di hutan belantara.


"Syuuuut! Jleb!" bidikan dari mata panahnya tepat mengenai seekor rusa.


"Brak, ngik, ngik, ngik." Jeritan kesakitan terdengar dari hewan buruan tersebut akibat panah yang tertancap di sisi perutnya.


Tanpa menunggu perintah semua pengawal yang sedari tadi mengikuti sang pria telah berlari menghampiri buruan tersebut, lantas mengikat kedua pasang kaki sang rusa.


"Bawalah! Aku masih ingin mencari buruan lagi." Ucapnya dengan gagah.


"Baik yang mulia."


Para pengawal langsung membawa buruan tadi keluar hutan menuju tenda yang sudah berdiri tidak jauh dari tempat tersebut.


🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Dengan masih menunggangi kudanya Dia menelusuri lebih jauh ke dalam hutan.namun berhenti seketika saat melihat pemandangan indah di depannya.


Lembah yang indah terpampang di hadapan matanya.air terjun dan Danau di bawahnya dengan kilauan air jernih membuat dirinya ingin merasakan air yang bisa melepas dahaganya tersebut,meloncat dari punggung sang kuda menuruni lembah menuju Danau.


Dia tertegun sejenak,begitu indah dan damai melihat pemandangan di hadapan matanya, melepaskan kepenatan dan dahaga yang sudah membuat kerongkongan nya segar kembali.


"Baru kali ini aku melihat tempat ini." Gumamnya lirih.


Tak henti matanya mengelilingi setiap sudut menatap Danau tersebut, suara deburan air terjun semakin menenangkan jiwa.


"Hemm." Tiba-tiba matanya terpaku,terpaku pada sosok mahkluk yang sangat cantik menawan dan mempesona mata yang melihatnya.


Seorang Gadis cantik, anggun, dengan kulit yang putih mulus sedang menggunakan pakaiannya di balik bongkahan batu besar. Gadis itu baru selesai mandi di sana, dan ketika hendak pergi dan memutar badan nya.


"Deg." Jantung Sang Gadis berasa berdesir dengan cepat, begitu terkejut melihat seorang pria yang tiba-tiba berada di hadapannya.


"Ka-kamu siapa?"gelagapan mundur dan menabrak batu besar di belakang punggung nya, hampir terjatuh terjerembab ke air.


"Hei, hentikan langkahmu! ka-kamu siapa?." Masih bertanya dengan rasa takut yang begitu besar.


Pria itu masih terpaku, menatap wajah yang membuat dia tidak dapat berkata-kata, yang membuat debaran jantungnya begitu cepat, melangkah perlahan mendekati Sang Gadis yang sedari tadi merasa ketakutan.


Ia melangkah tanpa berkata, melangkah perlahan membuat sang Gadis makin gelagapan.


"Hei, apa kau sudah tidak waras!kenapa melihatku seperti itu? apa kau tidak bisa bicara? kenapa tidak menjawabku?" Gadis itu berteriak tanpa henti tanpa jeda, begitu takut, menutup wajah cantiknya dengan kedua telapak tangannya seraya memalingkan wajahnya ke samping.


"Pergilah! apa yang sedang kau lakukan?kau jangan macam-macam padaku." Dia berteriak terus menerus.


Lama gadis itu berteriak menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, debar jantungnya semakin cepat memburu membuat nafasnya tidak teratur.


setelah beberapa menit dia tidak merasakan langkah dan deru nafas orang di hadapannya.


Gadis itu memberanikan diri, mengintip dari sela-sela jari tangannya yang sangat lentik. Lalu mendongak melihat sekeliling danau tersebut, namun tidak melihat siapa pun disana.


"Hemmm, apa aku berkhayal?" Bertanya pada dirinya sendiri mengernyitkan kedua alisnya tidak percaya jika dia ternyata salah melihat.


"Akh, sudahlah! mungkin aku sedang berkhayal tentang seorang pangeran, hehe."


Kekeh nya merasa dirinya lucu sekali yang tiba-tiba melihat seorang Pria namun dalam sekejap mata sudah tidak ada.

__ADS_1


Gadis itu menghela nafas dan berniat beranjak pergi dari sana menoleh ke arah atas tebing.


"Oh astaga, ternyata Pria itu memang nyata!


siapa dia ?kenapa dia tidak mengatakan apapun tadi?dan kenapa dia bisa begitu cepat pergi dan menanjaki lembah?" Gumam gadis itu.


Pria tampan tadi sudah berada di atas tebing menoleh ke bawah danau dan menatap meneliti sang Gadis penuh dengan pertanyaan di dalam benaknya, siapa gadis yang begitu menawan itu? memalingkan badannya ketika para pengawal memanggilnya.


"Yang Mulia! Anda sedang apa di sini?"


Menoleh seketika.


"Aku baru dari Danau di bawah sana." menunjuk Danau di belakang punggung nya. Tapi dia sudah tidak melihat lagi gadis cantik tersebut.


"Baik Yang Mulia! mari Yang Mulia Kita harus keluar dari hutan hari sudah mulai Gelap, kita harus kembali segera ke kerajaan Yang Mulia."


"Kaisar sudah menunggu Anda di kerajaan." Lanjut si pengawal.


"Baiklah! ayo!" Seraya menunggangi kuda putihnya dan berjalan santai keluar dari hutan.


Di sebuah Istana kerajaan..


"Putra Mahkota kau sudah pulang, Nak?" Suara yang begitu damai di dengar sang Pria yang di panggil Putra Mahkota itu.


Putra Mahkota tersenyum manis mendengar suara itu, membalikkan tubuh kekarnya untuk melihat ke arah pemilik suara.


"Yang Mulia permaisuri." Senyum merekah dari bibir nya membuat wajah tampannya begitu cerah.


"Panggil aku ibu, kau ini anak yang sangat nakal, berburu berhari-hari meninggalkan ibumu ini." Senyuman merekah di bibir Permaisuri melihat anak laki-lakinya berdiri gagah di hadapannya.


"Iya ibu, ibu yang paling aku sayang." Pelukan hangat kedua nya mencairkan suasana kerajaan.


"seekor Rusa ibu. Pengawal sudah membawanya menuju dapur istana."


"Baiklah! bersihkan tubuh mu dahulu, Kaisar sudah menunggumu di ruang pertemuan, beliau ingin membicarakan hal penting bersamamu." Ucap sang Permaisuri.


"Baik bu!"


"Dayang! siapkan air hangat untuk putra mahkota sekarang." Seru permaisuri kepada dayang-dayang istana.


Permaisuri dan Putra Mahkota pun berjalan beriringan dan berpisah saat di ruangan kamar sang Pangeran tercintanya.


"Mandilah dulu, ibu akan menemui kaisar, memberitahukan dirimu sudah kembali." Mengusap lembut kedua pipi Pangeran dan berlalu dari hadapannya.


Pangeran memasuki ruangan kamarnya yang begitu megah. Beberapa Pilar menjulang tinggi menyangga kamar luas itu, ornamen-ornamen yang memperlihatkan ciri khas suatu kerajaan, di penuhi lilin-lilin kecil untuk menerangi ruangan istirahat tersebut, di tengah ruangan terhampar tempat tidur megah, begitu megahnya. Sisi lain kolam mandi yang begitu luas khusus sang pangeran membersihkan diri di kelilingi tirai untuk menutup kolam itu, di tepi kolam berjajar lilin-lilin dengan aneka aroma yang menenangkan membuat hati dan jiwa terasa nyaman saat merendam diri di dalamnya. Taburan bunga mawar menambah harumnya tempat merebahkan diri dari segala kepenatan,


Dayang-dayang yang tadi pun sudah menyiapkan air hangat serta keperluan sang Pangeran untuk membersihkan diri.


"kalian pergilah,aku akan membersihkan diri sendiri," Seraya melambaikan tangannya menyuruh para dayang-dayang keluar dari kamarnya.


"Yang Mulia, kami akan membantu membersihkan tubuh Anda sesuai perintah sang permaisuri." Ucap seorang dayang.


"Tidak perlu! aku ingin sendiri saat ini!pergilah,"


"Tapi Yang Mu_" Belum sempat Dayang tersebut berbicara, Pangeran membentaknya.


"Pergi kataku." Dengan nada lantang.


"Ba-baik Yang Mulia."

__ADS_1


Dayang-dayang itu pergi meninggalkan Pangeran dengan perasaan yang sangat takut.menunduk keluar kamar dan menunggu di luar kamar Sang Pangeran.


"Sedang apa kalian di luar sini? kenapa kalian tidak membantu pangeran membersihkan tubuh nya?" Suara yang membuat para dayang makin ketakutan.


"Yang Mulia Permaisuri, Ya-ng Mu-lia pangeran be-li-au ingin membersihkan tubuh sendiri dan menyuruh kami keluar." Dengan suara bergetar dan gagap berharap tidak mendapatkan hukuman pada dirinya.


"Baiklah! aku akan melihatnya."


permaisuri meninggalkan para dayang dan melangkah menuju putra satu-satunya untuk membantu membersihkan tubuh.


Permaisuri Jiang Xi adalah salah satu ibu suri yang sangat ramah-tamah terhadap Dayang-dayang serta seluruh penghuni istana kerajaan, beliau tidak pernah membentak dan merendahkan siapapun sekali pun pada pengabdi nya.


Sifatnya itu turun kepada Putra Mahkota Satu-satunya di istana Xia ini.


Maka dari itu Pangeran tersenyum ketika salah satu Ibu Surinya menyambut hangat kedatangan dia saat pulang dari berburu.


Pangeran sangat menyayangi Ibu Suri Jiang Xi, sifatnya berbeda dengan Ibu Suri yang lainnya. Pangeran tahu jika Jiang Xi bukan ibu kandung yang telah melahirkannya, tapi dia tetap menyayangi dan mencintai serta menghormati Ibu Jiang Xi lebih dari ibu kandung nya. Sifatnya yang begitu lembut membuat pangeran selalu merasa nyaman di dekatnya.


Segala gundah gelisah hatinya selalu di luapkan tanpa ragu di hadapan ibu tirinya itu.


"Putra Mahkota! kenapa tidak menyuruh para Dayang untuk membantu membersihkan tubuh mu? apakah kau sedang memikirkan sesuatu sehingga tidak ingin ada yang membantumu?"


"Ibu! sejak kapan Anda berada di sini? apa yang anda bicarakan?" Membalikan tubuh menoleh ke arah suara lembutnya.


"Hei! kamu fikir ibumu ini tidak tahu, jika anak tampan nan gagah ini sedang banyak fikiran, heh!" Sambung sang Ibu Suri menatap lekat-lekat putra mahkota nya.


"a-apa yang ibu katakan? aku sedang tidak memikirkan apa-apa saat ini." Tegas pangeran seraya membalikan tubuhnya dan menyandarkan punggungnya kembali.


"Hemmm! baiklah kalau tidak ingin menceritakan pada Ibumu ini."


"Tapi_ seperti nya Pangeranku sedang jatuh cinta pada pandangan pertama." Menggoda pangeran.


 


"Jatuh Cinta? akh Ibu salah terka! siapa yang sedang jatuh cinta." Memendamkan wajahnya ke air tetap mempertahankan wibawanya di depan Ibu Suri kesayangannya itu.


 


"Wajahmu yang memberitahukan putraku, aku ini ibumu, seorang ibu tidak pernah salah,nak."


kini Permaisuri duduk di belakang punggung putranya, membantu membersihkan tubuhnya. Sesekali melihat wajah putranya dari pantulan air jernih yang terhalang taburan bunga mawar itu, masih terus tersenyum menunggu jawaban putranya.


"Akh, ibu ini."


"Katakan ada apa ibu kesini, aku akan siap sebentar lagi dan akan menemui kaisar segera." Mencoba mengalihkan perbincangkan mereka.


 


"Tidak ada! Ibu melihat para dayang berdiri di luar sana, setelah bertanya pada mereka ibu masuk untuk membantu mu membersihkan tubuhmu, tapi sepertinya putraku sedang melamunkan sesuatu."


 


"Ya sudahlah, cepat bersiap lah untuk menemui Kaisar di ruang pertemuan."


Ibu suri meninggalkan Pangeran sendiri untuk bersiap-siap.


-Bersambung-


Follow akun authornya ya

__ADS_1


-Darkorchid-


__ADS_2