
GADIS LICIK
Di ruang makan istana
"Kalian kenapa begitu lama sekali? Di mana pangeran, dia tidak ikut bersama kalian?" Tanya ibu suri pertama saat putri Young dan permaisuri kedua sampai di ruang makan.
"Pangeran akan segera datang. Mari kita mulai saja makan siang." Jawab Ibu suri kedua seraya duduk di samping kanan ibu suri pertama, di ikuti putri Young yang duduk di samping ibunya.
"Maaf. Aku terlambat." Pangeran masuk ke dalam ruang makan istana, nampak sangat tampan dan gagah, dia duduk di ujung meja makan. Menghiraukan tatapan tajam dari sang kaisar yang mengarah padanya.
Beberapa pelayan menyajikan makanan di atas piring sang pangeran, suasana hening tanpa ada obrolan, tidak seperti biasanya.
"Kaisar! Hamba ingin mengusulkan, bagaimana jika pertunangan antara pangeran dan putri Young di percepat saja waktunya." Ujar Ibu suri seraya melirik ke arah pangeran dengan tatapan dingin.
Pangeran melirik ibu suri kedua dengan ujung ekor matanya, dia ingin sekali membantah perkataan dari ibu nya itu, namun sekarang bukan waktu yang tepat.
"Agar pangeran tidak lupa pada putri Young bahwa, gadis cantik dari Dinasti Young ini adalah yang akan menjadi istrinya." Ucap Ibu suri kedua menjelaskan, dengan sebuah senyuman di bibirnya.
"Bagaimana pendapatmu putri Young?" Tanya ibu suri kedua pada sang mempelai wanita.
"Hamba hanya mengikuti apa yang baik menurut orang tua saja ibu suri." Senyum putri Young.
"Baiklah! Lusa kita adakan pesta pertunangan antara pangeran dan putri Young, bagaimana tuanku?" Ucap ibu suri kedua pada kaisar Xia.
"Persiapkan semuanya, lusa pertunangan mereka akan di langsungkan." Seru kaisar Xia mengakhiri acara makan siang tersebut.
Ibu suri kedua lega mendengar persetujuan dari kaisar Xia, tanpa susah payah menjelaskan alasannya. Ibu suri kedua melihat ke arah pangeran, wajah pria itu tetap datar tanpa expresi namun ada rasa kesal jauh di dalam lubuk hatinya.
Permaisuri pertama merasa ada yang janggal, kenapa suri kedua begitu sangat tergesa-gesa ingin melangsungkan pertunangan itu begitu cepat, pasti ada yang tidak beres fikirnya.
Hati permaisuri pertama terus bertanya-tanya, ada yang ingin dia tanyakan pada suri kedua.
"Suri kedua tunggu." Panggil suri pertama saat Kaisar dan yang lainnya sudah meninggalkan ruang makan.
Suri kedua berhenti seraya tersenyum.
"Aku ingin bertanya, kenapa anda begitu tergesa-gesa melangsungkan pertunangan ini, apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanyanya pada suri kedua.
__ADS_1
"Ah itu, hamba hanya merasa tidak sabar menyambut putri Young masuk kedalam keluarga kerjaan Xia saja Yang mulia." Jawab suri kedua berbohong.
"Maaf Yang Mulia, hamba undur diri dulu, hamba akan menyiapkan semua kebutuhan untuk perayaan pertunangan pangeran dan putri." Ucapnya lagi seraya meninggalkan suri pertama di ruang makan. Suri kedua hanya mencoba menghindari pertanyaan-pertanyaan yang akan di lontarkan suri pertama. Dia tidak bisa menjawab lebih lagi nanti
Permaisuri pertama tertegun, dia masih tidak percaya dengan jawaban yang di berikan oleh suri kedua. Akhirnya pun dia beranjak pergi dari tempat dia terdiam saat ini. Suri pertama menyusul suri kedua dan para dayang yang saat ini sudah sibuk mempersiapkan semua kebutuhan pesta nanti.
Sedangkan di ruang aula pertemuan istana para lelaki bercanda gurau, hari ini mereka melepaskan diri dari kegiatan kerajaan.
Sedangkan kedua Kaisar berjalan-jalan mengelilingi istana seraya bercengkrama di sepanjang perjalanan. Pangeran Xia Ling pun bersama mereka.
"Pangeran Xia Ling." Seru putri Young, ketika putri itu melihatnya bersama kedua Kaisar.
"Ayahanda, bolehkan hamba mengobrol berdua saja bersama pangeran?" Tanya putri Young pada ayahnya.
"Tentu saja putri." Jawab dari kaisar Xia.
"Biarkan mereka berdua." Ucap kaisar Xia seraya menepuk pundak besannya. Dan mereka berdua melanjutkan perjalanan nya mengelilingi istana.
"Pangeran hamba sudah tahu semuanya, semua yang anda katakan pada ibu suri Jiang Xi. Pangeran walau anda tidak mencintai hamba, hamba tidak keberatan akan hal itu, hamba hanya mengikuti apa yang menjadi keinginan orang tua saja. Pernikahan ini untuk kemakmuran kedua kerajaan, jadi hamba hanya bisa menurut saja." Ucap putri Young padanya. Mereka berdua berjalan dan berhenti di sebuah taman bunga yang luas.
"Pernikahan ini akan tetap berlangsung, aku tidak akan menghentikan nya, namun asal kau tahu, aku tidak akan pernah menjadi suamimu seutuhnya." Ujar Xia Ling.
"Kita tidak akan pernah bersentuhan sama sekali, karena aku tidak akan pernah mencintaimu. Aku hanya akan menyentuh gadis yang aku cintai, dan dialah yang akan memberikan keturunan untukku kelak." Lanjutnya lagi.
"Hamba mengerti pangeran, hamba akan menerima apapun itu." Ucap putri Young tersenyum, senyuman itu terlihat di paksakan.
Ada satu hal yang sedang di fikirkan oleh gadi itu saat ini.
"Jika sudah tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan, kita kembali sekarang." Ujar pangeran seraya melangkah meninggalkan putri itu.
"Ah iya pangeran, sudah tidak ada lagi." Ucap gadis itu.
"Mungkin aku bisa menerima jika kau abaikan seperti ini pangeran, tapi aku tidak akan pernah terima kau tidak ingin menyentuhku sama sekali, kita lihat saja pangeran Xia Ling, kau akan tunduk padaku tidak lama lagi. Aku akan membuatmu melupakan gadis desa itu, dan memberikan cintanya padaku. Kau hanya akan mencintai ku, hanya aku, selamanya." Gumamnya, ketika pangeran sudah pergi dari hadapannya.
Dia berdiri di atas jembatan pendek di atas kolam ikan, tangannya meremas kayu untuk pegangan di jembatan tersebut, memicingkan matanya dan tersenyum sinis.
"Aku akan mengakhiri kisah cinta pangeran dan gadis desa itu, tidak akan ada yang bisa merebut sesuatu dariku. Apa yang aku inginkan akan aku dapatkan bagaimanapun caranya." Gumamnya lagi.
__ADS_1
"Hei calon mempelai wanita, kenapa berada disini sendirian saja?" Sapa suri kedua ketika melintas di taman itu dan melihat putri Young berdiri di atas jembatan sendirian saja.
"Eh, ibu suri Jiang Xi! Aku, hamba." Young Yeu tergagap dan bergetar, keningnya berkeringat.
"Apa dia mendengar apa yang aku katakan?" Batinnya.
"Kenapa putri, kenapa kau terlihat gugup." Ucap suri kedua menyelidik raut wajah sang gadis.
"Tidak, hamba hanya terkejut anda tiba-tiba di sini." Ucap Young Yeu Ar berbohong.
"Putri Young Yeu Ar, aku mendengar percakapan antara kalian tadi. Aku sangat menyayangi pangeran sejak kecil, dan dia sangat menyayangiku, aku selalu menyukai apapun yang dia lakukan. sejak kecil dia sangat nakal dan aku tidak pernah mengeluh atau memarahinya. Namun sekarang dia melakukan kesalahan yang besar, jika dia berani menentang kaisar itu akan membuat dirinya dalam masalah. Aku tidak ingin kehilangan putra yang aku sayangin, maka dari itu aku melakukan ini. Memajukan waktu pertunangan kalian, agar pangeran tidak bisa berbuat hal di luar batas." Ujar Suri kedua menjelaskan alasan mengapa dia mempercepat waktu pertunangannya.
"Dan kamu, tugas kamu adalah mengambil hati dari pangeran, buatlah dia jatuh cinta padamu." Lanjutnya lagi.
"Tentu ibu suri, aku akan membuat pangeran mencintaiku." Jawab Young Yeu Ar polos, dan tersenyum.
"Tentu saja aku akan membuat pangeran jatuh cinta padaku, tidak akan lama lagi, anda tidak usah khawatir Yang Mulia ibu suri." Ucapnya dalam hati, memperlihatkan senyum palsu di wajahnya.
"Terimakasih! Kalau begitu aku akan kembali kedalam. Apa kamu akan diam saja di sini?" Seru ibu suri seraya melangkah meninggalkan gadis itu.
"Iya, sebentar lagi saja. Hamba akan pergi nanti." Jawabnya.
"Baiklah." Seru ibu suri kedua.
Putri Young Yeu Ar merasa rencananya akan berjalan lancar dengan dukungan dari suri kedua. Bagus jika permaisuri itu mendukung dirinya untuk menjadi pasangan pangeran.
Rintangan yang akan dia hadapi pun tidak akan sesulit yang di bayangkan, dia tersenyum licik membayangkan gadis desa itu pergi meninggalkan pangeran untuk selamanya.
**Bersambung
hai hai readers, like dan coment ya di novel author ini, jangan lupa vote juga, dukung author dalam kontes.
I luv kalian semua para readers.
Happy reading
Darkorchid**
__ADS_1