
TAMAN KOTA
"Kita tak usah saling ketemu lagi Wen."
Wenny terkejut mendengar kata-kata randy barusan.
"Apa maksudmu, kok bicara seperti itu?" tanyanya heran.
"Kita berbeda prinsip, kita dari dunia yang berbeda," Randy memendam sedih di hatinya.
"Ha ha ha...ini prank ya?"
"Tidak, Wen. Aku serius!" jawab pemuda itu.
Wenny tertawa, "Ha ha sudah ah becandanya, aku sudah kebal."
"Lebih baik kita bahas strategi melawan Demonic, Lentera Merah sudah jadi korban," sambung Wenny penuh semangat.
Randy menggenggam tangan Wenny erat, mereka menatap satu sama lain.
"I am serious, aku akan hadapin demonic suatu saat nanti."
Wenny bingung, "Iya aku tahu, tapi kalau kita bersama itu lebih baik."
"Dengar Wen, kita sudah tidak bisa berhubungan lagi, aku serius!" tegas pemuda itu sambil menahan gejolak di hatinya.
"Maksudmu?!"
"Kita putus!!!"
"Setelah yang kita lalui, kau dengan gampangnya ngomong begitu!" Gadis itu seakan masih tak percaya apa yang dikatakan kekasihnya.
"Kau bilang cinta padaku, kau bilang mau jaga diriku, apa semua itu bohong?" tanya Wenny sambil mulai berkaca-kaca matanya.
Randy terdiam mendengar kata kata itu.
Hatinya semakin tertusuk..
Namun kembali, dia memikirkan nasib keluarga dan teman-temannya.
"Aku minta maaf, Wen...."
" Cuma itu yang bisa kau katakan?" Wenny tampak mulai terisak.
Randy jujur ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi hanya kata-kata ini yang terucap...
"Aku terpaksa."
"Terpaksa? Kata-kata macam apa itu?"
Randy mencoba memeluk Wenny, tapi gadis itu mendorongnya.
"Ternyata aku salah menilaimu, juga salah membelamu, aku salah atas semuanya," Wenny menangis sedih.
Selama ini dia belum pernah merasakan cinta, belum pernah berkorban untuk siapapun, belum pernah mengalami diputuskan tiba-tiba.
Randy berkata lirih, "Aku cinta padamu, tapi aku tak bisa bersamamu lagi."
PLAKKKKK
Wenny menampar keras pipi Randy.
" Cukup!!!! Pria itu pembohong!! Ternyata jatuh cinta begini rasanya!"
"Persetan denganmu, Randy Macan! Baik kalau itu maumu!"
Wenny pergi berlari meninggalkan pemuda itu sendiri.
Randy terduduk di kursi taman lemas.
Hatinya hancur, bimbang dan tak menentu. Jujur dia juga belum pernah jatuh cinta seperti ini.
Wanita Ketua Geng Kunti ini yang menjadi cinta pertamanya....
Dia hanya duduk memandang wanita itu pergi.
Angin dingin tak lagi mengganggunya..
Tak terasa setitik air mata mulai jatuh.
Dari seorang Jakam...
Dari seorang Randy Macan.
Untuk pertama kalinya demi cinta.
"Maafkan aku, Wen."
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
__ADS_1
(MABES DEMONIC)
Arifin menyimpan tabung berisi jantung Heru Langsat, yang merupakan keturunan raja Tiongkok itu.
Dia tertawa dan berkata pada Denny Crow dan Syarief Skull.
"Ha ha ha! Kerja yang bagus, Denny. Syarat pertama sudah kudapatkan. Tinggal mengambil darah Randy Macan dan Wenny Kunti!"
Denny mengangguk, "Kapanpun, aku siap mengambil darah mereka. Tapi jujur aku tidak tega membunuh Wenny."
"Huh! Wenny tidak cocok untukmu. Lagipula Mr Thorn sudah tidak begitu menguntungkan lagi!"
Syarief lalu angkat bicara, "Lapor Tuan. Polisi daerah yang anti korupsi, mulai mencurigai kita atas pembantaian Lentera Merah."
"Persetan dengan mereka! Kita tunda dulu aktifitas kita untuk sementara. Besok lusa, kita baru ambil darah Randy dan Wenny."
"Tapi bagaimana cara kita memaksa Randy menyerahkan darahnya? Kita keroyok dia ramai-ramai?" tanya Denny.
Arifin menatap tajam adiknya, lalu tersenyum licik, "Untuk menangkap macan, kita perlu memberi umpan, bukan?"
Denny dan Syarief paham betul arti perkataan Arifin Ghoul. Sungguh rencana licik dan kejam.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
(THORN MANSION)
Setelah pertemuan di taman dengan Randy, Wenny yang hancur hatinya, dikurung oleh Ayahnya di mansion mewah itu.
Dia murung dan tidak mau makan sama sekali. Hatinya terluka sangat dalam. Tak sangka, gadis kuntilanak ini akan kehilangan cinta pertamanya.
Devi berusaha menghiburnya, namun jiwa gadis itu sudah merana dan nelangsa.
"Kak Wenny, sudahlah. Kita harus move on. Bukankah prinsip utama geng Kunti adalah melupakan masa lalu?" hibur Devi.
"Apa arti cinta? Hanya nikmat sesaat, lalu sisanya hanya merupakan kepedihan! Ternyata laki-laki itu brengsek!" seru Wenny sembari memukul tembok kamarnya.
"Tidak semua laki-laki begitu, Kak. Mungkin Randy tak ada pilihan lain. Pasti ada penyebabnya," sahut Devi pelan.
"Sudah! Pergilah, Devi. Tinggalkan aku sendiri," Wenny terisak lagi.
Devi turut sedih dan mengangguk pelan. "Aku pergi dulu, Kak. Jaga kesehatanmu."
Wenny terus melamun dan bergeming di ranjangnya. Benci, sedih, dendam bercampur jadi satu.
"Randy Macan, aku benci kau!!!!!"
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Randy berjalan masuk apartemennya.
Dia menghubungi Mr Thorn dan mengatakan bahwa dia tidak akan berhubungan dengan Wenny lagi.
"Mulai hari ini akan kujauhi putrimu, lepaskan teman-teman dan keluargaku!" seru Randy di telepon.
"Baik, That's A Deal!" jawab Mr Thorn.
Hanya dalam 1 jam...
Semua teman-temannya yang mendapat masalah, ortunya yang terjebak di luar kota tiba- tiba, bahkan pekerjaan Randy yang terancam, kini pulih kembali.
Dasar Penguasa...
Sekali menjentikkan jari
Sebuah kota bisa hancur.
Randy melamun sendiri di teras apartemen.. dia duduk di dekat tangga exit.
Galau....
Entah kenapa dia terus memikirkan Wenny.
Hati hancur, cinta terkoyak, pikiran kalut seakan melanda pemuda Jakam Devil boyz itu.
Dia memasang lagu "Take My Breath Away" di ponselnya.
pikirannya melayang...
Dilema, Sesal, dan Sedih jadi satu...
Paul yang melihat Randy sendirian langsung menghampirinya.
"Hei Di, kok ngelamun sendirian? Ayolah ikut aku hang out di coffee shop," ajaknya.
"Nope, aku lagi tidak mood kemana-mana" jawabnya pelan.
"Kenapa sih? Curcol lah," Paul duduk di sampingnya.
Randy kemudian cerita permasalahannya ke Paul, dari pertemuan dengan Mr Thorn sampai tadi sore di taman kota.
__ADS_1
"Ya ampun, kenapa tidak cerita? Aku kan bisa bantu cari solusi, " Paul menepuk bahu Randy.
"Sudahlah, lagipula semua sudah terlambat, Wenny pasti benci setengah mati denganku."
Mendadak...
Angin berhembus.
Seiring Seorang Wanita berbaju Pink dengan muka datar namun anggun muncul di depan mereka.
"Alveenia... kok kau bisa disini?" tanya Randy gelagapan.
Paul juga tampak bingung, namun memutuskan diam.
"Aku datang kemari untuk memberi saran, mau didengar syukur, tidak juga gak apa-apa," kata Alveenia tanpa ekspresi.
"Mmm, oke silakan, aku siap dengar," Randy menyahut pelan.
"Cinta bisa datang, bisa pergi, bisa hilang, bisa kembali," Alveenia berbicara sambil matanya menatap tajam Randy.
Tapi dasar oneng, Randy belum ngerti perkataan Alveenia.
" Maksudnya apa itu?" tanya Randy.
GUBRAKKKK
Paul terjatuh karena kaget.
"Artinya jika kau sudah yakin dengan hatimu, lakukan saja, tidak usah peduli kata orang lain," alveenia mengarahkan telunjuk ke dada randy.
"Kejarlah cintamu, selama dia masih ada, sebab cinta bisa hilang" jelasnya.
" Ya, aku mengerti sekarang, aku harus berjuang demi cintaku ke Wenny," randy tampaknya sdh mendapat pencerahan.
Alveenia pamit lalu menghilang entah kemana.
"Si siapa sih dia?" tanya Paul kaget.
"Tauuu, katanya sih sepupu jauhku."
"Aku pergi dulu, Paul! Aku tak mau kehilangan orang yang kucintai!"
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
( THORN MANSION )
Randy yang mengetahui info dari Geng Kunti tentang keberadaan Wenny, nekad datang ke Thorn mansion.
Dia dicegat bodyguard Mr Thorn.
" Mau kemana kau hah?!" bentak mereka.
" Aku mau ketemu Mr Thorn!" serunya.
"Maaf, silahkan pergi saja!" usir mereka.
Wenny melihat dari kaca jendelanya di kamar atas, dia membuka jendela.
"Randy?" tanyanya.
Randy menengadah ke atas, "Wen, maafkan aku, aku salah."
"Aku tak mau kehilanganmu, I really love you, Wen!"
Wenny tersenyum tapi tak menjawab.
"Izinkan aku bertemu ayahmu, Wen. Aku rela melakukan apa saja untuk mendapatkanmu lagi, kau seseuatu yang paling berharga dalam hidup ini," seru Randy.
Mr Thorn muncul di pintu gerbang.
"Kau belum kapok juga ya?" tanyanya.
"Silakan, tuan lakukan apa yang anda mau, aku akan terus mengejar Wenny."
Pria tua itu tersenyum, lalu mempersilahkan Randy masuk.
"Duduklah, anak muda!" katanya.
Wenny datang ke ruang tamu diantar bodyguard, dia duduk bersama mereka berdua.
" Di, aku sudah memaafkanmu, aku juga cinta padamu," kata Wenny.
Mr Thorn menyela, "Aku akan merestui hubungan kalian, jika Randy mampu melewati 2 tes dariku."
Randy dan Wenny saling bertatapan dengan bingung.
" Tes ini cukup berat!"
Mampukah Randy melewati ujian berat dalam cintanya?
__ADS_1
Akankah cinta kan berpihak pada mereka berdua?