Dewa Perang Pelindung Negara

Dewa Perang Pelindung Negara
Bab 10 Suruh Kakek Datang Sendiri


__ADS_3

Bukan hanya Otto, Juniman dan Lena juga ikut kemari.


“Kenapa kalian datang lagi?”


Handi sangat marah ketika melihat mereka bertiga.


Tetapi Handi dan istrinya tidak menyangka Juniman bertiga akan bersikap sopan. “Paman Bibi, Di mana Chelsea?”


Mereka bahkan membawa banyak hadiah.


Hal ini membuat Handi dan istrinya bingung.


“Chelsea tidak ada di rumah.” Ucap Fitri.


Lena lalu bertanya sambil tersenyum, “Bibi, Chelsea pergi ke mana?”


Fitri menggelengkan kepala. “Tidak tahu, dia sudah pergi dengan Asta dari pagi. Aku juga tidak tahu pergi kemana.”


“Oh, kami mengerti. Paman, Bibi, kalau Chelsea sudah pulang, tolong telepon kami. Kami pergi dulu.”


Setelah mereka bertiga pergi, Handi dan Fitri semakin bingung.


“Apa yang sedang mereka lakukan? Memberikan hadiah? Apakah mereka sedang menyanjung kita?”


Fitri tiba-tiba berkata, “Apakah ucapan Asta akan terjadi? Aku mulai tidak mengerti dengan Asta.”


Saat ini, Asta dan Chelsea sedang jalan-jalan santai.


Mereka berada di sekolah mereka yang dulu.


Karena saran Asta, Chelsea sudah mematikan telepon dari pagi.


Ketika Juniman dan yang lain keluar, hari sudah petang.


Mereka tidak langsung pulang, melainkan menunggu di dekat rumah Chelsea.


Setelah menunggu tiga jam, Asta dan Chelsea masih belum pulang.


Budiman juga sudah mendesak beberapa kali.


“Cepat telepon Chelsea dan tanya kepadanya, kenapa masih belum pulang?”


Juniman juga mulai tidak sabar, rokok demi rokok terus dihisap olehnya.


Lena kemudian menelepon Chelsea.


“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif ….”


Mendengar suara dari telepon itu, wajah Lena langsung membeku.


“Dia mematikan ponselnya ….”


“Apa? Mematikan ponsel? Apakah dia sengaja?” teriak Juniman yang marah.


Otto juga mencoba meneleponnya dan masih tidak aktif.


“Chelsea sama sekali tidak tahu hal ini. Tapi kenapa kebetulan sekali? Kenapa dia bisa mematikan ponselnya?” ucap Lena yang curiga.

__ADS_1


“Oh iya, siapa yang tahu nomor Asta? Dia sedang bersama Chelsea.” tanya Juniman.


“Tidak tahu.”


“Aku coba tanya kepada Paman dan Bibi dulu.”


Setelah bertanya, Lena menggelengkan kepala dengan ekspresi kecewa. “Mereka juga tidak tahu nomor Asta, dia baru pulang dua hari lalu.”


“Sialan!”


Juniman sangat marah.


Saat ini, Budiman kembali menelepon mereka dan menanyakan kabar.


Juniman langsung menyuruh Lena untuk menjawabnya.


“Kakek, Chelsea tidak tahu pergi ke mana, ponselnya juga dimatikan. Kami tidak ada yang tahu nomor Asta, Paman dan Bibi juga tidak tahu, mereka sudah pergi dari pagi.”


Setelah mendengarnya, Budiman lebih panik dari siapapun.


Karena setelah mendapatkan proyek ini, kekayaan keluarga Astrid bisa naik sepuluh kali lipat.


“Cepat pergi cari! Sebelum besok pagi, kalian harus menyelesaikan masalah ini!”


Budiman menggunakan semua koneksi keluarga Astrid untuk mencari Chelsea dan Asta di Surabaya.


Semua teman dan rekan kerja Chelsea sudah ditanya, tapi tidak ada yang tahu ke mana Chelsea pergi.


“Apakah mungkin Chelsea pergi dari Surabaya?” ucap seseorang.


Budiman hampir terkena serangan jantung.


Dia melotot ke Tommy dan berkata, “Semua karena salah kamu! Ide busuk apa itu? Kenapa harus memecat mereka? Kenapa harus mengambil kembali perusahaan mereka? Sekarang kita tidak bisa menemukan Chelsea, kamu tahu berapa kerugiannya? Bahkan lebih dari dua triliun.”


Tommy juga ketakutan. “Ayah, aku tidak tahu kalau Chelsea akan menjadi kunci penting! Kenapa Biro Konstruksi Perkotaan hanya mengakui Chelsea seorang?”


“Cepat temukan orangnya! Kalau besok kalian tidak bisa menemukannya jam delapan pagi, aku akan mengambil kembali perusahaanmu! Kalian sekeluarga jangan harap untuk mendapatkan uang!”


“Ayah, aku akan segera menemukannya!” ucap Tommy yang ketakutan.


Budiman lalu melotot ke Willy dan berkata, “Kalian juga pergi cari! Kenapa diam saja di sini? Kalian juga mau uang dua triliun melayang begitu saja?”


“Kami segera pergi!”


Malam ini, semua anggota keluarga Astrid tidak ada yang istirahat, mereka terus mencari Asta dan Chelsea.


Saat ini Asta dan Chelsea sedang tidur di dalam hotel.


Setelah pergi seharian, Chelsea sudah capek. Dia langsung tidur di atas ranjang dan lupa menyalakan ponselnya.


Mereka tidak tahu sudah menelepon Chelsea berapa kali, mungkin lebih dari ribuan kali.


Mereka juga sudah pergi ke rumah Chelsea puluhan kali dan tidak menemukannya.


Sampai pagi hari.


Penyakit jantung Budiman hampir kambuh lagi.

__ADS_1


“Proyek ini menghilang begitu saja! Aku akan mengambil bonus tahunan kalian tiga kali lipat lebih banyak! Tommy, aku akan mengambil kembali perusahaanmu, terserah apa yang akan kalian lakukan! Dasar tidak tahu diri!” ucap Budiman sambil menepuk meja.


Ekspresi Tommy terlihat sangat jelek, dia pun berkata, “Ayah, mungkin mereka pergi jalan-jalan, lalu baterai di ponselnya habis dan lupa dicas.”


“Kamu sedang menghibur anak kecil? Kalau bukan kamu, semua masalah ini tidak akan terjadi.”


Budiman menampar wajah Tommy dengan keras.


“Baik, sekarang sudah pukul tujuh pagi, harusnya sudah dicas, ‘kan? Kalau begitu, coba kamu telepon!”


Tommy mencoba menelepon Chelsea dengan tangan yang gemetar.


“Halo, siapa yang telepon pagi-pagi?”


Setelah teleponnya tersambung, terdengar suara Asta dari seberang.


Semua orang terkejut dan juga senang.


“Asta, aku adalah pamanmu!” ucap Tommy.


“Tommy, kenapa kamu telepon pagi-pagi? Otakmu bermasalah ya?”


Ucapan Asta membuat Tommy sangat marah.


Tapi dia tetap menjawab dengan tenang. “Asta, mana Chelsea? Suruh dia jawab teleponnya, aku ada urusan penting.”


“Dia sedang tidur. Kalau ada masalah, cari aku saja,” ucap Asta menolaknya.


Tommy tersenyum dan berkata, “Asta, sebelumnya kami memecat Chelsea dan mengambil kembali Cahaya Pelita adalah sebuah kesalahan. Kami bermaksud untuk merekrut kembali Chelsea, agar dia bisa memimpin perusahaan Cahaya Pelita. Sekarang kamu bawa Chelsea ke rumah utama, ini permintaan dari kakek!”


“Ohh? Jadi Chelsea mendapatkan pekerjaannya lagi? Tidak perlu, Chelsea sudah ada pekerjaan yang baru, dia tidak perlu lagi. Tut tut tut ….”


Asta langsung mematikan teleponnya.


“Aku ingin sekali membunuh si brengsek ini,” ucap Tommy yang sedang marah.


“Cepat telepon tanya dia mana mereka? Bodoh!” Budiman menampar wajah Tommy dengan keras.


“Oh oh oh.”


Tommy menelepon sekali lagi. “Asta, aku tahu kami salah! Kali ini benar-benar salah paham, kami jamin tidak akan lain kali lagi. Kamu kasih tahu alamatnya, biar aku jemput ya?”


“Tidak, sebentar dipecat sebentar disuruh kembali. Apakah kalian mempermainkan Chelsea? Menganggap Chelsea mainan?” ucap Asta yang marah.


Tommy langsung menjawab, “Selama Chelsea kembali, kalian boleh mengajukan persyaratan apapun, termasuk gaji juga tidak masalah.”


“Baik, kalau mau Chelsea kembali, siapa yang pecat siapa yang datang jemput!”


Tommy berkata, “Aku yang memecatnya! Aku yang jemput!”


“Tidak, kamu tidak punya kekuasaan itu? Budiman yang memecatnya, suruh Budiman datang jemput! Kalau tidak, Chelsea tidak akan pulang!”


Sikap Asta sangat keras.


Setelah Budiman mendengarnya, dia hampir saja pingsan.


“Apa? Menyuruhku pergi menjemput bocah itu? Asta, kamu cari mati?”

__ADS_1


Saat ini, Budiman juga merasakan penghinaan yang besar terhadapnya.


__ADS_2