Dewa Perang Pelindung Negara

Dewa Perang Pelindung Negara
Bab 6 Tamu Terhormat


__ADS_3

“Wah, kalian juga berani datang?”


Diikuti suara yang menyindir, Budiman dan yang lain berjalan kemari.


Mereka membawa banyak hadiah seperti anggur, teh dan yang lain.


Rencana keluarga Astrid sangat sederhana, bukan hanya mengikuti perjamuan malam ini, mereka juga harus mendekati Jenderal itu.


Lena berjalan ke hadapan Chelsea, dia bertanya sambil tersenyum. “Adikku, aku tidak menyangka kalian bisa datang ke sini juga! Di mana undangan kalian? Coba aku lihat dulu, takutnya kalian membeli barang palsu!”


Lena, Juniman dan yang lain tidak percaya kalau Asta bisa mendapatkan undangannya.


Siapa kalian sampai berani meminta kartu undangan?


Tidak mungkin!


“Aku ….”


Chelsea ragu sejenak.


Karena dia tidak memiliki kartu undangan.


Lena tersenyum. “Apakah kartu undangan kalian dibuat dari emas sehingga harus disembunyikan? Lihat saja juga tidak boleh?”


Chelsea menunduk dan tidak menjawabnya.


Handi dan istrinya juga berusaha menyembunyikannya.


Budiman pun berkata, “Handi, cepat keluarkan kartu undangan kalian!”


“Ayah, aku ….”


Handi mulai panik.


“Kenapa? Kamu tidak mau mengakui ayahmu ini? Cepat keluarkan kartu undangannya,” teriak Budiman kepada Handi.


Handi terpaksa berkata dengan napas yang berat. “Ayah, kami tidak punya kartu undangan … Asta yang membawa kami ke sini.”


“Hahaha ….”


Juniman, Lena dan yang lainnya menertawakan Handi dan keluarganya.


Budiman juga melotot ke Handi. “Kamu sangat bodoh! Aku sangat malu punya anak sepertimu!”


Tatapan yang menyindir dan suara tawa yang kejam membuat Handi semakin membenci Asta.


Kali ini, dia sudah tidak memiliki harga diri di depan anggota keluarga Astrid.


Chelsea juga sangat benci dengan Asta.


Mulai sekarang, mereka tidak akan dihargai di hadapan keluarga lainnya.


“Tanpa kartu undangan, kalian masih ingin menghadiri perjamuannya.”


“Biar aku kasih tahu, kalian sekeluarga jangan pernah berharap untuk masuk ke pintu ini!” ucap Juniman dengan nada dingin.


Lena menggandeng lengan Budiman sambil berkata, “Kakek, ayo kita masuk, jangan membiarkan keluarga ini mempengaruhi kita.”


“Betul, aku merasa malu kenal dengan mereka.”


Semua anggota keluarga Astrid menatap Asta mereka dengan tatapan merendahkan, mereka lalu berjalan ke arah pintu masuk.


Ketika Handi ingin mengatakan sesuatu, Asta tiba-tiba tersenyum dingin dan berkata, “Ayah, kamu lihat saja. Mereka tidak akan bisa masuk.


Ada belasan orang yang berjaga di depan pintu masuk.


Semuanya adalah anggota tim pasukan khusus bersenjata lengkap.

__ADS_1


Juniman mengeluarkan dua belas kartu undangan, dia lalu memberikannya. “Silakan diperiksa.” ucap Juniman dengan badan tegak dan wajah angkuh.


Karena siapa lagi yang bisa mengeluarkan kartu undangan sebanyak dua belas sekaligus?


Tapi detik selanjutnya, anggota pasukan khusus berkata, “Kalian dilarang masuk ke dalam perjamuan ini.”


“Apa?”


Juniman dan yang lain mengira bahwa mereka salah dengar.


Budiman berusaha menjelaskan, “Tidak mungkin! Semalam sekretaris yang bernama Yanto dari kantor pemerintahan Surabaya datang memberikan kartu undangannya secara langsung!”


Juniman dengan ekspresi angkuh berkata, “Ini adalah kartu undangan kami, cepat biarkan kami masuk! Kalian tidak sanggup melawan kami!”


“Phak!”


Sebuah ujung senapan langsung diarahkan ke Juniman.


“Apakah kamu tidak mengerti? Kalian dilarang masuk! Apakah harus sampai aku menggunakan kekerasan?”


Ujung senapan yang dingin mengarah ke kepalanya. Hal ini membuat Juniman merasa panik dan hampir kencing di celana.


Tapi di hadapan anggota keluarga Astrid, Juniman tetap memberanikan diri, “Kalian bisa mencobanya kalau berani! Apakah kalian tahu siapa aku? Seorang tentara biasa berani menyerangku? Aku kenal dengan atasan kalian!”


Detik selanjutnya, tentara itu langsung memukul Juniman dengan senapan dan membuatnya terjatuh ke lantai.


Dia menembak ke tengah kaki Juniman.


Kencing di celana!


Juniman yang ketakutan kencing di celana!


Anggota keluarga Astrid yang lain juga terkejut.


“Cepat pergi dari sini!” teriak pasukan khusus itu.


“Benar juga kata Asta, mereka tidak bisa masuk.”


Handi juga terkejut dengan kejadian di depannya.


Asta tersenyum, dia menggandeng tangan Chelsea. “Ayo kita masuk!”


“Jangan! Apa kamu tidak takut mati? Bahkan Juniman mereka juga tidak bisa masuk, apakah kita bisa masuk?”


Handi dan istrinya juga mundur beberapa langkah karena merasa takut.


Chelsea dengan tubuh gemetar berkata, “Betul, apakah kita bisa masuk? Kita bahkan tidak memiliki kartu undangan!”


“Bukankah kamu sudah memberikanku satu kesempatan terakhir? Kalau tidak dicoba, bagaimana kita bisa tahu?” ucap Asta sambil tersenyum.


“Baik, aku percaya kepadamu!”


Chelsea memegang tangan Asta.


Ketika mereka berempat mendekat ke pintu masuk, Lena tiba-tiba berkata, “Pak, mereka berasal dari keluarga Astrid, tapi sebenarnya mereka sudah dikeluarkan oleh kakek. Jadi mereka tidak memiliki hubungan dengan kami!”


Budiman yang panik juga menjelaskan, “Bapak-bapak sekalian, mereka tidak ada hubungan dengan keluarga Astrid. Kalian jangan sampai marah kepada kami!”


Asta menoleh ke belakang, dia merasa sedih!


Ketika sampai di depan pintu masuk, Chelsea bahkan menutup matanya.


Daripada merasa malu, dia lebih memilih untuk mati di sini.


Handi dan istri juga memiliki pemikiran yang sama.


Budiman dan yang lain tidak langsung pulang. Mereka bersembunyi tidak jauh dari sini untuk melihat Asta dan yang lain dipermalukan.

__ADS_1


“Tuan Asta, Nona Chelsea, silakan masuk! Anda berempat adalah tamu terhormat kami, tidak perlu kartu undangan!”


Detik selanjutnya, mereka mendengar ucapan ini.


Chelsea membuka mata dan melihat belasan anggota pasukan khusus berdiri dua baris dan memberikan hormat kepada mereka.


Chelsea dan orang tua nya masuk ke dalam.


Budiman dan yang lain tertegun melihatnya.


“Mereka … mereka sudah masuk? Bagaimana mungkin?”


Chelsea dan orang tuanya merasa senang dalam hati melihat ekspresi anggota keluarga Astrid yang kaget itu.


Handi melihat ke sekelilingnya dan masih tidak percaya. “Kita sudah masuk? Asta, bagaimana kamu melakukannya?”


Saat ini, mereka mulai merasa kalau menantunya berguna juga.


Paling tidak harga diri mereka masih terjaga dengan baik.


Fitri tersenyum, “Asta juga memiliki koneksi di Surabaya dulu.”


Asta tersenyum, “Betul kata Ibu, aku punya teman.”


Chelsea menatap Asta, dia merasa bingung karena hal ini tidak mungkin semudah itu.


Dia masih ingat kalau semua teman-teman Asta tidak ada yang maju membantunya ketika dia bangkrut.


Malahan banyak yang menertawakannya ….


Ada orang yang membantunya?


Di dalam vila, Handi bertiga sangat hati-hati karena takut merusak sesuatu.


Karena mereka tidak berani menyinggung siapapun di sini.


“Chelsea juga bisa menghadiri acara seperti ini? Apakah aku tidak salah lihat?” terdengar suara dari belakang.


Melihat kedatangan orang ini, di dalam mata Chelsea penuh dengan kebencian.


Tiga sampai empat orang ini memakai jas yang rapi.


Orang yang berada di depan bernama Anto, dia adalah anak dari Direktur Utama Grup Jayapura.


Dia sudah lama mendambakan Chelsea.


Pernah menggunakan uang untuk meniduri Chelsea.


Tapi walaupun memberikan beberapa miliar, Chelsea juga tidak tergoda.


Demi balas dendam, Anto menggunakan rencana jahat untuk membuat perusahaan Chelsea bangkrut.


Awalnya perusahaan Chelsea berjalan dengan baik.


“Kenapa aku tidak boleh datang?” ucap Chelsea dengan dingin.


Anto memperhatikan Asta dan berkata, “Jadi ini adalah suami kamu yang memerkosa kakak iparnya itu? Apakah dia yang membawamu masuk ke sini?”


Anto mendekat ke samping Chelsea, dia menyeringai dan berkata, “Aku tidak peduli bagaimana kalian bisa masuk. Tapi dengan kemampuanku, aku bisa memasukkan suamimu ke dalam penjara lagi! Mungkin saja dia bisa dihukum sepuluh sampai dua puluh tahun!”


Chelsea percaya Anto sanggup melakukannya.


Dia memiliki kemampuan dan sangat kejam.


Chelsea menatapnya dengan waspada. “Apa yang sebenarnya kamu inginkan?”


Anto melanjutkannya. “Jika kamu setuju tidur bersamaku, aku akan menjamin keselamatannya! Kalau tidak, aku pasti akan memasukkannya ke penjara!”

__ADS_1


__ADS_2