
“Hahaha ….”
Semuanya tertawa begitu keras.
“Apakah kamu tidak memikirkan atas dasar apa kamu mendapatkan undangannya? Apakah kalian pernah memberikan kontribusi kepada keluarga Astrid?”
Otto langsung membalasnya.
“Betul, mimpi saja sana! Masih berani meminta undangan dengan hidup yang memalukan seperti itu?”
Tommy juga bertanya tanpa malu.
Chelsea bertiga sudah putus asa.
Mereka menatap Asta dengan penuh kebencian.
Asta mendengus dingin. “Karena undangannya diberikan kepada kalian atas nama aku! Undangannya untuk mertuaku, kebetulan ada beberapa tambahan untuk kalian.”
Willy sudah tidak tahan lagi. “Asta, apakah kamu tidak tahu malu? Undangan ini didapatkan oleh menantuku dengan bantuan koneksinya, tidak ada hubungannya denganmu!”
Juniman juga marah. “Siapa kamu? Berani sekali merebut kreditku.”
Tommy menunjuk ke Handi dan berkata, “Handi, lihat sendiri menantumu ini! Cepat bawa pulang sana! Mulai sekarang jangan bawa dia ke acara keluarga kita! Memalukan sekali!”
Ketika Asta ingin berbicara lagi, Chelsea langsung menariknya.
“Ikut aku pergi!!!”
Chelsea benar-benar tidak tahan lagi.
Keluar dari hotel.
Wajah Chelsea sudah penuh dengan air mata. “Asta, aku mohon kepadamu, jangan membuatku malu lagi! Kalau kamu terus begini, aku tidak tahan lagi.”
Asta menghapus air matanya dan bertanya, “Chelsea, apakah kamu ingin menghadiri acaranya?”
Chelsea berkata dengan kesal. “Siapa yang tidak ingin pergi? Apakah kamu tidak melihat tatapan Ayah dan Ibu? Tapi emang kenapa kalau mau pergi, kamu bisa mendapatkan undangan nya?”
“Aku bisa!”
Asta berkata dengan tegas.
Chelsea langsung kesal dan ingin berjalan pergi.
“Kenapa kamu tidak percaya kepadaku, Chelsea?” tanya Asta.
Chelsea bertanya kembali. “Bagaimana aku bisa mempercayaimu?”
Asta tersenyum dan berkata, “Aku bisa membawa kalian menghadiri perjamuan besok malam, aku selalu menepati janji!”
Chelsea mengangguk dan berkata, “Baik, aku percaya terakhir kali kepadamu! Kalau kamu tidak bisa melakukannya, aku akan berpisah denganmu!”
“Setuju!”
Chelsea menghapus air mata dan berkata, “Baik, aku juga tidak peduli lagi! Aku akan masuk ke dalam dan memberitahu semua orang kalau suamiku bisa mendapatkan undangan perjamuan besok malam.”
“Baik, kamu masuk dulu, aku akan telepon terlebih dahulu.”
…
Setelah teleponnya tersambung, Asta berkata, “Naga Biru, kasih tahu Yohanes bahwa aku akan menghadiri acaranya besok.”
“Ah? Jenderal akan menghadiri acara besok? Baguslah kalau begitu! Orang di atas masih khawatir kalau anda tidak menghargai Yohanes!”
__ADS_1
“Iya, aku akan mengikutinya. Tapi ada beberapa orang yang tidak boleh hadir ….”
“Jenderal, aku mengerti. Aku akan segera mengaturnya!”
Kembali ke dalam hotel.
Asta melihat Chelsea mengangkat kepala dengan angkuh.
Sepertinya dia sudah memberitahu kepada semuanya.
Semuanya menatap Asta ketika dia masuk.
“Kalian bilang kalau dia bisa mendapatkan undangan? Rampok atau curi?”
“Mungkin saja dia membelinya karena mau pamer!”
Juniman malah tertawa dan berkata, “Mungkin kalian tidak tahu kalau harga satu undangan di atas miliaran!”
“Handi sekeluarga masih utang kepada kakek senilai empat sampai enam miliar, mereka mau beli undangan pakai apa?”
Anggota keluarga Astrid yang lain berkata.
Acara perjamuannya dimulai.
Makanan mulai disajikan.
“Sepertinya kalian hanya perlu makan satu mangkok mie saja, ‘kan? Tidak perlu makanan lain lagi.” Tanya Tommy.
Juniman tersenyum dan berkata, “Kasih saja mereka sedikit makanan. Kalau tidak nanti kelihatan kakek jahat kepada mereka!”
“Baik.”
Empat meja lainnya saling bersulang dan terlihat sangat ramai.
Apalagi semuanya berusaha mendekat ke Juniman dan membuat orang-orang iri.
Handi melihat ke Juniman lalu menatap ke Asta, dia menghela napas dan berkata, “Aduh, untuk apa iri? Aku memang bernasib seperti ini!”
Fitri melotot Asta dengan kesal, hari ini beneran sangat memalukan.
Apalagi ketika Tuan besar tidak membiarkan mereka pergi, mereka tidak berani pergi.
Hanya bisa berada di sini dan dipermalukan.
Juniman membawa gelas anggur berjalan kemari, banyak orang yang mengikutinya dari belakang.
Juniman melewati Asta dan datang ke hadapan Chelsea. “Chelsea, awalnya aku ingin mengenalkan adikku kepadamu agar bisa menikah lagi. Dia bahkan lebih baik dariku! Sepertinya kamu tidak memiliki keberuntungan itu, pilihanmu terlalu jelek!”
“Huh!”
Handi dan Fitri menghela napas.
Kalau saja Asta tidak muncul.
Chelsea pasti bisa bersama Peter.
Lalu mereka sekeluarga akan kaya.
Benar-benar membuat orang iri.
Tapi mereka memang bernasib miskin!
Setelah acara perjamuan selesai.
__ADS_1
“Kalian semua pulang ke rumah utama, malam ini aku ingin membicarakan masa depan keluarga Astrid beserta acara besok malam dengan cucu menantu. Kalian harus dengar di samping, karena akan berguna untuk kalian juga.”
Budiman memberikan perintah.
Handi dan Fitri juga melihat Budiman dengan penuh harapan.
Kalau keluarga Astrid membantu mereka, kehidupan mereka akan lebih baik.
Siapa sangka Budiman menatap mereka dan berkata, “Handi, kalian sekeluarga pulang saja.”
Handi masih sedikit ragu. “Ayah, aku ….”
“Kamu kenapa? Kami tidak membutuhkan kamu, apalagi menantumu baru keluar dari penjara, aku takut membawa sial ke dalam rumah!”
Budiman langsung membawa orang-orang pergi setelah mengatakannya.
Sebelum pergi, Juniman dan Lena berjalan ke hadapan Asta sambil menggoyangkan tangannya, “Besok malam jangan membuatku kecewa. Nanti kalau tidak bisa masuk, jangan bilang kalau kalian mengenalku, aku tidak mau dipermalukan.”
Asta tersenyum dingin. “Siapa yang tidak bisa masuk masih belum tahu.”
“Baik baik baik, kita lihat saja besok.”
Semua orang pulang dengan senang karena undangan di tangan mereka.
Meninggalkan Handi dan yang lain menghela napas panjang.
Handi menatap Asta dengan penuh arti.
Kalau saja Asta masih bisa membantu keluarga mereka.
Sayangnya dia baru keluar dari penjara, bahkan hidup saja juga susah.
Asta ikut Chelsea pulang ke rumah.
Dibandingkan keluarga Huston, tempat ini adalah rumahnya yang sebenarnya.
Ada seorang wanita yang menunggunya disini selama enam tahun.
Setelah pulang ke rumah, Asta langsung berbaring di bawah, tapi Chelsea menyuruhnya tidur di atas ranjang.
Asta lalu naik ke atas ranjang.
Chelsea sedang mengerjakan proposal perencanaan di meja kerja.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Asta.
“Di Surabaya barat ada sebuah proyek pengembangan taman ekologi! Aku sedang membuat proposal untuk mengikuti tender! Walaupun persentase untuk menang sangat rendah!”
Chelsea tersenyum.
Sampai malam berikutnya, Chelsea bahkan tidak mengeluh dan mempermalukannya.
Waktu untuk menghadiri acara semakin dekat.
Chelsea akhirnya tidak tahan dan bertanya, “Asta, aku sangat percaya kepadamu, aku bertaruh semuanya kepadamu. Tapi sekarang bagaimana aku harus mempercayaimu? Mana undangannya? Aku mengira kamu akan mendapatkan beberapa undangan, tapi dari semalam sampai sekarang, kamu bahkan tidak keluar rumah dan tidak menelepon siapapun. Aku ingin tanya, apakah undangannya akan jatuh dari langit?”
Handi dan istrinya juga mendekat. “Apa lagi yang kamu tunggu? Semalam Chelsea sudah bilang kepada semua orang, kalau kamu tidak bisa menepati janjinya, mulai sekarang kita tidak bisa berdiri di hadapan keluarga Astrid.”
Asta melihat jam dan berkata, “Waktunya sudah tiba, ayo kita pergi.”
Handi membawa mobilnya dan datang ke tempat acara penyambutan Jenderal Rinjani.
“Chelsea, sekarang aku akan membuktikan kepadamu apakah aku bisa melakukannya atau tidak?”
__ADS_1
Asta menggandeng Chelsea dan datang ke pintu masuk.