
Pulang ke rumah.
Handi dan Fitri menatap Asta dengan tatapan tidak percaya. “Kamu menebaknya dengan benar, Ayah datang untuk menjemput Chelsea.”
“Ayah, kamu kalah dalam taruhan kali ini,” ucap Asta tersenyum.
“Tapi kenapa proyek sebesar ini bisa jatuh ke tangan kita? Banyak perusahaan yang lebih kuat dari keluarga Astrid, kenapa mereka bisa memilih keluarga Astrid?”
Handi terlihat bingung.
Bukan hanya dia, Chelsea juga bingung.
“Betul, kenapa harus menunjuk aku untuk tanda tangan?”
Chelsea mengedipkan mata, dia menunggu penjelasan Asta.
Karena Chelsea merasa kalau Asta mengontrol semuanya dari belakang, semua ucapannya akan menjadi kenyataan.
Asta tersenyum. “Chelsea, apakah kalian lupa? Waktu kita menghadiri perjamuan itu, apa yang dikatakan Mayor Naga Biru kepada kita?”
Handi langsung mengerti. “Aku mengerti! Itu adalah perintah dari Mayor Naga Biru! Orang penting selalu menepati janjinya. Kalau tidak, menurut kalian siapa yang bisa memerintahkan Pak Buntoro?”
Chelsea tersenyum canggung. “Aku mengira Mayor Naga Biru hanya bercanda.”
“Orang penting pasti selalu menepati janji!” ucap Asta dengan senyumannya.
“Setelah mendapatkan proyek ini, kehidupan keluarga kita akan berubah menjadi lebih baik. Fitri, kamu siapkan makanan, aku harus merayakannya,” ucap Handi sambil tersenyum.
Mungkin karena suasana hati yang baik, orang tua Chelsea juga senang melihat Asta.
Chelsea berkata kepada Asta. “Kamu tidak perlu buru-buru cari pekerjaan, kami ikut aku saja.”
“Baik, kalau begitu aku akan membantumu.”
Tiga hari kemudian.
Chelsea memakai jas profesional, bahkan Asta juga memakai jas dengan rapi.
Mereka berdua ingin pergi tanda tangan kontrak.
“Asta, lebih baik kita kasih tahu kakek dulu. Karena mereka sangat perhatian dengan hal ini.” Tanya Chelsea kepada Asta.
“Aku merasa tidak perlu, karena hal ini tidak ada hubungan dengan mereka,” ucap Asta.
“Lebih baik aku telepon dulu.”
Chelsea lalu menelepon Budiman.
“Chelsea, ada apa?”
“Kakek, sekarang aku akan pergi tanda tangan kontrak. Jadi, aku telepon kasih tahu dulu.”
__ADS_1
“Oh oh oh, kakak dan kakak ipar kamu sudah pergi. Kamu tidak usah pergi lagi. Tenang saja, mereka mewakili kamu untuk tanda tangan! Kamu langsung ke kantor saja! Hal ini kamu tidak perlu pikirkan lagi!”
Budiman kemudian mematikan teleponnya dengan kesal. Chelsea yang kaget hampir menjatuhkan ponselnya.
“Kenapa?”
“Kakek bilang kalau hal ini tidak ada urusan denganku lagi, ada yang mewakiliku untuk tanda tangan kontrak!” ucap Chelsea yang ingin menangis.
Setelah mengetahui hal ini, Asta sangat marah!
Ternyata keluarga Astrid tidak tahu malu, sama seperti keluarga Huston!
“Tenang saja, ini adalah milikmu, tidak ada yang bisa merebutnya!” ucap Asta dengan nada tegas.
Asta kemudian mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Direktur Biro Konstruksi Perkotaan!
Saat ini, di tempat penawaran.
Puluhan perusahaan duduk di sini dan menunggul hasil pengumuman.
Orang yang mengumumkan hasilnya adalah wakil direktur Biro Konstruksi Perkotaan, Mustofa.
“Aku umumkan untuk pemenang proyek Taman Ekologi di Surabaya Barat adalah perusahaan Cahaya Pelita yang berada di bawah Grup Astrid!”
Pengumuman Mustofa membuat semua orang terkejut.
Semua orang tidak mengerti kenapa pemenangnya adalah Cahaya Pelita.
“Kita persilakan perusahaan Cahaya Pelita untuk tanda tangan kontrak di belakang!”
Orang yang bertanggung jawab untuk tanda tangan kontrak adalah Buntoro.
Wakil direktur hanya bertanggung jawab untuk mengumumkannya.
“Hmm? Di mana Nona Chelsea?”
Buntoro langsung merasa kesal ketika melihat mereka.
“Halo, Pak Buntoro. Chelsea sedang mengerjakan hal ini, jadi kami yang mewakilinya untuk tanda tangan kontrak,” ucap Juniman sambil tersenyum.
Lena juga berkata, “Pak Buntoro, apalagi sekarang hasilnya sudah diumumkan, proyek ini sudah dimenangkan oleh kami. Bukankah sama saja siapa yang tanda tangan kontrak?”
Buntoro tersenyum dingin, “Itu tidak sama. Aku tanya sekarang, kalian mewakili Nona Chelsea ke sini, jadi kalian tanda tangan nama beliau atau nama orang lain?”
“Aku ….”
Lena tertegun.
Mereka tidak akan menggunakan nama Chelsea untuk tanda tangan.
Karena kalau begitu akan menjadi milik Chelsea.
__ADS_1
Mereka harus tanda tangan nama Budiman.
Otto berkata, “Oh iya, Pak Buntoro mungkin tidak mengerti. Grup Astrid walaupun memiliki banyak anak perusahaan, tapi Direktur Utama Pak Budiman memiliki kuasa penuh atas semua perusahaan. Tanda tangan kontrak kali ini menggunakan nama Budiman, Chelsea juga sudah menyetujuinya.”
Buntoro menggelengkan kepala. “Itu tidak bisa dilakukan! Kami menunjuk Chelsea, aku tidak mengenal siapa itu Budiman. Tapi kalau kamu bilang Nona Chelsea setuju, aku akan menelponnya untuk bertanya, kalau dia setuju, aku juga tidak masalah.”
Melihat Buntoro meneleponnya, Juniman bertiga langsung panik.
Chelsea mana mungkin setuju, mereka bahkan tidak menanyakannya.
Setelah teleponnya tersambung, Buntoro langsung bertanya, “Nona Chelsea, Apakah anda setuju ada perwakilan lain yang datang tanda tangan kontrak dan menggunakan nama Budiman?”
Ketika mendengar pertanyaan Buntoro, Chelsea langsung mengerti apa yang terjadi.
Kalau dia setuju, mulai sekarang proyek ini tidak ada hubungan dengannya.
Kalau dia tidak setuju, maka kakek akan membencinya.
Ini adalah pilihan antara keuntungan atau kakek kandungnya.
“Aku … aku se ….”
Chelsea memikirkannya terus, ketika ingin bilang setuju, Asta langsung merebut ponselnya.
“Tidak setuju! Mereka bahkan tidak memberitahu kami! Apa yang terjadi? Kalau tidak, kami juga tidak mau proyek ini lagi, terserah siapa yang mau mengerjakannya.” Ucap Asta dengan kesal.
Setelah teleponnya terputus, wajah Pak Buntoro langsung menjadi suram.
Dia terus menatap Juniman dan yang lain dengan tajam.
Mereka bertiga langsung menunduk dan tidak berani melihat Pak Buntoro.
“Aku sudah memberitahu kalian, proyek ini sejak awal harus dikerjakan oleh Nona Chelsea! Tidak ada orang yang boleh mewakilinya! Kalau kalian ingin melakukannya, aku terpaksa ganti orang! Banyak orang yang bisa mengerjakan proyek ini.”
“Aku kasih tahu, kalau kalian menginginkan proyek ini, segera suruh Nona Chelsea untuk tanda tangan kontrak! Kalau tidak, aku akan menganggap kalian menyerah.”
Mendengar ucapan Pak Buntoro, mereka bertiga langsung kabur.
“Apa? Harus Chelsea? Aku kira siapapun yang tanda tangan kontrak sama saja!”
Budiman yang baru tahu juga kebingungan.
Tommy berkata, “Ayah, kita harus bagaimana? Apakah kita akan memberikan proyek ini kepada Chelsea?”
“Tidak ada cara lain, tapi walaupun Chelsea menerima proyek ini, mayoritas keuntungannya akan berada di tangan kita. Chelsea masih menurut kepadaku, kita akan membagikan keuntungan kecil bagi mereka nanti. Karena perusahaan Cahaya Pelita yang kecil ini sama sekali tidak bisa mengerjakan proyek ini, mereka pasti membutuhkan bantuan kita!” ucap Budiman.
“Tapi kakek, bagaimana kita menyuruh Chelsea pergi tanda tangan kontrak, ini sudah kedua kalinya,” tanya seseorang.
Budiman tersenyum dingin dan berkata, “Huh, aku akan pergi menjemput nya sendiri! Dia tidak akan berani menolaknya. Telepon dia dulu.”
Setelah teleponnya tersambung, Asta yang menjawabnya, “Ah? Kalian tidak perlu datang, kami sedang sibuk.”
__ADS_1
Selesai bicara, Asta langsung memutuskan teleponnya.