Dewa Perang Pelindung Negara

Dewa Perang Pelindung Negara
Bab 11 Menggosongkan Chelsea


__ADS_3

Saat ini sebenarnya Chelsea sudah bangun, dia hanya saja tidak bersuara.


Dia menatap Asta dengan penasaran.


Ternyata ucapan Asta menjadi kenyataan.


Keluarga Astrid ingin menjemputnya kembali.


Tapi kenapa?


Chelsea ketakutan mendengar Asta meminta kakek untuk datang menjemputnya, dia terus menarik lengan Asta.


Budiman selalu bersikap tegas, bagaimana mungkin dia akan datang menjemputnya?


Perbuatan Asta sedang membuatnya marah!


“Baik, kalau Budiman tidak ingin datang menjemputnya, kita tidak perlu bicara lagi!”


Asta langsung menutup teleponnya.


Chelsea mendorongnya dan berkata, “Apakah kamu gila? Kamu berani menyuruh kakek datang menjemputku? Kalau menurut aku, lebih baik kita pulang sendiri saja. Sepertinya mereka ada masalah yang penting.”


“Jangan, tunggu sebentar lagi. Tiga, dua, satu … ring ring ….”


Ponselnya berdering kembali setelah Asta menghitung mundur.


Suara Tommy terdengar tidak berdaya. “Ayah setuju untuk menjemput kalian, kasih tahu alamatnya!”


“Hotel Pullman!”


“Nomor kamarnya?”


Asta tersenyum. “Kalian tidak perlu tahu nomor kamar. Kalau Budiman tiba, kami akan turun.”


Asta menghindari Budiman tidak datang.


“Ah? Apakah kakek akan datang?”


Chelsea sejak kecil hidup di bayang-bayang Budiman, sehingga dia sangat takut dengan Budiman.


“Jangan tegang, dia datang menjemputmu pulang!” ucap Asta sambil tersenyum.


Chelsea yang ketakutan juga dengan ucapan Asta sebelumnya, baha Budiman akan datang menjemputnya sendiri.


Setelah setengah jam, sebuah mobil Mercedes muncul di hotel.


Budiman juga keluar dari mobil.


“Baik, ayo kita turun.”


Tubuh Chelsea terus bergetar, dia menggenggam tangan Asta dan tidak mau melepaskannya.


Ketika Budiman melihat Chelsea, dia tanpa sadar ingin memarahinya. “Chelsea, kamu … oh, cepat masuk Kakek ingin membicarakan urusan penting denganmu! Cepat masuk ke mobil!”


Chelsea bingung melihat kakeknya yang tersenyum manis.

__ADS_1


Kapan kakek pernah tersenyum kepadanya?


Di dalam mobil.


Budiman bersikap sangat baik kepada Chelsea.


“Chelsea, aku ingat kalau kamu terus mengikuti proyek pengembangan Taman Ekologi di Surabaya Barat, ‘kan? Sekarang kesempatannya telah tiba, Pak Buntoro dari Biro Konstruksi Perkotaan menyuruhmu untuk menyerahkan proposal serta menjelaskan perencanaan yang kamu buat.”


“Kamu pasti bisa! Kakek percaya kamu akan mendapatkannya!”


Chelsea yang masih bingung sudah sampai di kantor pengembangan proyek ini.


Waktu menunjukkan pukul tujuh lewat lima puluh menit.


Asta dan Chelsea masuk ke ruangan.


Melihat Chelsea datang, Pak Buntoro langsung berdiri dan menyambutnya. “Nona Chelsea sudah datang? Cepat duduk! Nona Chelsea dan Tuan Asta ingin minum teh atau kopi?”


“Aku teh, dia kopi,” ucap Asta sambil duduk dengan santai.


Chelsea masih bingung.


Ini adalah Pak Buntoro, Direktur Biro Konstruksi Perkotaan!


Jangankan Chelsea, bahkan Hartono dari keluarga Buston juga harus menundukkan kepala di hadapannya.


Tetapi sekarang dia malah bersikap ramah kepada Chelsea?


Sikapnya hampir sama seperti berlutut di hadapannya.


“Sini, silakan duduk nona Chelsea!” ucap Buntoro dengan sopan kepada Chelsea.


“Duduk saja.”


Melihat Chelsea masih bengong, Asta menariknya duduk di samping.


Teh dan kopi dengan cepat disajikan.


Chelsea memegang gelas kopi dengan kedua tangan yang gemetar.


Asta menyilangkan kaki, gaya duduknya seperti seorang bos.


Buntoro malah bersikap seperti pelayan, dia berdiri dengan sopan.


Dia bahkan tidak berani melihat Asta.


Ini adalah orang dalam legenda itu.


Chelsea berusaha menenangkan diri, dia lalu berdiri dan menyerahkan proposalnya. “Halo … Pak … Pak Buntoro, namaku Chelsea, ini adalah proposalku! Silakan diperiksa!”


Buntoro tersenyum. “Kami sudah mengetahui kemampuan Nona Chelsea, proposalnya tidak perlu dilihat.”


Ketika Buntoro melihat tatapan Asta yang menyeramkan, dia langsung menerima proposalnya dan mulai memeriksa bersama beberapa petinggi proyek ini.


Chelsea juga menjelaskan dari samping ….

__ADS_1


Setelah setengah jam kemudian, Buntoro berdiri dan berkata sambil tersenyum. “Kami tidak salah memilih Nona Chelsea! Sangat sempurna! Nilai yang kami berikan adalah 95 poin. Beberapa detail kecil telah kami revisi, jadi sekarang sangat sempurna.”


Asta tersenyum dan berkata, “Jadi kami terpilih?”


Buntoro mengangguk dan berkata, “Pada tahap awal kami menerima proposal dari tiga puluh tiga perusahan, untuk sekarang nilai nona Chelsea paling tinggi! Lalu kami sudah memeriksa kemampuan perusahaan Cahaya Pelita beserta Grup Astrid, dipastikan bisa menangani proyek ini! Sekarang kita hanya perlu menjalani proses dan tanda tangan kontrak akan diadakan tiga hari kemudian.”


Chelsea mana mungkin tidak mengerti kalau ini adalah keputusan internal untuk memilihnya.


Asta lalu berdiri dan membawa Chelsea pergi, sambil berkata, “Terima kasih kalau begitu ….”


“Ah? Tidak tidak! Ini memang kewajiban kami!”


Mendengar Asta mengucapkan terima kasih, Buntoro hampir saja berlutut karena ketakutan.


Walaupun sampai di luar, Chelsea juga merasa seperti di dalam mimpi.


Budiman dan belasan orang keluarga Astrid langsung mengerumuninya. “Chelsea, bagaimana hasilnya?”


“Kakek, kita sudah melewati tahap pertama, aku mendapatkan nilai 95 sebagai yang tertinggi!” Kemudian proyek ini akan dikembangkan oleh ak … kita bersama. Tapi karena harus melewati proses, kita harus merahasiakan hal ini!”


Chelsea awalnya ingin bilang kalau dia sendiri yang akan mengembangkan proyek ini. Tapi ketika melihat Budiman, dia langsung merubah ucapannya.


“Bagus, bagus sekali! Chelsea, kamu adalah kebanggaan kakek! Kamu adalah orang yang berjasa bagi keluarga Astrid!” ucap Budiman dengan semangat.


Semua orang juga merasa senang.


Karena ini adalah proyek besar senilai dua triliun!


Bahkan Chelsea sendiri merasa seperti bermimpi.


Sejak Chelsea lahir, Budiman hanya pernah memujinya dua kali.


Pertama, ketika dia menikah dengan Asta enam tahun lalu.


Lalu pujian kedua adalah kali ini, hal ini membuat dia merasa tidak realistis.


Budiman masih tidak tenang dan bertanya, “Chelsea, sekarang proyek ini sudah dipastikan akan diberikan kepada kita? Kita hanya perlu tanda tangan kontrak tiga hari lagi? Kamu yakin?”


Chelsea mengangguk, “Kakek, aku yakin!”


“Baik, kalau begitu aku sudah bisa tenang,” ucap Budiman menghela napas.


Kemudian, Asta dan Chelsea kembali ke rumah.


Budiman dan yang lain juga kembali ke rumah.


Tommy berkata, “Ayah, tidak disangka kita bisa mendapatkannya! Aku sudah meminta temanku bertanya kepada sekretaris pak Buntoro.”


Budiman terlihat sangat senang. “Iya, ini adalah hal besar bagi keluarga Astrid.”


Juniman ragu sejenak, dia pun berkata, “Kakek, apakah anda akan memberikan proyek ini kepada Chelsea? Aku takut Asta akan menelan semuanya, saat itu kita tidak akan memiliki hubungan apapun dengan proyek ini.”


Budiman tersenyum. “Juniman! Aku sudah mempertimbangkannya! Apakah kamu tidak mendengar pertanyaanku tadi? Sekarang proyek ini sudah dipastikan milik kita, kita hanya perlu tanda tangan kontrak tiga hari lagi. Saat ini Chelsea sudah tidak berguna, dengan perusahaan Cahaya Pelita yang kecil itu, mana mungkin dia mengembangkan proyek senilai dua triliun?”


“Jadi, kalian pergi tanda tangan kontrak! Aku hanya memberikan jabatan kosong kepada Chelsea, jadi pengembangan proyek ini tidak ada hubungan sama sekali dengannya.”

__ADS_1


“Hahaha, kakek memang hebat!” ucap Juniman dengan senyuman sinis.


__ADS_2