Di Antara 2 Benua

Di Antara 2 Benua
Part 12


__ADS_3

*******


Saat ini Putri sedang menunggu angkot di depan halte. Putri melirik jam yang bertengger di tangan kirinya. Sejenak ia pun mendesah panjang mengungkapkan kekecewaannya, "ya ampun hampir sore," lirih nya sambil celengak-celenguk menunggu angkot lewat.


Putri menggerutu sebal kenapa angkot tidak ada yang lewat sama sekali. Apa angkot tersebut tidak mau mendapatkan uang? Ketahuilah tidak ada yang enak menunggu itu.


Sambil dengan sabar menunggu, ia duduk di kursi sambil mengayunkan kakinya dan kedua tangan ditumpukan ke samping kursi. Pandangan gadis tersebut pun lurus ke depan terlihat jika perempuan itu sedang memikirkan sesuatu yang membuat Ia merasa sedih.


Lihat lah gadis itu tampak ia sedang menahan tangis yang sebentar lagi akan tumpah dengan sia-sia. Kenapa sih ia tak pernah bahagia? Ia selalu dibully oleh teman temannya dan sering sekali ia menjadi korban kekerasan dari orang yang membenci dirinya.


Ia sendiri juga tidak tau apa salah yang ia miliki sampai sampai orang sangat membenci dirinya. Perasaan ia tidak pernah mencari masalah dengan mereka dan mengusik.


Putri dikenal sebagai seorang murid yang ramah dan baik tentunya ia juga disayangi semua guru karena prestasinya yang sering mendapatkan juara umum di sekolah. Meskipun Putri sang juara sekolah tapi tetap saja banyak orang yang tak mengenal siapa Putri dan seperti apa wajahnya dan itu semua karena Putri jarang keluar dari kelas di jam istirahat kecuali untuk ke kantin atau ke perpus.


Putri tersadar dari lamunannya tentang dirinya yang sering dibully di sekolah, saat seseorang atau lebih tepatnya sebuah mobil BMW berhenti tepat di hadapan Putri.


Putri mengerenyitkan alis bingung seraya memperhatikan ke arah mobil tersebut.


Putri melongo saat melihat orang yang berada di dalam mobil keluar dari mobil dan Putri ditambah terbelalak saat sesudah melihat dengan jelas siapa orang tersebut "Rafin," ucap Putri heran.


"Loh Put kok lu belum pulang?" Dan ternyata orang yang mengendari mobil itu adalah Rafin, ia berhenti karena ia heran melihat Putri yang sedang duduk di halte sendirian dan Rafin berfikir mungkin Putri sedang menunggu angkot yang tak kunjung lewat.


Putri beranjak dari tempat duduknya dan berdiri tepat di hadapan Rafin. "Lagi nunggu angkot," jawab Putri lesu karena hampir satu jam menunggu angkot tapi tidak ada satupun yang lewat kecuali angkot yang sudah penuh. Sebenarnya Putri ingin memesan gojek namun uangnya tinggal pas-pasan dan hanya cukup untuk naik angkot. Yah jadilah Putri hanya pasrah menunggu angkot sendirian di halte.


Siswa dan siswi yang menggunakan jasa angkot sudah pulang duluan dan tinggal Putri sendiri karena dia tadi ada rapat osis yang mengharuskan ia pulang lambat. Ia adalah satu-satunya anggota osis yang tidak mempunyai mobil atau dijemput oleh orangtua mereka.


Rafin menyeringai licik kelihatan sekali ia memiliki sebuah ide yang menguntungkan baginya. "Put masuk!!"


"Hah?" Putri tak mengerti apa yang diucapkan Rafin apa maksudnya ia disuruh masuk kedalam mobil Rafin. "Maksudnya?" Tanya Putri tak mengerti.

__ADS_1


"Gak usah pakai nanya bisa nggak?" Setelah mengatakan itu ia langsung beranjak dari tempatnya dan langsung membukakan pintu mobil untuk Putri.


Rafin berdecak malas saat melihat Putri yang tak kunjung masuk kedalam mobil dan masih berdiri di tempat tanpa merubah posisi dengan tatapan bingung yang di arahkan ke Rafin. "Oi, gue gak suruh lo jadi patung," sindir Rafin. "Jadi lo mau di situ aja terus sampai malam? kalau gak, cepat masuk!"


Putri menghela napas, jadi ini maksudnya mengapa Rafin membuka pintu mobil dan memandang tajam ke arah dirinya.


"Coba bilang dari tadi kalau lu pengen ngajakin gue."


Rafin melongo mendengar perkataan Putri dan tidak percaya. Jadi dari tadi ia membukakan pintu untuk apa, kalau bukan untuk memberikan tumpangan.


Tanpa mengatakan apa apa Rafin langsung menyeret Putri ke dalam mobil tanpa menghiraukan Putri yang meronta untuk dilepaskan dari tangan Rafin yang menarik dirinya.


Rafin mendudukkan Putri di mobil, setelah itu ia menutup pintu mobil dan mengitari mobil tersebut untuk duduk di dekat kemudi. "Kalau mau berikan tumpangan tu yang sopan dong," kata Putri dengan nada sebal.


Rafin yang semulanya ingin menghidupkan mobil pun langsung mengurungkan niatnya saat mendengar perkataan Putri, ia menatap lurus ke depan tanpa menggunakan ekspresi. Ia menoleh ke arah Putri dan memperhatikan putri dengan lekat.


Rafin menarik napas dalam kemudian ia menoleh lagi ke depan. Rafin menghidupkan mobil nya dan melaju membelah jalan raya di jakarta.


********


"Men ada masalah apa lagi lu?" tanya oarng tersebut yang merupakan sahabatnya. Lelaki yang ditanya itu pun menepuk bahu anak laki-lak itu dengan pelan sebanyak tiga kali, "tentang dia lagi?"


Laki-laki itu pun menoleh ke arah sahabatnya yang menyinggung tentang DIA. Ia menatap sendu ke arah sabatnya dan mengangguk pelan kemudian ia menundukkan wajahnya ke bawah.


Rengki yang merupakan sahabat dari lelaki itu menghela napas dan menatap laki-laki itu dengan serius, "sudah lah lupakan saja ingatan lu dari dia."


Laki-laki yang tak lain ialah Ardi itu menggeleng kepalanya lemah, "gak bisa Reng," lirih nya dengan tatapan kosong ke depan.


Rengki memijat kepalanya dan melipat kedua tangan di dada. "Gak ada yang gak mungkin di dunia ini," Rengki menjeda ucapannya, " jika kita berusaha," lanjutnya.

__ADS_1


"Gue udah berkali kali coba lupakan dia tapi gue gak bisa."


Laki-laki yang berasal dari Bandung yang mendapatkan bea siswa ke New Zeland itu pun akhirnya membuka suara yang mana pertanyaan tersebut merupakan inti pembicaraan mereka. "Jadi gimana dengan nasib Keyra, gak kasihan sama dia? Gimana perasaannya kalau dia tau jika lu ternyata selama ini gak pernah mencintai dia"


Ia menatap  Rengki dengan ekspresi yang tidak terbaca. "Gue bakalan putusin dia," jawab Ardi spontan tanpa memperhatikan Rengki yang sangat kaget mendengar pernyataan Ardi.


"Mau sampai kapan sih lo mempermainkan perasaan perempuan? Mereka juga punya hati Ar!" Ia menggelengkan kepalanya kecewa, Rengki sangat kecewa melihat teman nya ini yang selalu menganggap jika setiap orang yang ia kencani bukanlah wanita baik-baik.


"Dia bukan wanita yang baik."


"Maksud lo?" tanya Rengki tak mengerti.


"Gue tau kalau Keira bukanlah wanita yang baik-baik Reng."


Rengki tergelak mendengar pernyataan Ardi. "Gua tau ko maksud lo itu apa 'lo akan mengencani mereka yang bukan wanita baik, jadi setiap perempuan yang bakal lo kencani mereka adalah wanita yang buruk' itukan maksud lo. Ar tidak semua dari mereka adalah wanita murahan, pasti di salah satu antara mereka yang masih mempunyai harga diri."


"Lo bakalan tau nanti Reng maksud gua." Ardi beranjak dari sofa yang ia duduki sebagai tempat mengobrol nya dengan Rengki tadi.


Sebenar nya Ardi saat ini sedang berada di rumah Rengki, ia numpang menginap untuk beberapa hari di rumah sahabatnya itu karena Ardi  malas berada di rumah yang mengharuskan dia menatap Anthoni setiap hari. sungguh itu bukan lah pemandangan yang enak.


Ardi menuju ranjang Rengki dan membaringkan tubuhnya ke ranjang yang berukuran King Size. Ardi meletakan kedua tangan di bawah kepala dan menjadikan bantal, pandangannya lurus ke atas ia menatap langit kamar tersebut dengan raut sedih.


Rengki ikut merebahkan badannya di samping Ardi. Rengki melirik ke arah Ardi yang berada di sampingnya, Rengki menyunggingkan senyum.


"Gue tau ko perasaan lo, jadi itu terserah lo aja."


"Makasih"lirih Ardi dengan senyum getir.


**********

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.


__ADS_2