
********
Ardi pulang ke rumah saat sudah selesai memutuskan hubungannya dengan Keyra atas sesuai dengan keinginannya yang semula dan sudah ditata.
Ia membuka pintu rumah dan masuk ke dalam tanpa memperhatikan tatapan bahagia dari pembantunya yang mengharapkan Ardi untuk secepatnya pulang ke rumah dan itu sudah terbukti dengan Ardi yang langsung menuju kamarnya yang berada di lantai atas.
Lena adalah merupakan pembantu yang bekerja sebagai TKW dari indonesia. Wanita paruh baya itu mengembangkan senyumnya melihat Ardi, ia sungguh sangat menyayangi Ardi dengan setulus hati.
Selain mamanya, di rumah itu yang sangat disayangi Ardi adalah bi Lena, karena bagi Ardi Lena lah yang selalu berada di sisi Ardi jika lagi ada masalah dan menjadikan bi Lena sebagai tempat curhat terbaik.
Kenapa Ardi tidak menceritakan masalah yang ia punya kepada Angelina mamanya? Karena Angelina jarang berada di rumah, tapi jika sedang di rumah Angelina selalu memberikan perhatian penuh kepada dirinya.
Tidak dengan Anthoni papa nya, ia jarang berada di rumah dan jika di rumah ia tidak pernah memperdulikan dan memperhatikan Ardi. Ia selalu mengatur kehidupan Ardi yang membuat Ardi muak kepada papanya tersebut.
Dan sebab itulah Ardi tidak terlalu dekat dengan Anthoni, sehingga mengakibatkan Ardi lebih dekat kepada pembantu di rumah.
Ia tidak memperdulikan status untuk berteman yang penting baginya jika seseorang tersebut sangat tulus menyayangi dirinya maka ia akan akrab kepada orang itu.
Akibat kurangnya perhatian dari kedua orang tua juga berhasil membuat kepribadian Ardi yang dingin seperti es dan sikap keras kepala yang ia miliki. Sebenarnya tak jauh berbeda dari sikap ayahnya.
Jika baginya itu benar maka Ardi tidak akan mendengarkan nasehat dan saran dari orang lain meskipun perbuatannya itu salah.
Ardi menghela napas saat sudah keluar dari kamar mandi dengan mengenakan celana jeans putih kebiru-biruan yang sobek di bagian paha dan menggunakan kaos lengan pendek sampai siku berwarna kuning.
Ia duduk di sisi ranjang dengan kedua kaki yang menjuntai ke bawah. Ia mengambil handphone nya di atas nakas dan menghidupkan layar hp tersebut yang pastinya ia ingin mencek akun sosmed yang ia miliki yaitu instagram.
Setelah puas bermain handphone Ardi beranjak dari tempat tidur dan berjalan meninggalkan tempat semula tadi.
Ia berjalan kearah pintu dan membuka knop yang melekat di pintu kamarnya. Setelah Ardi benar-benar keluar dari kamar ia berjalan ke arah tangga dan menuruni tangga satu persatu sambil berlari. Tangan satunya berpegangan ke pagar tangga.
Sesampainya di lantai bawah, Ardi langsung menuju ke arah dapur. Ia berencana ingin makan karena perutnya sedari tadi belum makan ketika di rumah Rengki.
Ia melihat makanan yang tersaji di atas meja. Di situ ia melihat beragam macam makanan yang tentunya makanan tersebut adalah makanan yang menggunakan bahan, bahan-bahan yang bernilai mahal.
Ardi menarik kursi yang berada di samping meja. Ia mendudukkan bokongnya di kursi tersebut.
Ia memperhatikan seluruh sudut ruangan itu kalau-kalau ada Anthoni di salah satu sudut itu.
Rasanya Ardi terlalu malas untuk melihat wajah Anthoni.
Di tengah-tengah aksi makan, ada seseorang yang menepuk bahu Ardi. Ardi yang merasa terganggu acara makannya itu pun dengan secepat kilat menatap sang pelaku.
Ardi berdecak malas saat mengetahui siapa pelaku yang mengganggu dirinya. "Ngapain Papa ke sini?"
Anthoni yang mendengar perkataan dingin Ardi pun sangat geram.
"Mau makan lah, bukan nya kita jarang jarang makan bersama?"
__ADS_1
Ardi terus menyuapkan makanan ke dalam mulut dan tidak menghiraukan ucapan Anthoni. Ia mengambil gelas yang berisi air putih yang berada tak jauh dari posisi dia sekarang. Ardi meminum air tersebut dengan tandas.
Setelah selesai makan Ardi beranjak dari meja makan dan berdiri dengan maksud ingin meninggalkan ruang makan.
Namun panggilan Anthoni membuat ia menghentikan langkah nya.
"ARDI!"
Posisi Ardi yang saat ini sedang memunggungi meja makan dan Anthoni harus membuat ia langsung membalikan badannya agar dapat berhadapan dengan Anthoni.
Pandangan Ardi jatuh kepada Anthoni dan menatap tajam ke arah sang ayah seolah ia mau meminta penjelasan Anthoni atas apa tentang mengapa ia memanggil dirinya.
"Santai Ar, gak usah memandang papa seperti itu. Turunkan pandangan mu," perintah Anthoni kepada Ardi. Ardi berdecak malas dan memutar bola matanya.
"cepat. Saya gak bisa menunggu lama," tegas Ardi. Ia sebenarnya malas untuk berbincang dan bertatap muka dengan Anthoni, ingin rasanya Ardi pergi dari situ tanpa menghiraukan Anthoni sedikit pun tapi ia masih memiliki hati jadi ia mau berbincang sebentar dengan sang ayah.
"Jam 8 nanti pergi ke ruang keluarga, ada yang mau papa mama bicarakan dengan kamu."
Ardi menarik napas pelan seharusnya malam ini yang menjadi malam ketenangan Ardi tapi menjadi malam yang tidak diinginkan dirinya.
"Hmm," jawab Ardi dingin. Ardi yang merasa sudah selesai pembicaraannya dengan Anthoni langsung meninggalkan ruang makan tersebut. Ia tidak mau berlama lama dengan monster pengatur hidup.
Secara pelan-pelan punggung pria tersebut menghilang di balik tembok. Setelah kepergian Ardi yang tak berapa lama berlalu, Anthoni memijat kepalanya yang berdenyut pelan, sepertinya ia sedang dilanda masalah yang tak ada habis habisnya.
Anthoni meraih air putih dan meminum seteguk.
******
Ia memasuki ruangan tersebut dengan berjalan santai di situ Ardi melihat ada beberapa pasang mata yang sedang menunggu dirinya yang tak lain adalah Anthoni dan Angelina.
Ardi duduk di sofa dengan kedua tangan yang dilipat ke dada dan menatap orang tuanya dengan ekspresi yang susah dimengerti oleh siapa pun.
"Jadi apa yang ingin kalian bicara kan?" tanya Ardi memecahkan keheningan yang sempat terjadi beberapa detik.
"Sayang dengarkan papa mu berbicara jangan cela perkataannya, kami harap kamu mau menerimanya," ucap Angelina.
"Hmm!"
Sebelum membuka inti pembicaraan Anthoni menarik napasnya dalam-dalam, "kami berdua ingin menjodohkan mu dengan anak teman papa"
Terkejut
Itulah yang dirasakan Ardi saat ini. Dia tidak akan menerima perjodohan itu apapun caranya, ia ingin menentukan pilihannya sendiri yang mana terbaik untuk dirinya tanpa dijodoh-jodohkan.
Ardi menggerebek meja dengan kuat sehingga menyebabkan tangan kanannya memerah. Ia menggelengkan kepala, lagi-lagi monster itu mengatur kehidupan Ardi.
Sungguh Ardi saat ini saja belum tamat SMA tapi sudah dijodohkan, ia tidak ingin menikah muda.
__ADS_1
"MAKSUD PAPA APA?" bentak Ardi dengan menekankan semua kata dan mendirikan badannya dengan mata yang mengkilat marah.
"Ardi!! Turunkan suara mu," bentak Angelina saat melihat Ardi yang membentak ayahnya Anthoni. Angelina juga mengangkat badannya untuk berdiri.
ArdiĀ yang mendengar bentakan Angelina pun menoleh ke arah sang mama sebentar tapi setelah itu pandangan nya jatuh kepada Anthoni yang sedang duduk santai.
"Pa, kenapa sih Papa selalu mengatur hidup Ardi. Ardi juga pengen seperti teman-teman Ardi yang bebas kehidupannya tanpa ada aturan yang mengharuskan mereka untuk memenuhinya, Pa Ardi bisa nentukan pilihan Ardi sendiri!" lirih Ardi. Air mata akhirnya pun lolos juga dari mata Ardi.
Ia menangis
Ia menangis karena selalu di atur oleh Anthoni, ia selalu memenuhi permintaan sang papa meskipun harus merugikan dirinya. Ardi mengusap air mata nya dengan tangan kanan yang ia punya.
Kecewa, itulah yang Ardi rasakan saat ini. Ia kecewa kepada keluarganya dan tanpa terkecuali sang mama yang begitu ia sayangi namun sang mama juga tega-teganya mendukung rencana konyol laki-laki itu.
Kenapa keluarganya begitu tega kepda dirinya, mereka selalu egois tanpa menghiraukan perasaan orang lain.
"Papa lakuin ini demi kamu Ar, supaya kamu tidak terus menerus memikirkan perempuan itu." Akhirnya Anthoni buka suara.
"Demi Ardi?" Ardi tertawa sinis, "sungguh Ardi tidak merasa harus dijodohkan kepada siapapun untuk kebahagiaan Ardi, jadi jangan pernah berfikir kalau itu demi Ardi"
Setelah mengatakan itu Ardi meninggalkan ruang keluarga menuju garasi mobil.
Ia mengambil kunci mobil yang di pegang sang supir dan memilih salah satu mobil yang bakalan ia gunakan.
Ardi mengeluarkan mobil tersebut dan melajukan nya meninggalkan perkarangan rumah. Ia tidak menghiraukan Angelia yang manggil-manggil dirinya agar tidak pergi.
"ARDI!"
"ARDI!"
"ARDI!"
Panggil Angelina yang merasa khawatir jika ada sesuatu yang terjadi dengan Ardi yang pergi dengan emosi yang tak terkontrol.
"Ma biarkan saja dia, palingan tidak berapa lama ia akan pulang," Anthoni menenangkan perasaan Angelina. Ia mendekap sang istri dan mencium puncak kepala sang istri.
"Iya," lirih Angelina. Mereka masuk kembali ke dalam rumah.
Sedangkan Ardi yang saat ini melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan emosi yang tak terkontrol menuju ke arah club dan tidak memperhatikan jalan dengan benar, tiba tiba ada sebuah truk yang melaju kencang dari arah yang berlawanan.
Ardi yang penglihatan nya kurang jelas karena matanya masih bengkak gara gara menangis tadi pun bertabrakan dengan truk tadi.
'BUGHHH'
*******
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA.TERIMA KASIH SEMUANYA.