
******
Putri Pov
Aku bangun dari tidurku saat aku merasakan sinar mentari pagi masuk ke dalam rentina mataku. Aku mengambil handphone di atas nakas untuk mengecek jam berapa sekarang.
Ternyata jam menunjukan pukul 6:30. Aku bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan yang terasa lengket dan bau masam.
Setelah selesai mandi, aku keluar dari kamar mandi dan menuju kamarku untuk memakai pakaian yang lengkap dan rapi, karena saat ini aku sedang menggunakan handuk saja.
Aku menggunakan Switer FILA warna pink dan hotpants. Aku menuju meja rias yang berada di kamar. Aku memoleskan bedak Wardah ke wajahku dan sedikit liptin di bibir dan aku mengkuncir rambut panjang sebahu.
Aku memandang diriku di cermin dan tersenyum ke arah cermin tersebut. Aku pergi ke arah jendela dan memandang perkampungan di situ.
Sungguh pemandangan yang indah, namun pemandangan yang indah tersebut tak sesuai dengan hati ku yang gundah. Aku menghela napas gusar, kenapa semua ini sangat rumit, kenapa aku selalu merasakan sakit, apakah aku di ciptakan hanya untuk menikmati rasa sakit di dunia ini sajakah.
"PUTRII!" pekik ibuku dari dapur. Aku tahu pasti ibu memanggilku karena ia menyuruhku menitipkan gorengan di warung pak Samir.
"Iya Ma sebentar!" teriak ku dari kamar. Aku membuka pintu dan segera bergegas pergi ke dapur untuk menemui ibuku.
Aku memasuki dapur dan melihat ibuku sedang menyusun gorengan ke dalam keranjang yang aku gunakan nanti untuk membawa gorengan tersebut.
"Nak, tolong ini diantar ke warung pak Samir," perintah ibuku sambil menyusun gorengan tanpa memperhatikan ku sama sekali.
Aku yang berdiri di sisi meja pun tersenyum ke arah ibu yang sedang menatapku dengan ekspresi yang penuh harap ke arah ku. "Baik ma"
"Terima kasih sayang," ucap mamaku seraya menyerahkan keranjang gorengan tersebut kepada ku.
"Sama sama Ma. Ma Putri pergi dulu ya."
Ibuku mengangguk, aku segera pergi dari dapur dan menuju Warung pak Samir sesuai dengan perintah ibuku yang menyuruhku untuk menaruh gorengan di Warung Pak Samir, karena ibuku yang notabennya seorang guru dan ia hari ini sedang peket jadi ia harus datang secepat mungkin sehingga ia tidak sempat untuk mengantar gorengan.
Aku berjalan sambil bersenandung ria menyusuri jalanan yang ramai dengan kendaraan beroda dua dan roda empat.
Aku mendengus kesal saat motor yang lewat di dekat ku dengan sengaja meninggalkan polusi seenaknya. Kalau bawa motor harusnya perhatikan sekitar, jangan asal lewat seenaknya saja.
Akhirnya perjalanan yang aku tempuh dari rumah menuju warung pak Samir menghabiskan waktu 10 menit pun tidak sia-sia. Aku saat ini sedang berdiri di depan warung Pak Samir sambil mengamati para pengunjung Warung yang lumayan ramai.
__ADS_1
Aku menghela napas panjang dan berjalan memasuki warung pak Samir. Di situ aku melihat Pak Samir sedang melayani para pengunjung, sepertinya ia sedang sibuk.
Aku menunggu pak Samir yang sedang berbicara kepada salah satu pelanggan. Aku yang melihat Pak Samir sudah selesai berbicara dengan cepat menghampiri Pak Samir.
"Pak," sapaku ramah.
"Eh, iya neng Putri." Pak Samir terkejut melihat kedatangan ku yang tiba-tiba.
"Pak Putri nitip gorengan ya."
"Oh, mau nitip gorengan toh Neng. Boleh-boleh, letak saja di meja."
"Makasih ya Pak," ucapku senang.
"Sama-sama Neng."
Merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, aku segera berpamitan dengan Pak Samir. "Pak, Putri pamit pergi dulu."
"Iya Neng."
Aku tersenyum mendengar tanggapan dari pak Samir, ia sangat ramah dan baik kepadaku. Ia juga sangat ramah kepada para pengunjung dan bahkan semua orang, ia tidak pernah membeda-bedakan orang, asalkan selama orang tersebut baik kepada dirinya.
******
Langkah ku terhenti di depan pintu saat aku melihat seseorang sedang berbicara dengan ibuku. Aku hanya dapat menatap punggung lelaki itu tanpa bisa melihat wajahnya.
Aku terus mengamati orang itu dari ambang pintu rumahku, sepertinya aku mengenal siapa laki-laki itu, tapi siapa? Aku baru ingat, What bukannya dia itu Rafin? tapi kenapa Rafin ke rumahku? Memangnya ada urusan apa ia ke sini?
Rafin menatap ke arah ku, ia melemparkan senyum manisnya sehingga membuat diriku terpana dan salah tingkah. Aku merutuki diriku sendiri, kenapa bisa-bisanya aku terpesona dengan Rafin, pokoknya tidak boleh, ingat kamu punya Ardi Put.
Aku juga ikut tersenyum dam masuk ke dalam rumah. Aku terus memandangi mama dan Rafin, sepertinya ada yang aneh dengan mereka. Aku memicingkan mataku tajam ke arah mereka.
Ibu menyuruhku duduk di samping dirinya dengan posisi yang berhadapan dengan Rafin.
"Kok lo ada di rumah gue Fin?" tanyaku heran.
Mama menatapku kesal setelah aku berkata seperti itu. "Kamu gak boleh ngomong seperti itu ke Rafin"
__ADS_1
Aku mendengus kesal ke arah mama, mama bisa begitu kalau sedang berhadapan dengan orang yang terhormat, aku selalu salah di matanya. Di sini yang anaknya mama itu siapa, Putri atau Rafin sih.
"Iya Putri minta maaf."
Mama mengangguk. "Lain kali jangan gitu lagi," ucap mama dengan senyum jahil yang membuatku kesal dangan mamaku sendiri.
Aku kembali menatap Rafin yang sedari tadi menyaksikan interaksiku dan mama, mata kami untuk sesaat bertemu pandang, aku terperangah melihat bola mata Rafin yang berwarna hitam sungguh sangat indah dan apalagi dengan mata yang bulat.
Aku tersadar dari lamunanku yang mengagumi Rafin. Aku segera memfokuskan diriku terhadap Rafin yang sedari tadi menatap ku sehingga membuat diriku jadi salah tingkah. Aku menepuk-nepuk pipiku pelan agar aku fokus dan tidak salah tingkah dan bisa saja nanti membuat rona merah pada pipiku dan jika itu terjadi tidak bisa dibayangkan betapa malunya aku.
"Lo kenapa Put?" tanya Rafin heran saat melihat diriku yang menepuk-nepuk pipi chubby ku. "Pipi lo kenapa merah Put?"
Aku terperanjat mendengar pernyataan Rafin, kenapa bisa ketahuan begini sih dan sialnya pipiku merah. "Gak, ini gue agak demam dikit."
Aku merutuki diriku sendiri yang membuat alasan yang kurang masuk akal, jelas-jelas tadi aku terlihat baik-baik saja.
Terlihat jelas Rafin mengernyitkan kening bingung bertanda ia sedang tidak mengerti dengan jawabanku. Aku menggaruk tengkuku yang tidak gatal. aku harus bagaimana ini, Tuhan tolong bantu Putri.
Ku lihat ibu sedang terkekeh ke arah ku, aku menghela napas pasrah. "Gak ada papa ko. Jadi lo mau ngapain ke sini?" tanyaku ramah. Bagaimana juga Rafin seorang tamu, dan menurut adat tamu adalah raja.
"Gue mau ngajakin lo nonton," jawabnya dengan mantap. Aku yang mendengar itu langsung melotot, apa katanya mau ngajakin aku nonton yang benar saja?
"Lo serius Fin?" tanyaku memastikan.
"Iya Put, gue mau ngajakin lo nonton."
"Gue harus nanya mama dulu."
"Mama lo dah ngijinin gue bawa anak gadisnya."
Aku langsung menatap mama yang senyum-senyum kearah ku untuk meminta kepastian. "Beneran ma?"
Mama mengangguk mengiyakan. "Yaudah Fin gue ganti celana dulu," ujarku. Aku segera beranjak dari sofa dan berjalan ke arah kamar meninggalkan Rafin dan mama.
Selang beberapa menit aku sudah keluar dari kamar dengan masih memakai switer dan menggunakan celana yang lebih sopan yaitu celana levis hitam. "Yaudah kita berangkat sekarang." Rafin mengangguk dan tersenyum.
*******
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA