
...Jangan lupa vote dan comen...
...Happy reading all...
Ardi dan Anthoni sedang menunggu Angelina di ruang tunggu yang telah disediakan oleh pihak rumah sakit yang cukup terkenal di New Zeland yaitu rumah sakit Menako Hospital.
Merupakan salah satu rumah sakit yang di miliki oleh keluarga Menako itu sendiri.
Setelah kejadian tadi Ardi dan Anthoni tidak ada saling sapa terhadap mereka, yang ada hanyalah sebuah tatapan sinis yang diberikan Ardi terhadap Anthoni.
Namun Anthoni sama sekali tidak memperdulikan tatapan yang penuh mengintimidasi nya yang menjadi fokus utamanya adalah saat ini yaitu Angelina.
Ia sungguh sangat bersalah terhadap Angelina, andai saja ia mau mendengarkan perkataan Angelina mungkin saat ini ia tidak sedang berada di rumah sakit.
Namun apalah daya bahwa nasi telah menjadi bubur.
Ardi sungguh sangat frustasi andai saja ibunya tadi tak berusaha untuk melindungi dirinya semua ini tidak akan terjadi.
Selang bebrapa menit seorang dokter cantik berambut pirang sebahu keluar dari ruangan tempat Angelina di rawat.
Ardi dan Anthoni yang melihat dokter Shalia keluar pun langsung bergegas menghampiri sang dokter. Ardi berfikir jika ada sesuatu yang terjadi maka ia tidak akan segan-segan menghajar ayah nya.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Anthoni dengan nada yang penuh kekhawatiran.
Sebelum menjawab dokter cantik tersebut menarik napasnya dalam-dalam dan membuang nya secara perlahan, "begini Mr.Menako Mrs.Menako hanya perlu istirahat dan luka di pipinya tidak terlalu parah hanya perlu beberapa hari ke depan untuk mengobati luka lecet Mrs.Menako agar sembuh dan jika rutin melakukan perawatan nya kemungkinan luka nya akan lebih cepat sembuh," jelas dokter Shalia kepada Anthoni dan Ardi.
Tanpa menunggu aba-aba lagi Ardi langsung bergegas untuk masuk keruangan mamanya.
__ADS_1
Di situ ardi dapat melihat mamanya Angelina sedang terbaring di atas kasur.
Angelina yang meras ada seseorang yang masuk ke kamar nya ia pun spontan langsung menoleh kearah orang tersebut.
Di situ ia melihat anak nya sedang memandangi dirinya dengan mata yang berkaca kaca kelihatan sekali bahwa Ardi sedang menahan tangis yang sebentar lagi akan pecah.
Ardi menarik kursi yang telah di sediakan di ruangan tersebut dan menatap sang mama dengan sendu.
"Ma maaf kan Ardi," lirih Ardi dan meraih tangan mamanya dan menghujani tangan Angelina dengan kecupan.
"Kamu gak salah sayang, jika mama tak menghalangi tinjuan papa mu mungkin kamu yang saat ini sedang berada di posisi mama, mama gak akan pernah sanggup melihat putra kesayangan mama terbaring lemah, jadi biarkan saja mamamu ini yang akan merasakan nya," ucap Angelina dangan senyum tulus yang menghiasi wajah nya ia pun menggunakan tangan yang telah Ardi gunakan untuk menciumi tangan nya ini dengan lembut Angelina mengelus rambut Ardi dengan sayang.
"Ma tetap aja ini salah Ardi, andai aja Ardi tadi dengerin Mama."
"Sudah lah sayang yang sudah berlalu biar lah berlalu, lihat mama masih baik baik aja kan?"
"Apa ini sakit?" tanya Ardi saat tangan nya menyentuh bekas pukulan yang menghiasi pipi halus Angelina.
"Tidak berapa sayang."
Anthoni masuk ke dalam ruangan tersebut ia langsung menghampiri Angelina dangan raut wajah yang khawatir.
Ardi yang melihat ayah nya masuk pun menjadi geram. Ia kesal melihat wajah ayah nya itu yang sok khawatir dan polos, tidak sadar kah ia bahwa siapa yang membuat Angelina seperti ini.
Sedari tadi Angelina memperhatikan perubahan raut wajah Ardi yang mulanya sedikit ceria menjadi masam saat kedatangan ayah nya Anthoni, "Ardi jaga tatapan matamu kepada papa nak, jangan natap papa mu seperti seorang musuh," tegur Angelina saat ia memperhatikan anak nya ini menatap Anthoni dengan horor.
"Memang iya musuh, musuh di dalam selimut," jawab Ardi spontan ia memang sangat kesal sekesal-kesalnya dengan sang ayah.
__ADS_1
"Jaga mulut mu Ardi," bentak Anthoni namun Ardi sama sekali tidak takut atas bentakan dari papa nya.
"Sudah-sudah, kalian mau lihat Mama pingsan lagi gara-gara kalian?" lerai Angelina ia muak melihat semua ini hanya karena gara gara satu gadis keluarga nya menjadi hancur.
Tidak bisa di pungkiri jika Angelina sangat membenci putri, gara gara ia lah keluarganya jadi seperti ini yang mana sebentar sebentar ribut.
"Maaf ma," lirih Ardi.
"Hmmm," hanya gumaman yang ia lontar kan untuk menjawab pernyataan anaknya Ardi. "Oh ya Pa, gimana dengan keadaan mama baik baik aja kan," tadi sebelum pertengkaran terjadi Anthoni mendapat kan kabar bahwa ibu mertua nya sedang masuk rumah sakit.
"Iya sayang,Mama baik-baik aja ko, tadi udah siuman hanya kecapekan aja. "
"Oh syukur kalau gitu."
Ardi yang mendengar cerita tersebut sebenar nya ia ingin bertanya tapi ia merasa gengsi untuk bertanya kepada ayah nya jadi ia memutuskan untuk diam dan mendengarkan saja cerita dari ayah nya.
Ia merasa bahwa ayah dan ibunya ingin berduaan jadi Ardi memutuskan untuk meninggalkan keluar ruangan tempat mamanya di rawat, "Ma Ardi keluar ya."
"Iya sayang."
Setelah mendapat kan persetujuan dari sang mama Ardi langsung saja keluar dari ruangan tersebut yang membuat nya panas dan merasa canggung karena kehadiran ayah nya.
******
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA
__ADS_1